Mengisahkan perjalanan hidup seorang pemuda di jaman dahulu untuk meraih cinta dan menjungjung tinggi martabat seorang ibu. hidup sebagai seorang pemburu untuk menghidupi sekaligus menjadi tulang punggung dan terpaksa melewati bermacam rintangan demi mendapatkan hati seorang wanita yang di cintainya. serta calon mertua yang tak setuju karena memiliki latar belakang yang bertentangan. serta ikut campur bangsa dari dunia lain yang tak kasat mata yang menyulitkan mewujudkan impiannya. simak keseruan kisahnya di setiap babnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendriyan Sunandar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Pertanyan itu yang di lontarkan balik tumang pada mang darman sembari menatap mang darman seperti benar benar tak mengerti.
"kau ini bagaimana sing mang. Kan juragan Lemud itu yang mengadakan saembara itu. Dia sendiri yang mengumumkan. Siapa saja yang berhasil menangkap pocong itu dan menyerahkan padanya, maka akan di beri beberapa petak sawah sama uang. Jangan jangan sawah ini mang yang bah Lemud maksud itu. Kalo iya,,, duh beruntung banget ya. Udah dapat sawahnya cuma cuma, dapet padinya pula"
Seketika tumang terlihat masih bingung oleh keterangan mengenai kabar itu. Pikirnya, untuk apa bah Lemud menginginkan sosok pocong itu sampai rela menukar dengan sejumlah uang dan beberapa petak sawah. Apalagi jika petak sawah yang di maksud itu memanglah hamparan sawah yang seminggu ini ia jaga. hamparan padi yang subur dan tak lama lagi akan segera panen itu terlalu di sayangkan jika di tukar dengan sosok yang terkesan mustahil itu.
"jangan bilang kalau bah Lemud itu mengambil jalan eu... eu... eu... "
Tanya tumang tak mampu meneruskan dugaannya pada bah Lemud. sekalipun dirinya tau jika majikan itu di kenal banyak harta sawah dan ladang hampir di mana mana, namun jika semua itu di dapatkannya dari jalan yang tak seharusnya, sepertinya itu mungkin dan bisa menjadi fitnah jika asal bicara tanpa bukti.
Melihat tumang seketika canggung meneruskan ucapannya, mang darman pun yang paham pada kehawatiran tumang, dirinya tampak menarik nafas dalam seakan mau tau mau dirinya harus meluruskan semuanya dan itupun berdasarkan kabar yang di dengarnya.
"iya mang. Kau benar. banyak orang yang menduga jika majikanmu itu bersekutu dengan setan silemin atau sebangsanya. Mamang pun sebenarnya tak tau mengapa majikanmu itu berani terang terangan mengumumkan berita itu pada orang orang. Yang jelas, pocong itu nyata mang. Wujudnya bisa di sentuh bahkan bisa di tangkap beramai ramai. Cuma itu loh mang... baunya itu gak ada yang tahan. Kau tau kan si Imron tetangga mamang ?
dia sendiri mang yang sudah menangkap langsung pocong itu. Cuma ya gitu. Katanya dia gak kuat sama bau busuknya. Padahal katanya pocongnya sudah di peluk erat erat mang. Cuma ya terpaksa di lepasin lagi karena gak kuat pengen muntah sampai kepala terasa pusing"
Tutur mang darman menceritakan pengakuan yang di alami langsung oleh salah satu tetangganya itu. Tak heran mang darman pun yang melihat tumang seperti tertarik pada saembara itu, dirinya bertanya guna memastikan apakah tumang ingin mencoba saembara itu.
"nah jadi begitu mang. Setidaknya mamang itu hawatir sama kamu. Mamang takut kamu semakin dekat sama bah Lemud. Terus kamu ngikutin jejaknya. Makannya mamang bilang hidup itu jangan sampai membuat Gusti Allah murka mang. ih amit amit pokonya moga di jauhin sama yang begituan ya mang"
Timpa mang darman lagi lagi mengutarakan kecemasannya pada pemuda lusuh di hadapanya itu.
"terus apa kita boleh ngikuti saembara itu ? Mamang bilang jauhin jalan semacam itu"
Tanya tumang setelahnya. Dan kali ini mang darman tampak tercekat seperti bingung menjawab pertanyaan itu. Namun tak lama setelahnya mang darman tampak tersenyum dan berdalih dengan alasan yang bisa membingungkan balik tumang yang mendengarnya.
