Arisa Salsa Bila atau Acha adalah seorang pramuniaga minimarket yang ceria, rajin, namun terkadang egois dan kekanak-kanakan. Suatu hari ia bertemu dengan Andra Nathan Ardimana, pemuda pekerja keras yang merintis usaha percetakan sablon sandal. Di balik sikap keras kepalanya, Nathan memiliki hati yang lembut dan selalu mengalah demi orang lain.
Hubungan mereka tumbuh menjadi cinta yang tulus. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama ketika keluarga mereka menolak hubungan tersebut karena perbedaan latar belakang dan berbagai kesalahpahaman. Hinaan, penolakan, dan tekanan membuat hubungan mereka berkali-kali berada di ambang perpisahan.
Meski begitu, Nathan dan Acha memilih bertahan. Mereka belajar bahwa cinta tidak cukup hanya dengan rasa sayang, tetapi juga membutuhkan rasa hormat, kepercayaan, pengorbanan, dan penerimaan. Di tengah segala luka, mereka membuktikan bahwa perjuangan yang dilakukan dengan tulus tidak akan pernah sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24. Respect
Keesokan harinya, hari Minggu yang sudah dinanti-nanti oleh Acha akhirnya tiba. Udara pagi terasa begitu bersahabat, menyambut antusiasme yang terpancar jelas di wajah Acha.
Setelah beberapa hari sebelumnya harus beristirahat total akibat kondisi tubuh yang sempat drop, hari ini dia sudah merasa jauh lebih bugar dan siap untuk menikmati waktu refreshing.
Rencana yang tadinya hanya melibatkan keluarganya kini bertambah seru karena kedatangan tetangga mereka, teh Ratna, yang turut serta bergabung dalam rombongan.
Teh Ratna bermaksud mengajak serta kedua buah hatinya—Salsa, yang sebentar lagi akan masuk jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), serta si kecil Devi yang masih bersekolah di Taman Kanak-kanak (TK)—untuk berburu perlengkapan sekolah sekaligus jalan-jalan.
Formasi rombongan kecil pun terbentuk Acha berjalan riang bersama, Ranti, didampingi Fitri, serta teh Ratna bersama Salsa dan Devi.
Mereka berangkat menuju ke pusat perbelanjaan terbesar di kota, seperti Plaza Asia tempat yang selalu diandalkan warga sekitar untuk berbelanja sekaligus menyediakan area permainan keluarga.
Sayangnya, di tengah kegembiraan itu, ada sedikit kabar kurang mengenakan dari sang kekasih. Nathan terpaksa harus absen di awal keberangkatan karena mendadak mendapatkan tambahan pekerjaan sablon yang harus diselesaikan hari Minggu ini.
Kendati demikian, Nathan telah berjanji kepada Acha melalui sambungan telepon pagi tadi begitu urusan dan pekerjaannya di tempat sablon beres, dia akan langsung tancap gas menyusul Acha ke mall.
Dengan hati yang tetap berbunga-bunga dan semangat yang membara, Acha bersama rombongan melangkah memasuki area pusat perbelanjaan.
Siap menikmati keseruan paket kartu promo Timezone serta menemani Salsa dan Devi memilih perlengkapan sekolah mereka.
Setibanya di lantai pusat perbelanjaan yang khusus menjual pakaian dan perlengkapan anak sekolah, suasana langsung terasa ramai.
Rombongan kecil itu segera memisahkan diri menjadi dua kelompok kecil, namun tetap berada dalam satu area yang sama agar pengawasan tetap terjaga.
Teh Ratna tampak sibuk memilah-milah deretan gantungan baju seragam putih-biru, mencocokkan ukuran yang pas untuk Salsa yang sebentar lagi akan resmi berseragam SMP.
Sementara itu, Ranti dengan telaten membantu mencarikan seragam dan atribut kecil yang dibutuhkan oleh si bungsu, Devi, yang girang melihat baju TK berukuran mini.
Di sisi lain, jiwa belanja Acha dan Fitri mendadak langsung bangkit begitu melihat deretan rak sepatu dan stand pakaian kasual di bagian seberang.
"Fit, lihat deh! Sepatu putih itu lucu banget, kan? Kira-kira pas nggak ya kalau buat jalan-jalan?" bisik Acha antusias sambil menunjuk sepasang sneakers berwarna putih bersih yang dipajang di etalase.
