Chester, Kapten tim khusus Angkatan Darat yang dingin dan tak tersentuh, terpaksa melangkah ke altar memungut kekacauan yang ditinggalkan Haikal.
Ia membenci situasi ini, membenci kelakuan kakaknya, dan kini terjebak mengikat janji suci dengan wanita yang tak pernah ia inginkan.
Di antara dendam, luka yang belum sembuh, dan kebohongan besar di hadapan publik—mampukah pernikahan paksa ini bertahan saat Haikal kembali menagih apa yang seharusnya menjadi miliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chaster Sinclair
Di dalam ruang VIP yang terisolasi dari riuh rendah area wedding garden, udara terasa makin mampat dan memanas.
Dari balik pintu kaca yang tertutup rapat, bayangan para tamu undangan penting—para pejabat negara, jenderal, hingga investor kelas atas—sudah mulai saling berbisik, sesekali melirik curiga ke arah paviliun pengantin.
Dex Sanders berdiri di tengah ruangan. Rahangnya mengeras, napasnya memburu menahan amarah yang sewaktu-waktu bisa meledak.
Ia melempar ponselnya ke atas meja kaca hingga menimbulkan nya suara dentuman nyaring.
"Di mana dia, Jacob?!" suara Dex menggelegar, bergetar hebat oleh amarah yang tertahan. Tangannya menunjuk lurus ke dada sang Jenderal. "Haikal di mana?!"
Jenderal Jacob berdiri diam dengan raut wajah sekeras batu, namun otot-otot di pipinya menegang. "Orang-orang ku sedang mencarinya, Dex. Beri aku waktu—"
"Waktu?!" potong Dex cepat, melangkah maju hingga memangkas jarak di antara mereka. "Lihat ke luar jendela itu! Tamu-tamu penting—petinggi negara, rekan bisnis Sanders Corp, sampai rekan-rekan jenderal mu—sudah mulai bertanya-tanya kenapa acara tak kunjung dimulai! Kebohongan apa lagi yang mau kamu berikan pada mereka?!"
Dex menatap tajam, matanya memerah.
Rasa bangganya sebagai pemimpin Sanders Corp runtuh seketika, berganti dengan murka seorang ayah.
"Ayyana itu putri tunggal saya, Jacob!" tegas Dex dengan nada rendah yang sarat ancaman. "Dia berdiri di sana, pakai gaun pengantin, menanti anakmu yang bajingan itu! Kamu pikir keluarga Sanders bisa kamu permalukan seperti ini?! Kamu pikir putri saya bisa dipermainkan begitu saja?!"
Jenderal Jacob mengepalkan tangan di samping tubuhnya, menatap balik sahabat sekaligus kawan bisnisnya itu dengan mata menyipit. "Saya tidak pernah mengajari Haikal untuk menjadi pengecut, Dex. Tapi saya tegaskan satu hal..."
"Saya tidak butuh ketegasanmu kalau anakmu sendiri kabur di hari pernikahan!" sergah Dex, menepis ucapan itu. "Kalau dalam waktu lima menit Haikal tidak berdiri di depan altar, bukan cuma pernikahan ini yang batal, tapi seluruh investasi dan hubungan keluarga kita selesai hari ini juga!"
Ayyana memaku pandangannya pada hamparan pasir putih Florida dan lautan biru yang membentang di balik jendela kaca paviliun.
Gaun pengantin rancangan desainer ternama yang melekat di tubuhnya kini terasa seberat baju zirah.
Riuh rendah suara tamu VIP—mulai dari kalangan pengusaha kelas atas hingga jenderal berpangkat—yang berkumpul di area outdoor garden seharusnya menjadi latar bahagia, bukan simfoni kehancuran yang menanti ketukan palu.
Haikal tidak datang.
Pria yang selalu mengumbar senyum hangat dan janji manis itu memilih menghilang, meninggalkan kekacauan besar yang mencoreng dua nama raksasa: keluarga Sanders dan keluarga armada militer tertinggi.
