Dia pernah berdiri di atas segalanya. Pedang, alkimia, formasi, hukum Dao, semuanya sudah ia kuasai. Tapi ada satu dinding yang tidak pernah bisa ia tembus: puncak sejati.
Maka Yu Tian melakukan hal yang dianggap gila. Ia menghancurkan tubuhnya sendiri, membuang seluruh harta dan kekuatannya, lalu bangkit dari titik nol dengan tubuh baru dan ranah paling rendah.
Pengetahuannya utuh. Kekuatannya tidak. Dan untuk pertama kalinya setelah zaman yang tak terhitung, ia tersenyum karena akhirnya ada sesuatu yang belum ia miliki.
Ia masuk sekte sebagai murid biasa, tapi ia tidak pandai merendah. Ia tidak sudi tunduk pada gelar, usia, atau kedudukan. Ia hanya menghormati kemampuan. Tapi dunia ini tidak peduli siapa dirinya dulu. Lawan yang lebih tinggi ranahnya tetap bisa membunuhnya, dan pengetahuan seluas apa pun tidak bisa menggantikan fondasi yang belum dibangun.
Setiap kemenangan menuntut bayaran. Setiap rahasia yang terbuka membawa pertanyaan yang lebih besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xi Nda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Yu Tian mendarat di kaki gunung dengan lutut menekuk, dan hentakan itu membuat tulang rusuknya yang luka berdenyut sampai ia menggertakkan gigi. Ia tidak berhenti. Ia berlari menembus semak berduri dan melewati sungai dangkal tanpa menoleh, dan di belakangnya, di atas awan, tidak ada lonceng yang berbunyi.
'Belum ada yang tahu. Itu tidak akan bertahan lama.' Ia terus berlari sampai matahari miring ke barat dan menemukan sebuah gua sempit di balik tebing berlumut, lalu masuk dan menggulingkan sebongkah batu untuk menutup separuh mulutnya.
Di dalam gua yang lembap itu ia duduk bersandar ke dinding dan membalut lukanya dengan kain dari jubah. Pedang bersarung polos itu ia letakkan di sampingnya, dan sesekali ia menyentuh gagangnya tanpa tahu mengapa.
'Aku butuh senjata yang bisa kupakai, bukan peninggalan yang tidak bisa dicabut. Dan malam ini bulan baru.' Ia menghitung ulang bintang yang mulai tampak dari celah gua. Hitungannya meleset sehari dari yang ia perkirakan beberapa malam lalu, tetapi tanda di langit tidak bisa berbohong: bulan benar-benar hilang malam ini.
Sebelum matahari terbenam, ia keluar untuk berburu. Yang ia buru kali ini bukan lagi serigala dan babi hutan, melainkan beruang batu berkulit keras, kera petir yang melempar percikan listrik dari kedua tangannya, dan seekor harimau bersisik yang nyaris memotong lehernya dengan satu sapuan cakar.
Pedang yang tak bisa dicabut itu ia pakai sebagai pemukul dalam sarungnya, menghantam tulang lutut dan tengkorak, dan setiap kali ia menang dengan luka baru. Qi di tubuhnya lebih dalam dan lebih panjang napasnya daripada kemarin, dan ia mengatur setiap ayunan dengan hitungan yang tidak lagi tergesa.
Ketika kegelapan sepenuhnya menelan hutan, ia sudah memegang tiga puluh inti monster tingkat tinggi yang cahayanya berdenyut kuat di dalam kantong kain.
Menjelang tengah malam, ia berjalan menuju sebuah ngarai sempit di timur kaki gunung. Langit tanpa bulan itu begitu gelap sampai bintang tampak lebih rapat dari biasanya, dan jalan setapak hanya bisa dikenali lewat bunyi kerikil di bawah sandal.
Di mulut ngarai, kabut tipis menggantung tak wajar di antara dua batu besar. Yu Tian berhenti dan menatapnya dengan mata menyipit.
