NovelToon NovelToon
AKU: Catatan Lelaki Yang Mencintaimu

AKU: Catatan Lelaki Yang Mencintaimu

Status: tamat
Genre:Teen / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:398
Nilai: 5
Nama Author: Ayuni Reisz

"Jika waktu bisa kuhentikan, aku ingin selamanya berada di sisimu, menjaga hubungan kita hingga garis terakhir."

Banyak yang berkata jika masa remaja adalah masa yang menyenangkan. Sepertinya kalimat itu berlaku juga untuk Izang, pemuda 17 tahun yang menyukai adik kelasnya, Ara. Meskipun awalnya bersama karena terpaksa, hal itu tidak menyurutkan rasa cinta Izang pada Ara.Bahagia? Harusnya. Namun, cobaan mulai menimpa bertubi-tubi. Mulai dari perceraian orang tua, kepindahan ke Bandung, hingga hubungan jarak jauh (LDR).Di saat mereka berjuang mempertahankan cinta, takdir justru mendatangkan badai yang jauh lebih kejam—sebuah vonis sakit yang mengancam sisa usia Izang. Akankah mereka yang memulai hubungan dengan tertatih, bisa bertahan hingga akhir? Ataukah perpisahan selamanya menjadi ujung dari kisah ini?

💔 Kisah Romantis Melankolis - POV Pria (Siapkan Tisu!)
🕒 Update Setiap Hari!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni Reisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB LIMA: Arus Bawah (Bagian 2)

“Eh, aku tadi liat motor persis kayak punyaku di parkiran. Punya siapa ya?” dengan mulut yang hampir penuh aku masih saja ngotot bicara. Ian menopang kepalanya dengan tangan kiri. Menatapku dengan pandangan ‘kamu seharusnya tidak bisa punya pacar dengan sikap begini’.

“Kamu baru liat mungkin,” Ian menjawab seusai menyelesaikan kunyahan sandwichnya.

“Nggak, aku lumayan hafal dengan motor orang-orang kantor. Dan selama ini nggak pernah ada yang menyamai motorku itu. Aku yakin dengan mataku. Dan lagi, dari platnya aja udah kelihatan kalau motor itu baru,” kugigit lagi sandwichku yang masih setengah. Dan ini sudah sandwich kedua yang kulahap pagi ini. Gila! Sandwich buatan ibu Ian semakin enak saja setiap harinya. Kalau begini terus, sixpackku bisa menghilang hanya gara-gara roti lapis.

“Emang kamu nggak ada kandidat untuk mengira-ngira siapa pemilik motor itu? Biasanya kan kamu sok berspekulasi,” Ian menyandarkan punggungnya di kursiku. Aku berdeham.

“Kemungkinan besar yang punya cowok. Selain karena cewek-cewek di kantor mayoritas pakai rok, tadi aku lihat-lihat juga spare partnya sama kayak punyaku. Dan nggak mungkin cewek peduli banget sama spare part kayak begitu. Terus kalau berdasarkan gaji kita yang UMR begini, ya bisa aja beli tapi nunggu nabung berapa tahun dulu. Kalau dapet tender-tender besar baru lumayan, nggak sampai setahun udah bisa beli motor begitu. Tapi beda soal lagi kalau yang punya motor itu udah dasarnya kaya...” aku menghentikan analisaku, menemukan sesuatu. Ian tiba-tiba menutup mulutnya, berusaha keras untuk tidak tertawa.

“Shit! Itu motormu ya?” tebakanku berbuah tepuk tangan dari Ian. Artinya, itu memang motornya.

“Kapan kamu beli?” tanyaku lagi.

“Mm...seminggu yang lalu kayaknya. Tapi surat-surat dan platnya baru selesai diurus kemarin. Akhirnya baru bisa kupakai hari ini.”

“Kenapa nggak beli mobil aja sih kamu ini? Kenapa hanya beli motor yang jelas tidak berefek besar pada dompetmu itu?” mau tak mau aku penasaran juga dengan tujuannya.

“Aku pingin kembaran sama kamu aja. As simple as that,”

Pernyataan itu sederhana. Tak ada yang menarik awalnya. Tapi pernyataan itu pula yang membuatku teringat dengan hal-hal kecil yang sudah Ian lakukan untuk terlihat kembar denganku. Aku tak melarang, sih. Toh itu juga tak merugikanku. Tapi kalau sampai dia berubah jadi aku demi mengamankan dirinya sendiri, itu baru yang tidak benar.

“Boleh aja bersikap kembar tapi jangan sampai ada dua Izang di dunia ini.”

“Maksudmu?” Ian meminta penjelasan. Kutarik napasku dalam-dalam. Berharap ini akan jadi perdebatan yang mudah antar sahabat.

