Ares Sudibyo, pewaris keluarga kaya, tidak pernah percaya pada perempuan. Sejak ibunya meninggalkan ayahnya demi pria yang lebih kaya, ditambah pengkhianatan yang dialami pamannya dan dirinya sendiri, Ares memilih menjauh dari pernikahan.
Namun, pertemuannya dengan Alisha Prameswari secara tidak sengaja mengubah sesuatu dalam dirinya. Aroma tubuh Alisha justru membuatnya penasaran karena tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan penolakan, sensasi yang tak pernah ia rasakan dari perempuan lain.
Ketika mengetahui Alisha membutuhkan biaya pengobatan untuk adiknya, Ares menawarkan sebuah kontrak: menanggung seluruh biaya pengobatan, dengan syarat Alisha bersedia memenuhi kebutuhan biologisnya. Setiap kali bersama Ares, Alisha harus menutup mata, sebuah aturan yang tak pernah dijelaskan.
Ares yakin hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Namun ketika ketergantungan mulai tumbuh, sanggupkah ia melepaskan Alisha yang memilih mengakhiri kontrak dan mencari pendamping baru dalam hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Jangan Pergi
Ares baru saja menyelesaikan rapat ketika Reki masuk membawa beberapa dokumen tambahan.
“Tuan, ada satu masalah dari pihak Kencana Group.”
Ares mengangkat wajah. “Mereka menolak pembatalan kerja sama?”
“Bukan sekadar menolak," jawab Reki. "Mereka minta pertemuan ulang, tapi saya sudah bilang kalo keputusan Tuan gak bisa diganggu gugat.”
“Kalo begitu, selesai.”
Reki mengangguk dan hendak keluar ketika suara gaduh terdengar dari luar.
“Tuan Ares harus mendengarkan penjelasan saya!”
Pintu ruang kerja terbuka. Seorang perempuan masuk dengan wajah tegang. Seorang staf keamanan berdiri beberapa langkah di belakangnya.
“Maaf, Tuan. Nona ini memaksa masuk.”
“Karena gak ada cara lain!” sela perempuan itu.
Reki mengernyit. “Nona, Anda gak bisa masuk seperti ini.”
“Saya sudah tiga kali minta pertemuan, tapi selalu ditolak.” Ia menatap Ares. “Tuan membatalkan kontrak kami dua hari sebelum pelaksanaan. Perusahaan kami sudah mengeluarkan biaya besar. Kalau keputusan ini gak diubah, kami bisa kehilangan proyek utama tahun ini.”
Ares tetap tenang. “Keputusan itu dibuat setelah tim saya menemukan pelanggaran dalam laporan perusahaan Anda.”
“Pelanggaran itu bisa dijelaskan!” Nada suara wanita itu meninggi.
“Sudah dijelaskan," tegas Ares.
“Tapi Tuan gak mau dengar penjelasan kami!” Perempuan itu meletakkan berkas di meja. “Saya hanya minta satu kesempatan.”
Ares melirik dokumen tersebut. “Saya sudah memberikannya.”
“Tuan Ares—”
“Reki," potong Ares.
Reki langsung maju. “Ya, Tuan.”
“Antarkan dia keluar.” Nada suara Ares datar, bahkan sedikit dingin.
Perempuan itu langsung menggeleng. “Nggak. Saya belum selesai.”
Ia maju beberapa langkah.
Ares masih duduk, tetapi sejak perempuan itu mendekat, aroma parfumnya mulai memenuhi ruangan. Awalnya hanya membuatnya tidak nyaman.
Ares mengabaikannya. Ia mengambil berkas lain. Namun beberapa detik kemudian, tenggorokannya terasa kering. Ia berhenti membaca. Aroma itu semakin kuat.
Ares menarik napas pendek melalui mulut. Kepalanya mulai terasa berat.
“Tuan?” Reki memerhatikan perubahan wajahnya.
Ares mengangkat satu tangan. “Buka jendela.”
Reki segera melakukannya.
