“Menikahlah denganku, Jia.”
“Berhentilah memikirkan masa lalu!! Kita tidak hidup di sana!!”
“Jadi kamu menolakku?”
“Apa yang kamu harapkan?? Aku sudah menikah!!!!”
Liel terdiam, sama sekali tidak menunjukkan keterkejutan. Sorot matanya yang tajam itu kembali lagi. “Aku tahu kamu sudah bercerai. Pernikahan macam apa yang sehari setelah menikah sudah tidak tinggal satu atap?”
Sebelas tahun lebih, mereka memutuskan untuk menyerah dan melupakan satu sama lain. Namun, secara ajaib, mereka dipertemukan lagi melalui peristiwa tidak terduga.
Akan kah mereka merajut kembali tali cinta yang sudah kusut tak berbentuk, meski harus melawan Ravindra dan anaknya Kay, wanita yang penuh kekuasaan dan obsesi kepada Liel, atau justru memilih untuk menyerah akibat rasa trauma yang tidak pernah sirna.
Notes : Kalau bingung sama alurnya, bisa baca dari Season 1 dulu ya, Judulnya Beauty in the Struggle
Happy Reading ☺️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Avalee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Menginjak Masa Lalu
Pria dengan sorot mata yang tajam itu terlihat sedang menatap jendela kaca pesawat. Dia masih tidak percaya, bahwa dirinya harus kembali ke Indonesia.
Jika dibandingkan dengan masalah percintaannya, ada perkara yang lebih besar dibandingkan itu. Akibat kelalaiannya terhadap perbuatan jahat Kay di masa lampau, membuat rasa bersalahnya kian merambat, bagaikan bunga mawar yang menancapkan durinya di hati.
Sejak saat itu, Liel bersumpah untuk menjaga jarak dan tidak memperdulikan Jia lagi. Dia hanya mampu mencintai Jia dalam diam. Bukan karena Liel menyerah, namun untuk menjaga agar cintanya tetap aman, jauh dari jangkauan Kay.
Namun, lamunannya harus terhenti, saat suara pramugari menyampaikan informasi penerbangan yang mendarat dengan sempurna melalui pengeras suara pesawat.
Liel dengan tinggi badannya yang ideal itu, segera keluar dari pesawat dan berjalan bak model, menyusuri area dalam terminal. Blazer coklat dan setelan kemeja berwarna hitam yang dikenakannya tampak sempurna melekat di tubuhnya. Gaya rambut yang dulu terlihat acak-acakan, kini tersisir rapi dan klimis.
Tanpa senyum, dingin dan angkuh. Itulah diri Liel yang terlihat saat ini. Namun, sikapnya yang seperti itu, justru malah menarik perhatian dari setiap orang yang melihatnya.
Liel tidak menggubris dan terus berjalan menghampiri Doris, yang melambaikan tangan serta menunggunya di luar ruangan penitipan bagasi.
Silau cahaya matahari membuat Liel harus memicingkan matanya, namun tidak mengurungkan niatnya untuk segera merangkul sahabat karibnya, dengan senyuman yang hampir tidak terlihat.
“Hi Dory, miss you so much! Where’s your uniform, inspector??”
(Hai Dory, aku sangat rindu padamu! Di mana seragammu, inspektur??”)
Wajah Doris menegang, menahan rasa kesal. “Menjijikan!! Berhenti memanggilku Dory … dan asal kamu tahu, ini hari 'weekend', tolong jangan terlalu kejam padaku.”
Liel tersenyum tipis. Doris segera mengajak Liel ke sebuah Restoran Nasi Padang, salah satu rumah makan yang terkenal enak di Jakarta Selatan.
Tidak banyak yang diceritakan oleh kedua pria dewasa tersebut, selain masalah pekerjaan dan kesibukan mereka sehari-hari.
“Kamu memang berhati dingin, 7 tahun yang lalu tiba-tiba menelponku hanya untuk mengucapkan selamat atas kelulusanku dari Akademi Kepolisian, kemudian menghilang lagi!! sekarang, tiba-tiba menelpon dan memintaku untuk menjemput…”
“Berisik!” ucap Liel datar.
