Jangankan barang, bahkan suami pun bisa dibayar kredit!
Ya, itulah yang dialami Tia. Dia nekat membayar seorang lelaki tampan bernama Sam untuk dijadikan suaminya. Namun karena uang Tia belum cukup, dia terpaksa meminta pembayaran sistem kredit. Bagaimana kocaknya kisah cinta mereka?
"Gaji saya cuma staf admin biasa, Mas. Jadi... tiga juta itu mau saya bayar secara kredit. Cicilan sepuluh kali, tiga ratus ribu per bulan, bunga nol persen. Bagaimana?" - Tiana Anjani.
"Hah?! Mbak bercanda ya?!" - Sam alias Samsudin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20 - Melakukannya
Setelah Samsudin berhasil memakai kaus oblong serta celana pendek kainnya dengan secepat kilat di dalam kamar mandi, ia keluar dengan melangkah sangat pelan. Kepala pawang buaya itu tertunduk dalam-dalam. Rona merah di pipinya masih membara tebal.
Di sudut lain ruangan, Tia duduk mematung di sofa. Kedua tangannya memeluk lutut. Matanya menatap kosong ke arah karpet. Bayangan visual memukau nan traumatis tentang "ular piton" raksasa milik Samsudin yang menegang sempurna tadi seolah-olah terpatri abadi di dalam kornea matanya. Setiap kali Tia mencoba memejamkan mata, bayangan itu muncul kembali dalam format high definition.
Kecanggungan yang menyelimuti kamar Suite Room VIP itu kini begitu tebal hingga bisa dipotong memakai pisau dapur.
Sam dehem pelan, memecahkan keheningan yang mencekik. "M-Mbak Tia..."
Tia tersentak kaget, bahunya terangkat. "I-iya, Mas Sam?!"
"Aku... aku tidur di sofa ini saja ya," kata Sam bersiap meluruskan badannya di atas sofa panjang. "Mbak Tia tidur di kasur empuk saja. Jangan khawatir, sofa ini lumayan empuk kok."
"E-eh... Iya, Mas Sam. Terima kasih," jawab Tia canggung tanpa berani menatap mata Sam.
Dengan cepat, Tia naik ke atas kasur berukuran King Size, menyibak tumpukan kelopak bunga mawar merah yang membentuk hati dengan perasaan campur aduk, lalu menarik selimut tebal sampai menutupi seluruh tubuhnya hingga batas dagu.
Sam mematikan lampu utama kamar, menyisakan lampu tidur remang-remang berwarna kuning hangat. Pria tegap itu meluruskan kakinya di sofa. Meski matanya dipejamkan kencang-kencang dan dadanya ditepuk-tepuk untuk membuang pikiran liar, detak jantung Sam masih berdegup bagaikan genderang perang. Butuh waktu hampir dua jam bagi Sam hingga akhirnya kelelahan fisik mengalahkan gejolak hormonnya dan membuatnya tertidur lelap.
...***...
Saat tengah malam, Tia melangkah mendekat ke arah sofa tempat Sam berbaring, menatapnya dengan tatapan lembut penuh gairah yang sanggup meluluhkan jiwa penakluk buaya. Dia membangunkan Sam
“Mas Sam...” bisik Tia, mengelus rahang tegas Sam dengan jemarinya yang halus. “Kamu kan sudah jadi suamiku jadi kau punya hak sepenuhnya...”
"Benarkah, Mbak? Mbak yakin?" tanggap Sam.
Tia mengangguk. Satu per satu dia lepas pakaiannya hingga tak tersisa.
Mulut Sam menganga dan nyaris meneteskan air liur. Dia tidak lagi menahan diri. Pria berotot tegap itu bangkit, meraih pinggang ramping Tia, lalu membawanya ke atas kasur berkecepatan tinggi. Adegan demi adegan percintaan yang panas, lembut, dan penuh gairah pun membara di kamar itu. Rasa hangat dan kepuasan luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya.
Tia mendongak saat Sam mencumbu ceruk lehernya dengan liar. Hingga tiba-tiba...
Kukuruyuk! (Bukan suara ayam, melainkan alarm ponsel Tia yang berdering nyaring dari balik meja).
Mata Sam terbelalak kaget! Ia terbangun secara mendadak dengan napas terengah-engah dan pelipis bersimbah keringat dingin.
Sam terduduk di atas sofa. Matanya berkedip-kedip kaku, menyesuaikan diri dengan cahaya matahari pagi yang mulai menerobos masuk dari sela-sela tirai jendela hotel.
"A-apaan tadi itu..." gumam Sam memegang dadanya yang berdegup kencang.
Namun, rasa syok Sam belum selesai. Saat ia hendak menurunkan kakinya dari sofa, Sam merasakan sensasi dingin dan basah yang sangat mencurigakan menyengat di bagian depan celana pendek kainnya.
Sam melirik ke bawah. Matanya seketika melotot selebar piring katering!
"ASTAGA!" ujar Sam menjerit histeris. Celananya basah kuyup di bagian depan! Sang miliarder rahasia sekaligus pawang buaya muara perkasa itu baru saja mengalami mimpi basah gara-gara membayangkan istri sewaannya sendiri!
