lelah, satu kata yang mewakili keadaan yang Rania rasakan saat ini. sudah 3 tahun pernikahan nya dan kevin berjalan. namun tidak sehari pun Kevin menganggap Rania sebagai istrinya.
" kapan kamu berhenti berselingkuh? dan menganggap aku sebagai istri mu?" tanya Rania dengan suara pelan dan nada lelah.
" saat kau mati" jawab Kevin dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarissa19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 20_ aku ayahnya
dreet
Ponsel gizel berbunyi nyaring membuat gizel yang terlelap dalam tidurnya langsung terbangun.
Gizel mengambil ponselnya yang berada di dalam tas. Lalu melihat layar ponselnya yang menunjukkan nama dan foto Luna.
" gizel, apa kamu sedang sibuk?" tanya luna di seberang sana terdengar panik.
" tidak terlalu, kenapa emang nya?" tanya gizel
" boleh tolong datang ke sekolah Azka nggak? tadi gurunya menelpon katanya dia bertengkar dengan temannya dan meminta ku untuk segera datang"
ini bukan pertama kalinya putra Luna bertengkar dengan temannya. Gizel sudah sering mendengar curhatan Luna tentang Azka.
" maaf lun, bukanya aku tidak mau. tapi saat ini aku sedang di London" ujar gizel.
Seandainya dia sedang di Indonesia dia pasti tidak akan menolak permintaan Luna. cuma kesekolahan untuk mengurus masalah itu tidak akan membuat nya kerepotan.
" kamu di London? Sejak kapan?" tanya luna terkejut.
" ceritanya panjang, lebih baik sekarang kamu hubungan Alaska meminta bantuan sama dia " saran gizel.
Kenapa Alaska? Karena kalo Haruna sama aja seperti luna. Mereka sibuk bekerja tidak bisa meninggalkan pekerjaan mereka. Karena mereka bekerja pada orang lain.
Sedangkan Alaska? dia berkerja di perusahaan miliknya sendiri. jadi pasti bisa membantunya.
" baiklah, aku tutup telepon nya " ujar Luna lalu panggilan itu pun berakhir.
Gizel meletakkan ponselnya di atas meja lalu berjalan mendekati ranjang tempat putranya tidur. Dia menatap wajah alendra yang terlihat lebih segar pagi ini dari pada semalam.
" cepat sembuh ya sayang " ujar gizel mengusap kepala alendra lalu menciumnya sekilas setelah itu dia berjalan ke kamar mandi.
" mommy.... Mommy...." panggil alendra panik saat terbangun dari tidurnya dan tidak menemukan kehadiran ibunya.
" mommy... Mommy...." panggil alendra lagi sambil menangis mencari keberadaan gizel di ruangan itu.
" mommy pergi lagi? Mommy ingkar janji? "gumam alendra sesenggukan. Dia duduk di atas ranjang memeluk kedua lututnya dan menundukkan dengan bahu bergetar karena menangis.
" alendra...!" panggil gizel panik keluar dari kamar mandi dan berjalan cepat mendekati putranya.
tadi saat sedang mencuci wajahnya dia samar samar mendengar suara tangisan putranya. dia langsung panik berfikir terjadi sesuatu pada alendra.
" mommy?" ujar alendra lirih mengakat kepala nya menatap gizel yang wajahnya masih basah belum sempat dia keringkan.
Alendra mendekat ke arah gizel lalu berhamburan ke pelukan gizel. Padahal baru jam 4, tapi alendra sudah bangun.
" mommy Disini, jangan nangis lagi" ujar gizel lembut mengusap punggung kecil alendra untuk menenangkan putranya.
" mommy jangan pergi, alendra takut" ujar alendra lirih dengan sisa tangisan nya.
" iyaa, mommy tidak akan pergi" jawab gizel lalu mengusap air mata alendra.
Dokter datang lalu memeriksa keadaan alendra. Alendra berbaring di atas ranjang rumah sakit dengan satu tangan mungilnya menggenggam tangan besar gizel dengan erat takut gizel pergi.
" keadaan nya sudah jauh lebih baik, putra anda sudah boleh pulang" ujar dokter menggunakan bahasa inggris.
" thanks you dokter" ujar gizel tulus, dia senang akhirnya putranya membaik.
setelah menyampaikan hal hal penting dokter itu pun segera pergi. tidak lama setelah itu hana pun datang dan mereka bersiap siap untuk pulang.
" baiklah, aku akan pergi sekarang " ujar Alaska.
"*terimakasih banyak al, aku tidak tahu harus meminta bantuan siapa lagi jika bukan kamu" ujar Luna merasa lega karna Alaska mau membantu nya*.
" santai aja, cuma kesekolahan dan kebetulan hari ini aku lagi nggak ngantor" ujar Alaska
Alaska memang tidak pergi ke perusahaan. efek mabuk semalam membuat dia pusing dan sakit kepala. semalam dia tidur jam 3 pagi dan baru bangun saat Luna menelpon nya.
Panggilan berakhir. Alaska segera bergegas mandi lalu bersiap pergi ke sekolah SD tempat anak nya Luna bersekolah. Luna sudah memberi tahu dia Nama sekolah nya.
