Arsen coline harus menelan pil pahit dalam hidupnya, Marlen Lee istri yang baru saja ia nikahi harus ternodai karena ulah seseorang yang memperkosa istrinya dimalam pertama.
Cinta Arsen yang begitu besar pada Marlen Lee. Harus berkhir dengan kekecewaan.
"Jangan pernah kau sentuh diriku! bagi ku kau hanyalah kotoran debu yang berserakan, rasanya kau tak pantas untuk ku sentuh! Hardiik Arsen.
Seorang Jendral muda bernama Alan Smith, datang sebagai perisai dan pelindung bagi Marlen. Ia sanggup menghancurkan siapa saja yang menyakiti wanitanya.
Akan kah Arsen akan menerima kembali Marlena sebagai istrinya? atau sebuah perceraian yang terjadi?"
Mampu kah Alan mengembalikan kepercayaan Marlen padanya...?
@Ada unsur Dewasa 21 + tolong bijaklah dalam membaca.
Yuk ikuti terus kisahnya🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon enny76, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertolongan
Marlen menyedot gelas juice jeruk itu tanpa curiga hingga separuh gelas.
"Baiklah sekarang kita akan memulai pemotretan, bisakah Nyonya Colins berganti pakaian yang sudah kru kami siapkan, dalam kamar"
Marlen beranjak dari duduknya dan berjalan kearah kamar, seorang pria memberikan sebuah bikini untuk Marlen pakai.
"Apa ini ?! tanya Marlen sambil mendelikan matanya menatap bikini yang pria itu berikan.
"Untuk nyonya pakai dalam sesi pemotretan,,"
"Tidak mungkin, tidak ada perjanjian aku harus memakai bikini seksi seperti ini!!! ini tidak sesuai dengan peraturan yang berada dalam surat perjanjian! Aku tidak mau!! ucap marlen tegas
"Tapi Nyonya harus memakai bikini ini, dan tidak bisa menolaknya, walaupun tidak ada perjanjian dalam surat kontrak kerjasama. karena kami sudah membayarnya pada tuan Arsen!
Marlen menatap tajam wajah pria itu. Lalu melempar bikini yang ada di depannya, Ia berjalan membuka pintu kamar.
"Haiii Nyonya!Anda tidak bisa pergi seenak nya!" teriak pria itu.
"Ada apa ini?" tanya sang fotografer.
"Aku membatalkan pemotretan ini dan aku tidak mau lagi di kontrakan dengan cara murahan seperti ini!! ucap Marlenn emosional
"Wanita ini telah melanggar perjanjian yang sudah kita sepakati, bersama dengan Tuan Arsen suaminya sendiri. Dia tidak mau memakai bikini yang sudah kita berikan!"
"Arsen bukanlah suamiku lagi! mana ada seorang suami yang ingin menjual istrinya sendiri, kalian dengar! teriak Marlen dengan mata berkaca-kaca.
"Itu bukan urusan kami nyonya, yang penting kami sudah membayarnya dan anda sudah mendatangani surat kontrak itu! sekarang cepatlah Nyonya ganti pakaiannya, pemotretan akan kita laksanakan secepatnya!
"Aku tidak mau!! teriak Marlen dengan suara lantang, dua orang pria lngsung memegang tangan Marlen yang ingin pergi dari ruangan itu, dengan sekuat tenaga Ia terus berontak.
Tiba-tiba kepala Malen pusing, mata berkunang-kunang dan pandangan matanya gelap, perutnya terasa mual seperti diaduk aduk, keringat jagung keluar dari pori-pori tubuhnya, seketika tubuh Marlen lemas dan jatuh terkapar ke lantai.
"Bagaimana Tuan wanita ini pingsan"
Sang photografer itu tergelak, sudut bibirnya terangkat "Bawa dia kedalam kamar, kita lanjutkan pemotretan nya didalam kamar"
BRAKK!!!
Sebuah pintu terbuka lebar, seseorang telah mendobrak pintu dari luar villa, seorang pria dengan postur tubuh tinggi besar memakai topi menutupi wajahnya memberi perintah kepada anak buahnya.
"Habisi mereka semua! teriak pria itu dengan sorot mata tajam, menatap lima orang pria yang berada di hadapannya.
"Haiii.. Siapa kalian! beraninya masuk tanpa izin ke villa orang!
Tanpa banyak bicara orang-orang itu langsung menghajar lima pria yang berada didalam ruangan itu hingga babak belur.
Pria bertopi itu langsung berlari menghampiri Marlen yang tergeletak dilantai.
"Marlen maafkan aku datang terlambat" ucap pria itu merasa bersalah, ia mngangkat tubuh Marlen dan membawanya keluar dari villa menuju mobil.
"Tuan, apa yang harus kita lakukan pada orang-orang itu? tanya seorang pria memakai pakaian tentara.
"Beri mereka pelajaran hingga tidak berani lagi menyentuh wanita ku! kau tau apa yang harus kau lakukan bukan?! Jebloskan mereka semua kedalam penjara, beri tuduhan kalau agensinya mereka membuka mal praktek terlarang, dan sudah banyak korbannya"
"Baik Tuan,, laksanakan!
Dalam Mobil Marlen disandarkan di jok belakang, pria itu duduk disampingnya dan merangkul tubuh Marlen dalam dekapannya.