Fitri yang berdiri di sampingnya langsung ikut mendekat, matanya berbinar-binar. "Wah, iya Teh! Bagus banget modelnya. Coba yuk kita cek ukurannya, siapa tahu ada yang pas di kaki kita."
Tak hanya sepatu, kedua kakak beradik itu juga mulai asyik memilah-milah baju kaus trendi dan outer kekinian yang dipajang di rak pakaian.
Sambil sesekali mencocokkan baju ke depan badan mereka di depan cermin besar, Acha dan Fitri tertawa kecil membandingkan mana yang paling cocok.
Meskipun tujuan awal mereka datang adalah menemani teh Ratna berbelanja perlengkapan sekolah Salsa dan Devi.
Godaan diskon dan ragam model pakaian yang lucu membuat Acha dan Fitri tak mau ketinggalan berburu barang incaran, berharap menemukan sesuatu yang cocok untuk mereka bawa pulang hari ini.
Setelah puas berkeliling mengitari area pertokoan di Plaza Asia, membantu Teh Ratna memborong seragam sekolah untuk Salsa dan Devi, serta sempat melirik-lirik sepatu dan baju bersama.
Perut mereka akhirnya mulai keroncongan. Aroma gurih kaldu sapi yang menguar dari arah area food court seketika menghentikan langkah kaki rombongan kecil itu.
Tanpa komando, Acha langsung mengajak semuanya melipir ke salah satu gerai bakso paling ramai di sudut food court mal tersebut.
"Wah, pas banget nih! Perut aku udah keroncongan dari tadi habis jalan-jalan. Kita makan bakso dulu ya, semuanya?" ajak Acha antusias sambil mencari meja panjang yang cukup untuk menampung mereka berenam.
Teh Ratna, Ranti, Fitri, Salsa, dan Devi kompak mengangguk setuju. Tak butuh waktu lama, pesanan pun langsung datang.
Semangkuk bakso hangat dengan kuah kaldu yang masih mengepul mengepulkan uap menggugah selera, dilengkapi mie kuning, bihun, tauge, serta taburan bawang goreng dan seledri yang melimpah tersaji di depan masing-masing orang.
Di tengah kelelahan setelah berbelanja, menyantap bakso berkuah gurih dengan pentolan daging yang kenyal terasa begitu nikmat.
Sambil sesekali tertawa mendengar cerita seru si kecil Devi yang sibuk memamerkan tas barunya dan Salsa yang tersenyum malu-malu karena sudah resmi bersiap masuk SMP, suasana makan siang itu terasa sangat hangat dan penuh kebersamaan.
Acha menikmati suapan demi suapan baksonya dengan perasaan bahagia, sembari dalam hati kembali melirik jam tangannya, tak sabar menunggu Nathan menepati janji untuk menyusul mereka ke mal setelah urusan sablonnya selesai.
Selesai menghabiskan semangkuk bakso hangat yang memuaskan perut, energi rombongan kecil itu seolah terisi kembali. Saatnya melanjutkan agenda utama yang paling ditunggu-tunggu mampir ke area permainan.
"Mah, Teh Ratna, kita langsung ke Timezone ya! Biar Salsa sama Devi ikut aku sama Fitri main di dalam," ajak Acha penuh semangat sambil merapikan tasnya.
Ranti dan teh Ratna yang merasa sudah cukup lelah berjalan-jalan mengitari mal akhirnya memilih untuk mengalah.
"Iya, Nak. Kalian berempat saja sana masuk. Mamah sama Teh Ratna mau duduk-duduk saja ya di kursi tunggu luar sambil ngobrol dan nungguin tas belanjaan," jawab Ranti tersenyum bijak.
Mendapat lampu hijau, Acha, Fitri, Salsa, dan Devi langsung melangkah memasuki arena Timezone yang dipenuhi suara gemerincing koin, musik game yang ceria, serta lampu warna-warni yang memukau.
Niat awal Acha dan Fitri sebenarnya sangat mulia ingin membimbing, menjaga, serta menemani Salsa dan Devi agar tidak kebingungan di tempat ramai.
Namun, rencana tinggal rencana. Begitu mata Acha menangkap mesin claw machine (mesin ambil boneka) dan Fitri melihat permainan balap motor, jiwa kekanak-kanakan mereka seketika langsung bangkit.