Perempuan itu masih belum menyadari apa yang terjadi. “Tuan, kalau masalahnya hanya soal laporan, kami siap melakukan audit ulang. Bahkan kalau perlu—”
“Jaga jarak.”
Perempuan itu terdiam.
Ares menekan dua jarinya ke pelipis. Rasa mual perlahan naik dari perutnya, disusul denyutan yang semakin terasa di kepalanya.
“Keluar.”
“Tapi saya—”
“Sekarang.”
Nada suara Ares membuat Reki langsung bergerak mendekati perempuan itu.
“Silakan, Nona.”
“Nggak!” tolak perempuan itu. “Saya belum selesai bicara dengan Tuan Ares.”
“Reki.” Suara Ares terdengar lebih berat.
“Iya, Tuan.” Reki menatap perempuan itu dengan wajah yang kali ini tak lagi ramah. “Nona, keputusan Tuan Ares sudah final. Kalau Anda masih membuat keributan di sini, saya tidak segan minta keamanan ngantar Anda keluar.”
Tatapannya beralih kepada dua staf keamanan yang masih menunggu di depan pintu.
Perempuan itu mengepalkan tangan. “Tapi perusahaan kami bisa rugi besar.”
“Itu bukan lagi wewenang kami.” Reki memberi isyarat kepada petugas keamanan.
Akhirnya perempuan itu berbalik dan meninggalkan ruangan bersama mereka. Wajahnya masih menunjukkan ketidakpuasan.
Begitu pintu tertutup, Reki kembali menatap Ares. “Tuan?”
Ares tidak menjawab.
Tangannya masih menekan pelipis, sementara napasnya terdengar sedikit lebih berat dari biasanya.
Ares berdiri dari kursinya dan berjalan ke jendela. Udara malam menyentuh wajahnya. Namun kepalanya masih berdenyut. Perutnya terasa semakin tidak nyaman.
Ia menunduk sambil menarik napas panjang, lalu mengambil ponsel. Jarinya bergerak tanpa banyak pertimbangan.
> Datang malam ini.
Ia menatap pesan itu sebentar, kemudian menambahkan:
> Jangan terlambat.
Ponselnya kembali diletakkan. Ares bersandar pada meja. Ia tidak suka kenyataan bahwa ketika tubuhnya mulai bereaksi seperti tadi, orang yang langsung muncul dalam pikirannya adalah Alisha.
Kembali ke saat ini.
Alisha mengangguk meski tidak tahu apa yang sedang terjadi. Ia belum sempat bertanya lagi ketika Ares duduk di sampingnya. Tanpa banyak bicara, pria itu menarik tubuh Alisha ke dalam pelukannya.
Alisha sempat terkejut. Namun beberapa detik kemudian, ia merasakan tubuh Ares yang perlahan mengendur.
Ares memejamkan mata. Aroma yang biasanya membuatnya sesak seharusnya masih melekat di kepalanya. Namun yang tercium hanya aroma Alisha, dan napasnya perlahan kembali teratur.
Ares menarik napas dalam-dalam. Untuk beberapa saat, ia hanya diam dalam pelukan itu.
Alisha yang awalnya kaku akhirnya mengangkat tangannya. Jemarinya sempat menggantung ragu sebelum perlahan menyentuh punggung Ares.
“Alisha.”
Suara Ares terdengar rendah. Tidak sedingin biasanya. Ada sesuatu yang berbeda di dalamnya, sesuatu yang membuat Alisha ikut menahan napas.
“Ya?”
Ares tidak langsung menjawab. Tangannya masih melingkar di pinggang Alisha. Wajahnya tetap berada di dekat bahu perempuan itu.
Alisha semakin cemas. “Apa Tuan baik-baik saja?”
Ares menarik napas panjang. “Aku hanya…”
Kalimatnya terputus. Alisha menunggu.
Beberapa detik kemudian, Ares akhirnya melanjutkan. “Aku butuh kamu di sini.”
Dada Alisha terasa mengencang. Ini pertama kalinya Ares terdengar seperti sedang mengakui butuh seseorang.
Alisha tidak tahu harus menjawab apa. Akhirnya, tangannya mengusap punggung Ares dengan gerakan perlahan.
