NovelToon NovelToon
Air Mata Terakhir

Air Mata Terakhir

Status: tamat
Genre:Konflik etika / Tamat
Popularitas:209.5k
Nilai: 5
Nama Author: fieThaa

Sudah tahu tak akan pernah bisa bersatu, tapi masih menjalin kisah yang salah. Itulah yang dilakukan oleh Rafandra Ardana Wiguna dengan Lyora Angelica.

Di tengah rasa yang belum menemukan jalan keluar karena sebuah perbedaan yang tak bisa disatukan, yakni iman. Sebuah kejutan Rafandra Ardana Wiguna dapatkan. Dia menyaksikan perempuan yang amat dia kenal berdiri di altar pernikahan. Padahal, baru tadi pagi mereka berpelukan.

Di tengah kepedihan yang menyelimuti, air mata tak terasa meniti. Tetiba sapu tangan karakter lucu disodori. Senyum dari seorang perempuan yang tak Rafandra kenali menyapanya dengan penuh arti.

"Air mata adalah deskripsi kesakitan luar biasa yang tak bisa diucapkan dengan kata."

Siapakah perempuan itu? Apakah dia yang nantinya akan bisa menghapus air mata Rafandra? Atau Lyora akan kembali kepada Rafandra dengan iman serta amin yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fieThaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3. Disakiti

Walaupun dilanda kebimbangan, Rafandra tak pernah menunjukkan kepada Lily. Dia bersikap seperti biasa dan menjemputnya untuk berangkat bersama.

"Besok ada waktu gak?"

Rafandra yang tengah fokus ke jalanan menoleh ke arah samping. Lily tengah menanti jawaban darinya.

"Mau jalan?"

Lily mengangguk dengan cepat dan itu membuat Rafandra tertawa. Tangannya mulai mengusap ujung kepala Lily dengan lembut.

"Mau ke mana?"

"Aku mau menghabiskan waktu bersama kamu seharian full. Boleh?"

"Off course."

Senyum merekah di bibir Lily. Tangannya mulai meraih tangan Rafandra. Lalu, menggenggamnya. Lily begitu bersyukur karena apa yang dia mau selalu Rafandra iyakan tanpa banyak perdebatan.

"Hari ini aku full di luar." Lapornya pada Lily supaya Lily tak berpikiran yang tidak-tidak.

"Maaf, jika aku selalu overthinking sama kamu."

"It's okay. Jangan bahas itu lagi, ya." ujar Rafandra dengan senyum hangatnya.

Hari ini Rafandra memang benar-benar sibuk. Baru saja masuk ke ruangan, dia keluar dengan langkah lebar dengan ponsel yang menempel di telinga.

Setelah Makan siang pun Rafandra belum kembali. Sampai jam pulang kantor pun belum ada tanda-tanda Rafandra kembali. Wajah sendu Lily terlihat begitu jelas sebelum dia turun karena sudah ada yang menjemputnya.

Keesokan harinya, Lily minta dijemput bukan di rumahnya. Melainkan di halte dekat kantor. Rafandra mengikuti saja. Di dalam mobil pun dia tak banyak bertanya.

Pantai adalah tempat yang ingin Lily kunjungi. Tak biasanya Lily bergelayut manja pada lengan Rafandra di tempat ramai. Namun, hal aneh itu membuat Rafandra bahagia. Dia meletakkan sejenak kebimbangan tentang hubungan yang tak ada kejelasan. Tak ada salahnya dia menikmati kebahagiaan sekarang.

Menghabiskan waktu berdua di pantai sambil bercanda juga tertawa. Ditambah Lily yang begitu manja. Tak ingin melepaskan tangan Rafandra barang sedetik pun.

Tak terasa hari sudah sore. Mereka berdua masih betah berada di sana. Terutama Lily yang enggan pergi dari sana. Tangannya pun begitu erat melingkar di pinggang Rafandra.

"Are you happy?"

Lily mendongak ke arah Rafandra. Dia tersenyum dengan kepala mengangguk yakin. Lelaki itupun semakin mengeratkan rengkuhannya di pinggang sang puan.

Selama dekat dengan Lily, Rafandra tak pernah melakukan kontak fisik selain genggaman tangan dan pelukan. Bohong jika dia tak ingin mencoba hal lain, tapi dia mampu mengerem nafsunya karena niatnya dari awal ingin menjaga Lily. Bukan merusaknya.

