Andrea Smith seorang dokter bedah jantung brilian di Miami—cerdas, mandiri, dan menyimpan satu rahasia: ia peretas ulung. Namun di balik jas putihnya, hidupnya terjerat keluarga yang beracun: ibu yang tak pernah menyayanginya dan seorang ayah tiri yang terus memerasnya lewat satu-satunya orang yang ia cintai. Yang Andrea inginkan cuma satu—bebas.
Alexander Silver adalah pria paling ditakuti di Irlandia. Bos mafia berdarah dingin yang sudah lama mengunci hatinya rapat-rapat setelah dikhianati. Baginya, cinta hanyalah kelemahan yang tak bisa ia tanggung. Sampai suatu malam, takdir membawanya ke sebuah rumah sakit di Miami… dan mempertemukannya dengan sepasang mata cokelat yang mengubah segalanya.
Sebuah tawaran mendadak. Sebuah pernikahan yang lahir dari kebutuhan, bukan cinta. Tapi di tengah dunia penuh peluru, aliansi berbahaya, dan musuh yang mengintai dari setiap sudut, dua hati yang sama-sama terluka perlahan saling menemukan. Alexander bersumpah melindungi Andrea dengan nyawanya—tak menyangka wanita rapuh yang ia nikahi ternyata jauh lebih kuat, lebih cerdas, dan lebih berani dari siapa pun yang pernah ia kenal.
Ketika masa lalu Andrea membuka rahasia yang mengguncang, dan bahaya mengancam segala yang mereka bangun, seberapa jauh mereka rela melangkah demi satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MarLu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Aku diberitahu bahwa aku sudah boleh masuk ke ruang rawat saudaraku, jadi aku tak buang-buang waktu. Sesampainya di sana, kulihat dia memakai masker oksigen dan ada infus di lengannya. Aku tersenyum, kalau saja orang-orang tahu betapa penakut dan cengengnya dia soal jarum. Kudekati dia dan berkata,
"Ayo, Saudaraku, kau harus bangun dan lihat apa yang mereka pasang di lenganmu. Ha ha ha, kau pasti ketakutan setengah mati."
Aku duduk di sofa yang ada di ruangan itu dan mengirim pesan ke Saul untuk menanyakan perkembangan. Aku memutuskan menelepon Kakek untuk memberitahunya bahwa kami tidak jadi berangkat besok seperti rencana, karena serangan yang menimpa Dante.
"Kakek, bagaimana kabarmu? Bagaimana keluarga?" tanyaku.
"Aku baik-baik saja, Nak, begitu juga keluarga. Kau tak perlu khawatir. Aku memang sudah tua, tapi aku masih bisa melindungi kalian," jawab Kakek.
"Kakek tahu betul aku tak meragukan kemampuanmu menjaga kami semua. Aku menelepon untuk memberitahu bahwa kami tidak jadi berangkat besok pagi seperti yang direncanakan."
"Kenapa begitu, Nak? Orang-orang Amerika tidak menerima syarat kesepakatan?"
"Bukan itu, Kakek. Kesepakatan dan aliansinya justru sudah disetujui dan ditandatangani."
"Kalau begitu aku tak mengerti kenapa harus menunda keberangkatan, Nak. Ada apa?"
Aku menghela napas. "Dante diserang, Kakek. Aku sedang di rumah sakit. Dia langsung dibawa ke ruang operasi untuk mengeluarkan peluru. Dia kehilangan banyak darah di perjalanan, tapi syukurlah kondisinya stabil."
"Apa? Siapa yang berani menyerang kalian? Kau baik-baik saja, Nak?"
"Aku baik-baik saja, Kakek. Aku tidak berada di sana saat serangan terjadi. Kakek tahu sendiri Dante, dia suka merayakan setelah kontrak sukses. Saul dan Robert sedang mengorek informasi dari orang-orang yang kami tangkap untuk tahu siapa yang menyerang kami dan alasannya."
"Aku mengerti, Nak. Kau mau kuberitahu keluarga Dante? Orang tuanya harus tahu apa yang terjadi."
"Aku tahu. Tapi tunggu sebentar sampai dia sadar, dia masih di bawah pengaruh obat bius. Kalau Kakek beritahu sekarang, mereka akan menelepon, dan Kakek kenal Bibi Cleo, dia tak akan tenang sebelum mendengar suara Dante sendiri."
