Lexa, seorang siswi populer yang terbiasa menindas siapa saja yang menghalangi jalannya, terbangun di sebuah kamar sempit yang asing. Saat memandang cermin, ia tersentak menemukan sosok Maya gadis lugu dan pendiam yang saban hari ia jadikan sasaran rundungan di sekolah. Karna suatu kejadian, jiwanya terperangkap dalam tubuh korban yang paling ia benci.
Terjebak dalam kehidupan Maya, Lexa kini harus merasakan dinginnya lantai kamar mandi tempat ia dulu menyiram Maya, pedasnya cemoohan teman-temannya sendiri, hingga kejamnya rasa terisolasi. Demi bertahan hidup dan mencari cara kembali ke tubuh aslinya, Sephia terpaksa membalas balik intimidasi kelompoknya sendiri—kali ini menggunakan akal dan keberanian yang tak pernah dimiliki Maya sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Dengan rasa semangat, Maya merapikan seragam kusam yang ukurannya terlalu besar di tubuhnya. Setiap kancing yang ia pasang terasa seperti belenggu yang kian membelit lehernya. Pagi itu adalah hari Senin, hari yang selalu ia lewati dengan perasaan cemas. Berjalan keluar dari rumah sempitnya menuju angkutan umum sudah menjadi rutinitas lelah bagi Maya. Siksaan sebenarnya selalu menunggunya begitu ia menapakkan kaki di gerbang sekolah
Maya menyusuri lorong sekolah dengan menundukkan kepala dalam-dalam. Kacamata tebal berbingkai retak miliknya membuat pandangannya sedikit membias, cukup jelas untuk melihat bagaimana siswa-siswa lain menatapnya dengan pandangan jijik atau acuh tak acuh. Tak ada yang menyapa, tak ada yang membukakan jalan. Maya meresapi dinginnya aura sekolah yang sepenuhnya berada di bawah kendali sang penguasa,Lexa.
Saat melangkah masuk ke dalam kelas, mata Maya refleks melirik ke sudut belakang dekat jendela. Di sana, Lexa duduk anggun dikelilingi oleh ketiga teman gengnya. Lexa tertawa renyah sambil memainkan ponsel cantiknya, tampak sama sekali tak tersentuh oleh masalah apa pun. Maya memilih melangkah cepat dan duduk di mejanya yang berada di barisan paling depan, berharap terhindar dari perhatian kelompok tersebut.
Suasana kelas yang bising mendadak hening ketika Pak Danu, guru IPA yang terkenal ketat dan dingin, melangkah masuk ke ruangan. Beliau meletakkan tas kulit tebalnya di atas meja guru dengan dentuman keras, lalu menatap seluruh isi kelas di balik kacamata minusnya.
"Buka buku catatan kalian dan masukkan sisanya ke dalam tas," suara Pak Danu menggelegar tanpa kompromi. "Pagi ini kita adakan ujian dadakan materi Biologi Molekuler dan Hereditas."
Desahan kecewa dan keluhan langsung membahana di seluruh penjuru kelas. Wajah teman-teman geng Lexa seketika pucat pasi. Begitu pula dengan Lexa. Bagi gadis kaya itu, ujian dadakan ini adalah sebuah musibah besar. Lexa tidak pernah benar-benar belajar ia selalu mengandalkan contekan, joki tugas, atau intimidasi agar mendapat nilai aman. Kepanikan mulai terlihat dari raut wajah cantiknya yang bersolek tipis.
Namun, di meja depan tempat Maya duduk, ujian ini bukanlah sebuah ancaman. Maya adalah tipe murid yang selalu mengulang pelajaran setiap malam tanpa absen. Bagi Maya, tak ada istilah "ujian dadakan" karena seluruh rumus, konsep, dan teori hereditas sudah terpatri sempurna di dalam benaknya.
Begitu Pak Danu membagikan lembar soal, jemari Maya yang memegang pulpen kusam bergerak sangat lincah. Pola persilangan genetika, hukum Mendel, hingga rantai DNA yang membingungkan bagi siswa lain, begitu mudah ia selesaikan. Lembar jawabannya terisi penuh dengan penjelasan yang runtut dan rapi.