Menunggu senja datang dan melihat matahari terbenam dengan saling berpelukan ternyata begitu menenangkan. Tak ada kata apapun dari bibir mereka berdua. Keduanya begitu menikmati momen ini.

Langit orange sudah berganti hitam. Angin laut sudah menerpa kulit. Rafandra mulai mengajak Lily untuk pulang. Padahal, Lily masih ingin menikmati hari ini dengan lelaki yang sudah menggenggam tangannya.

"Udah malam, Ly. Besok kita masih bisa menghabiskan waktu berdua lagi."

Rafandra merasa aneh ketika ayah dari Lily malah bersikap biasa ketika dirinya mengantar Lily pulang. Sapaannya pun dijawab anggukan walaupun tanpa senyuman.

.

Tibanya di rumah mobil sang paman sudah terparkir di depan rumah. Gavin Agha Wiguna tengah berbincang serius di ruang keluarga.

"Besok sore kita harus menghadiri acara pernikahan anak dari kolega yang kemarin."

Pria yang sudah memiliki anak bujang itu berkata ketika Rafandra mencium tangannya.

"Kok dadakan?"

"Undangannya baru aja nyampe."

Di antara Mas Agha juga papi Rangga tak ada yang menanyakan dari mana Rafandra. Mereka berdua begitu menghargai privasi lelaki tersebut.

Sudah berganti pakaian dan bersiap untuk tidur. Ponselnya bergetar. Ternyata itu pesan dari Lily.

"Besok pagi kita ketemu, ya. Aku ingin sarapan bareng."

Senyum melengkung di bibir Rafandra. Tanpa menunggu lama dia mengiyakan. Inilah yang membuat Rafandra sulit untuk melepaskan. Ketika dia ingin membuat keputusan, Lily pasti datang. Seakan Lily melarang untuk adanya perpisahan.

Mami Aleena mengerutkan dahi ketika di Minggu pagi sang putra sudah tampan dengan pakaian santai.

"Mau ke mana, anak bujang?"

Rafandra hanya tersenyum. Lalu, mengecup pipi sang mami dengan begitu lembut.

"Abang mau joging sebentar. Terus mau sarapan sama Lily."

Rafandra tak pernah berbohong kepada sang ibunda. Apapun yang dia lakukan pasti dia katakan dengan jujur. Sang mami pun meresponnya dengan seulas senyum.

"Bawa mobil?"

"Motor aja, Mi."

"Hati-hati."

Setelah menyalami sang mami, Rafandra pergi. Mami Aleena hanya bisa menatap punggung sang putra dengan raut sendu.

"Jika, perempuan yang membuat kamu nyaman itu seiman. Pasti akan Mami dukung, Bang."

Syarat untuk menjadi pendamping anggota keluarga singa hanya seiman. Tak mereka pedulikan perihal kedudukan dan kekayaan.

Rafandra dan Lily bertemu di taman area rumah Rafandra. Senyum yang begitu manis Lily berikan.

"Aku telat, ya."

"Enggak kok. Aku emang sengaja datang pagi."

Sama-sama soft spoken dan memiliki attitude luar biasa. Jika, disatukan akan menjadi pasangan yang begitu sempurna. Sayangnya, itu begitu mustahil bagi mereka.

Berjalan santai dan berlari keliling taman sudah mereka lakukan. Kini, mereka berada di kedai bubur ayam langganan yang sedikit jauh dari taman. Tawa canda pun masih tercipta. Hingga mereka harus kembali berpisah. Sebelum Lily masuk ke dalam rumah, tatapan sulit diartikan Lily tunjukkan. Perempuan itupun berhambur memeluk tubuh Rafandra.

"Are--"

"Aku ingin seperti ini dulu, Ndra."

Perlahan tangan Rafandra pun membalas pelukan Lily tanpa bertanya lagi. Pelukan pagi ini terasa berbeda. Terasa menyayat hati. Tak mereka pedulikan orang yang berlalu lalang memperhatikan. Setelah hampir sepuluh menit, pelukan itu pun terurai. Lily menatap serius ke arah Rafandra yang masih melingkarkan kedua tangan di pinggang sang perempuan.

"I Will Miss this moment."

Tangan Rafandra mulai mengusap lembut pipi putih Lily. Tatapannya begitu dalam.

"Aku akan peluk kamu kapanpun kamu mau."

