Nathan Hayes adalah bintang di dunia kuliner, seorang chef jenius, tampan, kaya, dan penuh pesona. Restorannya di New York selalu penuh, setiap hidangan yang ia ciptakan menjadi mahakarya, dan setiap wanita ingin berada di sisinya. Namun, hidupnya bukan hanya tentang dapur. Ia hidup untuk adrenalin, mengendarai motor di tepi bahaya, menantang batas yang tak berani disentuh orang lain.
Sampai suatu malam, satu lompatan berani mengubah segalanya.
Sebuah kecelakaan brutal menghancurkan dunianya dalam sekejap. Nathan terbangun di rumah sakit, tak lagi bisa berdiri, apalagi berlari mengejar mimpi-mimpinya. Amarah, kepahitan, dan keputusasaan menguasainya. Ia menolak dunia termasuk semua orang yang mencoba membantunya. Lalu datanglah Olivia Carter.
Seorang perawat yang jauh dari bayangan Nathan tentang "malaikat penyelamat." Olivia bukan wanita cantik yang akan jatuh cinta dengan mudah. Mampukah Olivia bertahan menghadapi perlakuan Nathan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Adra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MELAMAR MENJADI PERAWAT
Olivia Carter berasal dari keluarga sederhana di Rhinebeck, sebuah desa kecil yang tenang di utara New York. Rumah keluarganya adalah rumah kayu bergaya pedesaan yang dikelilingi pepohonan rindang. Halaman belakangnya luas, tempat Olivia sering bermain saat kecil, sebelum hidup mulai terasa sulit.
Ayahnya, Daniel Carter, dulunya bekerja di sebuah perusahaan manufaktur di kota terdekat. Namun, setelah perusahaan itu bangkrut, ia kehilangan pekerjaannya, membuat keuangan keluarga semakin sulit. Ibunya, Margaret Carter, adalah seorang ibu rumah tangga.
Mereka hidup sederhana, tetapi penuh kehangatan. Namun, setelah kehilangan sumber penghasilan utama, beban terasa semakin berat. Olivia tahu orang tuanya berusaha sebisa mungkin, tetapi dia tidak ingin menjadi tambahan beban. Itu sebabnya, dia memilih tinggal di kota, bekerja sambil kuliah, dan berusaha mandiri sebisa mungkin.
Kini, dengan uang sewa apartemen yang naik dan tabungannya yang semakin menipis, Olivia tahu dia harus menemukan solusi secepatnya.
Olivia duduk di tepi ranjang sempitnya, menatap layar ponselnya dengan gelisah. Harga sewa apartemen akan naik bulan depan.
"Aku butuh pekerjaan dengan gaji lebih besar," gumamnya.
Sebagai mahasiswa psikologi tingkat tiga, dia tidak bisa sembarangan mengambil pekerjaan yang menyita terlalu banyak waktu. Tapi kalau tidak segera menemukan jalan keluar, kuliahnya akan terancam.
Pikirannya melayang ke ayahnya yang kehilangan pekerjaan. Ke ibunya yang sudah berusaha sekuat tenaga mencukupi kebutuhan keluarga di desa.
"Aku tidak boleh menyerah."
Dengan tekad bulat, Olivia mulai mencari lowongan pekerjaan di internet. Dia butuh sesuatu yang membayar tinggi segera.
Olivia menatap layar ponselnya, membaca ulang iklan lowongan yang baru saja ia temukan.
"Dibutuhkan perawat pribadi. Gaji tinggi, bonus besar. Perawatan pasien dengan kebutuhan khusus. Lokasi: New York City."
Gajinya hampir tiga kali lipat dari pekerjaannya sebagai pengantar pizza. Fantastis. Bahkan cukup untuk menutupi biaya kuliah dan sewa apartemennya selama beberapa bulan ke depan.
"Tapi... kenapa gajinya setinggi ini?" gumamnya curiga.
Rasa penasaran membawanya untuk mencari tahu lebih lanjut. Begitu dia menggulir ke bagian informasi tambahan, matanya melebar.
"Pasien adalah seorang publik figur Nathan Hayes."
Jantungnya hampir berhenti. Chef terkenal itu? Nathan Hayes? Pria yang tiga tahun berturut-turut memenangkan penghargaan kuliner paling bergengsi?
Olivia tahu siapa Nathan. Semua orang tahu. Dia bukan hanya terkenal karena bakat memasaknya, tetapi juga karena sikap arogannya yang menjadi buah bibir di dunia kuliner dan media sosial.
Dan sekarang, dia sedang mencari perawat pribadi?
Sesuatu terasa aneh. Tapi Olivia tahu satu hal jika dia mendapatkan pekerjaan ini, semua masalah keuangannya bisa terselesaikan.
Tapi... apakah dia sanggup menghadapi Nathan Hayes?
Olivia menatap layar ponselnya dengan ragu. Tawaran gaji yang fantastis itu memang menggoda, tapi bagaimana dengan kuliahnya?
"Apakah aku bisa mengatur waktu?" pikirnya.
Sebagai mahasiswa psikologi tingkat tiga, jadwalnya cukup padat. Dia tidak ingin pekerjaannya mengorbankan studinya, tapi di sisi lain, jika dia tidak mendapatkan uang tambahan, kuliahnya mungkin harus terhenti.
