Keseharian Lana menjadi pendamping Tuan Buta untuk menjadi pengganti istrinya yang sering keluar dengan pria lain itu berbuah kebingungan. Itu terjadi ketika Tuan buta itu sembuh dari kebutaannya. Dia mengira selama ini istrinyalah yang mendampinginya. Keberadaan Lana lenyap seketika tanpa berbekas.
Apa yang akan terjadi ketika semua kebiasaan yang ia pikir adalah milik istrinya itu tidak nampak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 3 Mengejar petugas kebersihan
...***...
Saat itu, Rena yang sedang mengikuti gadis itu terlihat keheranan dengan perintah dari bosnya. Terlihat jelas di wajahnya. Meminta dirinya untuk melihat bagaimana gadis cleaning servis itu mirip dengan beliau? Itu sungguh permintaan yang aneh. Namun sebagai bawahan, ia wajib mengikuti perintah boss. Jadi dia melakukannya tanpa banyak bertanya.
"Tunggu sebentar, Mbak." Rena memanggil petugas kebersihan itu. Gadis itu awalnya tidak menoleh. Dia tetap berjalan menyusuri lorong dengan alat kebersihan di tangannya. Mungkin karena ada beberapa orang yang ada di lorong juga, hingga memungkinan panggilan itu bukan untuk dirinya. Begitu pikir gadis itu. Rena makin mempercepat langkahnya mengejar gadis cleaning servis. "Tunggu Mbak. Tolong berhenti." Akhirnya Rena berhasil menepuk pundak gadis ini pelan.
Seketika tubuh gadis itu terperanjat kaget. Tepukan yang tidak seberapa keras itu sanggup membuat bahu gadis ini berjingkat sebentar.
"Y-ya?" tanya gadis itu yang sekarang merasa yakin kalau dialah yang sejak tadi di panggil. Ia menghentikan langkahnya.
"Hhh ... Aku sudah memanggilmu sejak tadi." Rena mengatur napasnya sebentar.
"Maaf. Saya tidak yakin kalau ada yang memanggil saya." Gadis itu membungkuk meminta maaf.
"Tidak apa-apa." Rena tersenyum menenangkan.
"Ada perlu apa ya?"
Mendadak, sekretaris ini kebingungan dengan pertanyaan itu. Ia lupa kalau belum ada perintah selanjutnya. Direktur Sonia hanya memintanya untuk melihat lagi, apakah gadis ini mirip dengan beliau ...
"Itu ... tadi atasanku ... Ah, mungkin beliau salah lihat. Sudahlah. Terima kasih atas waktunya." Rena mengakhiri percakapan dengan mendadak. Menurutnya ia sudah melaksanakan perintah bos untuk melihat rupa gadis ini. Kemudian Rena pergi meninggalkan petugas kebersihan ini yang mengerjapkan mata keheranan.
"Ada apa dengan orang itu?" gumam gadis dengan nama Lana di seragam kerjanya. Dia menipiskan bibir melihat tingkah aneh Rena tadi. Lalu ia kembali melanjutkan pekerjaannya.
***
Selang beberapa menit, Rena muncul. Sonia yang sudah berada di luar kamar lagi, bergerak mendekat. "Bagaimana, Rena? Apa yang kamu lihat dari sosok cleaning servis itu? Apa dia punya kesamaan denganku?" tanya Sonia terlihat tergesa-gesa meskipun mencoba untuk tetap berwibawa.
Melihat derajat perempuan yang ada di depannya begitu tinggi, pertanyaan itu sungguh aneh. Tidak ada orang kaya yang mau disamakan dengan petugas kebersihan. Namun atasannya ini justru berharap kalau petugas kebersihan itu punya kesamaan dengan beliau. Ini sungguh aneh! Rena tidak habis pikir dengan itu.
"Saya rasa gadis itu memang mirip dengan Anda, Direktur." Rena setuju. Bukan bermaksud untuk mencela ataupun sekedar mengiyakan keinginan atasannya, tapi ia yakin dengan apa yang mulutnya katakan. Gadis itu memang sekilas mirip dengan direktur Sonia. "Namun bukan pada wajahnya. Wajah gadis itu tidak ada kemiripan dengan Anda."
"Lalu apa?" tanya Sonia yang sepertinya bukan tidak paham maksud sekretarisnya. Dia hanya ingin menguji.
"Gadis itu punya kemiripan dengan Anda dalam berbicara. Suaranya mirip dengan Direktur. Mungkin juga rambutnya." Rena mengingat lagi apa yang di lihatnya tadi.
"Dugaanku memang benar." Sonia tersenyum puas.
Rena yang memperhatikan atasannya, mengerjap tidak mengerti. Apa yang sebenarnya di inginkan direktur? Apa maksud dari pembahasan soal kemiripan wajah gadis itu? Bermacam pikiran muncul di benak Rena. Dia tidak bisa menebak.