“Brother, emang kamu nggak capek bersikap kayak aku terus? Mau sampai kapan kamu kayak begini? Kembalilah ke Ian yang biasanya. Jangan menyiksa diri sendiri!” tuturku pelan. Kudapati raut Ian menegang. Dia tahu dia tidak bisa menghindar. Dia tahu bahwa bagaimanapun dia berkelit, aku pasti akan membahasnya juga di kemudian hari.

“Aku merasa lebih safe dengan bersikap kayak kamu, Zang. Orang bakal berpikir dua kali buat cari masalah sama aku. Ini juga bentuk penyesalanku karena sempet nggak dengerin omonganmu soal Sarah. Kalau waktu itu aku lebih buka mata kan kejadian kayak begini nggak bakal ada.”

“Jangan salahin keadaan! Harusnya kejadian kemarin kamu jadiin pelajaran. Bukan kamu jadiin alasan pelampiasan dendam. Emang pembalasanmu masih kurang? Si Sarah udah kamu depak ke divisi lain, Satrio sampai sekarang belum dipercaya ngerjain satu proyek pun. Kalau kamu marah sama Sarah, aku angkat tangan. It’s your right. Tapi Satrio juga nggak tahu apa-apa. Aku udah cerita ke kamu kan apa alasan Satrio mengiyakan ajakan Sarah untuk pacaran? You said you’re a grown up guy. Which grown up shit that you’re talking about?” sudah kutahan-tahan ternyata serapahku tetap keluar juga. Padahal ini baru debat pembuka.

“Lalu aku harus gimana ke mereka? Berpura-pura nggak terjadi apa-apa? Aku nggak segila itu, Zang. Justru perubahan sikapku ini sebagai tanda aku masih waras. Karena aku mau melindungi diriku sendiri. Jangan mengguruiku soal jadi dewasa. Kamu nggak akan tahu gimana sakitnya diselingkuhin di depan mata karena pacarmu dan kehidupanmu itu udah sangat sempurna. Dewasamu dan dewasaku jelas berbeda,” Ian terdengar tak terima. Tanpa kusadari aku mengembangkan senyum getir mendengarnya.

“Sempurna katamu? I’m coming from a broken family. Orang tuaku bercerai sejak aku SMA. Aku harus rela tiap malam nggak tidur hanya demi dapat uang jajan tambahan. Pacarku dimusuhi banyak orang begitu jadian denganku. Kami juga harus mati-matian menahan rindu karena jarak yang bangsat. Ini yang kamu bilang sempurna? Apa kabar dengan hidupmu yang dengan sekali ‘halo’ saja bisa menyelesaikan segalanya?” kalimatku barusan mengubah ekspresi Ian. Dia seketika melunak.

“Zang, sorry. Aku nggak bermaksud...”

“Aku melewati banyak hal untuk bisa jadi aku yang sekarang, Ian. Aku juga nggak memintamu untuk menjalani hidup sepertiku untuk bisa merasakan pahitnya. Maaf, aku emang belum pernah tahu bagaimana rasanya diselingkuhi. Tapi ingatlah bahwa aku juga yang memergoki Sarah hari itu. Tidak bisakah kamu pikirkan bagaimana rasanya jadi teman yang di satu sisi tidak ingin hubunganmu rusak, tapi di sisi lain juga tidak ingin melihatmu sakit hati?” Ian terdiam. Tak ada tanda-tanda dia ingin mendebatku seperti tadi. Aku mendudukkan diri di meja kerja.

“Nggak ada yang bilang jatuh cinta itu akan sepenuhnya menyenangkan. Itu hanya roman picisan. Mau nggak mau, sakit hati itu perlu. Untuk mendewasakanmu akan sesuatu. Belajar nggak melulu soal hitung-hitungan, tapi pengalaman juga akan membantumu jadi laki-laki yang lebih sadar dengan keadaan.”

“I know, tapi kupikir dengan jadi kamu semuanya akan jadi gampang,” Ian menggaruk-garuk kepalanya.

“Oke aja kalau kamu mikirnya gitu. Siapa tahu itu emang bakal bikin semuanya lebih gampang. Tapi, bukan berarti karena kamu jadi aku, terus kamu bakal dapet respect lebih dari orang lain. Sadarlah bahwa orang akan respect ke kamu karena kamu jadi dirimu sendiri. Seperti yang kubilang tadi, jangan ada dua Izang. Biar aja ada Izang dan Ian.”

“Tapi kan...”

“Hey! Semirip apapun orang di dunia, orang lain pasti menemukan sesuatu yang berbeda di antara keduanya. Dan pada akhirnya, setiap manusia memang harus dipandang berbeda,” pungkasku sambil menepuk bahu Ian tanda perdebatan selesai.

...***...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!