Karina, gadis yatim piatu berusia tujuh belas tahun, kehilangan nyawanya setelah menyelamatkan seluruh penumpang bus yang terjun ke jurang. Namun, kematiannya bukan akhir. Sebuah sistem misterius memberinya kesempatan hidup kembali dengan satu syarat: mengumpulkan 100.000 Poin Kehidupan dengan menyelamatkan para antagonis pria dari takdir tragis mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kirana_euforia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia Kedua — 01
Asap dupa cendana yang mengambang di udara kamar itu tidak sepenuhnya menutupi bau lembap kayu tua dan debu yang telah lama mengendap di sudut sudut ruangan.
Itu adalah hal pertama yang disadari Karina ketika kesadarannya menetap sepenuhnya pada raga yang baru.
Ia berlutut di atas lantai papan yang dingin, mengenakan hanfu biru pudar yang kainnya telah menipis dimakan waktu dan cucian berulang.
Sebuah cermin perunggu tergantung di dinding memantulkan wajah yang kini menjadi miliknya.
Mata sayu yang seolah telah lamaa kehilangan cahya, alis yang tak pernah dirapikan dengan telaten, rambut hitam yang disanggul seadanya, hanya ditahan sebatang tusuk kayu polos tanpa ukiran.
“Xue Lan” Batinnya menyusun kembali serpihan ingatan yang dititipkan Sistem. Ingatan yang sengaja dibuat tidak utuh, seperti kain yang robek di sana sini.
Seorang Selir tingkat kesembilan, yang paling rendah di antara yang rendah yang menghuni Paviliun Bunga Layu.
Ketukan pelan terdengar dari balik pintu, tiga kali, yang terdengar ragu ragu seolah takut mengganggu.
"Selir Xue." Suara itu berbisik. "hamba, Yuan."
Seorang dayang muda melangkah masuk membawa nampan berisi bubur encer dan acar lobak.
Hidangan yang sama menurut ingatan samar yang tertinggal yang biasa disajikan setiap pagi tanpa jeda selama bertahun-tahun.
"Terima kasih, Yuan." Ucap Karina, berusaha menyelaraskan nada bicaranya dengan kehati hatian.
Yuan menatapnya sesaat lebih lama dari biasanya, kemudian menunduk cepat, seolah menyesali keberaniannya sendiri.
"Wajah Selir seperti berbeda pagi ini."
...----------------...
Sepeninggal Yuan, Karina menghabiskan waktu menelusuri sisa ingatan Xue Lan yang tercecer.
Dan yang ia temukan jauh lebih berbahaya dari yang pernah digambarkan Sistem secara singkat sebelumnya.
Istana ini bukanlah sekadar kediaman seorang Kaisar dan keluarganya.
Istana ini adalah papan catur hidup yang setiap penghuninya adalah bidak yang digerakkan oleh tangan tangan tersembunyi.
Setidaknya ada tiga kekuatan besar yang saling mengintai di balik tembok merah istana ini.
Yang pertama adalah kekuasaan Ibu Suri, yang telah mencengkeram istana bagian dalam lebih dari dua puluh tahun, jauh melampaui masa hidup mendiang suaminya sendiri.
Ibu Suri menaungi penuh Putra Mahkota Zhi Wei, pewaris sah dari rahim Permaisuri, sebagai calon tunggal yang tidak boleh diganggu gugat.
Yang kedua adalah kalangan militer, yang meski tak pernah menyatakan diri secara terbuka, dikenal condong kepada keluarga Jenderal Han.
Sebagai keluarga yang telah mengabdi tiga generasi menjadi panglima perang kekaisaran dan kini diam-diam menaruh harapan pada Pangeran Ketiga, Jun Hao, yang dianggap lebih tegas dibandingkan Zhi Wei yang selalu berlindung di bawah bayang bayang ibunya.
Dan yang ketiga adalah kekuatan paling tersembunyi, yang namanya pun jarang berani disebut selain dalam bisikan tersamar di sudut dapur istana hanya dikenal sebagai "Bayangan".
Tak seorang pun tahu pasti siapa yang berada di baliknya, namun konon segala rahasia, dari yang teragung hingga yang paling remeh, pada akhirnya akan sampai ke telinganya.
“Ini bukan sekadar perselisihan keluarga, tapi medan peran yang sungi.” Dadanya berdegup menyadari betapa rumit jalinan yang harus ia lalui.
...----------------...
Menjelang tengah hari, sebuah kegaduhan di dapur besar istana yang kemudian disadarinya sama sekali bukan perkara kecil membuka lebih jauh matanya tentang betapa mudahnya nyawa direnggut di tempat ini.
Ia baru saja mengambil jatah air di sumur belakang kompleks paviliun selir tingkat rendah.
Ketika suara ribut terdengar dari arah Paviliun Kemuning, terdengar suara pecahan mangkuk, jeritan yang buru buru diredam, lalu kesunyian yang jauh lebih mencekam dari jeritan itu sendiri.
"Selir Mei keracunan!" Seorang dayang berlari melintas, wajahnya pucat pasi.