"Kamu sudah mencari tahu siapa dia?" tanya Sonia yang tadinya melihat ke arah lain, kini berbalik ke arah Rena. Karena itu, Rena segera mengubah mimik wajahnya dengan datar.
"Maaf, Direktur. Saya belum melakukannya itu. Tadi saya hanya mengikuti dan melihat wajah gadis itu." Rena menunduk mengaku salah. Sonia terlihat menghela napas.
"Benar juga. Karena terburu-buru, aku hanya menyuruhmu mengikutinya untuk melihat wajahnya tadi," ujar Sonia. Rupanya Rena selamat kali ini karena direktur mengakui sendiri kesalahannya. "Coba kau cari informasi tentang gadis itu. Aku membutuhkannya, Rena."
"Baik, Direktur."
...***...
...***...
“Semua sudah sesuai, direktur. Suara, tinggi badan, rambut, dan ukuran tubuh, semuanya sudah sesuai dengan kriteria nyonya. Bahkan hampir sama persis. Hanya wajahnya saja yang berbeda.” Rena menerangkan pada Sonia setelah ia berhasil memastikan lagi informasi soal gadis petugas kebersihan itu. Ketika mengatakan hal ini, Rena kembali diliputi rasa penasaran yang teramat sangat.
Kepala perempuan cantik ini mengangguk puas di ruang bersantainya. Ia meneguk minuman dingin di tangannya.
“Baiklah. Jemput dia sekarang. Bawa dia kesini.” Sonia memberi perintah.
"Baik Direktur."
Namun nyatanya penjemputan itu tidaklah mudah. Gadis yang mereka cari menolak untuk di ajak kerjasama.
"Bekerja pada nyonya Sonia? Siapa dia?" tanya Lana ketika di temui oleh Rena di tempat kerjanya. Gadis ini mau di ajak berbincang oleh Rena karena ia pernah bertemu dengannya di lorong waktu itu. Lana masih ingat itu. Apalagi Rena mengatakan mempunyai tawaran pekerjaan yang bagus. Ia tidak merasa bekerja di rumah sakit ini buruk, tapi jika ada yang lebih baik dan bagus, ia juga ingin mengganti pekerjaan. Maka dari itu ia setuju di ajak bicara oleh Rena. Supaya tidak menghabiskan waktu, mereka berbincang di kantin rumah sakit.
"Beliau adalah orang penting. Aku akan memberitahu siapa dia, kalau kamu setuju bekerja padanya." Rena tidak ingin membuka identitas direktur pada gadis ini begitu saja. Lana mengerutkan keningnya. Ia tengah berpikir. Rena tahu gadis itu ragu. "Akan ada banyak fasilitas yang kamu dapatkan. Tempat tinggal dan juga uang yang tidak terhitung jumlahnya." Rena menyebutkan nominal yang fantastis. Begitu yang direktur katakan padanya. Dia hanya menyampaikan saja.
"Apa pekerjaannya?" tanya Lana sedikit tertarik. Matanya melebar sebentar ketika mendengar nominal yang di sebutkan. Uang memang membuat orang tertarik, bukan?
"Tidak sulit. Kamu akan menjadi pelayan untuk suami beliau yang buta."
"Pelayan?" Alis Lana mengerut. Terkejut dan juga heran.
"Mungkin juga sebagai asisten, karena kamu akan menemani beliau dalam segala hal." Rena menambahi informasinya.
Lana terdiam. Asisten? Kenapa aku di bayar begitu banyak hanya untuk menjadi asisten? Lagipula ada banyak orang yang jauh kompeten untuk jadi asisten orang itu. Yang pastinya dia bukan orang biasa. Lalu aku hanya seorang cleaning servis. Ini agak mencurigakan.
Rena tahu bola mata gadis ini tengah memandanginya dengan penuh kecurigaan. Namun dia harus bisa membawa gadis ini ke hadapan direktur. Jadi dia mengabaikan pandangan gadis ini yang sedang memindainya.
"Maaf, aku tidak bisa." Lana menolak.
"Atasanku akan menjamin kesejahteraanmu," tegas Rena. Ia ingin meyakinkan gadis ini. "Beliau tidak mungkin berbohong."
"Tidak." Lana menggelengkan kepalanya pelan. "Aku memang menyukai uang, tapi maaf ... Aku tidak bisa bekerja pada atasanmu," tolak Lana. Ia patut curiga dengan pekerjaan yang di tawarkan. Apalagi perempuan di depannya adalah orang yang baru ia temui. Dia tidak mungkin langsung percaya begitu saja.
...----------------...
bikin penasaran dan dag Dig dug
q ga bs move on ama gara kak please gara zia ya kak mohon bgt dgn sangat🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