Saat pertarungannya melawan Hukum Langit mencapai puncak, Lin Xinyao seorang taois berbakat yang menentang takdir gugur dalam pertempuran. Namun sebelum jiwanya lenyap, sebuah cahaya putih menariknya ke dimensi lain, mempertemukannya dengan seorang gadis bernama Yao Yao yang memiliki wajah identik dengannya. Yao Yao, yang lemah dan penuh luka batin, menyerahkan tubuhnya kepada Xinyao dan memintanya untuk hidup menggantikan dirinya.
Kini, Lin Xinyao terbangun di kehidupan baru yang bukan miliknya, membawa sumpah untuk suatu hari kembali menantang Hukum Langit sekaligus mengungkap rahasia kelam di balik tubuh yang kini ia huni.
---
CATATAN PENULIS
Karya ini adalah murni hasil khayalan dan imajinasi penulis. Segala nama, karakter, tempat, dan peristiwa tidak memiliki hubungan dengan dunia nyata. Jika ada kesamaan, itu semata-mata kebetulan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
musuh dalam selimut
H
A
P
P
Y
Reading ✍🏻 ✍🏻💞
Matahari menggantung tepat di atas kepala, memancarkan cahaya terik yang membuat bayangan pepohonan tampak sangat jelas di tanah. Tepat saat Xinyao sedang mengayun-ayunkan kaki dengan santai di bangku taman, sebuah mobil sedan hitam mengilap berhenti tidak jauh darinya.
Pintu belakang terbuka. Keluar seorang wanita dengan langkah tergesa, mengenakan dress elegan warna biru safir.
Xinyao mengangkat alis.
“Oh… wanita yang tadi.”
Wanita itu melihat ke arahnya, lalu berjalan semakin cepat.
“Hai, hai!” sapa Xinyao sambil melambaikan tangan.
Namun sebelum ia sempat berdiri, wanita itu langsung memeluknya erat.
“Jimatmu! Jimatmu benar-benar bekerja!” serunya, hampir berteriak. Tatapannya berbinar cerah. “Tender besar yang mustahil bisa kudapat… sekarang ada di tanganku! Aaaah hahahahaha!”
Ia memegang kedua tangan Xinyao dan… mulai meloncat kecil seperti anak kecil yang baru mendapatkan mainan baru.
Xinyao tercengang, tidak sempat mengeluarkan sepatah kata pun ketika tiba-tiba tubuhnya ditarik masuk ke dalam mobil.
“Jalan!” perintah wanita itu kepada sopir.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, interiornya wangi, rapi, dan penuh perabot mewah. Xinyao terkejut namun tetap tenang berkat ingatan Yao Yao yang pernah naik mobil sebelumnya, ia cepat menyesuaikan diri.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan, sampai akhirnya Xinyao yang tak nyaman dengan suasana canggung itu membuka suara.
“Lalu… aku mau dibawa ke mana ini?”
Wanita itu tersentak seolah baru sadar. “Ah! Maaf! Saking senangnya aku sampai lupa segalanya.”
Ia merapikan rambutnya sebentar, lalu mengulurkan tangan.
“Namaku Li Qinglan.”
Xinyao menyambut tangan itu dengan anggun, bibirnya terangkat membentuk senyuman lembut.
“Namaku… Zhang Yao—tidak, tidak.” Ia mengibaskan tangan. “Aku benci marga itu. Lin Xinyao. Marga Lin… dari nenek ku Tapi panggil saja Yao Yao agar mudah.”
“Baik, Yao Yao…” Qinglan mencondongkan badan, matanya serius namun penuh harapan. “Tadi pagi kamu bilang ada seseorang yang mencuri keberuntunganku, benar?”
Yao Yao mengangguk santai.
Qinglan menggigit bibirnya, lalu menepuk paha dengan semangat. “Kalau begitu, aku bawa kamu ke rumahku. Tolong carikan benda yang kamu maksud! Tolong ya… aku bayar! Tenang, kamu mau berapa?”
Begitu kata “dibayar” keluar dari bibirnya, mata Xinyao langsung berbinar.