Sementara itu di barisan belakang, Lexa menderita luar biasa. Otaknya terasa kosong. Ia berulang kali berbisik pada teman-temannya, namun mereka sama tidak tahunya. Lexa mencoba mencuri pandang ke kertas murid lain, tetapi ketatnya pengawasan Pak Danu membuatnya tak berdaya. Pada akhirnya, Lexa hanya bisa mengisi lembar jawabannya secara asal-asalan dengan rasa kesal yang membakar dada.
Empat puluh lima menit berlalu dengan cepat. Pak Danu mengumpulkan seluruh lembar jawaban dan langsung mengoreksinya di tempat, sementara para murid menunggu dalam kecemasan yang mencekam.
Setelah sepuluh menit yang terasa panjang, Pak Danu menegakkan punggungnya. Beliau mengetuk-ngetuk meja dengan pulpen merahnya.
"Hasil ujian kalian secara keseluruhan sangat memprihatinkan,"ujar Pak Danu tegas."Banyak dari kalian yang menganggap remeh pelajaran ini. Tapi, ada satu hasil yang sangat membanggakan, dan ada satu yang sangat memalukan."
Pak Danu mengangkat satu lembar kertas dengan nilai sempurna.
"Seperti biasa, nilai tertinggi diraih oleh Maya," kata Pak Danu dengan nada suara yang melunak dan penuh kebanggaan. "Seratus bulat. Penjelasan rumusnya sangat rinci dan logis. Maya, kamu adalah contoh murid yang selalu siap dalam kondisi apa pun. Bapak sangat bangga dengan konsistensi kamu."
Maya hanya menunduk malu sambil tersenyum tipis, membenarkan posisi kacamatanya yang sedikit meluncur turun.
Namun, raut wajah Pak Danu seketika berubah menjadi sangat dingin saat mengangkat lembar kertas berikutnya.
"Dan untuk nilai terendah..." Pak Danu menatap tajam ke arah barisan belakang, tepat ke tempat Lexa duduk. "Lexa. Nilai kamu Dua Puluh Lima. Ini adalah nilai terkecil yang pernah ada di kelas ini selama semester berjalan."
Bisik-bisik kaget langsung pecah di dalam kelas. Teman-teman geng Lexa saling pandang dengan ekspresi tak percaya. Lexa membeku di tempatnya, wajah cantiknya mendadak merah padam menahan malu yang amat sangat.
"Lexa," tegur Pak Danu dengan nada prihatin namun tajam. "Bapak tahu kamu punya segalanya di sekolah ini. Tapi jika kamu terus-menerus malas dan tidak mau belajar seperti Maya, masa depanmu tidak akan menjadi apa-apa. Kamu harus banyak belajar dari Maya. Lihat dia, meski dalam keterbatasan, dia selalu menjadi yang terbaik karena kerja kerasnya."
Kata-kata Pak Danu yang membandingkan dirinya dengan gadis culun miskin itu menjadi pukulan telak yang meremukkan harga diri Lexa. Rahang Lexa mengencang, tangannya mengepal erat di bawah meja hingga jarinya memutih. Rasa benci dan dendam merayapi setiap sudut hatinya. Pujian Pak Danu kepada Maya rasanya seperti racun yang membakar emosinya.
Lexa melirik tajam ke arah punggung Maya di barisan depan. Ketiga teman gengnya menyenggol lengan Lexa, memberikan tatapan culas yang mengisyaratkan hal yang sama.
Maya yang menyadari atmosfer beracun di dalam kelas itu bisa merasakan tatapan menusuk di punggungnya. Ia meneguk ludah dengan susah payah. Maya tahu betul, nilai tertinggi yang baru saja ia dapatkan bukannya membawa keberuntungan, melainkan menjadi tiket emas yang akan membawanya masuk ke dalam neraka penyiksaan geng Lexa di jam istirahat nanti.