Serka Davis mencintai adiknya, hal ini membuat sang mama meradang.
"Kamu tidak bisa mencintai Silvani, karena dia adikmu," cegah sang mama tidak suka.
"Kenapa tidak boleh, Ma? Silvani bukan adik kandungku?"
Serka Davis tidak bisa menolak gejolak, ketika rasa cinta itu begitu menggebu terhadap adiknya sendiri, Silvani yang baru saja lulus sekolah SMA.
Lalu kenapa, sang mama tidak mengijinkan Davis mencintai Silvana? Lantas anak siapa sebenarnya Silvana? Ikuti kisah Serka Davis bersama Silvani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Benarkah Aku Anak Pungut?
Silva segera menuju kamarnya, lalu meletakkan buket bunga dan map yang berisi rapot serta ijasah kelulusan, di atas meja rias.
Silva belum mau membagi kebahagiaannya bersama sang mama yang baru pulang dari butik. Untuk sejenak, Silva membaringkan tubuhnya di kasur. Tubuhnya tiba-tiba merasa lelah.
Ketika terbaring, pikiran Silva kembali terngiang kalimat ejekan yang dilontarkan Ardo maupun Risa tadi. Tiba-tiba Silva merasa sedih, saat membayangkan kalau dirinya benar-benar anak pungut yang diambil dari pembuangan sampah.
"Jika benar aku anak pungut, lalu anak siapakah aku? Tapi itu tidak mungkin. Kata Ramon, Risa hanya iri sama aku sehingga mereka menyebarkan gosip kalau aku anak pungut. Terus kenapa Tante Riana bisa-bisanya menyebar gosip kalau aku adalah anak pungut? Sepertinya meraka memang iri dan tidak suka karena aku selalu dapat juara umum," bisiknya dalam hati. Sejak tadi Silva belum berhenti berbicara di dalam hatinya tentang ejekan yang ditujukan padanya.
Silva pun lamat-lamat terlelap dan larut dalam mimpi indah di siang bolong.
"Ya ampun Silva, sudah mau menjelang Maghrib, kamu masih tidur, pamali anak gadis tidur menjelang Maghrib. Bangun, kamu juga belum ganti baju sejak pulang tadi," omel Mama Verli, saat dirinya sudah berada di dalam kamar Silva.
Mama Verli mencoba menggoyah tubuh Silva yang masih terbujur dan belum bergerak.
"Ampun dah, anak gadis," omelnya lagi seraya menoleh ke arah meja rias di dalam kamar itu. Mama Verli melihat buket bunga serta map besar. Kemudian perempuan paruh baya itu menghampiri meja rias dan meraih buket bunga yang bertuliskan ucapan selamat karena Silva kembali terpilih sebagai murid terbaik dan mendapatkan juara umum di sekolahnya.
Ada sunggingan senyum di bibir Mama Verli, dia bangga dengan Silva yang memang selalu meraih juara umum sejak SMP sampai sekarang. Lalu tangannya kini beralih menuju map yang isinya raport dan laporan prestasi lainnya milik Silvani. Di sana juga ada lembaran bea siswa untuk Silva.
Lagi-lagi Mama Verli dibuat bangga dengan Silva, karena nilai laporan di raportnya bagus-bagus.
"Tidak sia-sia aku sekolahkan ke sekolah yang bagus, ternyata otak Silvani cerdas. Sekarang tinggal mencari universitas yang cocok untuk dirinya," bisik Mama Verli senang.
"Ughhhh."
Lenguhan terdengar dari mulut Silva, menandakan Silva mulai tersadar dan bangun. Tubuhnya meregang merelaksasi setiap otot tubuh yang baru saja diistirahatkan.
"Hoammm." Sepertinya Silva masih ngantuk sampai suara nguapnya terdengar keluar kamar. Dari luar kamar, sudah ada Davis mengintip ke dalam. Tadinya Davis mau masuk ke kamar Silva, akan tetapi urung karena Davis melihat sang mama di dalam.
"Mama. Sejak kapan Mama di kamar Silva?" Silva sedikit terkejut saat melihat sang mama sudah berada di dalam kamarnya.
"Sejak 10 menit yang lalu. Mama sengaja melihat kamu, ternyata kamu sedang tertidur pulas. Sekarang bangunlah, bersihkan diri kamu. Mandi, sholat Maghrib dan makan malam," titahnya. Sementara Silva merasakan matanya masih ngantuk.
"Silva, kamu mendapatkan juara umum lagi dari sekolah? Keren kamu. Lalu, kamu mau kuliah di mana? Kamu pilih salah satu universitas yang memberikan kamu beasiswa saja," saran Mama Verli.
"Iya, Ma. Silva juga masih bingung untuk menentukan. Tapi kalau Mama sudah memilihkan salah satunya, Silva pasti akan memilih salah satu yang Mama pilih."
