kalau adaa yang salah atau enggk nyambung ceritanyaa maapp yaaaahhh soalnya baru pertama bikin cerita kayak ginii (◠‿◕)
Siapa sangka gadis yang berisik, ceroboh, dan selalu bikin keributan itu justru jadi satu-satunya yang bisa meluluhkan hati ketua osis paling dingin, cuek, dan ditakuti seantero sekolah?
Dari yang saling tak suka, jadi tak bisa terpisahkan. Ini kisah gadis barbar yang mencuri hati ketos dingin yang tak pernah tersenyum pada siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desty Haris Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KERIBUTAN KECIL SEBELUM BAHAGIA.
Satu hari sebelum hari H, rumah gue rame banget udah kayak pasar pagi! Baju, hiasan, makanan, orang datang pergi — mana yang ditaruh di mana gue sampai bingung sendiri!
Mama sama Mommy Amara sibuk atur bunga, tiba-tiba Mama berteriak:
"Aluna! Jangan duduk di atas bantal itu! Itu buat tamu!"
Gue langsung meloncat turun, muka gue panas. "Eh maaf! Kirain bantal santai!"
Mommy Amara ketawa sampai matanya menyipit. "Sama kayak Arka dulu! Waktu kecil dia juga suka duduk di atas bantal tamu, terus pura-pura nggak tahu!"
Gue melotot natap Arka yang lagi bantu Papa pasang tirai. "Haah?! Lo juga begitu?!"
Arka menoleh, pipinya agak merah. "Itu dulu…"
"HAHAHAHA"
Belum selesai gue ketawa, Abang Daniel bawa kotak sepatu masuk, kakinya nyandak di karpet — bruuk! Hampir jatuh, kotaknya melayang!
"Eh eh eh! Aman! Aman!" teriaknya sambil menyeimbangkan badan kayak penari sirkus.
Papa geleng-geleng kepala sambil senyum. "Keluarga kita memang nggak bisa tenang ya."
Siangnya, gue sama Arka latihan jalan bareng di ruang tamu.
"Pelan dikit, Luna… jangan lari kayak kejar bakso!" bisik Arka sambil nahan ketawa.
Gue cemberut. "Gue nggak lari! Ini gaya jalan khas gue, inget?!" 😤
"Gaya yang bikin orang kaget lihatnya?" godanya.
Gue cubit pelan lengannya. "Ih lo! Nanti pas hari H gue tarik tangan lo kenceng banget, biar lo ikut lari sama gue!"
Arka tertawa lepas, suaranya memenuhi ruangan. "Siap. Ke mana pun lo lari, gue ikut."
Sore itu, Raka sama Dito datang bawa kue — tapi kue bentuknya lucu banget: ada tulisan "SELAMAT MENIKAH — JANGAN BIKIN RIBUT TERUS!" , gue sampai melongo baca tulisan di kue nya, ini benaran tulisan nya gini enggak ada yang lain gituh?.
Raka ketawa ngakak. "Ini pesan dari kami! Biar kalian inget, rumah tangga bukan tempat lari-larian!"
Dito tambahin: "Tapi kalau tetap lari, kami siap bantu cariin!"
Gue ketawa sampai perut gue sakit. "Kalian berdua! Nanti gue undang makan doang, nggak boleh bercanda!"
Tapi di tengah keramaian itu, gue sadar satu hal — Kirana nggak muncul sama sekali. Biasanya ada saja, kali ini sunyi banget.
Gue bilang ke Arka, dia langsung serius. "Gue sudah perhatiin. Teman-teman gue berjaga di sekeliling rumah. Tenang ya, nggak ada yang bisa masuk tanpa izin."
Gue pegang tangannya erat. "Gue nggak takut kok. Ada lo, ada semua orang."
Malamnya, sebelum tidur, gue ngintip ke ruang tamu. Keluarga masih duduk bareng — Mama sama Mommy Amara ketawa cerita masa kecil, Papa sama Daddy Daffa bercanda soal pesta, Abang Daniel bantu Raka sama Dito lipat serbet. Suasananya hangat banget, kayak impian gue yang jadi nyata.
Arka datang berdiri di samping gue, dan dengan pelan pegang tangan gue.
"Lo udah siap?" tanyanya lembut.
Gue senyum, natap dia lekat-lekat.
"Siap. Asalkan lo di samping gue."
Dia senyum, jentik kening gue pelan. "Berisik, ceroboh, dan kadang bikin pusing… tapi gue nggak mau orang lain di tempat lo."
Gue ketawa, sandarkan kepala ke bahunya. "Lo juga kadang kaku kayak papan tulis. Tapi gue suka."
Malam itu, semua keraguan pelan-pelan hilang. Besok adalah hari kita — bukan cuma gue sama Arka, tapi semua orang yang sayang sama kita. Dan apa pun yang terjadi, kita hadapi bareng-bareng.
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, SUBSCRIBE DAN KOMEN YAHHH😘😍😍