"beda dong mang... Kita itu bukan mau ikut jejak bah Lemud. Kita itu cuma mau cari rejeqi. Cuma jalannya dengan cara membantu bah Lemud menangkap pocong itu untuk dia. Oh iya mang... Kabar bah Lemud bersekutu dengan siluman pocong itu cuma kabar yang sempat mamang dengar dari orang lain ya. Jangan kau katakan lagi sama orang lain ya. Cukup kita berdua saja ya tau. Dan itupun terpaksa mamang katakan padamu agar kau paham dan mau bekerja sama dengan mamang. Kau pahamkan maksud mamang ?"
tegas mang darman seperti takut ucapannya itu di tanyakan langsung oleh tumang pada bah Lemud. Dan selain dari pada itu, di hati mang darman terbersit untuk ikut saembara itu namun ingin di temani tumang.
Sosok tumang baginya adalah pemuda yang berani dan tenaganya yang tampak kuat sepertinya bisa di andalkan. Belum lagi tumang di kenal sudah ahli berjalan di malam hari dalam ke adaan gelap sekalipun. Kebiasaannya berburu hewan liar baik siang hari ataupun malam, seperti membentuk dirinya benar benar menyatu dengan alam di sekitarnya. Tak jarang hutan hutan lebat dan jarang di jamah manusia tumang sudah memasukinya hanya demi mencari jejak hewan pemakan semut itu (tringgiling) ataupun jejak kaki hewan buruan lainya.
"bagaimana tumang? Apa kau tertarik ? Hadiahnya lumayan loh. Amang cuma membantumu saja kok. Kalo sampai kita berhasil, mamang akan mengatasnamakan dirimu sebagai orang yang menangkapnya. Kalau soal hadiahnya, mamang percaya kok sama kamu"
lagi lagi mang darman berusaha meyakinkan tumang ketika itu. Apalagi jika melihat nasib keduanya, sebenarnya keduanya tak beda jauh. Sehingga tak heran jika mang darman tak sungkan mengajak itu pada tumang.
Sementara tumang yang sudah sepenuhnya mengerti pada keinginan mang darman, dirinya mulai bimbang dan benar benar sulit mengambil keputusan dadakan seperti itu.
Pikiran melayang teringat sewaktu bersama ayahnya dahulu seketika bercampur aduk dengan kabar yang di bawa mang darman di sore itu.
"Apa aku boleh mengikuti saembara ini pak ? Aku ingin membahagiakan emak. Aku ingin membuatkan rumah untuk emak. Aku ingin memberikan kehidupan yang layak pada emak. kenapa kau harus pergi meninggalkan kami dengan cara seperti ini pak"
Tiba tiba raut wajah tumang tampak murung seiring naik turun dadanya yang terlihat begitu cepat seperti sedang menahan amarah yang teramat sangat.
pikirannya teringat lagi pada peristiwa dua tahun kebelakang yang menimpa alm bapaknya yang tewas di depan matanya sendiri.
Tumang masih ingat betul peristiwa ketir itu. Di mana bapaknya itu tiba tiba di gusur dari lubang persembunyian oleh salah satu gerombolan. Tubuhnya di tendangi secara brutal, kepalanya di hantam oleh gagang senapan, dan yang terahir sekaligus mengahiri hidupnya, rambut bapaknya itu di jambak dari belakang sembari lehernya di gorok oleh sebilah golok oleh salah satu kawanan gerbolan itu.
Sementara dirinya dan ibunya beserta beberapa warga lainya, mereka tak mampu melakukan apa apa karena beberapa laras senapan sudah menodong tepat di depan keningnya.
"siapapun yang berani melakukan itu lagi !!! maka akan bernasib sama seperti dia !!! Paham kalian goblok !!! "
Kata kata ancaman itu yang terdengar dari salah satu gerombolan yang berpenampilan layaknya perwira pada sekumpulan warga yang tampak menggigil di dalam sebuah lubang yang ada di samping rumah.
dan kejadian itu tumang yakini bukanlah kebetulan semata. melainkan dampak dari sebuah penghianatan dari salah satu warga kampung itu sendiri. Di mana kedatangnya gerombolan di tengah malam itu sudah di ketahui warga sebelumnya. Sehingga sudah menjadi kebiasaan jika mereka kedatangan gerombolan di malam hari, warga dengan segera bersembunyi di dalam lubang tanah yang memang sengaja di buat guna bersembunyi dan menyelamatkan keluarga masing masing.
Apalagi sebagian besar penduduk kampung tau jika datangnya dadakan para gerombolan itu tak lain di sebabkan...