Senja Maharani, seorang sekretaris muda yang cerdas, ceroboh, dan penuh warna, di bawah asuhan Sadewa Pangestu, seorang CEO yang dingin dan nyaris tak berperasaan. Hubungan kerja mereka dipenuhi dinamika unik: Maha yang selalu merasa kesal dengan sikap Sadewa yang suka menjahili, dan Sadewa yang diam-diam menikmati melihat Maha kesal.
Di balik sifat dinginnya, Sadewa ternyata memiliki sisi lain—seorang pria yang diam-diam terpesona oleh kecerdasan dan keberanian Maha. Meski ia sering menunjukkan ketidakpedulian, Sadewa sebenarnya menjadikan Maha sebagai pusat hiburannya di tengah kesibukan dunia bisnis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luckygurl_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Paginya terasa badmood
Maha membuka matanya dengan senyum cerah. Pagi ini terasa berbeda, seakan dunia menyambutnya dengan lebih hangat. Cahaya matahari yang menyelinap melalui jendela besar apartemennya jatuh lembut di wajahnya, membangkitkan perasaan nyaman yang jarang ia rasakan di pagi hari.
“Selamat pagi, dunia… semoga hari ini menyenangkan.” Ucapnya pelan, seperti mantra yang selalu ia ulang setiap pagi.
Hidupnya memang tak selalu mulus, badai masalah kerap datang tanpa permisi. Tapi setidaknya kalimat itu memberinya harapan, bahwa hari ini lebih baik dari kemarin.
Tapi ada sesuatu yang membuat Maha berdebar lebih cepat pagi ini. Ia bukan tipe wanita yang mudah terpengaruh hal-hal kecil, namun pesan singkat dari Danu semalam masih tersisa di pikirannya. Mendadak, perutnya terasa geli , seakan ada sekumpulan kupu-kupu yang beterbangan tanpa kendali.
Sialan!
Maha terkekeh pelan, ia mengusap wajahnya seolah bisa mengusir kegugupan yang mendadak muncul. Namun, perasaan itu tetap ada—menyenangkan sekaligus membuatnya sedikit cemas. Ada sesuatu yang berbeda dalam rutinitasnya kali ini. Sesuatu yang mungkin saja bisa berkembang menjadi lebih sekedar kebiasaan sehari-hari. Sesuatu yang membuatnya, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, menantikan hari ini dengan hati yang ringan.
Tak lama setelah membuka mata, Maha segera bangkit dari ranjang dengan semangat yang lebih tinggi dari biasanya. Langkahnya ringan menuju kamar mandi, dan begitu air hangat dari shower menyentuh kulitnya, sensasi relaksasi perlahan menyebar dari ujung kepala hingga kaki.
Rasanya seperti beban yang menumpuk ikut luruh bersama tetesan air. Dalam keheningan itu, Maha menikmati setiap detik kesejukan yang menyapu tubuhnya, membiarkan sejenak pikirannya kosong dari segala kepenatan.
Beberapa menit kemudian, ia keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang lebih segar, siap menghadapi hari. Langkahnya menuju walk in closet yang luas, tempat koleksi pakaiannya tersusun rapi. Pemandangan itu selalu memberikan rasa nyaman—seolah-olah dunia bisa ditaklukkan dengan pilihan pakaian yang tepat. Namun seperti biasa, pagi ini ia masih harus menghadapi tantangan kecil yaitu, memilih outfit.
Dengan tangan terlipat di pinggang, Maha memandangi deretan kemeja dan blus yang tergantung rapi di depannya. Alisnya sedikit mengeryit, tanda kebingungan mulai melanda.
“Pakai yang mana, ya?” gumamnya sambil mengetukkan jari ke dagu, lalu tanpa sadar mulai menyenandungkan, “Cap, cip, cup, kembang kuncup!” sembari menunjuk pakaian secara acak.
Setelah beberapa menit mempertimbangkan, mata Maha akhirnya tertuju pada sebuah blus satin berwarna krem. Ia menariknya dari gantungan dengan senyum kecil. “Nah, cakep juga ini.” gumamnya. Seolah pakaian itu sudah ditakdirkan untuknya hari ini. Blus itu memiliki potongan elegan namun santai, sempurna untuk suasana kantor yang sibuk tanpa menghilangkan rapi dan berkelas.
Blus krem itu membalut tubuh ramping Maha dengan sempurna, menciptakan siluet anggun yang semakin menonjolkan pesonanya. Ia memadukan nya dengan rok pensil berwarna senada, yang menambah kesan profesionalitas tanpa menghilangkan sentuhan feminin. Tak butuh banyak aksesoris, cukup riasan tipis yang memberikan kesan segar dan natural di wajahnya. Maha menatap pantulan dirinya di cermin dan mengangguk kecil, merasa puas dengan tampilannya pagi ini.