‘Hah, bau-bau uang ini,’ batinnya sambil memijit dagu.
Tanpa malu-malu, ia mengangkat tangan dan merentangkan lima jari.
“Lima ribu yuan.”
(Q: 5.000 yuan kalau dirupiahkan sekitar Rp 11.000.000 – 12.000.000.)
Qinglan bahkan tidak berkedip.
“Deal.”
Langsung. Tanpa negosiasi.
‘Orang kaya nih… hihihihi.’
Xinyao tersenyum licik dalam hati, tetapi bagi Qinglan, senyum itu hanya terlihat manis dan polos.
Mobil terus melaju menuju kawasan elit dan petualangan Xinyao sebagai taois reinkarnasi di dunia modern baru saja dimulai.
(◍•ᴗ•◍)❤
Mobil hitam itu melaju masuk ke kawasan elit yang dipenuhi mansion megah, tetapi di antara semuanya, Kediaman Li berdiri paling mencolok megah, luas, dan memancarkan wibawa keluarga berpengaruh.
Begitu mobil berhenti, deretan satpam berbaju hitam dan maid beruniform rapi langsung menunduk hormat kepada Qinglan.
“Selamat datang, Nona.”
Qinglan mengangguk singkat, namun ekspresinya masih penuh semangat. “Ayo, masuk!” katanya sambil kembali menarik tangan Xinyao.
Begitu Xinyao melangkahkan kaki masuk, hembusan udara dingin dan wangi kemewahan menyapa hidungnya. Rumah besar itu dipenuhi ukiran kayu mahal, lampu kristal, dan lukisan klasik.
Namun Xinyao tak terpesona oleh kemewahan itu. Sejak pintu masuk, mata spiritualnya langsung aktif.
Di balik pandangan Xinyao, ruangan itu tidak hanya menampilkan marmer putih dan lampu kristal, melainkan guratan-guratan aura hitam yang menjalar seperti akar pohon liar.
Aura itu tebal, bercabang dua, dan tampak jelas menuju arah tertentu.
“Ayo. Aura hitam itu… menuju ke atas.”
Qinglan tanpa ragu memboyong Xinyao ke lantai dua, menuju kamarnya yang luas. Sesampainya di sana, ia menatap sekeliling dengan bingung.
“Disini?” tanya Qinglan ragu.
Xinyao mengangguk pelan. Tatapannya tajam seperti mata elang.
“Iya. Justru di sini yang paling kuat.”
Ia berjalan ke arah lemari besar. Energi gelap terasa menusuk kulit.
“Buka.”
“Eh? Oh… oke!”
Qinglan langsung membuka pintu lemari. Aroma parfum mahal menyebar, namun Xinyao mengerutkan hidung aroma itu bercampur aura hitam yang menyengat.
“Sumbernya dari dalam kotak itu.”
Ia menunjuk kotak kayu kecil berukir bunga plum.
Qinglan mengambil kotak itu dengan hati-hati.
“Biar aku yang buka,” ujar Xinyao cepat. “Jangan sampai menyentuhnya. Kalung seperti ini bisa menyerap keberuntungan melalui sentuhan.”
Qinglan buru-buru menarik kembali tangannya.
Xinyao membuka kotak itu perlahan, dan di dalamnya terbaring sebuah kalung berukir phoenix, tampak indah namun dipenuhi resapan energi kotor.
Begitu kotak terbuka penuh, aura hitam memancar seperti asap.
“Seperti yang kuduga,” gumam Xinyao.
Ia mulai memutus tali pengikat nasib antara Qinglan dan kalung tersebut dengan jari-jari yang bergerak cepat, luwes, dan berpengalaman. Gerakan itu tampak seperti ilmu kuno yang hanya dimiliki oleh para master.
BRUK.
Krkkk—PAK!
Kalung phoenix itu tiba-tiba retak… lalu hancur menjadi debu.
“Eh!? Hancur?!” seru Qinglan terkejut.