Kalimat yang begitu lembut tersebut terasa seperti belati panjang yang menusuk dada. Mata Lily pun berkaca. Kembali Rafandra memeluk tubuh Lily.

.

Rafandra mengirimkan pesan sebelum dia berangkat ke acara pernikahan anak dari kolega Wiguna Grup. Namun, hanya centang satu. Tak pernah dia berpikiran negatif karena sebulan terakhir Lily sering begini.

Dia berangkat bersama sang paman. Tibanya di tempat tersebut, Rafandra hanya mengikuti Mas Agha.

"Pemberkatan dulu," bisik Mas Agha.

Berdiri di samping jalan menuju altar untuk menyaksikan calon pengantin datang. Mempelai laki-laki sudah berjalan dengan gagah menuju altar. Dan tinggal menunggu mempelai wanita.

Mata semua tamu kini beralih pada perempuan cantik bergaun putih yang sudah menuju altar. Senyum yang mengembang di wajah Rafandra mendadak hilang ketika melihat sang mempelai.

Prosesi pemberkatan pernikahan terus berlangsung dan ketika janji suci pernikahan terucap, seperti ada belati panjang yang menancap. Akhir dari prosesi sakral ketika pengantin baru yang baru sah itu berciuman di depan semua orang. Rafandra sudah tidak sanggup dan mulai memutar tubuh dan menjauh dari sana.

Ketika semua tamu besorak melihat ciuman pertama pasangan pengantin baru, ada bulir bening yang menetes membasahi pipi.

"Ternyata aku yang disakiti."

...*** BERSAMBUNG ***...

Aku tunggu komennya ya ...

1
Susi Yanti
k e r e n....bulan madu tanpa halangan
Susi Yanti
sat set Ndra,keburu Yudha bertindak lg
Susi Yanti
denger tuh Dra,nasehat si adik
Ellya Muchdiana
Abang Rafandra mesra banget sama Talia, untungnya si liliput udah menjauh ke negeri orang
Ellya Muchdiana
pergi aja sana yg jauh, siapa juga yg peduli, mau ke Hongkong, ke Jerman atau ke ujung dunia sekalipun emang Rafandra pikirin
Ellya Muchdiana
meleleh hati adik bang,,,, kapan dihalalinnya, adik tunggu bang,,, /Drool//Drool//Drool/
Ellya Muchdiana
Rafandra terlalu baik, jadi seperti php kasihan Talianya, udah ga ada orang tua, adik satu2nya berada diluar kota
Ellya Muchdiana
sedih bacanya dua bersaudara yg saling menyayangi, semoga saja Rafandra serius menjaga dan menjadi garda terdepan untuk Talia
Ellya Muchdiana
sayang pangeran ga macho, pake anting sama kalung, jadi agak ilfeel sama visualnya,,, sorry ya thor,,
Susi Yanti
matikan rasa yg tersisa,jika km ingin bebas dr kenangan pahit Ndra
Ellya Muchdiana
si Rafandra nya aja bodoh mau dikejar2 sama lily, udah tau beda keyakinan selalu aja merespon setiap ditelp si lily, laki2 ga punya pendirian, nyaman tapi tak seiman untuk apa
Susi Yanti
lebih baik sakit sekarang ndra drpd setelah jauh melangkah
Ellya Muchdiana
kalo si lily bosan di rumah karena sudah biasa kerja di kantor Rafandra, yah suruh kerja aja di kantor suaminya
Ellya Muchdiana
si Lily nya ga tau diri, udah banyak ditolongin sama Rafandra jadi keenakan, Rafandranya juga bodoh
Ellya Muchdiana
salahnya si abang Rafandra terlalu terlena dengan keberadaan lily, harusnya lebih tegas thd diri sendiri, bila perbedaan terlalu sakral
Ellya Muchdiana
kalau ketaqwaan terhadap Tuhannya masing2 dipertahankan harusnya segera pisah, sebelum lanjut kejenjang yg serius, kalau Tuhan tidak meridhoi pasti akan berakhir entah waktunya kapan,,,
Sari Nilam
pergilah liliput pergi yang jauh jangan kembali lagi iiii..
karena itu sia sia
Sari Nilam
🤣🤣🤣🤣 katanya dah move on ...nyatanya kebakaran
Enink Puri
😂😂😂😂😂
YuWie
siapa itu yg menyabotase mobil shg rem blonh dan anehnya 2motor jg nabrak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!