NovelToon NovelToon
Secercah Cahaya

Secercah Cahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:726
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Dibuang oleh keluarga sendiri dan bertahan hidup sendirian di kamar kos sempit adalah kenyataan pahit Danu. Fisiknya yang tambun membuatnya menjadi sasaran bullying parah sepanjang SD hingga SMP. Bagi Danu, dia ditakdirkan untuk tidak punya teman dan selalu tak kasatmata.

Namun, hari pertama masuk SMA mendadak jungkir balik.
Satu kelas dibuat geger saat Rio—sosok murid baru yang sangat tampan, karismatik, dan mendadak populer se-sekolah—justru berjalan ke pojokan. Demi menghindari sorotan dan perhatian orang-orang, Rio sengaja memilih untuk duduk di sebelah Danu!

Danu jelas dibuat jantungan dan melongo setengah mati. Kenapa cowok se-populer Rio malah milih duduk bersanding dengan anak yang paling dihindari satu sekolah? Akankah ini jadi awal dari hadirnya "secercah cahaya" di hidup Danu, atau justru membawa masalah baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: Latihan

"Waduh, sepuh... ajarin dong, Puh!" seru Rio dengan gaya memelas yang dibuat-buat.

Zahra membusungkan dada, tersenyum sombong sedikit. "Hehe."

"KEREN! Gimana kamu melakukannya?!" saking semangatnya, Danu maju dan tanpa sadar langsung menggenggam kedua tangan Zahra.

Gadis itu tersentak kaget. "Ehh... Danu... kamu kok..." cicit Zahra, matanya melebar melihat tangan mereka yang bertautan.

Danu yang baru sadar akan refleksnya langsung melepaskan genggamannya panik. "Eh, maaf... maaf!"

"Ga-gapapa kok," balas Zahra salah tingkah sambil memalingkan wajah.

Rio memutar bola matanya malas. "Hei, jangan bucin di jalan. Kita udah mau sampai depan gerbang sekolah nih."

"SIAPA YANG BUCIN?!" balas Danu dan Zahra serempak. Wajah keduanya seketika memerah seperti kepiting rebus.

Melihat itu, Rio membuang muka dan menatap mereka dengan kesal. Padahal dalam hati ia menjerit, Duh, gue juga pengen! Jangan bikin baper napa!

Setibanya di sekolah, jam pelajaran berlangsung seperti biasa. Dari jam pertama hingga jam ketiga berlalu, sampai akhirnya bel istirahat berbunyi nyaring.

Para murid langsung berhamburan keluar kelas dengan semangat membara. Kabarnya, ada menu makanan viral dari medsos yang baru saja muncul di kantin sekolah, membuat banyak murid kena FOMO dan rela antre panjang berdesak-desakan.

Namun, godaan menu viral itu tak berlaku bagi 'Trio Plenger' ini. Alih-alih ikut berdesakan di kantin, mereka malah menyingkir ke ruang musik.

Fokus mereka sepenuhnya tertuju pada band. Sayangnya, sesi latihan belum menunjukkan progres yang berarti karena Rio dan Zahra malah sibuk berdebat. Rio mengeluh karena Zahra selalu menuntut ketepatan nada lebih awal, membuat suasana memanas layaknya kucing dan tikus.

Danu yang kelelahan hanya bisa merebahkan diri di lantai ruang musik, terdiam pasrah menonton pertengkaran dua sahabatnya itu.

"Sudah-sudah, jangan bertengkar mulu!" bentak Kak Rizki tiba-tiba, suaranya menggelegar memotong perdebatan.

Ketiganya langsung tertegun. Ruang musik mendadak hening. Ini pertama kalinya mereka melihat Kak Rizki yang biasanya santai bisa marah.

"Emm... maaf, Kak," cicit Zahra dan Rio serempak sambil menundukkan kepala.

Kak Rizki menghela napas panjang, meredakan emosinya. "Sudahlah... mending kita perkuat pondasi. Kita ini sebuah band, harus solid. Jadi biasakan akur, ya."

"Siap, Kak!"

"Jadi, ayo kita evaluasi langsung dari hasil latihan tadi," ujar Kak Rizki kembali ke mode mentornya. Matanya beralih menatap sang drummer. "Danu."

"Iya, Kak?" Danu buru-buru bangkit dari rebahannya.

"Yang masih kurang dari permainanmu adalah keterlambatan di ketukan snare."

"Rio! Kamu terlalu lambat untuk menekan tuts!"

Kak Rizki beralih menatap vokalisnya. "Zahra! Kamu terlalu semangat, jadinya bikin Rio kesusahan ngejar temponya."

"Tuhh, bener kan, gue ga salah wlee!" ledek Rio sambil menjulurkan lidah ke arah Zahra.

"Hmm.. ok.." gumam Zahra sambil bersungut-sungut pelan.

Kak Rizki menepuk tangan sekali. "Haa... Ayo kita mulai lagi. Satu, dua, tiga... satu, dua, tiga..."

"Banyaknya..."

Zahra mulai melantunkan lagunya kembali, kali ini dengan keseriusan tingkat tinggi. Danu juga mulai berkembang lebih jauh, pukulan snare-nya lebih presisi. Sementara itu, Rio masuk ke mode tenang, mengatur napas agar tangannya tidak gugup di atas tuts.

Kini, ruangan itu dipenuhi perpaduan yang unik. Menciptakan harmoni antara dentuman rock khas Danu dan nada pop dari tuts Rio yang mengiringi suara Zahra. Meski tidak seindah band profesional, setidaknya perpaduan ini jauh lebih baik daripada tidak berusaha sama sekali.