Xinyao berdiri santai. “Wajar. Orang yang memberikan kalung ini padamu akan menerima serangan balik. Kemungkinan besar… ia akan terkapar tidak berdaya setidaknya tiga hari sebelum dapat pulih.”
Qinglan membeku. Wajahnya memucat… lalu berubah sendu. Ada kesedihan, ada kemarahan, ada penyesalan.
Melihat itu, Xinyao tidak berkata manis. Hanya menghela napas pelan.
“Kamu tidak perlu membayarku sekarang,” ucapnya lembut namun tegas. “Kelihatannya… orang yang memberikan kalung itu sangat penting bagimu.”
Qinglan menggigit bibirnya, menahan emosi.
Xinyao melanjutkan, suaranya tenang namun mengandung wibawa:
“Yang perlu kamu lakukan… hanya percaya kepadaku. Jika nanti kamu sudah yakin sepenuhnya, temui aku lagi di bawah pohon besar tempat kita bertemu pertama kali tepat saat matahari berada di puncak.”
Ia menepuk bahu Qinglan, memberi sedikit kekuatan.
“Oh, iya.” Xinyao berhenti sejenak, lalu memandang seisi ruangan dengan mata spiritualnya. “Di rumah ini… ada satu orang lagi yang keberuntungannya dicuri.”
Qinglan tersentak kaget.
“Tapi itu nanti saja. Setelah kamu benar-benar percaya padaku.”
Tanpa menunggu jawaban, Xinyao berbalik dan melangkah pergi. Ia tidak peduli dengan kemewahan kediaman Li, tidak terhalang oleh tatapan bingung para maid, dan tidak menengok ke belakang.
Ia hanya membuka pintu besar itu, berjalan keluar dengan angin sore ikut menyibakkan rambut hitamnya.
Lin Xinyao, sang taois reinkarnasi, telah meninggalkan rumah besar itu membiarkan Qinglan berdiri termenung dengan seribu pertanyaan dalam hati.
Di suatu apartemen mewah di pusat kota, seorang wanita bergaun satin biru gelap sedang berdiri di depan cermin rias. Namanya Wu Meirong, sahabat dekat Qinglan sejak SMA dan juga wanita yang diam-diam menyimpan dendam iri pada keberuntungan Qinglan.
Ia memegang cermin kecil dan tersenyum puas.
“Qinglan pasti masih memakai kalung phoenix itu… keberuntungannya pasti sudah habis sekarang.”
Namun senyumnya belum sempat mengembang penuh ketika
BRUK!
Tubuhnya tiba-tiba bergetar hebat seperti ditabrak angin tak kasat mata.
“Ukh—!!”
Meirong memegangi dadanya, wajahnya memucat seketika. Napasnya tersengal.
Kemudian
CRAACK
Suara halus namun tajam, seperti kaca kecil pecah, menggema di telinganya.
“Apa… Apa-apaan ini…!”
Seketika rasa panas menjalar dari ujung jari hingga tengkuknya. Punggungnya terasa seperti dihantam palu besar. Kakinya kehilangan kekuatan.
DUM!
Meirong jatuh tersungkur ke lantai, tubuhnya gemetar.
“Ini tidak mungkin… Kalung itu… seharusnya aman… Bagaimana bisa… hancur?!”
Tubuhnya melemah; wajahnya pucat pasi, keringat dingin membanjiri dahi.
Sebelum kesadarannya menghilang, Meirong berbisik lirih:
“…Qinglan… kau… mendatangkan seseorang… siapa…?”
Tubuhnya akhirnya jatuh lunglai di lantai. Ponselnya bergetar, menampilkan nama “Qinglan”, tetapi Meirong sudah tak kuat untuk mengangkatnya.
---
Kediaman Li tampak sunyi. Qinglan berdiri di kamar tidur, menatap debu kalung phoenix yang hancur di lantai. Kata-kata Xinyao terus terngiang di pikirannya
> “Orang yang memberikan kalung itu… sangat penting bagimu.”
Qinglan menggigit bibir. Ia menatap lemari tempat kotak itu berada.
“Kalung itu… diberi oleh Meirong.”
