Seorang Punggawa mengharapkan sebuah arti kehidupan rakyanya yang penuh dengan kemakmuran. Banyak bahaya dan intrik di sana.
Simak ceritanya......Petuah Tanah Leluhur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Artisapic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB II WANGSIT JENDRA
Saat itu ketika Matahari bergulir ke arah Barat , jalan masih lengang dan semua masih berkabung atas meninggalnya petinggi Cikeusik , tiada lain orang yang berilmu tinggi dan bertabiat penuh sahaja juga setiap kebijakannya selalu mengutamakan rakyat , beliau dikenal sebagai Ki Buyut atau Bulhun.
Banyak warga yang merasa kehilangan sosok yang satu ini, tak luput dari perasaan para Kerani atau pembantu ketua adat , juga para beukeul yang tugasnya sebagai kepala dusun atau blok. Pendek kata seluruh masyarakat merasakan duka.
Sore itu tampak para Kerani sedang membicarakan tentang perkembangan pedukuhan Cikeusik , dalam pembicaraan di bangsal pedukuhan dipimpin oleh Sawerga yang tertua di antara yang lain.
" Sedulur semua , kalau kita terus memikirkan atas kepergian Ki Bulhun tentu akan menghambat kinerja kita, sementara nanti kita harus membayar tenaga kerja warga yang membenahi aliean pesawahan," kata Sawerga.
" Iya , memang tugas kita sangat banyak dan kita harus tanggung jawab" , lanjut Soma.
" Sebaiknya kita libatkan saja mereka yang baru datang , siapa tahu mereka mempunyai gagasan membangun yang pas di daerah kita," kata Wirya.
" Itu pasti sedulur , mereka juga bagian dari kita, ingat pesan ki Bulhun , jangan membedakan di antara warga kita, kita bangun bersama," jawab Sawerga.
Sementara para kerani membahas persoalan di bangsal pedukuhan , tiba-tiba datang Nyai Bengkalis dan para kerabat yang selalu mengiringnya. Kedatangan para tamu disambut dengan baik.
" Salam seduluran Ki , kalau kedatangan kami ini mengganggu keseriusan di sini ", kata Mandaga selaku pelindung Nyai Bengkalis.
" Silahkan ki sanak , kami santai-santai saja di sini", jawab Soma.
" Oooooh....saya kira sedang serius , ya sudah , kebetulan Nyai ini mengajak kami untuk ke bangsal", jelas Mandaga.
Tampak Nyai Bengkalis yang selalu diring kemana saja pergi bukan orang sembarangan , konon saat masih di daerahnya ,Nyai Bengkalis itu seorang putri petinggi sebuah Kerajaan. Sedangkan mereka yang ikut bersama adalah orang-orang setia kepadanya. Nyai Bengkalis dan para pendukungnya itu rupanya sedang menyelamatkan diri, kebetulan mereka berjumpa di pedukuhan itu. Menurut cerita , konon katanya mereka datang ke pedukuhan Cikeusik melewati wilayah Barat dan menambatkan kapalnya di daerah Eretan Indramayu.
Sepeninggalnya Ki Bulhun , Cikeusik hanya dipimpin oleh seorang Kerani hinga beberapa tahun. Dalam literatur sejarah kala itu sekitar tahun 1087 M. Dan nanti di 1091 M , masyarakat Cikeusik mengangkat Nyai Bengkalis sebagai ketua adat pedukuhan dan diberi nama gelar Nyi Gede Cikeusik. Begini ceritanya.
" Kita di sini mengalami kemunduran dalam berbagai hal Ki , kata Soma kepada Sawerga.
" Iya , di antara kita tidak ada yang bisa memimpin pedukuhan ini , banyak masyarakat hidup tanpa aturan , pajak tidak ada yang masuk , semua rancu Soma ," jawab Sawerga.
" Sebaiknya kita undang Nyai sama Mandaga kesini , mereka bukan orang biasa ," kata Sawerga.
Beberapa saat kemudian datangla Nyai Bengkalis bersama beberapa orang kepercayaan nya itu. Dan terjadilah dialog malam itu.
" Begitulah keadaan di sini setelah sepeninggalnya para sesepuh," kata Sawerga bercerita dari awal sampai akhir.
"Hmmmmm....terus apa yang akan kita lakukan ke depannya Ki ?" tanya Nyai Bengkalis.
" Begini Nyai.....setelah kami para kerani dan juga beukeul bersepakat bahwa untuk memilih Nyai agar sekiranya memimpin pedukuhan ini", kata Sawerga.
