Sana hanya ingin menjadi istri yang baik bagi suaminya sekaligus ibu yang baik baik anak tirinya.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa pernikahan itu akan mempertemukannya kembali dengan seseorang dari masa lalunya.
Seseorang yang ternyata belum benar-benar melupakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yavarnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pahlawan bagi satu jiwa
...#••...
Bagi sebagian manusia, dunia tak lain dan tak bukan hanyalah tempat penuh penderitaan yang terus mengeruk jiwa dan raga, hingga mereka kehilangan kemanusiaannya.
Tak ada manusia waras yang menginginkan kematiannya sendiri, apalagi sampai merenggut nyawa orang tercintanya.
Manusia yang ingin hidup lama di dunia ini hanyalah mereka yang merasakan surga dunia. Mereka yang memiliki segalanya, tetapi masih haus akan sesuatu yang belum mereka miliki.
Bukankah manusia itu memang rakus? Saking rakusnya, mereka bisa melakukan hal-hal di luar nalar demi menghilangkan kehampaan. Begitulah kata mereka. Hampa. Hampa karena sudah memiliki segalanya.
Pada akhirnya, manusia di muka bumi ini seolah tak pernah merasa puas dengan apa yang telah mereka miliki. Baik mereka dari kalangan atas, apalagi mereka yang berada di kalangan bawah.
Kalau seperti itu, sebenarnya bagaimana cara dunia ini bekerja? Bagaimana cara Sang Pencipta, bagi yang mempercayai-Nya, mengatur segala sesuatu di dalamnya? Mengapa harus ada kaya dan miskin, atas dan bawah? Bukankah semua itu hanya menciptakan ketimpangan di muka bumi ini? Mengapa tidak disamaratakan saja? Bukankah itu akan lebih baik?
Atau jangan-jangan, manusianya sendiri yang memiliki “rasa lapar” yang begitu besar hingga tak pernah tahu kapan harus berhenti menginginkan lebih?
“Gue pulang dulu, ya, Kak,” kata Jay yang sudah berada di atas motornya.
Perempuan itu mengangguk sambil tersenyum. “Iya. Hati-hati di jalan.”
“Gemes banget, sih.”
Jay mengusak rambut perempuan itu hingga pemiliknya sontak melayangkan protes.
“Kebiasaan!” dengus perempuan itu sambil merapikan kembali rambutnya dengan jemari.
“Biarin. Lo selalu cantik, kok.”
“Udah, berangkat sana,” usir perempuan itu seraya mengibaskan tangannya.
Jay terkekeh. “Dadah!”
Ia melambaikan tangan, lalu melemparkan flying kiss dengan ekspresi tengil sebelum mengenakan helm full facenya.
Di sela percakapan sederhana mereka, sepasang mata tajam mengintai dari balik kegelapan rumah. Cahaya lampu yang remang hanya menyentuh sebagian wajah sosok itu.
“Adik?” gumamnya serak, disusul dengusan kasar. “Kau bisa membohongi semua orang, tapi tidak denganku. Jiwa yang telah jatuh ke dalam pelukan iblis harus dipisahkan dari segala kenikmatan duniawi. Ia harus disucikan, dikikis dari segala noda.”
Senyum miring perlahan terukir di bibirnya. “Dan ketika waktunya tiba, penyucian itu akan terlaksana.”
Tanpa menunggu balasan, Jay segera melajukan motornya, meninggalkan perempuan itu yang masih menggerutu kesal di belakangnya.
Sepanjang perjalanan, pikiran Jay kembali teringat pada percakapan mereka malam tadi. Percakapan paling emosional yang pernah ia dengar selama hidupnya.
Gue nggak bisa jadi pahlawan buat semua orang, tapi gue akan memperjuangkan segalanya buat lo, Kak. Bakal gue tunjukin versi indahnya kehidupan dunia ini sampai pikiran lo tentang kematian lenyap begitu aja.
Perasaan Jay memang belum berbalas, dan ia tidak tahu apakah suatu hari nanti perempuan itu akan memandangnya dengan perasaan yang sama. Namun untuk saat ini, Jay tak ingin menjadikan ketidakpastian itu sebagai alasan untuk berhenti berjuang.
Baginya, selama masih ada kesempatan untuk membuat perempuan itu kembali melihat keindahan hidup, ia akan tetap berada di sana.
Jay hanyalah satu dari miliaran manusia yang ingin menjadi pahlawan bagi seseorang yang ia anggap spesial. Seseorang yang kini menjadi belahan jiwanya.
Bukankah hanya Sang Pencipta yang mampu menjadi pahlawan bagi seluruh umat manusia di muka bumi ini?
...[...]...
#•• masa lalu
••• masa sekarang
Anyway, kok jadi berat banget ya, isi bab kali ini? Wkwkwk
SAY HI, DONGGG