"Wah, Fit! Lihat boneka kucing itu, lucu banget! Ayo kita coba main itu dulu!" seru Acha antusias sambil menarik tangan adiknya.
Salsa yang sudah duduk di bangku SMP dan Devi yang masih polos hanya bisa berdiri terpaku di tempat. Alih-alih memandu kedua anak itu bermain, Acha dan Fitri justru langsung hanyut dalam keseruan mereka sendiri.
Mereka berpindah dari satu permainan ke permainan lain dengan penuh semangat—bermain tembak-tembakan, memukul mole, hingga mencoba mesin dansa.
Salsa dan Devi yang awalnya berniat diajak bermain justru hanya bisa terdiam malu-malu.
Kedua anak itu akhirnya memilih untuk mengekori langkah Acha dan Fitri dari belakang, menatap takjub sambil sesekali tersenyum melihat tingkah kedua kakak beradik yang malah jauh lebih antusias ketimbang mereka.
Meskipun posisinya terbalik—yang tadinya mau menjaga malah jadi asyik sendiri—suasana di dalam Timezone sore itu tetap dipenuhi tawa ceria dan kebahagiaan yang melimpah.
Di tengah keseruan Acha dan Fitri yang asyik mencoba berbagai permainan sementara Salsa dan Devi mengekori di belakang, ponsel di dalam tas Acha bergetar.
Acha segera merogoh ponselnya dan mendapati sebuah pesan masuk dari Nathan. Pemuda itu mengabarkan bahwa pekerjaan sablonnya di tempat kerja akhirnya sudah selesai seluruhnya.
Dalam pesan tersebut, Nathan juga mengungkapkan rasa khawatirnya, takut kalau Acha kelelahan atau kondisinya kembali drop setelah seharian berjalan-jalan di mal.
Mendapat perhatian yang begitu manis dari sang kekasih, senyuman lebar langsung mengembang di wajah Acha. Dia pun segera membalas pesan Nathan untuk menepis segala kekhawatiran pria itu.
Acha mengetik balasan dengan penuh antusias, meyakinkan Nathan bahwa dirinya benar-benar sangat happy dan sama sekali tidak merasa lelah.
Dia juga menceritakan kalau saat ini dia bersama Fitri sedang asyik bermain di Timezone, sementara mamahnya—Ranti—sedang menemani teh Ratna merampungkan belanja perlengkapan sekolah untuk Salsa dan Devi.
Tidak lupa, Acha menuliskan kalimat penutup yang menyuruh Nathan untuk segera bergegas menyusul mereka ke mal begitu ia siap berangkat.
Tidak lama setelah pesan singkat terkirim, layar ponsel Acha mendadak menyala menampilkan panggilan suara masuk dari Nathan.
Rupanya pemuda itu ingin mendengar langsung suara kekasihnya untuk memastikan kondisinya benar-benar baik-baik saja.
Acha segera mengangkat telepon tersebut dan menjauh sebentar dari keramaian mesin game, sementara Fitri masih asyik menemani Salsa dan Devi melihat permainan balap mobil.
"Halo, Sayang... Pesannya udah aku baca. Beneran kamu nggak capek kan main di Timezone?" tanya suara Nathan di ujung telepon, masih menyuratkan nada cemas dan perhatian yang begitu besar.
Acha tertawa kecil mendengar nada khawatir di suara Nathan. "Iya, a, beneran nggak capek kok! Aku tuh lagi happy banget hari ini, apalagi bisa nemenin Salsa sama Devi ke mall. Badan aku juga udah enteng banget, nggak kerasa sakit sama sekali."
Nathan menghela napas lega di seberang sana. "Alhamdulillah kalau gitu... Bikin aku tenang dengarnya. Tapi tetap jangan terlalu diporsir ya tenaganya."
"Iya, Bos! Tenang aja, pawangnya lagi libur galak hari ini," balas Acha dengan nada jenaka.
Dia lalu menambahkan dengan suara yang lebih lembut, "Oh iya, a... Aku juga mau ngasih tahu, besok kan aku sudah mulai sehat total, jadi besok aku juga udah ada rencana mau mulai aktif bekerja kembali."
Mendengar keputusan itu, Nathan terdiam sejenak sebelum akhirnya memberikan dukungan penuh.