Setelah mengadakan pertemuan beberapa kali , maka di hari itu dihadapan masyarakat Cikeusik , Nyai Bengkalis dikukuhkan sebagai Nyi Gede Cikeusik. Dan dalam program kerjanya dibantu oleh Kerani Warga dipercaya kepada Sawerga dan dikenal sebagai Ki Werga yang situsnya masih ada hingga sekarang , untuk Kerani Sosial atau Ekonomi dan Pembangunan dipercayakan kepada Jaya Kusuma yang dikenal dengan sebutan Ki Luwih , untuk Kerani adat dipercayakan kepada Mandaga yang dikenal sebagai Ki Demeuk atau Ki Meuk , dan sebagai Kerani wanita dipegang jabatannya oleh Nyai Kinanti atau dikenal dengan sebutan Nyi Kanti.
Kemudian untuk menunjang proyek pembangunan di beberapa pecantilan dipercakan kepada Ki Marta , Ki Sela , Ki Boja , dan Ki Aswan.
Saat pengukuhan Nyai Bengkalis sebagai Nyi Gede Cikeusik , dalam sambutanya beliau mengatakan , " Sedulur masyarakat Cikeusik , saya ucapkan terima kasih banyak kepada kalian yang telah memberi mandat dan amanah kepada saya , sebagai ketua adat kalian , mungkin dalam perjalanan pemerintahan ke depan , jangan sungkan-sungkan untuk memberi teguran , kritik atau masukan kepada saya, supaya program kinerja ini berjalan lancar, dalam membangun dibutuhkan sebuah ketenangan , dan untuk menciptakan ketenangan itu dimulai dari keluarga dulu, seorang ibu wajib mengurus keluarganya, seorang bapak wajib mencari nafkah. Sedangkan tugas anak tiada lain harus patuh kepada orang tua, hormati keduanya , serta santun kepada mereka. Dengan bermula dari keluarga semoga semuanya akan menjadi suatu harapan yang membawa kesuksesan," kata Nyai Bengkalis atau Nyi Gede Cikeusik.
Sudah sekian tahun pedukuhan itu dipimpin oleh Nyai Bengkalis , saat itu di hari itu, pedukuhan Cikeusik didatangi oleh beberapa Punggawa atau pejabat tinggi Kerajaan , beberapa orang menghadap di pendopo pedukuhan dan disambut baik oleh Nyai Bengkalis. Dalam kesempatan itu para punggawa dipimpin oleh Raden Singgala dan Breh Wirayudha dari Kerajaan Galuh Pakuan di Garut ( sekarang ).
" Begini Nyai , maksud kedatangan kami ke sini sebenarnya sedang mencari sesepuh kami, yang menghilang pergi entah kemana, menurut cerita dan kabar orang-orang yang kami jumpai bahwa sesepuh kami berada di tempat ini , oleh karena itu sudilah kiranya Nyai memberitahu keberadaan beliau itu," kata Singgala.
" Siapa nama sesepuh Sampeyan ki sanak ?" tanya Sawerga.
" Beliau namanya Tumenggung Wirata atau biasa dipanggil Ki Bugul ," jelas Singgala
" Saya kira mungkin orang-orang di sini dulu pernah menyebutnya Ki Bugulun , bisa jadi itu orang yang sama dengan yang Sampeyan maksud , katanya tubuhnya tinggi , kekar dan ada jambang yang terawat , juga perangainya itu sangat bersahaja," tutur Sawerga.
"Iya , itu betul cirinya seperti itu , dimana sekarang beliau berada," kata Singgala merasa bangga dapat berjumpa nantinya.
" Sebelumnya mohon maaf ki sanak, orang yang kalian maksud itu telah lama meninggal, dan dikuburkan di belakang Swantipura, kalau Sampeyan ingin kesana, baik saya akan temani", kata Sawerga seraya ingin membantu.
" Ooooh....sudah meninggal," jawab Singgala dengan nada pelan.
Akhirnya Singgala dan beberapa Punggawa didampingi Sawerga dan beberapa orang menuju ke tempat pemakaman Ki Bugulun. Tampak di situ terdapat tanah yang muncul dan tanpa tumbuhan yang tumbuh , konon pada waktu Ki Bugulun meninggal , tubuhnya mokswa dan yang ada cuma tanah gundukan saja.
" Inilah tempat terakhir Ki Bugulun dikuburkan dan menurut cerita , setelah dikubur beberapa hari kemudian ada asap keluar dari sini , sehingga para warga sepakat untuk melihat jasad beliau, cuma begitu dilihat ternyata tidak ada, bisa jadi asap itu, katanya mokswa, begitu kata orang", jelas Sawerga.
Di tempat itu Raden Singgala dan beberapa Punggawa merasa tertegun. Mereka hanya bisa berdiri dan memuji atas diri seorang Ki Bugulun yang dikenal sakti mandraguna. Hingga sekarang tanah pekuburan itu ada gundukan tanah yang tidak ada tumbuhan yang tumbuh.
" Kata sesepuh kami dulu , Ki Bugulun sering menjalani Tiwikrama," kata Sawerga.
" Apa itu Triwikrama ki sanak ?" tanya Boja kepada semua orang di tempat itu.
" Nanti saya jelaskan," jawab Singgala.