"Aku minta maaf, Diandra. Aku benar-benar menyesal."
"Penyesalanmu datang terlambat, Bastian. Aku sudah terlalu lelah."
Dulu, Bastian menganggap Diandra akan selalu berada di sisinya. Ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri hingga tidak menyadari betapa seringnya sang istri terluka oleh sikapnya.
Diandra bertahan selama bertahun-tahun, berharap suaminya suatu hari akan menghargai keberadaannya. Namun ketika kesabarannya habis, Diandra memilih berhenti berharap.
Barulah saat itu Bastian menyadari satu hal yang selama ini tidak pernah ia hargai.
Ia hampir kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya.
Seandainya waktu dapat diputar kembali, Bastian ingin memperbaiki semua kesalahannya. Ia ingin mengganti setiap air mata Diandra dengan kebahagiaan, setiap luka dengan kasih sayang, dan setiap hari yang dipenuhi kesepian dengan kehadirannya.
Namun Diandra sudah terlanjur terluka.
Hatinya masih mencintai Bastian, tetapi rasa sakit membuatnya takut untuk kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Khumairah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamparan, Fitnah, dan Sebuah Rahasia
"Siapa yang bunuh diri, Mas?" tanya Diandra dengan suara bergetar. Entah kenapa sejak mendengar kabar itu, perasaannya langsung tidak tenang. Ada firasat buruk yang terus mengusik pikirannya.
"Aku juga nggak tahu. Itu bukan urusan kita. Lebih baik kita pulang."
Bastian menggenggam tangan istrinya dan mengajaknya meninggalkan ballroom.
Namun, baru beberapa langkah keluar dari gedung, Diandra menghentikan langkahnya. Tatapannya tertuju pada kerumunan orang yang berkumpul di sisi kanan gedung.
Garis polisi sudah terpasang. Beberapa petugas terlihat sibuk mengamankan lokasi. Tak lama kemudian, suara sirene ambulans terdengar semakin dekat.
"Aku mau lihat, Mas."
"Diandra, jangan."
Namun Diandra sudah lebih dulu melangkah mendekati kerumunan. Dari celah orang-orang, dia bisa melihat seseorang terbaring di atas tanah. Tubuh korban telah ditutupi kain putih. Hanya bagian kakinya yang masih terlihat.
Diandra membeku.
Sepasang sepatu merah.
Jantungnya berdetak semakin kencang.
Sepatu itu sangat mirip dengan yang dikenakan Ola.
"Ola..."
Nama itu lolos begitu saja dari bibir Diandra.
Dia masih mencoba menyangkal dugaannya. Bisa saja itu orang lain. Namun ketika melihat Ricard berdiri tidak jauh dari korban dengan wajah pucat dan mata berkaca-kaca, keyakinannya semakin kuat.
"Diandra!"
Bastian segera menghampirinya. Dia terkejut melihat air mata sudah mengalir di pipi istrinya.
"Mas..." suara Diandra tercekat. "Di-dia..."
"Kita bicarakan di mobil. Jangan bicara apa pun sekarang."
Bastian merangkul bahu Diandra dan membawanya menjauh dari kerumunan.
Sesampainya di dalam mobil, Bastian menatap istrinya dengan serius.
"Kamu mengenal korban?"
Diandra mengangguk lemah.
"Tadi aku seperti melihat Ola berjalan menuju lantai tiga puluh. Aku mengikutinya karena merasa ada sesuatu yang aneh. Tapi waktu sampai di rooftop, nggak ada siapa-siapa."
Dia menarik napas panjang, berusaha menahan tangis.
"Aku kembali ke ballroom. Setelah itu aku dengar ada seseorang yang jatuh dari rooftop."
Bastian terdiam.
"Awalnya aku nggak yakin. Tapi setelah melihat sepatu merah itu..." Diandra mengusap air matanya. "Dan melihat Anton berdiri di dekat korban, aku semakin yakin kalau itu Ola."
"Ola?"
"Iya. Ola teman aku waktu masih di panti asuhan."
Bastian akhirnya mengingat nama itu. Dia pernah bertemu Ola ketika menjemput Diandra beberapa waktu lalu.