"Wah, kalau badan kamu memang udah siap dan fit, ya gak apa-apa, Cha. Tapi ingat, kalau nanti di tempat kerja mulai merasa lelah, langsung istirahat ya, jangan dipaksakan."
"Siap, komandan! Makasih banyak ya, a. Oh iya, kamu jadi ke sini kan nyusul aku sama Mamah?" tanya Acha penuh harap.
"Jadi dong! Ini aku baru selesai beres-beres di tempat sablon, sebentar lagi aku meluncur ke mall nyusul kamu. Tungguin ya, Sayang!" jawab Nathan penuh semangat.
"Asyik! Oke deh, aku tunggu ya, jangan lama-lama!" seru Acha riang sebelum akhirnya menutup sambungan telepon dengan hati yang berbunga-bunga, semakin tak sabar menanti kedatangan Nathan.
Tidak lama setelah sambungan telepon ditutup, sosok Nathan akhirnya benar-benar muncul di area Timezone dengan mengenakan kaus kasual dan jaket jeans kesayangannya.
Kehadiran pemuda itu langsung disambut senyuman cerah oleh Acha, yang segera berlari kecil menghampirinya disusul Fitri, Salsa, dan Devi.
Setelah menyapa Ranti dan teh Ratna yang baru saja selesai beristirahat di kursi tunggu, Nathan langsung menunjukkan sisi perhatiannya sebagai calon mantu dan pria yang pengertian.
Melihat rombongan keluarga itu tampak membawa banyak bawaan usai berbelanja, Nathan berinisiatif mengajak mereka singgah sejenak ke toko buah segar di lantai dasar mal.
"Wah, bawaannya banyak banget nih. Biar nggak dehidrasi dan tetap segar, kita mampir beli buah-buahan dulu ya, semuanya? Biar aku yang traktir," ujar Nathan ramah sambil tersenyum ke arah Ranti dan teh Ratna.
Mendengar tawaran itu, teh Ratna dan Ranti sempat merasa sungkan, namun Nathan dengan sigap langsung memilihkan berbagai buah segar berkualitas—mulai dari jeruk manis, apel merah berukuran besar, hingga sekeranjang buah mangga harum manis kesukaan Acha.
Salsa dan Devi pun tampak gembira dibawakan buah anggur segar oleh Nathan.
Setelah kantong belanjaan buah yang cukup banyak itu terbagi rapi, hari pun perlahan mulai beranjak petang. Langit sore di luar mal mulai menampakkan semburat jingga kemerahan.
Nathan lantas mendekati Ranti secara baik-baik, meminta izin dengan sopan.
"Tante, maaf sebelumnya... Ini hari sudah mulai sore menjelang malam. Kalau boleh, saya mau minta izin untuk mengajak Acha pulang duluan ya, Tante? Takutnya kemalaman di jalan, lagian kondisi Acha juga baru beberapa hari kemarin habis pemulihan, jadi biar dia bisa istirahat lebih cepat di rumah."
Ranti menatap Nathan dengan pandangan hangat dan penuh apresiasi. Dia merasa tenang melihat betapa perhatian dan bertanggung jawabnya pemuda itu terhadap putrinya.
"Iya, Nak Nathan. Betul juga kata kamu, silakan kalau mau pulang duluan. Hati-hati ya di jalan, jangan ngebut-ngebut bawa motornya," pesan Ranti sambil tersenyum mengizinkan.
Mendapat lampu hijau dari sang mamah, Acha merasa begitu bahagia. Bersama Nathan, dia berpamitan kepada Ranti, teh Ratna, Fitri, serta kedua anak kecil itu, lalu melangkah berdampingan meninggalkan mall dengan hati yang berbunga-bunga, siap menyambut hari baru dan kembali bekerja esok hari.
Perjalanan pulang menggunakan sepeda motor menyusul angin sore yang sejuk membuat Acha dan Nathan tiba lebih dulu di depan rumah Acha.
Suasana lingkungan sekitar tampak tenang saat Nathan mematikan mesin motornya di halaman rumah.
Sementara itu, Ranti, Fitri, teh Ratna, Salsa, dan Devi masih tertahan di lobi mal. Mereka sengaja menunggu di area pangkalan taksi online karena barang belanjaan perlengkapan sekolah dan buah-buahan yang dibeli terlalu banyak untuk diangkut dengan satu motor, sehingga rombongan besar itu memilih memesan mobil Grab agar bisa pulang bersama dengan nyaman.