'Formasi pengaburan. Simpulnya di batu sebelah kiri, dan jalur masuknya hanya terbuka bagi yang melewati satu langkah di tengah.' Ia menggeser kakinya satu langkah ke kanan, satu ke depan, dan kabut itu menyibak ke kedua sisi.
Di baliknya, sebuah pasar kecil terbentang di dasar ngarai. Lentera-lentera berselubung kertas hijau menggantung di tali-tali yang ditarik antar dinding batu, dan cahayanya remang menyinari lapak-lapak beratap kain hitam.
Orang-orang berjubah tudung bergerak pelan tanpa suara, wajah mereka tertutup kain, dan yang terdengar hanya tawar-menawar yang berbisik. Seorang penjual menjajakan botol-botol pil dari balik meja, yang lain menggelar gulungan di atas tikar, dan di sudut yang paling gelap, seorang lelaki bermata buta duduk di depan setumpuk tulang monster.
Yu Tian menyusuri lorong sampai ke lapak paling ujung, di bawah sebuah lentera yang separuh padam. Seorang lelaki tua berjanggut kelabu duduk di kursi bambu dengan sebilah pedang melintang di pangkuannya, mengelap bilahnya dengan kain minyak, pelan dan telaten.
Tanpa menoleh ia bertanya dengan suara serak. "Apa yang kau cari, Nak?"
"Pedang untuk bertarung." Yu Tian meletakkan kantong inti di atas meja. "Yang kuat, dan tidak mudah patah."
Tangan lelaki tua itu berhenti bergerak di tengah bilah. Ia mendongak perlahan, dan matanya yang keruh menelusuri Yu Tian dari ujung kepala sampai ke kaki, lama, dan bibirnya bergerak tanpa suara menghitung sesuatu.
Ia menyingkirkan kain minyaknya, mengangkat pedang di pangkuannya dengan dua tangan, dan menyodorkannya melintang ke arah Yu Tian. "Pedang ini diciptakan untuk membantai kultivator iblis. Hanya pemilik tubuh suci yang bisa menggunakannya, dan menurutku ia sangat pas untukmu."
Yu Tian tidak menunjukkan keterkejutan. Ia menerima pedang itu, merasakan beratnya, dan menggenggam gagangnya erat. Bilah itu bergetar tipis di tangannya, mendengung rendah, dan Qi di dalam tubuhnya menyahut tanpa ia perintah.
Ia membuka kantong inti dan mendorongnya ke seberang meja. "Semuanya. Tiga puluh."
Lelaki tua itu menghitung isi kantong dengan jari-jari kurusnya, mengangguk pelan, dan menyimpannya ke dalam laci. "Harganya pas."
"Kenapa pedang ini dibuat untuk tubuh suci?" Yu Tian memutar bilah itu perlahan dan memeriksa gurat di pangkalnya. "Pandai besi biasanya membuat senjata untuk mengalahkan musuh, bukan untuk melindungi satu jenis tubuh."
Lelaki tua itu tersenyum, dan keriput di sudut matanya menumpuk. "Karena kultivator iblis tergila-gila pada tubuh suci. Kalau dijadikan pil, tubuh itu bisa mendorong seseorang menembus ranah Raja Dao. Karena itu pemiliknya selalu diburu, dan karena itu pedang ini dibuat."
Yu Tian tertawa pelan, dan tawanya terdengar tipis di bawah lentera yang remang. Ia menyarungkan pedang itu di sabuknya dan membetulkan tali pedang bersegel di punggungnya. "Tapi ada juga orang yang bisa menembus tanpa tubuh suci. Ranah sampah itu."
Kain minyak di tangan lelaki tua itu berhenti bergerak, dan keheningan singkat jatuh di bawah lentera. Yu Tian berbalik dan berjalan menyusuri lorong menuju mulut ngarai, menepuk sarung pedang barunya sekali tanpa menoleh.