"Kita harus ke rumah sakit, Mas," pinta Diandra.
"Kita pulang dulu. Aku akan menyuruh orang mencari tahu keadaan korban."
"Tapi aku mau menemani—"
"Nurut sama suami."
Nada suara Bastian tegas, membuat Diandra terdiam.
Bastian segera menyalakan mesin mobil dan meninggalkan gedung tersebut.
Bukan karena dia tidak peduli pada Ola. Justru sebaliknya. Bastian khawatir jika Diandra tetap berada di lokasi, keberadaannya justru akan membuat polisi mempertanyakan banyak hal, terlebih Diandra mengaku mengikuti Ola hingga ke rooftop.
Beberapa saat kemudian, Diandra kembali teringat sesuatu.
"Oh iya, Mas."
"Hm?"
"Nanti tolong carikan kalung yang dipakai Ola."
Bastian meliriknya sekilas.
"Kenapa?"
"Itu kalung milikku. Dulu aku memberikannya kepada Ola."
Bastian mengangguk.
"Iya. Aku akan cari."
Diandra menyandarkan tubuhnya ke kursi. Pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan.
Namun satu hal terus menghantuinya.
Apa yang sebenarnya terjadi di rooftop malam itu?
"Ini kalungnya, Nyonya."
Seorang pria menyerahkan sebuah kotak kecil kepada Aretha.
Aretha membukanya perlahan. Di dalamnya terbaring kalung mewah dengan liontin berlian biru yang berkilauan di bawah cahaya lampu.
"Bagus. Tidak ada yang melihatmu?"
Pria itu terdiam sejenak sebelum menggeleng.
"Tidak ada, Nyonya."
Aretha tersenyum tipis.
"Bagus. Aku memang selalu bisa mengandalkanmu."
Pria itu menundukkan kepala.
"Kalau begitu, kamu boleh pergi."
"Baik, Nyonya."
Setelah pria itu meninggalkan ruangan, Aretha kembali menatap kalung di tangannya. Tatapannya berubah dingin. Jari-jarinya mengusap liontin berlian tersebut seolah sedang mengingat sesuatu dari masa lalu.
Senyum tipis muncul di wajahnya.
"Sayang sekali, Ayunda..."
Aretha menghela napas pelan.
"Putrimu harus mengalami akhir yang sama tragisnya seperti dirimu."
Kalung itu kemudian digenggamnya erat.
Ada sesuatu yang jauh lebih besar di balik benda tersebut.
Dan Aretha tahu, rahasia itu belum sepenuhnya terkubur.
Aretha memasukkan kalung itu ke dalam sebuah kotak beludru, lalu menyimpannya di dalam brankas yang tersembunyi.
Saat pintu brankas terbuka, pandangannya tiba-tiba tertuju pada sebuah foto lama.
Foto itu memperlihatkan tiga anak yang tersenyum bahagia—Aretha, Abian, dan Ayunda.
Mereka sudah bersahabat sejak kecil. Foto itu diambil ketika mereka masih berusia sepuluh tahun, saat mereka belum mengenal arti pengkhianatan, cinta, ataupun dendam.
Aretha mengambil foto tersebut dan menatapnya lama.
"Seandainya dulu kamu mau merelakan Abian untukku, semua ini nggak akan pernah terjadi, Ayunda."
Suaranya terdengar lirih, tetapi sorot matanya penuh kebencian.
Dulu, Abian memang pernah menyukai Aretha. Namun hati Aretha justru tertuju kepada pria lain—pria yang kemudian menjadi ayah Serly.
Aretha menikah lebih dahulu. Sayangnya, pernikahan itu tidak berlangsung lama karena suaminya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan.
Sejak saat itu, Abian menjadi orang yang selalu berada di sisi Aretha. Bahkan bagi Serly, Abian perlahan menjadi sosok ayah.
Aretha sempat mengira semua perhatian itu berarti Abian masih menyimpan perasaan untuknya.
Ternyata dia salah.
Abian justru jatuh cinta kepada Ayunda.
Mereka menikah dan membangun keluarga yang bahagia.