Tiba di sana Alaska segera masuk. Dia bertanya pada guru yang sedang berjalan di koridor.
" maaf, ruang guru di mana ya? " tanya Alaska
" tuan Alaska? Ada keperluan apa tuan kesini?" tanya guru tersebut terkejut melihat kehadiran Alaska.
Bagaimana tidak? Alaska adalah salah satu investor terbesar disini. Dan juga Kevin. keduanya sama sama menjadi orang penting di sekolah ini.
" saya walinya..."
" *sialan, gw lupa nama anaknya*" batin Alaska mencoba mengingat nama anaknya Luna. Padahal tadi Luna sudah memberi taunya.
" saya walinya Muhammad Askar" ujar Alaska setelah mengingat selama beberapa detik.
" Muhammad Askar? Seingat saya tidak ada murid yang memiliki nama itu"
Wah! Seperti nya Alaska salah ingat. padahal seingat nya sudah benar. dia mengeluarkan ponselnya lalu mengirimkan pesan pada Luna.
*Nama nya siapa? Aku lupa \_alaska*
Alaska menunggu Luna membalas pesan nya. Tapi sepertinya Luna sedang sibuk melayani para penumpang pesawat.
" apa maksud anda Muhammad Azka?" tanya guru itu lagi.
" ah ya! benar. Tapi di rumah dia sering di panggil askar " bohong Alaska biar tidak terlalu malu.
" oh seperti itu, mari ikut saya tuan"
Alaska mengikuti guru tersebut menuju ke ruang guru. Tiba di sana Alaska dapat mendengar keributan yang sedang terjadi.
" saya tidak mau tahu! Pokonya dia harus di hukum dan ganti rugi terhadap anak saya!" bentak seorang wanita.
" tenang Bu, kami pasti akan menghukum murid yang salah. tapi mohon bersabar sampai orang tuanya datang" ujar wakil kepala sekolah.
" hmm!" dehem Alaska menarik perhatian mereka.
Azka menatap sekilas Alaska, dia tidak mengenal siapa Alaska karena mereka belum pernah bertemu. dia Hanya berdiri santai tanpa merasa bersalah atau takut sama sekali.
" tuan Alaska" ujar wakil kepala sekolah terkejut melihat kehadiran Alaska. dia yang sedari tadi duduk di kursi kebesarannya sontak bangun begitu melihat kehadiran sang investor.
" saya kesini ingin menjemput Azka" ujar Alaska datar.
Guru guru di sana jelas terkejut, bahkan Azka sendiri ikut terkejut. Siapa pria ini? Kenapa datang untuknya? Dimana ibunya?
" silahkan duduk dulu tuan, kita bicarakan baik baik" ujar wakil kepala sekolah panik " kalau boleh tahu tuan siapa nya Azka?"
" saya ayahnya" jawab Alaska secara sepontan tanpa dia sadari.
" *apa yang kamu katakan? Bagaimana kalo mereka salah paham*?" batin Alaska menyesali perkataan nya.
Mereka semakin terkejut. Setahu mereka Azka tidak memiliki ayah, ayahnya sudah meninggal. dan ibunya hanya wanita pekerja biasa.
Dan lagi, setahu mereka Alaska belum pernah menikah. Apa lagi sampai memiliki anak.
" *ayah ku? Aku tidak punya ayah" batin Azka sinis*.
Bahkan matanya menatap sinis pada Alaska. Namun dia tetap tidak membantah sedikitpun.
" oh jadi anda ayahnya? anak mu anda sudah melukai anak saya" ujar wanita itu sambil menunjuk tangan putra nya yang di balut kain karna pergelangan tangannya tergeser" lihat tulang pergelangan anak saya tergeser, dan kening putra saya terluka " Ujar nya lagi menunjukkan pada kening putranya yang di perban.
Alaska menatap anak kecil itu. mata anak kecil itu basah dan merah karena habis menangis. kepala nya di perban begitupun dengan pergelangan tangan nya. Dan... Bagian depan bajunya terdapat noda darah..
Lalu Alaska menatap pada Azka meminta perjelasan tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Dan Azka memahami itu. entah kenapa dia merasa sedikit takut di tatap seperti itu.
" dia yang memulai, dia menghina ibu ku" ujar Azka membela dirinya.
" apa yang dia katakan?" tanya Alaska.
" dia bilang ibu ku adalah janda miskin dan jelek, makanya ayah pergi meninggalkan ku. dia juga berkata ibu ku wanita sialan dan rendahan" jelas Azka menahan tangisnya mengingat semua hinaan yang di lontarkan oleh anak wanita itu.
Alaska tersenyum lalu berjalan mendekat pada Azka lalu berlutut memeluk tubuh kecil Azka, mengusap punggung Azka dengan lembut memberikan kehangatan.
Tanpa terasa, air mata Azka menetes keluar bersama dengan isak lirih yang tak pernah dia perlihatkan pada orang lain. Bahunya bergetar halus, wajahnya di tenggelamkan pada dada Alaska.