"Baik, Nak, aku percaya pada penilaianmu. Kalau ada apa-apa, kabari aku. Aku akan terus memantau telepon."
"Terima kasih, Kakek. Sampai jumpa."
Kututup telepon dan bersandar di sofa. Aku memutuskan menelepon Saul.
"Saul, informasi apa yang kaudapat untukku?" tanyaku.
"Bos, Anda tidak akan suka apa yang akan saya katakan, tapi serangan ini diperintahkan oleh Santino," jawab Saul.
"Bedebah itu! Seharusnya sudah kuduga ini ulahnya. Aku mau kau melacak keberadaannya, Saul. Itu prioritas, kau paham?"
"Ya, Bos. Bagaimana keadaan Dante?"
"Untuk sekarang stabil. Mereka menunggu dia sadar untuk memeriksanya lagi."
"Saya mengerti, Bos. Saya urus semuanya di sini lalu menyusul kalian. Robert sedang menuju ke sana, sepertinya ada hal lain yang harus disampaikannya pada Anda."
"Baik, Saul, kerja bagus seperti biasa. Aku tunggu Robert di sini. Sampai jumpa."
Kututup telepon dan bangkit berdiri. Kudekati Dante dan berkata,
"Kalau yang kaumau cuma istirahat, tinggal bilang saja, Saudaraku. Tapi sekarang bangun! Cuma kau yang bisa istirahat, aku sama sekali belum sempat. Kau harus punya belas kasihan."
Kuambil ponselku dan kufoto dia untuk kutunjukkan nanti pada kakak perempuan Dante. Aku tahu dia pasti akan menertawakannya karena ada infus di lengannya. Aku kembali ke sofa dan mulai memeriksa surel-surel. Satu jam kemudian, Robert datang.
"Alexander, bagaimana keadaan Dante?" tanyanya.
"Stabil. Mereka menunggu dia sadar untuk memeriksa kesehatannya lagi."
"Bagus." Dia menepuk bahuku. "Aku punya informasi yang tidak menyenangkan, Alexander."
"Saul sudah memberitahuku sedikit. Ada apa?"
"Serangan itu diperintahkan Santino, tapi di dalam barisanku ada pengkhianat yang menjual lokasi tempat pertemuan. Serangan ini salahku."
"Apa? Kau sudah mengurus para pengkhianat itu?"
"Tentu, aku tak bisa menunggu. Tapi tusukan terakhir kubiarkan untukmu. Aku tahu kau tak mungkin absen dari pesta perpisahan bedebah-bedebah itu, tapi aku harus memberitahumu langsung soal kelalaianku."
"Aku menghargai perhatianmu, Robert, juga karena kau memikirkanku untuk memberi mereka tusukan terakhir. Begitu Dante sadar, aku akan datang membantumu mengantar mereka dari dunia ini ke neraka mereka."
"Tak perlu menunggu lama, Saudaraku," sela Dante, masih setengah terbius, lalu terbatuk. "Beri aku air sedikit."
"Air? Ayolah, Saudaraku, kalau minum itu kau malah berkarat. Ha ha ha," candaku.
"Kurasa tempat ini tidak menyediakan wiski, Saudaraku."
"Aku senang kau sudah sadar, Dante," kata Robert.
"Robert, sudah tahu siapa yang menyerang kita?" tanya Dante.
"Untuk sekarang lupakan itu, Saudaraku. Pulihkan dirimu supaya kita bisa memburu ikan besarnya," kataku.
"Kau tidak akan meninggalkanku dari urusan ini, kan, Saudaraku?"
"Baik, tapi selama kau di sini, biar aku yang mengurus sampah-sampah ini. Robert, kau bisa menemaninya sementara aku mengurusnya?"
"Tentu, Alexander! Kirim mereka ke neraka yang sama!"
"Oh iya, Saudaraku, anting yang cantik di lenganmu itu," godaku.
Dante memandangku bingung, lalu melihat lengannya sendiri dan pucat pasi begitu menyadari ada jarum infus yang menancap di sana.
"Alexander! Suruh mereka lepaskan benda sialan ini sekarang juga!"
Aku keluar dari kamar sambil tersenyum dan menuju gudang. Hari ini mereka akan mengenal Teror Irlandia, dan alasan kenapa tak ada seorang pun yang bisa menyerang orang-orangku tanpa menerima ganjarannya.