Ia ingat betapa Meirong memaksa memberikannya hadiah itu, mengatakan itu adalah jimat keberuntungan.
“Tapi… akhir-akhir ini… Meirong selalu mendapatkan tender besar, investor tiba-tiba memilih dia… Bahkan proyek yang seharusnya milikku, jatuh ke tangannya.”
Detak jantung Qinglan mulai tak stabil.
Ia mulai menyadari—semua keberuntungan buruk yang ia alami… terjadi sejak ia memakai kalung itu.
Sementara Meirong justru sebaliknya… keberuntungannya meningkat drastis.
“…Jadi… dia mencuri keberuntunganku? Meirong…?”
Wajah Qinglan berubah muram dan kecewa.
Tanpa membuang waktu, ia meraih tasnya dan bergegas keluar kamar.
“Xinyao pasti benar. Aku harus memastikan ini.”
---
Mobil melaju cepat menuju city center. Qinglan tak dapat duduk diam. Jemarinya terus meremas-remas ujung rok, sementara matanya gelisah menatap jalan.
Ketika mobil berhenti di depan gedung apartemen mewah, Qinglan turun dengan tergesa.
Ia mengetuk pintu unit Meirong pertama pelan, kemudian semakin keras.
“Meirong? Hei, Meirong! Buka pintunya!”
Tak ada jawaban.
Khawatir, Qinglan mencoba memutar gagang pintu tidak terkunci.
Begitu pintu terbuka…
Aroma parfum bercampur wangi logam langsung menyergap hidungnya.
“Meirong…?”
Matanya membelalak.
Wu Meirong terbaring lemah di lantai kamar, tubuhnya gemetar, wajahnya pucat seperti tanpa darah. Ujung bibirnya sedikit retak, dan matanya setengah tertutup.
“Meirong!!”
Qinglan berlari mendekat, mengangkat tubuh sahabatnya itu.
“Meirong! Apa yang terjadi? Kenapa kau… jadi seperti ini?!”
Meirong membuka matanya perlahan. Napasnya sangat lemah.
“Qing… lan…” bisiknya tak berdaya.
“Apa yang terjadi padamu? Kenapa bisa sampai begini?”
Meirong menatap Qinglan dengan mata berkaca.
“…Kalung… itu… hancur… Aku… terkena serangan balik…”
Qinglan menggigil.
Itu berarti… apa yang dikatakan Yao Yao benar adanya.
“Jadi… benar… kau mencuri keberuntunganku…?”
Air mata Qinglan menetes tanpa ia sadari—bukan karena iba, tapi karena luka pengkhianatan.
Meirong mencoba mengangkat tangan, namun jatuh lemas kembali.
“Aku… hanya… tidak ingin kalah darimu… Semua orang… lebih memilihmu… Aku hanya ingin… sedikit keberuntungan…”
Suara Meirong semakin tipis.
Qinglan menutup mata, menahan rasa campur aduk.
Ia perlahan meletakkan tubuh Meirong kembali ke lantai dan berdiri.
“Jika kau sungguh sahabatku,” ucap Qinglan dengan suara gemetar namun tegas, “kau tidak akan mencuri keberuntungan hidupku.”
Ia menatap Meirong sekali lagi tatapan kosong penuh kecewa lalu berbalik.
Dengan langkah berat namun mantap, Qinglan keluar dari apartemen itu.
Di lorong yang sunyi, ia menghapus air matanya dan berbisik:
“Lin Xinyao… aku percaya padamu.”
Bersambung 🥂
---
Hai hai 👋🏻 gimana kalian masih sehat kan?
Semoga kalian sehat sehat ya sty tune ya untuk lanjutan episode Yao Yao
jangan lupa
Like
Komentar
Subscribe
Oke.... See u next episode 👋🏻🌷🤗
restu mendarat dengan mulus...
tapi yao2 gk gmpang ditaklukin 😜
,, saatny beraksi lagi xinyaoo... sembuhin nenek biar dpt restu camer~
bakal ketahuan gk nih masa depan pasangannya siapa 🙃🙃
selamany aja deh kek gitu...