Yang paling menyakitkan bagi Aretha adalah ketika Abian memintanya mendesain sebuah kalung khusus untuk Ayunda sebagai hadiah atas kehamilan wanita itu.
Aretha masih mengingat hari ketika desain tersebut selesai.
"Kalung ini kubuat dengan susah payah, tapi justru kamu yang memakainya, Ayunda."
Sejak saat itu, rasa iri dalam hati Aretha berubah menjadi kebencian.
Dia berkali-kali mencoba mengusik rumah tangga Abian dan Ayunda. Namun pernikahan keduanya justru semakin kuat.
Pada akhirnya, Aretha mengambil keputusan yang tidak bisa ditarik kembali.
Saat Ayunda sedang hamil besar, Aretha menculiknya.
Rencananya sederhana. Dia ingin menghabisi Ayunda sekaligus bayi yang ada di dalam kandungannya.
Namun rencana itu gagal.
Salah satu pengawal Aretha berkhianat dan membantu Ayunda melarikan diri.
Aretha memang berhasil menemukan pengawal tersebut, tetapi Ayunda sudah menghilang tanpa jejak.
Sejak hari itu, Aretha terus mencari keberadaan Ayunda.
"Aku yakin sebelum menghilang, kamu pasti menitipkan anakmu di panti asuhan."
Aretha tersenyum sinis.
"Dan setelah bertahun-tahun, akhirnya aku menemukan putrimu."
Dia merobek foto lama itu tepat di bagian Ayunda. Potongan foto Ayunda jatuh ke lantai, sementara bagian yang memperlihatkan dirinya dan Abian tetap berada di tangannya.
Aretha kembali tersenyum.
"Putrimu benar-benar mudah dipancing."
Dia menatap potongan foto tersebut dengan tatapan dingin.
"Aku hanya perlu menggunakan sedikit uang dan mengajaknya bertemu di rooftop. Tanpa curiga sedikit pun, dia datang menemuiku."
Aretha terkekeh pelan.
"Setidaknya, Ayunda, kamu harus berterima kasih. Aku sudah membantumu bertemu dengan putrimu lebih cepat."
Tiba-tiba terdengar suara dari luar.
"Mama! Mama di mana?"
Aretha langsung menyembunyikan potongan foto tersebut dan menutup brankas.
Ruang rahasia itu tersembunyi di balik sebuah rak buku besar di perpustakaan.
Beberapa detik kemudian, Aretha keluar dan mengembalikan rak tersebut seperti semula.
Pintu perpustakaan terbuka.
Serly masuk sambil mencari ibunya.
"Mama."
"Iya, Sayang. Ada apa?"
Serly langsung menghampiri Aretha dan memeluknya.
Wajahnya tampak kesal.
"Aku bingung. Kenapa akhir-akhir ini Mas Bastian cuek banget? Aku telepon juga nggak pernah diangkat."
Aretha membelai rambut putrinya dengan lembut.
"Ini sudah malam. Mungkin Bastian sedang tidur."
Serly mengangguk kecil, meskipun wajahnya masih menunjukkan kekesalan.
"Kalau begitu, kamu juga harus tidur. Besok jangan sampai kesiangan."
Aretha tersenyum.
"Besok kamu punya jadwal penting. Jangan lupa, kamu harus berpura-pura menjalani kemoterapi."
Senyum Serly langsung mengembang.
"Iya, Ma. Aku ingat."
Aretha memeluk putrinya lebih erat.
Di balik senyum seorang ibu, tersimpan rahasia yang jauh lebih gelap daripada yang pernah Serly bayangkan.
Benar saja. Setelah Bastian meminta orang kepercayaannya mencari informasi lebih lanjut, kabar yang diterima membuat suasana di kamar semakin berat.
Korban tersebut memang Ola—teman Diandra sejak mereka masih berada di Panti Asuhan Kasih Bunda. Pihak rumah sakit juga telah mengurus pemulangan jenazah Ola ke panti asuhan tersebut.
"Korban itu memang Ola," ujar Bastian setelah mengakhiri sambungan telepon dengan Max, orang kepercayaannya.
Diandra menunduk.
"Aku sudah menduga sejak awal, Mas."
Bastian kemudian menatap istrinya.
