NovelToon NovelToon
ILA ( Si Gadis Permata Biru)

ILA ( Si Gadis Permata Biru)

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Action / Fantasi / Light Novel
Popularitas:528
Nilai: 5
Nama Author: Arrosyad

Seorang santri barusaja bertemu dengan gadis mengerikan ketika menaiki bis, dia tidak jahat. tapi satu negara akan memburunya, tentu dengan sebuah tujuan. dan santri tersebut, dia akan menolong, meskipun tidak tahu apa yang akan dia hadapi selanjutnya. hidup lelaki itu akan berubah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrosyad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siapa ini?

Saat datang di pintu bis

“hah! Inini.. Pacaran terus ke rjaannya. Dasar anak muda sekarang. Tidak tau di siplin” petugas bus membentak dari kursi dekat pintu. Raut wajahnya garang.

Aku tersentak –apalagi Ila, anak itu langsung menunduk. Bukan karena suara keras dari pak kru bis, melainkan karena di sebut pacaran. Aku tidak setuju dengan itu. Jika keadaannya lebih baik aku akan balik membentak. Tapi ini, beberapa penumpang yang duduk bahkan tertoleh mendengar barusan. Aku sudah menduganya. Ini salah kami.

“maaf pak tadi ketemu keluarga. Jadi_

“MAAF-MAAF. CEPAT NAIK!” Pak petugas itu semakin keras, memotong kalimat.

Aku-ILA menganggut-nganggut.

“ITU TAS MAU DI TARO DI MANA!?” Pak petugas berteriak lagi.

Kami setengah terkejut setengah kikuk. Mulai memutar arah. Ke luar menuju perut mobil. Bagasinya belum di kunci. Aku segera meletakkan tas besar ku, di lanjut Ila. Kemudian kembali naik. Bapak-bapak petugas yang marah barusan mendengus melihat kami lewat di depannya. Kami tidak memperhatikannya. Mata kami lebih tersibukkan karena banyak orang yang memperhatikan saat berjalan ke kursi. Lampu kuning redup menyala di bangku urut sembilan dan delapan. Beberapa langkah lagi. Bangku kami tetap sama meskipun sudah beda bis. Dan lagi-lagi Ila yang mendapat bagian samping jendela.

Aku dan Ila sudah sempurna duduk. Menghembuskan, Ila menatapku. Aku sedang membenarkan tas selempang ke depan.

“Galak banget..” Keluh Ila

Aku berhembus sejenak. Mencoba tenang. Untung bisa. “itu karena kita telat Ila”

“Tapikan cuman dua menit sih..” Ila menyangkal.

“Itu pertanda pentingnya disiplin. Kau tau disiplin, kan. Gak mungkin kalo gak tau” aku membalas, menatap wajah Ila yang terlihat sebal. “faham?”

“Tapi, hahhh… menyebalkan padahal kita bukan tanpa alasan loh” ILA mendengus, memalingkan wajah ke luar jendela bis.

Aku tidak menanggapi. Itu akan membuat panjang urusan.

Kabin mendesing. Bis mulai bergerak, berjalan ke luar terminal meninggalkan banyak bis lain yang terparkir di sana. Pemandangan pusat oleh oleh segera lenyap. Keramaian, lampu-lampu light Strobo, dan sebagainya mulai menjadi hingar-bingar dari kejauhan, hingga bis berbelok dan tertutupi bangunan gedung.

Di Sekitar terminal, maju dua puluh meter lagi, mata kembali tersibukkan oleh pemandangan menakjubkan pusat kota Kudus. Setidaknya ada puluhan gedung tinggi dan pencakar langit di kejauhan ratusan meter, menghiasi lengang kosong di malam hari. Cahaya-cahaya gedung tersebut berpendar, menunjukkan sebuah aksi layar pada permukaan kacanya.

Lampu dalam kabin padam. Diganti cahaya dari garis berwarna biru di bawah kursi. Fitur bis, mode tidur. Pendingin mulai aktif. Anakan bangku mulai menaik, memberi tempat meluruskan kaki.

Aku menatap keluar jendela tidak berkedip. Pinggir jalan juga masih ramai dengan orang yang menikmati malam hari di kota. Mereka seperti mencari Snack, oleh-oleh yang tokonya berderet rapi di pinggir jalan sekarang.

Melihat toko itu di pinggir jalan. Aku jadi teringat sesuatu. “kau tidak jadi beli jenang dah” Ujarku

ILA memang Daritadi mengamati ke bawah –di dalam bis akan terasa lebih tinggi. Ila berhembus. “mau bagaimana lagi?. Kita turun?”

Tidak mungkin meminta turun sekarang. Kami bisa di habisi petugas bis jika mencari perkara lagi.

“Padahal aku penasaran” Ila mengeluh kecewa. Kemudian membenarkan posisi duduknya ke depan, dan mengambil ponsel dari dalam tas kecilnya.

Aku hanya terdiam. Tidak perlu kasihan. Ila masih bisa mendapat jenangnya ketika bis berhenti lagi untuk mengambil jatah makan malam nanti.