Karina, didorong naluri yang telah terlatih sejak perjalanan perjalanannya yang lalu, mendekat ke tepi kerumunan yang mulai berkumpul.
Tabib istana bergegas masuk, memeriksa Selir Mei yang terbaring lemah, keringat dingin membasahi wajahnya.
"Racun Bunga Tidur Abadi." Gumam sang tabib, cukup pelan namun masih tertangkap telinga Karina yang berdiri di kejauhan.
"Jarang ada yang memiliki racun ini karna harganua mahal. Hanya toko obat tertentu di ibu kota yang menjualnya."
Selir Mei selamat, sebab racun itu belum sempat bekerja sepenuhnya.
Namun kandungannya yang baru berusia dua bulan dan telah menjadi kebanggaannya di depan Kaisar tidak seberuntung itu.
Yang membuat dada Karina terasa dingin bukanlah tragedi itu sendiri, melainkan bagaimana orang orang di sekelilingnya menyikapinya.
Tak seorang pun benar benar terkejut. Tidak seorang pun berani bertanya siapa dalangnya secara terbuka.
Yang ada hanyalah pandangan pandangan yang saling bertukar makna tanpa suara, bahasa diam yang seolah berkata.
“Kita semua tau siapa yang diuntungkan, tetapi tak seorang pun cukup bodoh untuk mengucapkannya.
"Selir Mei belakangan terlalu sering dipanggil menghadap." bisik seorang dayang kepada temannya, suaranya nyaris tak berbunyi.
"Sudahlah." sela yang lain, cepat cepat, matanya melirik cemas ke kanan kiri.
"Tembok istana pun punya telinga."
Malam harinya, dengan pikiran yang masih dibayangi kejadian siang tadi, Karina berjalan menyusuri taman belakang kompleks selir tingkat rendah.
Ia tidak menyangka akan menemukan sesuatu di sana.
Sesosok bayangan bergerak lincah di antara pepohonan, gerakannya terlalu terlatih untuk sekadar pelayan yang tersesat.
Karina segera berlindung di balik sebatang pohon, mengamati dalam diam.
Sosok itu berhenti sesaat di bawah sela cahaya bulan, dan seorang pemuda mungkin berusia awal dua puluhan dengah jubah gelap tanpa lambang kerajaan yang mencolok.
Lengannya mengalir deras darah segar. Matanya, meski dari kejauhan, memancarkan kewaspadaan seperti seseorang yang sedang diburu.
Pemuda itu tersandung akar pohon, mengerang tertahan, dan sebelum Karina sempat memutuskan langkah, matanya telah menangkap keberadaannya.
"Siapa di sana?" Tangan bergerak refleks ke pinggang seolah mencari senjatanya yang telah hilang.
Karina keluar perlahan sambil menundukkan kepala dengan segera, kedua tangan terkatup di depan dada.
"Ampun, Tuan. Hamba hanya kebetulan lewat. Tidak ada niat buruk."
Pemuda itu menatapnya lama, matanya menyipit seolah menilai.
"Kau telah melihat wajahku." Katanya, bukan pertanyaan, melainkan sebuah peringatan yang tersirat ancaman.
"Ingat baik baik, apa yang kau lihat malam ini sebaiknya turut terkubur bersama malam ini pula."
"Hamba nengerti, Tuan." Jawabnya tetap menunduk.
"Namun, izinkan hamba…. lengan Tuan tampaknya perlu dirawat sebelum darahnya semakin banyak terkuras."
Pemuda itu menatap lengannya sendiri, seolah baru menyadari separah apa lukanya, kemudian kembali menatap Karina dengan kewaspadaan yang belum sepenuhnya mereda. Namun rasa sakit tampaknya mengalahkan kecurigaannya.
"Lakukan cepat." katanya singkat.
Karina merobek sepotong kain dari ujung lengan bajunya sendiri, membalut luka itu dengan gerakan yang berusaha setenang mungkin, meski jantungnya berdegup kencang menyadari betapa berbahayanya situasi yang tengah ia hadapi.
"Kau tidak bertanya siapa aku." Gumam pemuda itu, nada suaranya terdengar sedikit heran, seolah reaksi Karina berbeda dari yang biasa ia temui.
"Bukan tempat hamba untuk bertanya, Tuan." Jawab Karina tetap menjaga pandangannya tertunduk sebagaimana mestinya.
Ia terdiam sesaat, memperhatikan cara Karina bekerja dengan cermat namun tanpa berlebihan menampakkan keingintahuan.
"Kau selir siapa?" tanyanya akhirnya, lebih pelan.
"Xue Lan, Tuan. Selir tingkat sembilan, dari Paviliun Bunga Layu." jawabbya menyelesaikan ikatan pembalutnya.
Pemuda itu mengangguk sedikit, seolah nama itu tidak berarti apa-apa baginya dan memang seharusnya begitu.
Selir tingkat sembilan bukanlah nama yang layak diingat siapa pun di istana ini.
"Kau boleh pergi setelah ini selesai, dan lupakan apapun yang kau lihat." nada suaranya kembali dingin, membangun kembali jarak yang sempat sedikit merenggang.