"Dan tentang kalungmu, tidak ditemukan di tubuh Ola. Kemungkinan kalung itu terlepas ketika dia jatuh. Atau ada seseorang yang mengambilnya setelah kejadian."
"Aku bisa minta Max mencarinya."
Diandra menggeleng pelan.
"Aku sudah nggak memikirkan kalung itu lagi."
Tatapannya berubah serius.
"Sekarang aku justru memikirkan kematian Ola."
Bastian menghela napas.
"Aku yakin ola nggak bunuh diri, Mas."
"Kenapa kamu begitu yakin?"
"Karena aku mengenalnya. Ola memang pernah melewati banyak hal buruk, terutama setelah menikah dan mengalami perlakuan kasar dari suaminya. Tapi dia selalu berusaha bertahan."
Diandra mengingat kejadian beberapa jam sebelumnya.
"Tadi dia bahkan terlihat bahagia. Dia bercerita tentang rencananya menikah dengan Richard. Orang yang sudah punya rencana untuk masa depan biasanya nggak akan tiba-tiba mengakhiri hidupnya."
Bastian meninggalkan balkon dan duduk di sisi tempat tidur.
"Kalau begitu, menurutmu apa yang terjadi?"
Diandra terdiam beberapa saat.
"Ketika aku sampai di lantai tiga puluh, aku berpapasan dengan seorang pria."
"Pria?"
"Iya. Pakaiannya serba hitam. Wajahnya tertutup masker, bahkan dia memakai kacamata hitam."
Bastian langsung memperhatikannya.
"Kamu melihat wajahnya?"
"Nggak."
"Dia melakukan sesuatu yang mencurigakan?"
"Aku nggak tahu. Tapi rasanya aneh. Mungkin saja dia ada hubungannya dengan kematian Ola."
Bastian mengusap wajahnya pelan.
"Kamu punya bukti?"
Diandra menggeleng.
"Nggak."
"Rekaman? Foto? Video?"
"Nggak ada, Mas."
"Kalau begitu jangan membuat kesimpulan sendiri."
Nada Bastian tegas, tetapi bukan karena marah.
"Max juga sudah mencari informasi. CCTV di lantai tiga puluh dan rooftop ternyata sedang bermasalah. Jadi sampai sekarang belum ada bukti yang menunjukkan Ola dibunuh."
Bastian berhenti sejenak.
"Richard juga sudah memberikan keterangan kepada polisi. Katanya, beberapa kali Ola memang pernah mengatakan ingin mengakhiri hidupnya."
Diandra terdiam.
"Jadi kalau kamu datang ke polisi tanpa bukti, yang ada justru kamu yang akan diperiksa karena berada di lokasi kejadian."
Diandra menundukkan kepala.
Bastian benar.
Tadi rasa kehilangan dan kecurigaan membuatnya tidak berpikir panjang.
Bastian menghela napas, kemudian mengusap rambut istrinya dengan lembut.
"Aku tahu kamu peduli pada Ola. Aku juga tahu kalian punya hubungan sejak lama."
Diandra menatapnya.
"Tapi kamu harus berhati-hati. Jangan bertindak hanya berdasarkan firasat."
"Iya, Mas."
"Sudah malam. Cuci muka, lalu tidur."
Diandra akhirnya bangkit dan berjalan menuju kamar mandi.
Sementara itu, Bastian masih duduk di tepi ranjang dengan wajah serius.
Dia tidak mengatakannya kepada Diandra, tetapi sejak awal ada sesuatu yang terasa janggal dari kematian Ola.
CCTV yang rusak.
Pria misterius di lantai tiga puluh.
Kalung Diandra yang menghilang.
Dan kesaksian Richard yang terlalu cepat mengarah pada dugaan bunuh diri.
Bastian tidak tahu siapa yang berada di balik semua itu.
Namun satu hal yang pasti, dia tidak akan membiarkan Diandra mencari tahu seorang diri.
Jika kematian Ola memang bukan bunuh diri, orang yang melakukannya mungkin masih berada di luar sana.
Dan Bastian tidak ingin orang itu menjadikan istrinya sebagai target berikutnya.
