“Dia cuma budak. Dia harus ngerasain gimana susahnya hidup kalau nggak nurut sama gue.”~Reja Alfarizi Bagaskara
Celin Amara Kusuma tak pernah menyangka utang ayahnya akan menyeretnya ke dalam keluarga Bagaskara—bahkan membuat hidupnya terikat pada Reja, pemuda arogan yang menganggapnya hanya sebagai jaminan.
“Nggak akan ada cinta di sini, Celin. Cuma ada gue sebagai tuan lo.”
Bagi Reja, Celin adalah hukuman atas kebebasan yang dirampas ayahnya. Namun semakin ia berusaha menghancurkan gadis itu, semakin sulit ia mengabaikan keberanian dan keteguhan Celin.
Ketika kebencian perlahan berubah menjadi rasa yang tak bisa dijelaskan, siapa sebenarnya yang akan menjadi babu dari perasaan mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bak Seorang Bayangan?....
Celin hanya tersenyum pahit. Keterlaluan? Reja sudah melampaui batas itu sejak malam pernikahan mereka.
Namun, bagi Celin, melihat Ibu Kirei yang tersenyum dan Kirei yang berceloteh riang adalah satu-satunya alasan ia masih ingin bertahan hari ini. Setidaknya sebelum ia harus kembali ke penjara mewahnya malam nanti.
Masa lalu itu terasa seperti ribuan tahun yang lalu bagi Celin. Sebelum dunianya runtuh karena utang judi ayahnya, Celin punya satu aturan emas. Jadilah hantu.
Ia hanya ingin datang, belajar, bekerja, dan pulang tanpa meninggalkan jejak di mata anak-anak penguasa sekolah.
Namun, ada salah satu orang dari kalangan anak-anak berkuasa yang sering ia hadapi, Rian.
Rian adalah satu-satunya pengecualian "anti-anak-orang-kaya" milik Celin. Bukan karena Celin menyukainya, tapi karena kecerdasan Rian yang setara dengannya membuat mereka sering dikirim pihak sekolah untuk mengikuti Olimpiade Sains bersama.
Di balik sifat Rian yang terkadang terbawa arus pergaulan Reja, Rian adalah rival sekaligus rekan diskusi yang nyambung bagi Celin.
Sore itu di dapur kafe, saat Kirei sedang asyik mengelap meja, ia sesekali melirik ponselnya dengan senyum-senyum kecil. Celin tahu betul siapa yang sedang mengirim pesan pada sahabatnya itu.
"Rian?" tebak Celin singkat sambil membilas gelas.
Kirei tersentak, wajahnya memerah. "Ih, Celin! Apaan sih?"
"Rei, gue kan udah bilang. Kalau mau deket sama Rian, silakan. Tapi jangan di sekolah," ucap Celin serius.
"Gue nggak mau kita jadi sasaran empuk geng Tania atau diseret-seret ke drama anak-anak populer itu."
Kirei menghela napas, meletakkan lapnya. "Gue tahu, Celin. Gue dan Rian juga udah sepakat. Di sekolah kita orang asing, tapi kalau lagi di luar... Rian ternyata beda banget sama Reja. Dia lebih kalem, lebih menghargai orang. Dia bahkan sering nanyain kabar lo, katanya lo hebat banget kalau lagi ngerjain soal Fisika."
Celin hanya terdiam. Ia ingat saat olimpiade terakhir, Rian pernah membawakannya sebotol air mineral saat Celin terlihat pucat karena belum makan seharian.
Rian itu baik, tapi dia tetaplah orbit dari matahari yang bernama Reja. Dan berada di dekat orbit itu terlalu berbahaya.
"Reja nggak tahu kan lo deket sama Rian?" tanya Celin memastikan.
"Nggak tahu. Rian bilang dia nggak mau bikin ribet. Reja itu... lo tahu sendiri, dia egois. Kalau dia tahu temen deketnya main sama 'rakyat biasa' kayak kita, pasti Rian bakal habis di-bully juga," jawab Kirei pelan.
Celin memaksakan senyum pahit. "Andai lo tahu, Rei... Reja bahkan nggak cuma tahu soal gue, dia punya gue secara hukum," batinnya.
Tiba-tiba, lonceng di pintu kafe berbunyi. Celin menoleh, mengira itu pelanggan biasa. Namun, jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat sosok tinggi dengan seragam sekolah yang berantakan masuk ke dalam kafe.
Bukan Reja. Itu Rian.
Wajah Rian terlihat cemas. Ia langsung menghampiri meja kasir, mengabaikan protokol 'jangan saling kenal' yang selama ini mereka jaga.