“tadi memang pamanmu?” Aku inisiatif bertanya.

Ila menggeliat diatas tempat duduknya. Wajahnya tertimpa cahaya layar ponsel. “iya”

“memang sudah lama tidak bertemu, ya?” Tanyaku lagi.

ILA tidak langsung menjawab. Lengang sejenak menyisakan suara mesin bis yang melenguh lembut di dalam kabin.

“ya, wajar bukan. Kerabat jauh. Masa tidak terpikirkan sih?” Ila membalas. Wajahnya tidak berpaling sedikitpun dari layar ponsel.

Aku justru berpikir lebih jauh dari itu. Tapi ya sudahlah. Aku tidak harus mengetahui banyak hal dari orang yang baru kukenal.

Senyap kemudian mengisi menit demi menit. Aku juga mulai membuka ponsel. Kelebatan bangunan dan cahaya terlewati begitu saja tanpa ada yang menghiraukan. Aku dan Ila lebih fokus dalam ponsel masing-masing.

Beberapa jam yang senyap. Mungkin banyak orang sudah tertidur di malam yang tenang di tengah terang hiruk pikuk kehidupan kota Kudus.

***

Berkedip. Mataku sedikit enggan terbuka karena rasanya agak beku. Harus dipaksakan agar bisa terbuka. Ila ternyata sudah pulas di tempatnya. Aku ketiduran barusan. Aku ingin tau jam berapa sekarang.

Hey! Di mana ponselku? Aku tidak menggenggamnya sekarang. Bukannya aku selalu memegang erat benda itu di tangan. Aku masih ingat detik detik sebelum tertidur, di mana aku masih fokus push….

“hnng..” Ila menggerang, menggeliat.

Aku menoleh. Bisa kebetulan. sekali. Mungkin anak itu tau. Jika tidak, bisa repot aku mencari seisi kabin. Tapi dia tidur sejak kapan? Lain cerita jika ponselku hilang saat dia terlelap juga.

Salah, aku terlalu berekspetasi. Lihatlah. Ila masih belum membuka matanya. Dengus nafas panjang gadis itu masih menyeruak di langit-langit, menyatu dengan suara dengkuran orang lain.

Bagaimana ini? Bagaimana jika ponselku benar benar hilang. Aku tidak bisa membayangkan betapa marahnya orang tuaku nanti.

Aku ke luar dari tempat duduk, sedikit terhuyung karena belum seimbang. Aku menurunkan tubuhku untuk memeriksa bawah bangku. Cahaya biru dari permukaan alas bis membantu Mataku melirik ke sana-kemari. Duh. Dari hulu kabin sampai belakang tidak kutemukan benda itu.

Aku menaikan tubuhku lagi, kembali melirik ke segala arah. Tidak ada juga

Aku menghempaskan tubuh ke tempat duduk. Kembali menatap Ila. Gadis itu memegang ponselnya. Apakah aku harus membangunkannya? Ah mana mungkin. Itu sangat lancang. Aku bisa menunggunya. Tapi bagaimana jika ponselku di serobot orang lain dalam bis ini. Itu mungkin sekali.

Yakali aku memeriksa semua orang yang ada dalam kabin. Tapi bagaimana ini. Di tas kecilku juga tidak ada.

Panik sudah. Aku bingung. Tak terasa peluh sudah menetes di pelipis ku. Ini sepertinya tengah malam. Di luar sangat gelap. Tidak ada cahaya. Mungkin mobil sedang melintasi tol pedesaan. Tidak tampak gedung di luar sana.

Tapi di mana ponselku?

“ah. Ponsel Ila” aku terpikirkan sesuatu.

Aku pelan mengambil ponsel gadis itu dari tangannya. Mudah terlepas. Dari ponsel ini, aku bisa menelpon nomorku, dan tau di mana letak benda itu sekarang.

Aku mulai menekan tombol power. Sial. Ponsel Ila terpasang kunci. Butuh password atau verivikasi sidik jari untuk mengakses ke dalamnya.

Kucoba gunakan kata “bilang dulu”

Salah.

Argh, bagaimana ini. Aku bisa saja sudah kehilangan jejak ponselku.

Kucoba lagi deh..

“Hey apa yang kau lakukan” suara Ila terdengar.

ILA sudah terbangun. Ingin meraih ponselnya. Tapi tidak langsung kuberikan.

“Kau tau hapeku?” Aku bertanya

ILA membuka tas kecil miliknya. Mengeluarkan sebuah ponsel. Iya, itu ponselku.

“Kenapa ada di kamu?” Aku mendelik. Menatap wajahnya dengan penuh selidik.

Ila berhembus “Tadi kamu ke tiduran. Terus ponselmu jatuh di tengah kabin. Bisa hilang jika ku biarin”

Ah apa iya? Apakah bisa kupercaya? Yasudahlah. Selagi ponselku kembali. Aku seharusnya lega.