Pagi itu, Bastian sengaja meluangkan waktunya untuk menemani Diandra pergi ke Panti Asuhan Kasih Bunda.
Sebenarnya Diandra sudah mengatakan bahwa dia bisa pergi sendiri. Namun Bastian tetap bersikeras ikut.
"Aku bisa pergi sendiri, Mas."
"Aku tahu. Tapi aku tetap mau menemani kamu."
Diandra akhirnya tidak membantah.
Sesampainya di panti asuhan, suasana terasa berbeda. Wajah-wajah yang biasanya ceria kini dipenuhi kesedihan. Tidak ada seorang pun yang menyangka Serly akan pergi secepat itu.
Liliana, pengurus panti yang sudah mengenal Serly sejak kecil, bahkan masih sulit menerima kenyataan tersebut.
"Ibu benar-benar nggak menyangka Ola akan pergi secepat ini," ucap Liliana dengan mata sembap. "Semalam dia masih berpamitan mau pergi ke pesta. Dia terlihat baik-baik saja. Belakangan ini malah kelihatan bahagia."
Liliana menghapus air matanya.
"Rasanya sulit dipercaya kalau Ola memilih mengakhiri hidupnya."
Diandra menggenggam tangan Liliana.
"Ibu yang sabar."
Ada banyak hal yang ingin Diandra katakan.
Dia ingin mengatakan bahwa Ola tidak mungkin bunuh diri.
Dia ingin menceritakan tentang pria misterius yang ditemuinya di lantai tiga puluh.
Namun, dia tidak mempunyai bukti.
Diandra teringat pesan Bastian agar dirinya tidak bertindak gegabah. Jika dia melapor tanpa bukti, justru bukan tidak mungkin dirinya yang akan dicurigai.
Sekitar pukul sebelas siang, Bastian mengajak Diandra pulang.
Sepanjang perjalanan, Diandra lebih banyak diam. Tatapannya terpaku pada pemandangan di luar jendela.
"Max masih mencari kalungmu," ujar Bastian memecah kesunyian. "Tapi sampai sekarang belum ditemukan."
Diandra hanya mengangguk.
Dia sudah tidak terlalu memikirkan kalung tersebut.
Pikirannya jauh lebih sibuk memikirkan kematian Ola.
"Jangan terlalu dipikirkan," ujar Bastian lembut. "Mungkin ini memang sudah menjadi takdir Ola. Kita nggak bisa mengubah sesuatu yang sudah terjadi."
"Tapi kalau Ola benar-benar dibunuh, apa nggak ada keadilan untuk dia?"
Bastian terdiam sejenak.
"Kalau memang ada orang yang melakukan kejahatan, biarkan hukum dan Tuhan yang mengurusnya."
Diandra menghela napas panjang dan kembali menatap keluar jendela.
Bastian kemudian menggenggam tangan istrinya yang berada di atas konsol tengah.
"Mau mampir makan dulu? Kamu belum makan dari pagi."
"Aku mau langsung pulang saja."
Belum sempat Bastian menjawab—
"Kruuuyuk..."
Suara dari perut Diandra terdengar cukup jelas di dalam mobil.
Bastian langsung tertawa.
"Itu suara apa?"
Diandra mendengkus malu sambil mengusap perutnya.
"Apaan sih, Mas."
Bastian ikut mengusap perut istrinya dengan senyum kecil.
"Kalau begini, kapan ya ada penghuninya?"
Diandra meliriknya.
"Pengen punya anak lagi?"
"Banget."
"Ya tergantung kamu."
"Tergantung aku bagaimana?"
"Kapan kamu benar-benar bisa melupakan Ola."
Bastian menggeleng sambil tersenyum.
"Aku akan berusaha. Sabar ya, Sayang."
Dia mengacak rambut Diandra dengan gemas.
"Sudah. Sekarang kamu mau makan apa?"
"Ayam."
"Ayam apa?"
"Ayam goreng."
"KFC?"
Diandra mengangguk.
"Oke."
Bastian membelokkan mobil menuju restoran cepat saji.
Namun baru beberapa meter berjalan, dia teringat ponselnya yang sejak pagi diletakkan begitu saja di dalam mobil.