Di ruang VIP utama yang terisolasi dari keriuhan luar, ketegangan berada di titik didih. Dex Sanders berdiri menatap tajam ke arah Jenderal Jacob, sementara sang Jenderal mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
Amarah dan rasa malu menuntut jalan keluar yang instan.
"Bawa Chester ke sini. Sekarang!" perintah Jenderal Jacob dengan suara berat yang menyisakan ancaman dingin.
Beberapa menit kemudian, pintu kayu jati itu bergeser.
Chester melangkah masuk dengan seragam dinas harian angkatan darat yang masih melekat sempurna.
Garis wajahnya tegas, tatapannya tajam dan tak tersentuh—sangat bertolak belakang dengan aura Haikal yang terkesan santai dan ramah.
Jabatan barunya sebagai Kapten tim khusus Angkatan Darat dibentuk dari disiplin ketat, bukan kelakuan impulsif seperti kakaknya.
"Papa memanggil saya?" suara Chester terdengar datar, tanpa nada gelisah sedikit pun.
Jenderal Jacob menatap putra bungsunya tanpa ragu. "Pakai tuksedo itu dan berdiri di samping Ayyana. Kamu yang akan menikahi dia hari ini."
Alis Chester terangkat tipis. Rasa ketidaksukaan berkilat cepat di matanya. "Haikal yang memulainya, Pa. Kenapa saya yang harus memungut kekacauan yang dia buat?"
"Pernikahan ini menyangkut kehormatan keluarga dan stabilitas dua pihak besar! Tidak ada pembatalan!" tekan Jenderal Jacob, melangkah mendekat dan menatap langsung ke manik mata Chester. "Kamu prajurit, Chester. Anggap ini perintah langsung dari pimpinan tertinggi."
Chester mengepalkan rahangnya. Ia selalu membenci fakta bahwa Haikal selalu bisa bertindak seperti bajingan berhati hangat yang bebas lari dari tanggung jawab, sementara dirinya harus selalu menjadi pihak yang membersihkan kekacauan sang kakak.
Ayyana menarik napas panjang di balik gaun pengantinnya yang menjuntai.
Saat pintu aula besar terbuka menuju jalur wedding garden, detak jantungnya berpacu hebat.
Rasa cemas yang sempat menghimpit dadanya perlahan terangkat saat melihat sesosok pria tegap berjas hitam sudah berdiri tegap di ujung altar.
Haikal datang, bisiknya lega dalam hati. Dia akhirnya datang.
Namun, setiap langkah yang ia tempuh mendampingi sang ayah mendadak berangsur berat.
Makin dekat jarak mereka, makin jelas sosok yang menunggunya di sana.
Pria itu memiliki perawakan gagah, namun tidak ada senyum hangat penuh pesona yang biasa terukiR di bibirnya.
Rahang pria itu mengeras tegas, dan manik matanya menatap lurus dengan pendar dingin yang tak tersentuh.
Itu bukan Haikal.
Langkah Ayyana terhenti seketika. Matanya melebar, napasnya tertahan di tenggorokan. "Papa..." bisiknya bergetar, berusaha menarik tangannya dari lengan sang ayah. "Itu... itu bukan Haikal."
Sebelum Ayyana sempat berbalik, cengkeraman tangan Dex Sanders di jemarinya mendadak mengencang.
Sang ayah tak sedikit pun menoleh, matanya lurus menatap ke depan dengan raut wajah sekeras karang.
"Jalan terus, Ayyana," bisik Dex dengan nada rendah yang amat dalam, hampir seperti perintah mutlak yang tak menoleransi bantahan. Cengkeramannya yang kuat menyalurkan ketegangan sekaligus perlindungan. "Lakukan. Ini demi kebaikanmu."
Ayyana menatap ayahnya tak percaya, namun dorongan perlahan tapi pasti dari sang ayah memaksanya kembali melangkah.