Doris mulai menggoda Liel. “Ah, lalu, bagaimana dengan wanita di sana? Pasti banyak sekali yang cantik dan seksi.”
“Aku tidak punya waktu untuk bermain-main dengan wanita, Dory. Aku sedang berjuang naik ke atas, agar dapat mendorong mereka jatuh ke jurang.”
Doris terdiam sejenak, sebelum memulai pembicaraan kembali. “Hm… Sebenarnya, apa alasanmu membiarkan Kay berada di sisimu?” Ucap Doris seraya mengernyitkan dahinya.
Liel menghela napas panjang, dia terlihat ragu. Entah apa dirinya perlu menjelaskan atau tidak. Namun, Doris terus mendesak agar Liel membuka mulutnya.
Liel menatap Doris tajam. “Aku bisa menyingkirkan kay sejak SMA, namun perkara sebenarnya bukan hanya itu, pihak yang ada di belakang kay lah yang harus di hancurkan, dengan begitu, kay tidak bisa berkutik dan menghilang selamanya dari hadapanku.”
“Ternyata semua dugaanku benar!! Apakah ini terkait dengan ayahnya yang mengambil alih semua aset perusahaan sehingga menjadikannya pemilik saham tertinggi di perusahaan ayahmu sendiri? Liel, aku bisa membantumu menyelidikinya secara diam-diam.”
Liel mengangguk pelan. Wajahnya tampak tenang, tidak menunjukkan emosi apapun. Dia mampu menyembunyikan semuanya kegelisahannya dengan rapi.
“Jadi, itu sebabnya kamu kembali ke cabang utama di Jakarta dan meninggalkan anak perusahaanmu di Singapore?
“Begitulah, sementara wakil ku akan memimpin di sana, lagipula sudah saatnya aku menggantikan posisi ayahku bukan?”
“Wah, aku kira karena kamu memiliki tujuan lain.” Balas Doris dengan senyum meledek.
“Apa maksudmu???” ucap Liel penasaran.
“Ayolah Liel, IQ mu saja 142, jangan berlagak bodoh.”
Liel tetap diam, memilih untuk tidak ingin menjawab. Seketika Doris memasang wajah serius. Dia tahu resiko yang ditimbulkan jika ingin membahas masalah tersebut dengan Liel.
“Jia.” ucap Doris tanpa tersenyum.
Seketika Liel berdiri, pura-pura tidak mendengar. Dia berjalan cepat menuju bagian kasir, untuk membayar semua makanan dan minuman yang sudah mereka santap melalui QRIS, yaitu salah satu pembayaran digital Indonesia.
“Apa kamu tahu dia sekarang sudah menjadi Dokter Spesialis Kejiwaan? Jika kamu merindukannya aku bisa mengatur pertemuan kalian?” desak Doris seraya berjalan di belakangnya.
“Mari kita pergi, Dory, ” toleh Liel, kemudian menatap ke depan pintu keluar restoran.
“Jika kamu selalu menghindari pembicaraan ini, itu berarti benar kamu masih merindukannya.”
“Hei, bukan begitu, aku hanya tidak ingin menempatkannya dalam bahaya lagi … jadi berhenti membahasnya.” Liel membantah dengan cepat.
“Hahaha, berarti benar kamu tidak pernah melupakannya.”
“Diam! Cepat antarkan saja aku pulang.”
...****************...
Doris mengantar Liel tepat di depan rumahnya. Dia nyaris tidak percaya bahwa rumah modern yang megah dan estetik di kawasan elit ini harus ditempati Liel seorang diri.
“Ibu dan ayahmu tahu kamu sudah ada di Indonesia?”
“Tidak, tetapi aku yakin mereka akan segera tahu aku ada di Indonesia.”
“Hah, kamu gil4, apa—”
“Pulanglah!” potong Liel seraya menutup pintu mobil Doris
“Mengapa kamu mengusirku? Ingat!! Aku akan sering datang untuk menggangumu bocah arogan.” teriak Doris dari jendela kaca mobilnya, lalu segera beranjak pergi.