Aku mulai menukar pegangan. Ila mengambil ponselnya. Lalu lanjut memberikan ponselku. Aku langsung menekan tombol power begitu benda itu di tangan ku. Layar menyala. Tampak banyak pesan mengambang di sana. Rata-rata dari ibuku. Mulai dari kata-kata perhatian seperti ‘udah makan?’, ‘udah di jalan?’ ‘hati-hati barangnya jangan sampai ketinggalan’ hingga terakhir berubah membuatku sedikit mendengus. ‘mabuk gak? Masa udah gede mabok’

“Seandainya Ibu tau apa yang terjadi” batinku.

Aku mulai membalas satu persatu pesan tersebut. Ila juga seketika sibuk dengan ponselnya di samping ku.

“Bilang terima kasih kek” Ila tiba-tiba menyeletuk.

Aku menoleh. Terdiam sejenak. Tak apalah, mungkin gadis ini memang tidak ada niatan jahat apapun. Kabin lengang dengan suara mesin melenguh tenang.

“terima kasih” aku mengucapkannya. Semoga kau puas, Ila.

Tepat di ujung kata, sebuah pesan membuat notif berdenting. ‘anak mamih😆😂😂' begitu pesannya. Tapi kontak pengirim tidak terdaftar dalam ponselku. Ini pesan pertamanya.

Tapi cukup membuatku sebal. Kenapa kebetulan. sekali.

‘atututu.. Mabok ya? Kaciann😭😭” ponselku menerima pesan sekali lagi dari nomor tersebut. Ke salku kembali bertambah, darimana dia tau kalau aku mabuk perjalanan.

Ah. Iya. Aku langsung sadar. “Kau..” Aku melirik Ila dengan sinis.

Ila sebenarnya dari tadi cengingisan. Sekarang gadis itu terbahak. “apa bang” ujarnya.

Dia berhasil mendapat nomorku. Pasti dia menyadap isi ponselku. Tapi herannya bagaimana bisa? Ponselku sudah di beri password.

Aku mendengus, melihat Ila menyeringai di tempatnya.

“kau beruntung mendapat nomorku. Aku biasanya tidak langsung memberikan kontakku pada orang yang baru kukenal” ucapnya lagi.

Aku memalingkan pandangan ke ponsel. “tapi kau kurang beruntung karena aku belum tentu mau menyimpan kontakmu”

Dahi Ila mengernyit “ihh kok gitu. Save lah” Anak itu memelas.

“kenapa aku harus save?” Balasku masih acuh.

Ila terdiam sebentar. Suasanapun senyap menyisakan suara dengkuran atau hembus nafas orang-orang yang tertidur. Bis ini memiliki sistem peredam yang baik. Orang-orang tertidur pulas karena tidak ada guncangan sekecil apapun. Dalam kabin tetap stabil walau bis sering berkelit belok, menyelip kendaraan lain.

Ila masih terdiam. Gadis itu sepertinya mulai ke sal. Raut wajahnya masih belum berubah.

“jika kau tidak mau save nomorku yasudah.. Aku bisa block sendiri. Kau tidak perlu khawatir” Ila akhirnya berkata. Nadanya terdengar kecewa. “Maaf kalau lancang. Aku tahu aku yang salah”

Akhirnya mengaku juga kau. Aku tetap membuang pandangan. Ini tujuanku. Aku tidak bermaksud mengecewakan Ila, aku hanya tidak ingin ada kontak perempuan ajnabi di daftar kontak.

Akhirnya kembali sibuk sendiri-sendiri. Ila memulai menonton kartun. Aku memasukkan kembali ponselku ke dalam tas kecilku.

Seperti biasa ada yang mengganjal di perasaanku. Ini sering terjadi ketika aku menolak nomor perempuan yang meminta save kontaknya. Tapi yang kali ini ada sesuatu yang membuatku terasa aneh.

Aku berfikir lagi. Bermenit-menit terlewati tanpa dialog, lengang. Kenapa aku malah membingungkan gadis ini. Dia bukan siapa-siapa. Hanya seorang gadis yang kebetulan. duduk di sampingku. Aku semakin merasa aneh. Kenapa harus gadis ini. Setelah sampai terminal dia akan pergi. Tidak ada apapun. Tapi hey! Kenapa ini. Ada yang menggerakkan perasaanku.

Sesaat kemudian. Aku mulai memaksa untuk memejamkan mata. Ini aneh sekali. Pikiran seolah menolak gadis Ila di dalamnya.

“kau tidak tahu siapakah gadis ini?” Tiba-tiba terdengar suara perempuan. Bukan remaja, Kali ini terdengar dewasa dan berwibawa.

Sekarang menjadi lebih aneh. Aku menoleh ke arah Ila. Dia seperti tidak mendengar apapun.

Tubuhku seketika tertindih sesuatu. Ah.. Sialan, bisa saja ada jin di sini. Aku sudah biasa merasakan fenomena ketindihan seperti ini, karena di pondok juga banyak jin.

1
Marina
keran, keren bgt
Arrosyad: makasih ibu'
total 1 replies
Kiritsugu Emiya
Harus jam berapa baru bisa update ya thor? Jangan sampai terlalu malam~
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!