Di ujung sana, Chester—Kapten tim khusus yang belum pernah sekalipun bertukar sapa dengannya—berdiri menatap kedatangan Ayyana dengan raut tanpa ekspresi, siap mengikat janji atas kekacauan yang tak pernah ia ciptakan.
Langkah demi langkah terasa bagai siksaan yang diperlambat.
Setiap tatapan kagum dari para pejabat, investor, dan jenderal di bangku tamu kini terasa seperti duri yang menusuk kulit Ayyana.
Di sampingnya, genggaman Dex Sanders begitu kuat, seolah menahan Ayyana agar tidak runtuh atau melarikan diri dari panggung sandiwara ini.
Hingga akhirnya, langkah mereka berhenti tepat di hadapan altar.
Dex melepaskan cengkeraman tangannya dari lengan Ayyana, lalu mengalihkan jemari putri tunggalnya itu ke atas telapak tangan pria di hadapannya.
Sentuhan kulit mereka terjadi pertama kali—dingin, kaku, dan penuh jarak.
Chester menerima tangan Ayyana tanpa sedikit pun keraguan, namun genggamannya terasa tegas dan berjarak, seolah ia sedang memegang sebuah tugas militer, bukan seorang pengantin.
"Jaga putriku," bisik Dex pendek. Suaranya berat, penuh ancaman terselubung yang tertuju pada fakta bahwa keluarga Jacob baru saja mempermainkan putrinya.
Chester hanya mengangguk tipis. Tak ada janji manis, tak ada kata-kata penenang.
Saat ayat-ayat ikatan suci dan tata cara janji pernikahan mulai dibacakan, Ayyana menunduk, menetaskan satu bulir air mata yang tersembunyi di balik tiara dan gaun mewahnya.
Dadanya sesak oleh rasa hancur.
Pria yang ia cintai dan harapkan hadir justru membiarkan adiknya sendiri berdiri di sini, menggantikannya seolah pernikahan ini hanyalah transaksi yang bisa ditukar tambah.
"Kapten Chester Sinclair, apakah Anda bersedia menerima Ayyana Alinea Sanders sebagai istri sah Anda, mendampinginya dalam suka dan duka, sehat maupun sakit, sampai maut memisahkan?"
Suasana hening seketika. Ratusan pasang mata tertuju pada Chester.
Chester melirik Ayyana dari sudut matanya—melihat bahu wanita itu yang bergetar halus menahan tangis.
Rahang Chester makin mengeras. Ia membenci Haikal, membenci tindakan pengecut kakaknya, dan membenci situasi di mana ia harus menjadi 'penyelamat' bagi reputasi dua keluarga.
Namun, keputusan sudah diambil.
"Ya, saya bersedia," ucap Chester. Suaranya bergema tegas, mantap, dan dingin tanpa cela di seluruh area garden.
Kemudian beralih pada Ayyana. "Ayyana Alinea Sanders, apakah Anda bersedia..."
Suara pendeta terdengar samar di telinga Ayyana. Pandangannya kabur oleh air mata. Ia tahu, jika ia menolak sekarang, kehancuran nama Sanders Corp dan skandal besar akan meruntuhkan ayahnya.
Tatapan tajam Dex dari bangku depan menguncinya.
Ayyana membasahi bibirnya yang bergetar. Dengan suara sepelan bisikan yang nyaris tenggelam oleh hembusan angin laut Florida, ia menjawab, "Saya... bersedia."
"Dengan ini, saya nyatakan kalian resmi menjadi suami dan istri."
Tepuk tangan riuh bertumpuk dari para tamu undangan VIP memecah ketegangan.
Namun di atas pasir putih itu, dua insan yang kini terikat ikatan sah saling menatap untuk pertama kalinya.
Chester menatap Ayyana tanpa emosi, sementara Ayyana menatap balik pria asing yang kini resmi menjadi suaminya dengan tatapan penuh luka.