"Celin, Kirei," ucap Rian dengan suara rendah, napasnya sedikit terengah-engah.
"Rian? Ngapain lo ke sini? Kalau ada yang liat gimana?" Kirei panik, matanya melirik ke arah pintu.
Rian menatap Celin dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara kasihan dan peringatan. "Gue harus kasih tahu ini ke kalian. Reja... dia lagi emosi banget di tongkrongan tadi. Gara-gara lo Celin, dia rencana mau ngerjain kafe ini malam ini."
Celin membeku. "Ngerjain gimana maksud lo?"
"Dia bawa anak-anak motornya. Gue nggak bisa cegah dia karena dia lagi bener-bener loss control. Dia ngerasa harga dirinya diinjak-injak sama lo, Celin," Rian menatap Celin lekat.
"Gue ke sini mau minta kalian tutup kafe ini sekarang juga sebelum mereka sampai. Gue nggak mau nyokap Kirei atau kalian kena imbasnya."
Celin mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kukunya memutih. Amarah yang sedari tadi ia tahan kini mencapai puncaknya. Reja sudah melewati batas.
Menyerang pribadinya adalah satu hal, tapi mengancam kafe milik keluarga Kirei—satu-satunya tempat yang memberinya rasa aman—adalah pernyataan perang yang sesungguhnya.
"Celin... gimana ini? Kita harus bilang Ibu," Kirei mulai gemetar, suaranya parau karena takut.
Celin menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya. Ia menoleh ke arah Kirei, lalu ke arah Rian.
"Rian, makasih udah kasih tahu," ucap Celin dingin, suaranya terdengar begitu tenang namun mematikan. "Rei, lo ajak Ibu ke dalam. Tutup pintu depan, tapi jangan matikan lampu. Biar gue yang hadapi dia di luar."
"Lo gila, Celin?! Dia bawa banyak orang!" seru Rian.
"Reja nggak butuh dilawan pake otot," Celin meraba jam tangan mahal di pergelangan tangannya. "Dia cuma butuh diingetin kalau dia nggak sekuasa itu atas hidup gue."
Celin melangkah keluar kafe, berdiri tegak di bawah lampu jalan yang remang-remang. Dari kejauhan, suara deru motor yang memekakkan telinga mulai terdengar mendekat.
Celin tidak lari. Ia justru melepas jam tangan mahal dari Reja dan menggenggamnya erat, siap untuk mengembalikan rantai itu langsung ke wajah pemiliknya.
Deru mesin motor sport yang memekakkan telinga semakin mendekat, membelah kesunyian jalan di depan kafe. Cahaya lampu dari belasan motor menyorot tajam, menyilaukan mata Celin yang tetap berdiri mematung di teras.
Reja berada paling depan. Ia mematikan mesin motornya dengan gerakan kasar, melepas helm, dan menatap Celin dengan sorot mata penuh kebencian sekaligus kemenangan.
Di belakangnya, ada teman-teman dekat Reja—Deo dan Kateo. Dan beberapa anggota geng motor lainnya turun dengan tawa meremehkan.
"Wah, liat siapa yang jadi pahlawan kesiangan di sini," sindir Reja, melangkah maju mendekati Celin. "Gue bilang apa tadi? Harga diri lo nggak ada artinya di depan gue."
Deo melipat tangan di dada, berdiri di samping Reja. "Rej, mending kita hancurin aja mading di depan ini. Biar mereka tahu rasa kalau berani macam-macam sama lo."
Celin tidak menatap teman Reja. Matanya hanya tertuju pada Reja. Saat itu, Rian keluar dari pintu kafe dengan wajah pucat, berusaha menengahi.
"Rej, udah. Jangan di sini. Ini tempat orang cari nafkah," ucap Rian dengan nada memohon.
Reja mengerutkan kening, menatap Rian dengan curiga. "Rian? Ngapain lo di sini? Jangan bilang lo belain anak beasiswa ini juga?"
Situasi semakin kritis. Kirei yang ketakutan mengintip dari balik pintu kaca, tangannya gemetar memegang ponsel. Celin tahu, jika ia membiarkan ini berlanjut, rahasia Rian dan Kirei akan terbongkar, dan kafe ini akan hancur.
Celin melangkah maju, memangkas jarak antara dirinya dan Reja. Ia mengangkat tangan kirinya, lalu dengan gerakan perlahan namun penuh penekanan, ia melepas jam tangan mewah yang melilit pergelangan tangannya.
"Ini yang lo mau, kan?" Celin melempar jam tangan itu tepat ke dada Reja. Jam itu jatuh ke aspal dengan suara denting yang menyakitkan.
Bersambung...