Reno selalu percaya bahwa tugas terbesarnya di dunia adalah bertahan hidup dan melindungi adiknya, meski harus mengubur luka masa kecilnya rapat-rapat.
Namun, ketika usahanya runtuh dan wanita yang dicintainya, Kareen, menuntut kepastian di tengah kegagalan, Reno dihadapkan pada pilihan terberat: memaksakan diri bertahan meski hancur, atau melepaskan demi menyembuhkan lukanya sendiri.
"Tunggu aku. Tapi kalau aku terlalu lama... menikahlah dengan orang yang bisa membuatmu bahagia."
Ketika masa lalu melukainya dan masa depan tak memberi kepastian, mampukah Reno menemukan kembali potongan dirinya yang hilang sebelum waktu benar-benar memisahkan mereka?
Sebuah kisah tentang luka masa kecil, impian yang patah, dan keberanian untuk memulihkan diri sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemeera_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Rumah dan Bayangan yang Tersisa
Aroma tumis kangkung dan tempe goreng menyambut ku saat pintu kontrakan berderit terbuka. Lampu bohlam kuning di ruang tengah menerangi ruangan sempit berukuran empat kali lima meter itu. Di atas meja lipat kayu yang sudah agak terkelupas catnya, dua piring nasi dan mangkuk sayur sudah tersaji rapi.
Rayyan keluar dari dapur kecil sambil menyapu tangannya ke celana pendeknya. "Mas sudah pulang? Aku baru selesai masak."
Aku melepaskan sepatu kerja yang terasa makin berat di kaki, lalu menyandarkannya di dekat pintu. "Maaf Mas agak telat, Rayan. Ada urusan sebentar di kantor tadi."
Rayan tersenyum tipis—senyum yang terlalu dewasa untuk anak seusianya. Ia mengambilkan segelas air putih dingin dari kulkas satu pintu bekas yang baru ku beli dua bulan lalu. "Gak apa-apa, Mas. Ayo makan dulu, mumpung masih hangat."
Kami duduk bersila berhadapan di lantai beralas karpet plastik. Suara denting sendok yang beradu dengan piring menjadi satu-satunya bunyi yang mengisi ruangan. Rayan makan dengan lahap, sementara aku menatap adikku itu dalam diam. Di usianya yang baru menginjak lima belas tahun, matanya menyimpan ketenangan yang tidak wajar. Tidak ada keluhan tentang sekolahnya, tidak ada permintaan dibelikan baju baru atau barang-barang yang sedang tren di kalangan teman sebayanya. Rayan seolah tahu betul berapa harga setiap rupiah yang kubawa pulang.
"Gimana sekolah hari ini?" tanyaku memecah keheningan.
"Lancar, Mas. Tadi ada ulangan Matematika, alhamdulillah Rayan bisa kerjakan," jawabnya tanpa mendongak, fokus mengunyah. "O ya, uang kas bulanan sekolah sudah Rayan bayar pakai sisa uang jajan minggu lalu."
Dada rasanya sedikit tersentil. Aku merogoh dompet di saku celana, mengambil dua lembar uang lima puluh ribuan, lalu meletakkannya di samping piring Rayan. "Ini buat pegangan minggu ini. Kalau ada biaya buku atau kegiatan sekolah, langsung bilang Mas. Jangan ditahan-tahan."
Rayan menatap uang itu sebentar sebelum menatapku ragu. "Uang yang kemarin masih ada, Mas..."
"Simpan saja. Buat tabunganmu," tegasku pelan tapi tak terbantahkan.
Rayan akhirnya mengangguk dan menyelipkan uang itu ke dalam sakunya.
Sesudah makan dan membersihkan meja, Rayan pamit masuk ke kamarnya untuk belajar. Aku berjalan ke area jemuran kecil di belakang kontrakan. Malam makin larut, meneteskan embun dingin yang meresap ke kulit lengan kemeja kerjaku yang sudah kulipatkan.
Dari balik jendela, aku bisa melihat Rayan sedang tekun menatap buku pelajarannya di bawah penerangan lampu belajar. Anak itu adalah satu-satunya alasan aku masih berdiri tegak hingga hari ini. Saat motor pertamaku hilang tiga bulan lalu dan aku berjalan empat kilometer sambil menahan tangis, wajah Rayan-lah yang membuat langkah kakiku tak berhenti di tengah jalan. Aku bersumpah tidak akan pernah membiarkan dia merasakan dingin dan laparnya jalanan seperti yang pernah kualami.
Namun, makin hari, ketakutan itu bukannya menghilang, melainkan bertransformasi.
Kini aku punya posisi bagus di pabrik, gaji yang cukup untuk menyewa kontrakan dua kamar, dan tabungan yang perlahan terisi. Tapi setiap kali melihat Rayan, ada rasa cemas yang terus menggerogoti dasar hatiku: Bagaimana kalau semua ini hanya sementara? Bagaimana kalau besok pagi, takdir kembali mengambil apa yang sudah kubangun susah payah?
Rasa takut kehilangan itu membuatku bertindak seperti prajurit yang tak pernah menurunkan perisainya. Di kantor, aku menutup diri dari pertemanan. Aku menolak ajakan makan malam rekan-rekan sesama penyelia, mengabaikan ramah-tamah yang coba dibangun orang-orang di sekitarku. Bagi mereka, aku adalah Reno yang dingin, kaku, dan hanya peduli pada angka target produksi. Mereka tidak tahu bahwa di balik tembok tinggi yang ku bangun, aku hanyalah seorang kakak yang ketakutan.
Ponsel di sakuku bergetar. Sebuah notifikasi surel masuk dari bagian SDM perusahaan.
Subjek: Konfirmasi Penugasan Pelatihan Kepemimpinan Cabang Utama
Kepada Saudara Reno, Selamat atas kenaikan jabatan Anda sebagai Penyelia Operasional. Sebagai bagian dari program pengembangan, Anda dijadwalkan mengikuti pelatihan manajemen selama tiga hari di Bandung mulai minggu depan...
Aku mematikan layar ponsel. Bandung. Itu artinya aku harus meninggalkan Rayan sendirian di kontrakan ini selama beberapa hari—sesuatu yang belum pernah kulakukan sejak kami pertama kali menginjakkan kaki di kota ini.
Aku menghela napas panjang, menatap langit malam Jakarta yang tertutup polusi dan tanpa bintang. Tembok yang ku bangun untuk melindungi diri rupanya mulai menuntut harga yang harus kubayar: kenyamanan yang semu dan ketakutan yang tak pernah usai.