Dia menghela napas dalam. Mungkin ini kesempatan yang harus dia ambil entah bagaimana caranya, dia akan mencari solusi agar semuanya tetap berjalan.
___
Lingkungan tempat tinggal Nathan sekarang jauh berbeda dari hiruk-pikuk New York. Berada di Todt Hill Staten Island. Rumah besar dengan arsitektur klasik berdiri di tengah lahan luas, dikelilingi pepohonan rindang dan udara yang lebih sejuk. Di sekitarnya, hanya ada suara burung dan gemerisik dedaunan tertiup angin.
Di sinilah dia menjalani terapi bukan hanya untuk fisiknya, tetapi juga untuk jiwanya yang terluka.
Lingkungan ini dipilih dengan harapan bisa membantunya keluar dari keputusasaan. Jauh dari kebisingan kota, dari sorotan media, dan dari orang-orang yang dulu mengelilinginya hanya karena kesuksesan. Namun, meskipun suasananya lebih tenang, Nathan tetap menolak segala bentuk bantuan.
Bagi Nathan, tempat ini bukan terapi melainkan pengasingan.
___
Saat mobil sewaan yang ditumpanginya berhenti di depan rumah besar itu, Olivia menatap bangunan megah di depannya dengan campuran kagum dan gugup.
Ini bukan sekadar rumah, ini seperti sebuah vila di tengah alam. Udara sejuk menyambutnya, berbeda jauh dari kota yang penuh polusi dan kebisingan. Namun, Olivia tidak punya waktu untuk terbuai oleh pemandangan indah ini.
Dia menyesap napas dalam, menggenggam map berisi CV nya erat-erat. Ini adalah satu-satunya kesempatan yang bisa menyelamatkan kuliahnya. Dia harus diterima.
Dengan langkah mantap, Olivia berjalan menuju pintu utama, siap menghadapi apa pun yang menunggunya di dalam.
Seorang petugas keamanan dengan seragam rapi menghentikan langkah Olivia sebelum ia sempat mencapai pintu utama.
“Permisi, ada yang bisa saya bantu?” tanyanya dengan nada tegas.
Olivia segera menunjukkan CV yang digenggamnya. “Saya Olivia Carter. Saya datang untuk wawancara sebagai perawat.”
Petugas itu mengamati sekilas, lalu mengangguk. “Silakan ikut saya.”
Dia berjalan mendahului Olivia, membawanya melewati lorong menuju sebuah ruangan luas yang tampak seperti area perekrutan.
Siang hari di ruangan pengrekrutan...
Charlotte dan Erick duduk di meja panjang, setumpuk CV pelamar terbentang di hadapan mereka. Charlotte menghela napas, menyandarkan punggungnya ke kursi sambil memilah berkas satu per satu.
"Aku benar-benar tidak mengerti," gumamnya, meletakkan satu CV dengan ekspresi frustrasi. "Kenapa begitu banyak yang melamar, tapi tidak ada yang bertahan?"
Erick mendengus, melipat tangannya di dada. "Karena mereka semua tidak tahu apa yang menunggu mereka. Nathan bukan pasien biasa, Charlotte. Dia seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja."
Charlotte mengangguk pelan, lalu kembali menelusuri berkas-berkas di hadapannya. "Kita butuh seseorang yang bukan hanya bisa merawatnya, tapi juga cukup sabar dan tangguh untuk menghadapinya."
Erick mengambil salah satu CV, menatapnya sekilas, lalu meletakkannya kembali dengan gelengan kepala. "Kebanyakan dari mereka hanya punya pengalaman di rumah sakit atau panti jompo. Tidak ada yang benar-benar siap untuk menangani pasien sekeras Nathan."
Charlotte tiba-tiba berhenti di satu CV. Matanya menyipit saat membaca isinya. "Ini menarik."
Erick mengangkat alis. "Siapa?"
"Olivia Carter," jawab Charlotte, menyerahkan CV itu kepada Erick. "Mahasiswa psikologi tingkat tiga. Tidak punya banyak pengalaman sebagai perawat, tapi latar belakangnya menarik."
Erick membaca sekilas, lalu menghela napas. "Psikologi? Kau pikir itu bisa membantu?"
Charlotte mengangkat bahu. "Setidaknya, dia mungkin bisa memahami pola pikir Nathan lebih baik daripada yang lain. Itu hanya dugaan, tentu saja, tapi kupikir layak dicoba."
Erick berpikir sejenak, lalu melemparkan CV Olivia kembali ke meja. "Baiklah. Kita panggil dia untuk wawancara. Tapi jangan terlalu berharap."
Charlotte tersenyum kecil. "Aku tidak berharap banyak. Tapi aku berharap dia bisa bertahan lebih lama dari yang lain."
Seorang asisten perekrutan keluar dari ruangan dan melirik daftar nama di tangannya sebelum mengangkat suara.
“Olivia Carter?”
Olivia yang duduk di kursi tunggu segera berdiri, merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Dia menggenggam map berisi CV nya, berusaha menenangkan diri.
“Silakan masuk,” ujar asisten itu sambil membuka pintu.
Olivia menarik napas dalam, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan wawancara, siap menghadapi apa pun yang akan terjadi.
Apakah Nathan akhirnya berani mengungkapkan perasaannya??