"Tentu, Tuan." jawab Karina patuh, meski di dalam hati ia tahu, sesuatu yang telah ia saksikan malam ini tidak akan semudah itu ia lupakan.
Sebelum pemuda itu sempat beranjak, suara langkah kaki berat dan kelebat cahaya obor mulai tampak dari kejauhan. Rombongan penjaga yang tampaknya masih menyisir area itu.
Karina, tanpa diperintah, segera menunjuk arah semak semak yang lebih rimbun dengan gerakan kepala yang nyaris tak kentara.
Pemuda itu menatapnya sesaa, sebelum menghilang ke dalam kegelapan secepat kemunculannya.
Karina segera membungkuk di dekat sumur, berpura pura sibuk mengisi embernya tepat ketika para penjaga tiba di area tersebut.
"Kau, selir!" seorang penjaga menghampirinya dengan nada menuduh. "Melihat seseorang lewat sini malam ini?"
"Tidak, Tuan Penjaga." Ia menjaga suaranya tetap datar, menunduk sebagaimana selayaknya seorang selir rendahan berhadapan dengan penjaga istana. "Saya hanya mengambil air."
Penjaga itu menatapnya lama, mencari cari kebohongannya, sebelum akhirnya mendengus kesal dan memerintahkan pasukannya melanjutkan pencarian ke arah lain.
Dalam perjalanan pulang, Karina melewati sudut lorong yang menghubungkan kompleks selir rendahan dengan halaman tengah istana, tempat sebuah papan pengumuman kecil biasa ditempel setiap kali ada titah baru dari Kaisar.
Malam itu, seorang kasim tua tengah menempelkan selembar kertas dengan tangan gemetar, dikawal dua penjaga bersenjata lengkap.
Karina tidak berani mendekat untuk membaca isi pengumuman itu secara langsung.
Kedudukannya sebagai selir tingkat sembilan tidak memberinya hak untuk berlama-lama di halaman tengah pada jam selarut ini.
Namun dari kejauhan, ia menangkap sepenggal kalimat yang cukup untuk membuat bulu kuduknya meremang.
Pencarian buronan yang dicurigai terlibat persekongkolan dengan pemberontak wilayah selatan.
Tidak ada nama yang tertulis. Namun ia tau, cepat atau lambat, nama itu akan muncul, dan ia sudah bisa menduga siapa yang dimaksud.
Dua orang dayang yang kebetulan lewat berhenti sejenak, membaca pengumuman itu dengan wajah tegang, kemudian saling melempar pandang tanpa berkata apa pun sebelum bergegas pergi ke arah berlawanan.
Seolah berdiri terlalu lama di dekat kertas itu saja sudah cukup untuk mengundang kecurigaan.
Karina memilih jalan memutar menuju paviliunnya, menghindari cahaya obor yang masih menyala di beberapa titik, pikirannya dipenuhi satu kesadaran yang membuat dadanya semakin berat.
“Di tempat seperti ini, kebenaran bergerak selambat siput, tetapi fitnah menyebar secepat api yang disiram minyak.”
Kembali ke Paviliun Bunga Layu dengan jantung yang masih berdegup kencang, Karina baru sempat mengatur napasnya ketika sebuah layar tembus pandang muncul di sudut penglihatannya kemunculan pertama Sistem di dunia ini.
[Pembaruan status.]
[Poin Kehidupan: 18.750 / 100.000 (belum ada perubahan dari dunia sebelumnya) ]
[Selamat datang kembali di Dunia Kedua.]
[Subjek: Mu Ran, Pangeran Ketujuh, dikenal di kalangan istana sebagai "Pangeran Bayangan" karna kedudukannya yang senantiasa berada di pinggiran kekuasaan.]
[Dalam alur asli, subjek akan dieksekusi kurang dari sebulan mendatang, difitnah bersekongkol dengan pemberontak.]
[Tuduhan yang direkayasa untuk menutup rapat kebenaran yang subjek ketahui secara tidak sengaja.]
[Peringatan: dunia ini dipenuhi jaringan intrik yang jauh lebih rumit dari estimasi semula.]
[Setidaknya tiga kekuatan besar saling berebut pengaruh, dengan kemungkinan adanya kekuatan keempat yang belum sepenuhnya teridentifikasi, bergerak dalam kesenyapan.]
[Tingkat risiko terhadap pengguna: tinggi.]
[Tingkat risiko terhadap subjek: sangat tinggi dan mendesak.]
Karina menatap peringatan itu lama, menyadari betapa berbedanya dunia ini dari yang ia bayangkan sebelumnya.
Bukan sekadar drama keluarga kerajaan yang bisa diselesaikan dengan kejujuran dan keberanian semata.
Melainkan medan yang menuntut kehati-hatian mutlak, di mana satu kata yang salah tempat bisa berarti nyawa yang melayang.
Dengan pemahaman baru yang jauh lebih hati hati dari sebelumnya, ia memejamkan mata, mempersiapkan diri menghadapi istana yang menelan setiap rahasia.
buang aja,karina mati lagi aja