Liel tidak peduli dan segera masuk ke dalam rumahnya. Dia melihat setiap sudut ruangan dan mendongakkan kepalanya ke atas, ke arah lantai dua. Tidak butuh waktu lama baginya berjalan perlahan menaiki tangga, tampak seluruh isi ruangan terlihat oleh kedua matanya. Liel tersenyum, bangga dengan apa yang dicapainya.
Bagaimana tidak, semenjak memutuskan untuk menjauh dari Jia, diam-diam Liel membaca dan mempelajari tentang ilmu manajemen bisnis, manajemen sumber daya manusia, leadership, hukum dan etika bisnis pada saat dirinya masih kelas dua SMA.
Tanpa keraguan, Liel memilih jurusan Manajemen Bisnis dengan masuk ke universitas terbaik di London. Liel dan rencana besarnya memutuskan untuk bekerja di perusahaan milik ayahnya.
Bahkan saat dia masih menjadi manager dan diberi kepercayaan untuk memimpin anak cabang perusahaan di Singapore, dia tetap menyisihkan waktu, untuk menyisir setiap laporan transaksi keuangan.
Bahkan Liel secara perlahan membentuk aliansi dengan beberapa pemegang saham yang saat ini mulai gerah dengan kinerja Ravindra yang buruk.
Liel juga secara sembunyi membeli saham mayoritas melalui pasar sekunder, tujuannya tidak lain adalah untuk mengambil alih kembali perusahaan milik ayahnya, yang telah lama direbut oleh Ravindra sejak lama.
Kemudian, ponselnya berdering, membuat Liel segera mengangkat telepon dari asisten pribadi sekaligus 'bodyguard' nya itu. “Ya Tony, bicaralah.”
“Tidak banyak yang terjadi hari ini, Tuan! Pak Ravin menjalani aktivitasnya seperti biasa.”
“Pantau saja terus. Laporkan padaku jika menemukan kejanggalan sekecil apapun.”
“Baik Tuan!!”
“Ah, jangan lupa, beri perintah kepada Jenar untuk menyiapkan data presentasiku. Aku harus tampil baik pada acara pengangkatanku sebagai CEO besok pagi.”
“Siap Tuan! Oh iya, apa saya perlu melaporkan kegiatan nona Jia?”
Liel kembali menghela napas panjang. Dia bukan ingin menghindar membahas soal Jia, hanya saja, Liel takut jika Jia membencinya dan beranggapan bahwa dirinya adalah sumber masalah bagi Jia.
“Apa ada yang terjadi padanya?”
“Pada tanggal 25 November 2023, setelah mengantar temannya, Nona Jia berhenti dan menepi di pinggir jalan. Dia seperti menangis tanpa henti selama satu jam lamanya, dan ketika merasa lebih baik, dia pun beranjak pulang.”
“Baiklah, terima ka…”
“Apa perlu saya selidiki penyakit apa yang dialami nona Jia selain depresi berat? Atau tempat tinggal dan di mana dia beker…”
“Jangan lakukan apapun, aku ingin mengetahuinya sendiri. Lagipula, aku sudah ada di sini, biarkan dia menjadi urusanku.” Potong Liel yang mulai merasa risih.
Liel menutup telepon dari Tony. Kemudian dia perlahan menuruni anak tangga, lalu merebahkan dirinya di sofa yang empuk berwarna krim. Sambil memejamkan mata, ada kepedihan luar biasa yang tidak pernah mampu Liel ungkapkan, jika menyangkut tentang Jia.
Suda sejak lama dia berkutat dengan waktu tidak pernah berpihak padanya maupun Jia. Liel juga tidak pernah tahu, kapan janji yang dia ucapkan pada Jia akan terwujud.
Terlebih lagi, konflik antara dirinya dan ayahnya Kay, si Ravindra kian memanas dan belum terlihat ujungnya. Liel hanya berharap suatu hari nanti, semua akan berakhir baik, agar dia merasa pantas, untuk muncul di hadapan Jia.
uhh pesta ambil minum pasti ini
semangat berkarya!!
,, untunglah papany super duper lovely papa~