Ketika mengambilnya, Bastian langsung mengernyit.
Puluhan pesan masuk.
Sebagian besar berasal dari Om Abian dan Tante Aretha.
"Kenapa banyak banget?"
Bastian belum sempat membuka satu pun pesan tersebut ketika ponselnya kembali berdering.
Nama Abian muncul di layar.
Bastian menghela napas dan segera mengangkat panggilan itu.
"Halo, Om?"
Diandra menoleh.
Entah kenapa, melihat ekspresi Bastian yang mendadak serius membuat perasaannya kembali tidak tenang.
"Halo, Om. Ada apa?"
"Kamu di mana, Bastian? Dari tadi Om telepon nggak diangkat. Pesan Om juga nggak satu pun kamu balas."
Bastian melirik sekilas ke arah Diandra yang duduk di sampingnya.
"Maaf, Om. Tadi saya sedang bersama istri."
"Diandra sepenting itu sampai kamu mengabaikan semua pesan Om? Padahal yang Om bicarakan ini berkaitan dengan perempuan yang selama ini kamu cintai."
Bastian terkekeh pendek.
"Diandra memang penting. Dia istri saya, Om."
Suara Abian terdengar semakin serius.
"Ck. Kamu akan menyesal kalau nggak datang ke rumah sakit sekarang."
Kening Bastian berkerut.
"Memangnya ada apa, Om?"
"Pokoknya cepat datang ke rumah sakit!"
Sambungan terputus.
Bastian mendecakkan lidah.
Siapa Abian sampai berani membentaknya dan memberinya perintah?
Bastian paling tidak suka dipaksa. Selama ini dia terbiasa mengambil keputusan sendiri dan tidak akan mengubah rencana hanya karena seseorang mendesaknya.
Hari ini pun dia memang tidak berniat menemui Serly.
"Siapa yang menelepon?" tanya Diandra.
"Bukan siapa-siapa."
Bastian kembali fokus mengemudi.
Namun beberapa detik kemudian, sebuah notifikasi muncul di layar ponselnya.
Pesan dari Abian.
Bastian hanya sempat melirik sekilas.
Ekspresinya langsung berubah.
Perhatiannya teralihkan hingga mobil sedikit keluar dari jalur dan nyaris menyerempet pembatas jalan.
"Mas! Hati-hati!"
Bastian tersentak dan segera mengendalikan kemudi.
Diandra menatapnya cemas.
"Kamu kenapa? Ngantuk? Kalau capek, biar aku yang nyetir."
"Nggak perlu."
Bastian kembali menatap jalan.
Dia berusaha tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.
"Aku masih bisa nyetir."
Namun dalam hati, pesan singkat dari Abian terus terngiang.
Ada sesuatu yang terjadi di rumah sakit.
Dan untuk pertama kalinya, Bastian merasa keputusan untuk mengabaikan panggilan Abian mungkin akan menjadi sesuatu yang dia sesali.
Bastian terus melajukan mobil hingga akhirnya masuk ke halaman rumah sakit.
Diandra yang sejak tadi tenggelam dalam pikirannya baru menyadari mereka sudah berada di tempat yang berbeda. Dia menoleh ke sekeliling dengan bingung.
"Mas, kenapa kita ke rumah sakit? Bukannya kita mau makan KFC?"
Bastian menggigit bibirnya sejenak. Dia tahu Diandra pasti akan kecewa.
"Gini, Sayang..."
"Serly?"
Bastian mengangguk pelan.
"Aku sebenarnya juga nggak ingin datang ke sini. Tapi sepertinya Serly benar-benar membutuhkan pertolonganku."
Diandra langsung memasang wajah tidak suka.
"Aku cuma mau bicara sebentar dengannya. Setelah itu kita langsung pulang. Aku janji."
"Bicara soal apa?"
Bastian tidak langsung menjawab.
"Ayo, ikut aku dulu."
"Nggak mau. Kalau memang kamu mau menemui dia, pergi saja. Aku mau pulang."
Bastian meraih tangan istrinya.
"Please, Sayang. Temani aku."
Diandra menatapnya tanpa berkata-kata.
