NovelToon NovelToon
Menjadi Antagonis, Tapi Suamiku Terlalu Protektif

Menjadi Antagonis, Tapi Suamiku Terlalu Protektif

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Aku terbangun dan menyadari dirinya telah berpindah menjadi Freya, tokoh antagonis yang kejam, sombong, dan ditakdirkan berakhir tragis — dibenci semua orang, diceraikan dengan hina, dan mati muda. Yang lebih menyulitkan: aku memiliki suami, pria tampan namun dingin yang dalam cerita aslinya tak pernah menyayangi Freya dan justru ikut menghancurkannya.

Aku bertekad mengubah takdir. Aku tak ingin berakhir mati. Namun setiap kali aku mencoba bersikap jahat sesuai watak asli Freya demi tidak dicurigai, sang suami justru bersikap sebaliknya.

Orang lain mencela aku? Ia langsung membela dengan tajam.
Aku hanya sedikit terluka? Ia panik seolah nyawaku terancam.
Aku mencoba menjauh? Ia justru menarikku masuk ke dalam pelukannya dan melarang pergi.

"Siapa pun yang berani menyakiti isteriku, harus siap menghadapi aku," ucapnya dengan sorot mata tajam yang tak pernah kulihat dalam cerita aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Pertemuan Terakhir & Kebenaran yang Mengguncang Dunia

Angin malam berhembus kencang, membawa bau garam dan bensin yang menyengat. Di kejauhan, lampu-lampu pelabuhan berkedip samar, seakan ikut menahan napas menyaksikan apa yang akan terjadi. Arga memarkir mobil di tempat tersembunyi, tak jauh dari gudang tua yang atapnya sudah berlubang dan dindingnya penuh karat. Ia menatapku, tangannya menggenggam tanganku erat seakan takut jika dilepaskan sesaat, aku akan lenyap.

"Kau yakin mau ikut?" tanyanya pelan, suaranya bergetar cemas. "Di dalam sana sangat berbahaya. Jika terjadi apa-apa..."

"Kita hadapi bersama," potongku tegas, menyisir rambutnya yang berantakan dengan jemariku. "Tak ada yang bisa memisahkan kita, Arga. Ingat janji kita?"

Ia mengangguk pelan, lalu mencium keningku lama, dalam, seakan ingin mengukir momen ini di dalam ingatannya selamanya. "Baik. Tapi tetap di belakangku, apa pun yang terjadi. Biarkan aku yang berhadapan dengannya."

Kami berjalan pelan menuju pintu samping — jalan rahasia yang pernah kubaca di novel itu, tersembunyi di balik tumpukan peti kayu tua. Pintu itu sedikit terbuka, berderit pelan saat kami masuk. Di dalam sana gelap gulita, hanya diterangi cahaya remang dari lampu minyak yang berkedip-kedip. Bau apek dan lembap menyengat hidung. Suara langkah kaki kami bergema di ruangan luas itu.

Dan di tengah ruangan, di balik kursi kayu tua, duduk seorang pria — Surya. Wajahnya kasar, ada bekas luka melintasi pipi kanannya, matanya menyala penuh kebencian dan dendam yang tak pernah padam. Di sampingnya, terikat pada tiang besi, seorang wanita paruh baya dengan rambut memutih dan wajah pucat — namun matanya tetap jernih dan lembut.

"Ibu..." bisik Arga, suaranya tercekat.

Wanita itu — ibu Arga — mendongak, matanya membelalak saat melihat putranya. "Arga... anakku..."

Surya tertawa lantang, suara yang penuh kepahitan. "Bagus! Semuanya berkumpul di sini. Persis seperti yang kuharapkan." Ia berdiri perlahan, menatap kami satu per satu dengan tatapan tajam. "Kau tahu, Arga? Dulu aku sangat menghormati ayahmu. Aku memberikan seluruh hidupku untuk keluarga Pratama. Tapi apa yang kuterima? Diusir, dihina, dianggap sampah — hanya karena aku ingin bagian yang memang menjadi hakku!"

"Itu bukan hakmu," tegur Arga tegas, melangkah maju selangkah. "Kau menggelapkan dana, merencanakan kecelakaan, dan menculik ibuku. Semua itu kejahatan, bukan hak."

"Kejahatan?" Surya tertawa sinis. "Dunia ini milik mereka yang berani mengambil apa yang diinginkannya! Dan malam ini, aku akan mengambil segalanya — perusahaanmu, keluargamu... dan nyawa kalian berdua."

Ia mengangkat pistol, menunjuk tepat ke arahku. Jantungku berdegup kencang, namun aku tak mundur sedikit pun. Arga langsung berdiri di hadapanku, melindungiku dengan tubuhnya sendiri.

"Jangan sentuh dia!" bentak Arga, matanya menyala penuh amarah. "Jika kau ingin membunuh seseorang, bunuh aku. Tapi lepaskan ibuku dan Freya."

Surya tersenyum miring, jari telunjuknya mulai menarik pelatuk. "Sayang sekali... aku ingin kalian berdua mati bersama."

Saat itu juga, ibu Arga tiba-tiba bergerak — meski tangannya terikat, ia menendang kaki Surya dengan sekuat tenaga. Surya kehilangan keseimbangan, tembakan itu melesat ke arah atap, menciptakan lubang besar dan debu yang beterbangan. Arga langsung berlari menerjang Surya, keduanya jatuh ke lantai, bergulat keras. Aku segera berlari ke arah ibu Arga, berusaha melepaskan ikatan di tangannya.

"Freya... hati-hati!" teriak ibu Arga.

Surya berhasil mendorong Arga hingga jatuh, lalu bangkit berdiri, mengambil pistol yang terjatuh di lantai. Ia mengarahkannya ke arahku. "Kau penyebab semua ini! Tanpa kau, rencanaku pasti berhasil!"

Tapi sebelum ia sempat menembak, Arga melompat dan menabraknya dengan keras — pistol itu terlempar jauh. Surya berusaha meraihnya, namun Arga menahannya dengan kuat. Pada akhirnya, suara sirine terdengar mendekat — polisi yang sudah dipanggil Arga sebelumnya, yang ia sembunyikan dariku demi menjaga rencana tetap rahasia. Surya menyadari ia tak bisa lolos, tertunduk lemas, lalu tertawa pelan dan pahit.

"Aku kalah..." gumamnya. "Tapi ingat... dunia ini takkan pernah benar-benar damai untuk kalian."

Polisi masuk dan menangkapnya. Sementara itu, Arga berlari ke arahku dan ibunya. Ia berlutut di hadapan ibunya, memeluknya erat, air mata jatuh membasahi pipinya.

"Ibu... Ibu pulang sekarang..." isaknya pelan.

Ibu Arga mengusap wajah putranya dengan lembut, lalu menatapku dengan senyum hangat. "Terima kasih, Nak... terima kasih sudah menjaga putraku. Dan terima kasih sudah membawa aku kembali ke keluarga ini."

Malam itu, di bawah langit yang mulai cerah, kami bertiga berdiri bersama — luka belum sembuh sepenuhnya, namun harapan kembali tumbuh dengan kuat. Ancaman Surya telah berakhir, tapi kami tahu, perjalanan kami belum selesai. Dunia masih luas, dan kami harus melangkah bersama, menuju masa depan yang penuh cahaya.

bersambung......

1
Irsyad
wah keren
Ayu Gerimis: makasiii KK Irsyad udah mampir dan suka yaa 🥰"
total 1 replies
septia19
di tunggu kelanjutannya besti 😍
Ayu Gerimis: siap 👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!