Begitu turun dari motor, Acha melepas helmnya dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Nathan dengan sigap membantu menurunkan kantong buah-buahan hasil traktirannya tadi dari gantungan motor.
"Wah, akhirnya sampai juga. Rumah sepi banget ya, a, karena Mamah sama yang lain masih di mall nungguin mobil jemputan," ucap Acha sambil membuka tasnya untuk mencari kunci rumah.
Nathan tersenyum hangat sambil membawa kantong buah tersebut ke teras. "Iya, untung tadi kita duluan pakai motor, jadi kamu nggak perlu capek berdesakan di mobil. Lagian biar kamu bisa langsung istirahat juga di rumah, nggak kelamaan di jalan."
Acha membuka pintu rumah dan menyalakan lampu ruang tamu. Dia langsung mengambil dua gelas air putih dingin untuk mereka berdua.
Sambil duduk melepas penat di ruang tamu, keduanya menghabiskan waktu sejenak mengobrol santai sambil menunggu kabar dari Ranti bahwa rombongan di mal sudah mendapatkan mobil dan dalam perjalanan pulang.
Begitu pintu ruang tamu terbuka lebar, langkah kaki Acha dan Nathan yang tadinya santai seketika terhenti.
Di sudut ruangan, pandangan mereka langsung tertuju pada sosok Yanto yang tampak tertidur pulas di kursi panjang dengan posisi kepala sedikit miring dan tangan masih memegang remot televisi.
Rupanya pria paruh baya itu ketiduran usai menjaga rumah seharian.
Acha tersenyum geli melihat kelakuan ayahnya. Dia lantas mendekati Yanto pelan-pelan dan mengguncang bahu sang ayah lembut.
"Pa... Sore-sore kok malah tidur di kursi ruang tamu. Pindah ke kamar sana, Pa, biar tidurnya lebih enak," bisik Acha penuh kasih sayang.
Yanto mengerjap perlahan, mengucek matanya dengan kesadaran yang belum sepenuhnya terkumpul.
"Ekhm... Eh, Acha. Udah pulang, Nak? Wah, iya nih, Papa nggak terasa ketiduran saking capeknya," gumam Yanto sambil bangkit perlahan dan berjalan tertatih menuju kamarnya untuk melanjutkan istirahat.
Setelah Yanto beranjak, Acha berbalik menatap Nathan yang duduk manis di sofa ruang tengah sambil tersenyum hangat. Ingatannya langsung melayang pada kantong buah bawaan mereka tadi.
"Eh, tunggu sebentar ya, a. Aku ambilkan minum dulu di dapur buat kamu," pamit Acha seraya melangkah ringan menuju dapur.
Tidak butuh waktu lama, dia kembali membawa nampan berisi dua gelas teh manis hangat dan potongan buah segar untuk menemani sore mereka.
Suasana ruang tengah perlahan menjadi begitu tenang dan hangat. Sambil menikmati teh manis buatan Acha, mereka mengobrol santai membahas keseruan hari ini.
Dari belanjaan Salsa hingga cerita kocak Acha dan Fitri di Timezone. Jarak duduk mereka yang begitu dekat membuat atmosfer di antara keduanya terasa semakin intim.
Melihat wajah Acha yang tampak begitu manis dan merona di bawah temaram lampu sore, batin Nathan mendadak bergemuruh.
Rasa rindunya yang terpendam selama beberapa hari terakhir membuat pemuda itu tak kuasa menahan godaan.
Nathan mencondongkan tubuhnya perlahan, berniat untuk mendaratkan ciuman hangat dan melumat bibir kekasihnya sebagai bentuk kerinduan yang mendalam.
Acha yang menyadari gerak-gerik Nathan hanya bisa terpaku dengan jantung yang berdegup kencang, matanya perlahan terpejam pasrah menyambut sentuhan itu.
KREK!
Suara pintu utama yang dibuka dari luar mendadak berderit keras, membuyarkan seketika seluruh konsentrasi mereka. Nathan langsung menarik wajahnya kilat dengan napas tersengal, sementara Acha terlonjak kaget sambil merapikan duduknya.
Di ambang pintu, muncullah Ranti dan Fitri yang baru saja turun dari mobil Grab, tampak riuh menenteng kantong belanjaan perlengkapan sekolah Salsa bersama teh Ratna dan anak-anak yang singgah sebentar sebelum pulang ke rumah sebelah.