Rasa malu yang menggelegar kembali menghantam kepala Sam. "Mati aku! Kalau Mbak Tia sampai lihat celanaku bentukannya begini, hancur sudah sisa-sisa harga diriku!"
Dengan gerakan histeris yang sangat panik, Sam menutupi bagian depan celananya menggunakan bantal sofa, lalu melirik ke arah kasur King Size. Kasur itu sudah kosong! Selimutnya sudah terlipat agak berantakan.
Sam mendengar suara kucuran air dari dalam kamar mandi.
"Oh, Mbak Tia lagi cuci muka atau sikat gigi di dalam," batin Sam menyimpulkan sepihak secara ceroboh.
Tanpa berpikir panjang dan hanya ingin secepat mungkin membilas celana serta tubuhnya dari "dosa mimpi pagi" tersebut, Sam berlari kecil membawa bantal sofa menuju pintu kamar mandi.
Gilanya, karena panik tingkat dewa, Sam sama sekali tidak mengetuk pintu. Ia mengira Tia hanya sedang berada di depan wastafel. Lagipula, pintu kayu tebal kamar mandi itu tampak sedikit renggang, Tia yang masih mengantuk berat saat bangun subuh tadi ternyata lupa memutar selot kunci pintu!
Sret!
Sam mendorong pintu kamar mandi lebar-lebar!
"Permisi Mbak, aku mau numpang cuci celana sebentar..." ujar Sam cepat.
Namun, kalimat Sam terhenti di udara. Lidahnya mendadak terkelu kaku. Seluruh aliran darah di tubuhnya serasa berhenti mengalir seketika!
Bukan di depan wastafel. Tia saat itu sedang berdiri tepat di bawah pancuran shower kaca transparan, dalam kondisi sepenuhnya tanpa busana alias telanjang bulat. Air hangat mengalir membasahi kulit mulusnya dari pundak hingga kaki.
Tia yang sedang membalurkan sabun di lehernya refleks memutar badan mendengar pintu terdorong keras.
Mata mereka berdua bertemu. Untuk kedua kalinya dalam kurun waktu kurang dari 12 jam, takdir menyajikan adegan ketelanjangan tanpa sensor di antara pasangan pengantin kredit tersebut. Bedanya, kali ini objeknya bertukar peran seratus persen.
Tia membatu di bawah pancuran air. Pandangan matanya membelalak sempurna, mulutnya menganga lebar menatap Sam yang berdiri di ambang pintu sambil memegangi bantal sofa di depan celananya yang basah.
Keheningan satu detik yang mencekik itu pecah oleh histeria massal!
"AAAAAAAAAARRRRRGGGGHHH!!!" jerit Tia melengking tinggi, suaranya menggelegar menembus dinding kedap suara hotel. Dengan refleks cepat, Tia menyambar handuk di gantungan untuk menutupi tubuh polosnya sambil menunjuk Sam memakai botol sabun cair. "SAMSUDIN! KAMU NGAPAIN MASUK TANPA KETUK PINTU?!"
"AMPUUUN, MBAK TIA! MAAF! SUMPAH AKU KIRA MBAK TIA CUMA SIKAT GIGI!" jerit Sam tidak kalah histeris, suaranya melengking melebihi jeritan emak-emak melihat ular piton di dalam dapur.
Sam melompat mundur dari kamar mandi, membanting pintu kayu itu hingga tertutup rapat BRAK!, lalu menyandarkan tubuh tegapnya di dinding luar sambil memegangi dadanya yang mau meledak.
Wajah Samsudin yang tadinya agak pucat kini berubah merah membara melebihi warna cabai rawit matang. Pria tegap itu memejamkan mata erat-erat, meratapi nasibnya yang bertubi-tubi dilanda bencana komedi di kamar VIP tersebut.
"Ya Tuhan..." rintih Sam memegang kepalanya yang mendadak berputar pening. "Malam pertama telanjang bulat... Pagi hari mimpi basah terus lihat Mbak Tia telanjang bulat... Cobaan hidup apalagi ini..."
Dari dalam kamar mandi, suara air shower dimatikan secara kasar, disusul suara napas Tia yang terengah-engah antara syok, malu, dan emosi jiwa tingkat tinggi.
sampai ikut nangis er baca tadi malam kasihan tia diposisinya nyesek banget gitu
udah dipecat, hutang banyak, barang² dirumah habis, suami kreditnya kalau g mau menerima keadaan lalu kabur apa gak tambah nelangsa Tia
bayangin aja melasssssss bener
dan selain membuka hati, juga sampaikan juga bahwa kamu sekarang yang akan menafkahi,
tapi jangan dulu terbuka Sam yang Miliuner, bisa² Mba Tia pingsan sambil melotot, wkwkwk 🤣
turunin gengsi nya dong Tia agar sam gercep,
tidak sabar liat mereka bucin akut thor... 😄
ini baru sehari lohhh kalau tiap hari apa gak tambah bingung ularnya.
er yakin kalau sering ada godaan gini gak akan lama mereka udah praktek malam pertama beneran