"Jalan! perintahnya dingin.
Mobil berjalan meninggalkan villa itu, yang sudah dikepung oleh orang-orang berseragam tentara.
Pria itu menatap wajah cantik Marlen dengan tatapan iba. "Marlen..." Sebutnya pelan "Maafkan aku sudah membuatmu seperti ini" mengelus lembut pipinya yang merona "Aku berjanji akan menjagamu dengan cara ku. Aku bukan seorang pengecut yang tidak ingin bertanggung jawab, tapi posisiku yang serba terbatas. Aku berjanji akan menikahimu setelah kau bercerai dari Arsen Colins. Pangkat dan kedudukan ku akan banyak di sorot masyarakat luas bila bertindak terlalu berlebihan. Itu akan membuat nyawamu terancam bila deket denganku, banyak musuh ku dimana mana yang ingin menjatuhkan aku. Untuk sementara aku merahasiakan ini padamu. Bersabar lah, aku yakin kau wanita yang kuat dan tidak lemah."
Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang, hingga mobil itu berhenti di sebuah perumahan kompleks elite yang hanya dihuni beberapa perumahan saja, tempat khusus orang-orang pejabat tinggi di kota itu. Setelah gerbang pintu dibuka, mobil masuk ke dalam pekarangan. Seorang pelayan membukakan pintu mobil, Alan mengangkat tubuh Marlen masuk kedalam mansion. Ia berjalan menuju kamarnya, Alan membaringkan tubuh Marlen diatas kasur empuk berukuran king'. Rumah besar Alan terlihat sepi, Ia tidak membutuhkan seorang pelayan untuk mengurus dirinya. Alan terbisa melakukannya sendiri, karena hanya singgah beberapa hari di rumah itu, kadang Alan harus ke rumah dinas dan pulang ke rumah orang tuanya. Alan Pria dingin, tegas dan tidak banyak bicara, Ia hanya tinggal sendiri tanpa mau merepotkan orang lain. Pekerja dirumahnya hanya ada satu tukang kebun, satpam penjaga dan supir pribadi yang menunggui rumah itu.
Alan membalurkan minyak angin pada telapak tangan dan telapak kaki Marlen, Suhu tubuhnya sudah terasa hangat. Alan menepuk nepuk pipinya agar terbangun, lalu mendengarkan detak jantung didadanya "Syukurlah detak jantungnya masih teratur, aku harus masak untuknya, bila ia terbangun pasti akan lapar" tersenyum lebar.
Alan menarik selimut hingga batas dada, dan mencium lembut kening Marlen. ia kluar kamar menuju ruang dapur, mengambil brokoli, ayam dan sayuran lainnya yang biasa ia masak. Begitulah Alan, pria tampan, mapan dan mandiri. lebih senang memasak untuk dirinya sendiri.
Didalam kamar Marlen mengerjap ngerjap kan pupil matanya, mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan, kamar yang mewah, wangi dan bersih membuat Marlen kaget dan lngsung terduduk di ranjang.
"Dimana aku? ini rumah siapa? gumamnya pelan "Ahh! Kenapa kepala ku pusing" keluh Meylin memijit keningnya yang terasa pusing "Aku harus pergi dari tempat ini. tunggu! tadi tempatnya tidak semewah dan sebesar ini. Tadi aku sempat terjatuh saat kepala ku pusing. Pandangan mataku gelap. lalu ini kamar siapa? begitu banyak pertanyaan dalam benak Marlen. Dengan perlahan ia turun dari ranjang dan berjalan pelan penuh hati hati keluar dari kamar. Aroma masakan tercium di ruangan itu.
"Siapa yang sedang masak? aromanya sangat wangi dan menyengat di hidung. Marlen mengendus Indra penciumannya.karena penasaran Ia berjalan mendekati dapur yang terbuka bebas. Terlihat dari ruangan meja makan, punggung lebar seorang pria sedang memasak "Siapa Pria yang sedang memasak itu?! gumam nya bingung.
"PRANKK!
Tanpa sengaja Marlen menjatuhkan gelas yang berada di atas meja makan. Seketika Alan tersentak kaget. ia mematikan kompor dan berjalan kearah Marlen yang sedang memunguti pecahan gelas dibawah lantai.
"Marlen? kau sudah sadar? tanya Alan. Ia ikut berjongkok memunguti pecahan gelas.
"Tuan Alan? Marlen tersentak kaget, seketika matanya membulat sempurna
"Sudah kau jangan punguti pecahan gelas ini, nanti tanganmu terluka"
"Maaf, aku tidak sengaja menjatuhkan nya."
"Sudah, aku yang bereskan"
"Tapi___?
Alan menarik tangan Marlen untuk bangun, dan menarik salah satu kursi untuknya duduk.
"Duduklah! biar aku yang bereskan"
Alan meneruskan memunguti pecahan gelas itu. Membawa pecahan itu kedapur. Merlen merasa tidak enak hati, tapi hatinya begitu hangat melihat kelembutan Alan pada seorang wanita.
.
.
.
@Bersambung
@Yuk terus ikuti kelanjutan nya dan jangan lupa untuk
@LIKE
@KSIH HADIAH
@RATE BINTANG 5 YA,,
@KOMENTAR POSITIFNYA
tapi mmg itu skenario nya Thor 🤭🤭