“Saya di sini.”
Tak ada jawaban dari Ares, namun pelukannya sedikit mengerat.
Tangan Alisha masih mengusap punggung Ares perlahan. Beberapa saat kemudian, ia memberanikan diri bertanya, “Tuan kenapa? Tadi waktu masuk kamar...” Alisha berhenti sebentar. “Tuan kelihatan gak baik-baik saja.”
“Aku cuma sedikit pusing.”
“Karena parfum perempuan?”
Tubuh Ares mendadak sedikit menegang. Ia menarik kepalanya dari bahu Alisha. “Kamu tau dari mana?”
Alisha mengernyit. “Dari pakaian Tuan.”
“Pakaianku?”
“Iya.” Alisha mengangguk kecil. “Pas Tuan mendekat, aromanya kecium.”
Ares menunduk, seolah baru menyadarinya. Ia memang belum sempat mengganti pakaian setelah meninggalkan kantor.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Ares perlahan melepaskan pelukannya. Alisha langsung merasa kehilangan kehangatan yang tadi membuat tubuhnya nyaman.
Ares berdiri.
“Tuan?”
“Aku mandi dulu.”
Alisha mengangguk.
Ares mengambil pakaian bersih dari lemari, lalu berjalan menuju kamar mandi. Sebelum masuk, ia sempat berhenti.
“Jangan pergi.”
Alisha sedikit terkejut.
Ares tidak menjelaskan lebih lanjut. Ia hanya masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya.
Beberapa saat kemudian, suara air terdengar dari balik pintu.
Alisha masih duduk di tepi ranjang. Ia menatap lurus ke depan meski matanya tertutup penutup kain.
Entah kenapa, permintaan sederhana itu ("Jangan pergi") terus terngiang di kepalanya.
Alisha menarik napas perlahan. “Tuan Ares sebenarnya kenapa?”
Tidak ada yang menjawab, dan ia hanya bisa menunggu.
...✨“Ada kalanya hati lebih dulu mengenali tempat yang membuatnya tenang, jauh sebelum pikiran bersedia mengakui bahwa tempat itu adalah seseorang.”✨...
.
To be continued
Raka pengertian, kakaknya di suruh sering-sering tidur di rumah, tidak perlu nungguin dirinya.
Alisha jadi bisa punya waktu untuk suaminya, kalau tidak bisa nungguin Raka. Tidak harus cari alasan kalau Raka tanya-tanya.
Alisha setelah sarapan pergi ke rumah sakit.
Raka sudah dipindahkan ke ruang lain, masih di lantai yang sama.
Ares tetap memikirkan kenyamanan Raka dan Alisha dengan memindahkan ruang rawat serta ada sofa.
Pak Darto pengurus rumah memberikan sebuah kartu akses untuk masuk rumah kepada Alisha. Dan memberi tahu Alisha kalau pakaian sudah disiapkan di lemari, termasuk perlengkapan mandi, dan makeup atas perintah Ares.
Ares baik sekali. Alisha juga disediakan sopir untuk mengantarnya pergi. Tapi Alisha memilih naik ojek online.
Ares juga menuruti kemauan Alisha untuk tidak memindahkan adiknya ke kamar perawatan VIP.
Ares memberikan surat pernikahan mereka setelah mendengar penjelasan Alisha kenapa sampai minta surat itu.
Ares tak lupa mengelupas foto dirinya terlebih dahulu, sebelum memberikan surat itu kepada Alisha.
Sampai segitunya, biar Alisha benar-benar nggak mengenal wajahnya.
kalo iya, itu sangat berbahaya, dalam kondisi tertentu, dia bisa berbuat nekat....
semoga Alisa dan Raka masih dalam pengawasan orang-orangnya Ares
cukup mantan mu si Reni yg ribet
kamu jangan ikutan res
Semangat Kak Nana.. Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
kacau ini orang 🤣🤣
takut ga bisa tanggung jawab sama tatapan mu.
pengecut dia takut kalah sama rasa bersalah nya🫣😔