Lagu pun berakhir dengan nada penutup yang rapi.

"Wahh... Keren!!" teriak Rio kegirangan, memecah keheningan sesaat setelah lagu usai. "Gue ga nyangka bisa se-epic itu!"

"Ya, kan? Makanya, ini yang disebut solid. Jadi jangan saling remehkan, ya?" senyum Kak Rizki puas.

"Baik, Kak Rizki!" jawab ketiganya serempak.

"Nah, karena permainan kalian sudah membaik dan lebih bagus dari sebelumnya, Kakak bawain mangga nih."

"Widih... kesukaan gue tuh!" mata Rio langsung berbinar semangat.

"Bentar, Kakak ambilin di tas."

Kak Rizki bangkit dari duduk lesehannya dan berjalan menuju tasnya di sudut ruangan. Ia membuka resleting, mengambil dua buah mangga yang masih segar, dan kembali ke tengah-tengah Trio Plenger.

"Nih... mangganya."

"Waa... ayo potong!" seru Rio antusias. Namun, tiba-tiba ruangan hening. Ketiga temannya hanya menatap Rio lurus-lurus tanpa bergerak sedikit pun.

Rio mengerjap. "Loh, kenapa pada natap gue?"

"Kamu saja yang potong," kata Kak Rizki yang langsung peka membaca situasi kemalasan berjamaah itu.

"Haa... masa gue sih? Kenapa gak lu aja, Zahra?"

"Gamau, lu aja." tolak Zahra mentah-mentah.

"Lah, gimana kalau lu, Dan?" Rio beralih menatap sang drummer.

"Hehe, maaf, Yo. Gue gabisa potong-potong begitu," kekeh Danu polos.

"Lahh... Haa... yaudah, sini pisaunya."

Dengan nada terpaksa dan bibir mengerucut, Rio mengambil pisau dan mangga tersebut. Namun yang mengejutkan, tangannya bergerak mengiris mangga itu dengan super cepat dan rapi. Entah karena dia memang punya pengalaman terpendam sebagai tukang rujak, atau saking kesalnya saja—who knows?

"Nih, udah. Tinggal makan," sungut Rio menyodorkan mangga yang sudah dipotong estetik.

"Wah, mantap nih. Ternyata berguna juga lu, Yo," puji Zahra, namun dengan nada mengejek yang memancing perkara.

"Eleh, memangnya lu gak liat? Gue juga berkontribusi tau di band ini!" balas Rio ngegas.

"Haha, ya, ya."

"Udah, udah, jangan ribut. Kalau ribut lagi, Kak Rizki bikin kalian mabuk nanti," ancam Kak Rizki setengah bercanda.

"Wah, jangan, Kak! Masih di bawah umur!" panik Rio seketika, matanya melotot ngeri.

"Nah, nah, takut kan? Makanya jangan ribut. Ayo salaman."

Rio dan Zahra saling menjulurkan tangan dengan ogah-ogahan. "Udah."

"Minta maaf dong."

"Aku, Rio, minta maaf."

"Aku, Zahra, juga minta maaf."

"Nah, gitu. Bosan dong berantem terus. Inovasi lah kalau mau jahil," saran Kak Rizki dengan raut wajah santai tak berdosa.

"Lah..." Rio mendadak shock mendengar petuah sesat sang mentor.

"Kenapa? Kan bener, jahil itu boleh, asalkan jangan berlebihan."

"Hmm, masuk akal juga, ya," Danu manggut-manggut setuju.

"Iya, ya... Nggak kepikiran sampai ke sana," Rio ikut-ikutan sadar.

"Haha, wajar saja. Kalian kan masih kecil, jadi refleksnya cuma tahu pertahanan diri biar nggak mau kalah dari temannya. Nanti saat kalian sudah dewasa, kalian baru sadar kalau berantem terus itu buang-buang waktu saja," jelas Kak Rizki dengan senyum memaklumi.

"Haa... bijak, bijak," puji Rio sambil mengacungkan ibu jarinya.

"Jadi, hal-hal sepele gitu nggak usah terlalu dipedulikan, Kak?" tanya Zahra memastikan.

"Iya... karena nggak ada manfaatnya sama sekali."

"Ouuh... Kalau begitu, habis ini kita mau lanjut latihan lagi?" usul Danu penuh semangat.

"Nggak usah. Mending sekarang kalian beresin kulit mangga ini. Kok bisa berserakan begini sih?" tegur Kak Rizki sambil menunjuk lantai yang berantakan.

"Hahaha, kal-na gu-nyam-nyam..." sahut Rio dengan pipi menggembung, mulutnya penuh dijejali potongan mangga.

"Kelarin dulu makan lu, Mas. Jangan bicara sambil ngunyah gitu," tegur Zahra sambil menatap geli.

"Ehmm... im-yah," Rio buru-buru mengunyah dan menelan paksa buah manis itu.

Gleg.

Rio nyengir lebar tanpa dosa. "Maaf, Kak Rizki. Aku yang kotorin, biar aku bersihin dulu."

[Bersambung]

1
Tio Buki
Semangat ya
Tio Buki
Hadiah untukmu thor🙏🙏
Tio Buki
Semangat thor
Tio Buki
Baru satu orang ya
Tio Buki
Cari dimana
Tio Buki
Ngak
Tio Buki
Kan karena kan
Tio Buki
Bernafas lega
Tio Buki
Siapa
Tio Buki
Yang sabar
Tio Buki
Merasa apa ya
Tio Buki
Kaget aku
Tio Buki
Pukul ya
Tio Buki
Mana aku tau
Tio Buki
Cermin ya
Tio Buki
Bayangan ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!