Rencana romantis sore itu pun buyar seketika, menyisakan tawa canggung di antara Acha dan Nathan yang langsung salah tingkah.
Suasana ruang tengah yang tadinya sempat diliputi ketegangan kecil akibat hampir kepergok itu seketika berubah menjadi lebih canggung namun santai.
Ranti dan Fitri melangkah masuk ke dalam rumah sambil membawa beberapa kantong belanjaan, disusul teh Ratna dan anak-anaknya yang singgah sejenak di teras untuk berpamitan pulang ke rumah sebelah.
Nathan yang melihat Ranti, Fitri, dan Acha tampak kelelahan setelah seharian penuh berjalan-jalan di mall langsung merasa tidak enak hati jika harus berlama-lama bertamu.
Apalagi hari juga sudah semakin petang menjelang malam.
Pemuda itu lantas bangkit dari sofa, merapikan jaket jeansnya, dan tersenyum ramah kepada Ranti serta Acha.
"Tante, Acha... Karena kelihatannya Tante sama Fitri juga sudah pada capek habis dari mall, sepertinya saya pamit pulang dulu ya," kata Nathan sopan sambil bersalaman dengan Ranti.
Ranti menyambut uluran tangan Nathan dengan senyuman hangat. "Iya, Nak Nathan. Terima kasih banyak ya sudah ditemenin jalan-jalan tadi, plus ditraktir buah-buahan segar segala. Hati-hati di jalan ya, pulangnya jangan ngebut."
"Sama-sama, Tante. Kalau gitu saya duluan ya," pamit Nathan, lalu beralih menatap Acha yang mengantarnya hingga ke teras depan.
Sebelum mengenakan helmnya, Nathan sempat berbisik pelan pada Acha, "Istirahat yang cukup ya, Sayang. Besok kan kamu udah mulai kerja lagi. Semangat!"
Acha tersenyum manis sambil mengangguk. "Iya, a. Aa juga hati-hati di jalan ya, kabari aku kalau udah sampai rumah."
Setelah menderu pelan meninggalkan halaman rumah, motor Nathan melaju membelah malam.
Acha pun kembali masuk ke dalam rumah, siap membersihkan diri dan beristirahat total agar tenaganya kembali full untuk menyambut hari baru dan kembali bekerja esok hari.
Malam pun semakin larut, dan suasana rumah perlahan menjadi tenang. Di dalam kamarnya, Acha tampak sibuk membuka koper serta tas kerjanya.
Dengan teliti, dia mulai memilah dan membereskan berbagai pakaian, peralatan mandi, serta perlengkapan kerja yang harus dia bawa kembali ke tempat kosannya besok pagi, mengingat masa pemulihannya sudah selesai dan dia siap beraktivitas normal kembali.
Di tengah aktivitasnya mengepak barang, ponsel di atas kasurnya berdering pelan menandakan ada panggilan masuk dari Nathan. Acha langsung mengangkatnya dengan senyuman.
"Halo, a? Ini aku lagi sibuk packing baju buat dibawa ke kosan besok," sapa Acha begitu sambungan terhubung.
Di ujung telepon, suara Nathan terdengar hangat dan penuh perhatian. "Wah, semangat banget packing-nya. Ingat ya, jangan terlalu capek, nanti malah drop lagi."
"Tenang aja, bos! Ini udah hampir beres kok," balas Acha riang.
Nathan kemudian mengingatkan kembali janji mereka untuk esok hari. "Oh iya, besok pagi jangan lupa ya. Sesuai janji, aku yang akan jemput kamu di rumah buat bantu bawa barang-barang kamu sekaligus mengantar langsung ke tempat kosan sebelum kita beraktivitas."
Mendengar perhatian dan kepastian dari sang kekasih, hati Acha merasa sangat tenang dan berbunga-bunga. "Siap, a! Aku tunggu ya besok pagi. Makasih banyak ya, Sayang."
Setelah menutup telepon, Acha merapikan sisa barang bawaannya lalu segera berbaring di tempat tidur untuk beristirahat. Dengan tubuh yang sudah bugar dan semangat baru menyambut hari esok—didampingi Nathan yang selalu siap siaga—Acha memejamkan mata lelap, siap memulai kembali rutinitas kerjanya dengan hati yang bahagia.
Be to continued