"Selamat, ya, Silva. Kamu memang tidak pernah mengecewakan jadi anak mama. Mama bangga sama kamu," ujarnya memeluk Silva. Silva terharu, lalu tiba-tiba ucapan Risa maupun Ardo di gerbang sekolah tadi, terngiang kembali membuat Silva kembali sedih.
"Ma, ada yang pengen Silva bicarakan sama Mama, boleh?" Silva bertanya dulu karena merasa ragu.
"Apa? Boleh. Tapi, nanti saja. Kamu bersihkan diri dulu, nanti setelah makan malam kita bicara dan sekalian mendiskusikan kemana kamu akan melanjutkan kuliah," tukas Mama Verli sembari keluar dari kamar Silva.
Silva bangkit, lalu berjalan menuju kamar mandi. Untuk sementara kesedihan mengenai ejekan kedua temannya yang tidak mendasar itu, sedikit terlupakan.
Silva kini sudah wangi dan bersih, tubuhnya sudah segar kembali. Di depan pintu kamar Davis mengetuk pintu dua kali.
"Kak Davis, ada apa Kak? Aku sudah sholat Maghrib kok. Pasti disuruh mama bilangin aku, kan?" tebak Silva sok tahu.
"Nggak, kakak sengaja datang ke kamar kamu untuk memberikan ucapan selamat, karena kamu kembali juara umum di sekolah," ungkap Davis seraya memberikan satu bungkus kado yang dalamnya coklat dan sekuntum bunga mawar.
"So sweet. Kenapa Kakak bisa seromantis ini? Harusnya Kakak memberikan bunga hanya untuk pacar Kakak, bukan sama aku," protes Silva seraya meraih kotak yang isinya coklat.
"Wihhh, coklat matcha. Aku suka aku suka," girangnya, tidak lupa tubuhnya sedikit melompat saking girangnya.
"Terimakasih Kak Davis kesayangan, muach." Silva mencium coklat matcha kesukaannya pemberian Davis.
"Selamat, ya." Tiba-tiba Davis meraih Silva dan merangkulnya lalu mencium kening Silva.
Silva segera menjauhkan tangan Davis dari bahunya. Dia memang biasa dicium keningnya oleh Davis, dan menganggap itu biasa. Tapi, bagi Davis ciuman itu berbeda. Davis merasakan getaran lain. Dia ingin memiliki Silva dan menjadikan bagian hidupnya.
Jika ditanya sejak kapan Davis memiliki rasa yang berbeda terhadap Silva, tentu saja jawabannya sejak Silva beranjak remaja. Silva selalu menggemaskan bukan hanya sekedar gemas kakak terhadap adiknya, melainkan gemasnya seorang laki-laki yang mengagumi atau menyukai seorang perempuan. Sayangnya Silva seakan belum sadar kalau Davis menyimpan sebuah rasa.
"Kita keluar, sebentar lagi mama memanggil. Lagian, papa juga sudah pulang," ajaknya seraya menarik lengan Silva menuruni tangga.
Tiba di meja makan, kedatangan mereka berdua mendapatkan tatap tajam dari Mama Verli. Mama Verli menatap ke arah tangan Silva yang dipegang erat oleh Davis.
"Lepaskan tangan kalian, kalian mau makan atau mau berpegangan tangan?" cegahnya sembari menatap ke arah Silvani tajam.
Silvani dan Davis buru-buru melepaskan tangan mereka masing-masing, lalu menduduki salah satu kursi makan.
"Oh, ya, Ma, Pa. Tadi di sekolah, Ardo teman Silva bilang kalau Silva adalah anak pungut dapat mungut dari tempat sampah. Ardo bilang tahu dari Tante Riana mamanya Risa," celoteh Silva membuat suasana meja makan mendadak panas padahal AC sudah dinyalakan.
Mama Verli dan papa Vero serta Davis kompak saling lempar tatap. Mereka heran kenapa ada orang lain yang berani mengungkap siapa Silva sebenarnya.
"Tidak, jangan dengar ocehan sampah mereka. Sepertinya mereka memang iri saja sama kamu, karena kamu selalu menjuarai juara umum di sekolah," tukas Mama Verli, mencoba mengalihkan kesedihan dan rasa curiga Silva.
gak suka banget aku liatnya...
klo menurut ku ini gak cinta sih,nafsu namanya...agak lain gaya pacaran nya...klo cinta itu pasti dijaga,orang pacaran sehat aja gak mau tiap sebentar cap cip cup...
Bika Ambon dan lapis legit 👍👍👍👍
kk adek kandung mana ada begituan klo udah besar...aku aja dilarang masuk kamar Abg ku 😅😅😅