Sebagai sentuhan terakhir, ia menyemprotkan parfum favoritnya—aroma floral yang lembut dan mewah langsung menyebar di udara, meninggalkan kesan anggun hingga ujung kaki. Senyum puas terukir di wajahnya, merasakan bahwa segalanya telah siap.
Ting! Tong!
Suara bel pintu yang tiba-tiba berbunyi membuat jantung Maha berdetak sedikit lebih cepat. Matanya berbinar, tahu betul siapa yang datang. Dengan cepat, ia meraih tas tangan berwarna coklat kesayangannya yang tergeletak di meja rias, lalu melangkah keluar kamar dengan hati sedikit berdebar.
“Iya, sebentar…” seru Maha sambil berlari kecil ke arah pintu. Heels tinggi yang dikenakannya sedikit menghambat langkahnya, tapi ia berusaha tetap gesit. Ada semacam antusiasme yang mendorongnya untuk segera membuka pintu.
“Iya, Mas, tung—”
Kata-katanya terputus begitu saja. Senyum yang tadi menghiasi wajahnya seketika memudar, tergantikan oleh keterkejutan yang sulit disembunyikan.
Sadewa.
Tubuh Maha terpaku, sementara jantungnya berdetak lebih cepat. Bukan karena senang, melainkan rasa tidak nyaman yang tiba-tiba menyergap. Kehadiran Sadewa adalah sesuatu yang tidak ia harapkan, apalagi di pagi yang seharusnya berjalan menyenangkan.
Sementara Sadewa, menatapnya dengan ekspresi bingung. Namun, ada sedikit keangkuhan dimatanya. “Apa kamu pikir yang datang adalah kekasihmu?” Ucapnya. Nada suaranya terdengar tajam, seolah sengaja menusuk.
Maha menghela nafas pelan, berusaha mengendalikan diri. Ia menggeleng, tidak ingin memberikan reaksi yang berlebihan, meskipun dalam hatinya amarah sudah mulai membara. Tidak ada yang lebih merusak mood-nya selain melihat pria menyebalkan itu di hadapannya. Seolah-olah seluruh rencana dan semangat paginya hancur dalam sekejap.
Sadewa menyilangkan kedua tangannya kedalam saku celana. “Kamu tidak mempersilahkan saya masuk?” tanyanya, seakan kehadirannya itu adalah hal lumrah.
Maha menyilangkan tangannya di dada, menatap Sadewa dengan tatapan dingin. “Ada apa, Pak Sadewa, datang kesini?” tanyanya, suaranya terdengar agak dingin. Ia tahu sikapnya ini tidak sopan, tapi ia merasa tidak perlu bersikap formal saat ini, terlebih lagi bukan di kantor.
Sadewa tampak tak peduli atas sikap Maha. Dengan santainya, ia melangkah masuk ke dalam unit Maha tanpa menunggu izin lebih dahulu. “Saya ini tamu, loh, Maha dan saya juga bos kamu. Kenapa tidak sopan begitu sama saya?” balasnya, seolah tidak terpengaruh dengan penolakan yang terlihat jelas dari Maha.
Maha mengepalkan tangan di sisi tubuhnya, ia berusaha menahan diri. Jantungnya berdegup lebih cepat antara kesal dan frustasi. Orang sinting! Rutuknya dalam hati. Ingin rasanya Maha mengusir pria itu sekarang juga, tapi ia tahu betul bahwa beradu mulut dengan Sadewa hanya akan membuatnya terlihat kalah.
Sementara itu, Sadewa sudah berjalan santai masuk kedalam, melepas satu kancing jasnya dan matanya mulai menjelajahi setiap sudut unit Maha. Mata elangnya menangkap setiap detail desain interior apartemen Maha—minimalis, elegan, dan cukup mewah. Perabotan berkualitas tinggi yang tertata rapi dengan pemilihan warna lembut yang sangat sesuai dengan karakter Maha. Ternyata selera Maha tinggi juga, pikirnya.
Pada sudut lainnya, Maha sibuk di dapur, ia tengah meracik sesuatu untuk menjamu tamunya yang entah datang dengan tujuan apa. Kepalanya dipenuhi pertanyaan tentang kedatangan Sadewa. Namun, ia memilih untuk tidak memperlihatkan keraguan nya.
Setelah merasa puas dengan apa yang dilihatnya, Sadewa pun kembali melangkah dengan santai menuju sofa empuk di ruang tamu. Ia duduk dengan rileks, menyilangkan kaki dan menyandarkan punggungnya. Sementara matanya, tetap tertuju pada Maha yang sedang berdiri membelakanginya.
Sempurna, gumamnya dalam hati. Meskipun Sadewa tidak mengucapkannya keras-keras. Penampilan Maha memang tidak bisa dipungkiri, begitu anggun dan sempurna di matanya. Semua gerak-gerik Maha terkesan begitu teratur, dan meskipun ia tidak pernah memuji Maha secara langsung. Sadewa tidak bisa mengelak bahwa ia merasa kagum pada gadis itu.