"Aku ingin kamu melihat sendiri apa yang sebenarnya terjadi. Aku nggak mau kamu salah paham. Aku datang ke sini karena ingin menolong, bukan karena masih punya perasaan pada Serly."
Diandra akhirnya menghela napas.
"Sebenarnya Serly kenapa sampai kamu harus datang?"
"Itu yang ingin aku cari tahu."
Bastian menggenggam tangan Diandra.
"Temani aku dulu."
Setelah beberapa saat, Diandra akhirnya mengangguk.
Mereka masuk ke dalam rumah sakit dan menaiki lift.
Namun bukannya menuju ruang perawatan, Bastian justru memilih lantai paling atas.
Pintu lift terbuka.
Begitu keluar, Diandra langsung tertegun.
Rooftop rumah sakit yang biasanya sepi kini dipenuhi orang.
Ada Abian dan Aretha, beberapa petugas keamanan, dokter, perawat, serta sejumlah pasien dan keluarga pasien yang tampaknya sengaja datang karena penasaran dengan keributan yang terjadi.
Diandra menatap kerumunan tersebut dengan jantung berdebar.
"Ada apa sebenarnya, Mas?"
Bastian tidak menjawab.
Tatapannya justru tertuju pada seseorang di antara kerumunan.
Dan dari ekspresi orang-orang di sana, Diandra sadar bahwa kedatangan mereka bukan sekadar untuk menemui Serly.
Ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang terjadi.
"JANGAN ADA YANG MENDEKAT!"
Suara Serly menggema di seluruh rooftop.
"Kalau ada yang mendekat, aku akan melompat!"
Kerumunan langsung gaduh.
"Serly!"
Bastian menerobos barisan orang, sementara tangannya masih menggenggam tangan Diandra.
Diandra menatap situasi di hadapannya dengan wajah datar.
"Drama apa lagi ini?" gumamnya kesal.
Dia hendak berbalik, tetapi Bastian justru mempererat genggamannya.
"Mas, lepas. Urus saja mantanmu."
"Nggak. Kamu tetap di sampingku."
Bastian tidak membiarkan Diandra pergi.
Serly yang berdiri di dekat pembatas rooftop langsung menatap ke arah mereka. Matanya tampak berkaca-kaca.
"Mas Bastian..."
Bastian menatapnya serius.
"Aku kira kamu nggak akan datang."
Suara Serly bergetar.
"Aku senang kamu datang. Setidaknya sebelum semuanya berakhir, aku masih bisa melihat kamu."
"Serly, jangan bicara seperti itu."
Bastian melangkah maju, tetapi berhenti ketika melihat Serly kembali mendekati tepian.
"Jangan lakukan sesuatu yang membahayakan dirimu."
Serly tertawa getir.
"Hidupku sudah nggak berarti, Mas."
"Jangan bilang begitu."
"Aku selalu sakit. Dokter juga bilang kondisiku nggak akan mudah membaik."
Serly mengusap air matanya.
"Dan sekarang aku merasa nggak ada lagi orang yang benar-benar membutuhkanku."
"Kamu nggak sendirian."
Bastian berusaha menjaga suaranya tetap tenang.
"Ada keluargamu. Ada orang-orang yang menyayangimu."
Serly menggeleng.
"Aku tahu keluargaku selalu mendukungku. Mereka selalu berusaha membuatku kuat."
Dia terdiam sejenak.
"Tapi aku juga merasa bersalah karena terus membuat mereka khawatir."
Tatapannya kemudian beralih kepada Bastian.
"Dan aku tahu kamu juga pernah mendukungku."
Diandra yang sejak tadi diam mulai menatap Serly dengan lebih serius.
"Kamu dan anak-anakmu pernah menjadi salah satu alasan aku bertahan."
Bastian menarik napas panjang.
"Serly, apa pun masalahnya, jangan jadikan hidupmu sebagai jalan keluar."
Namun Serly justru menangis semakin deras.
"Tapi aku nggak mengerti kenapa istrimu begitu membenciku."
Beberapa orang mulai saling berbisik.
"Dia pernah menuduhku sebagai perempuan yang merebut suami orang."
Serly menatap Diandra.
"Dia bahkan membuat orang-orang menganggap aku perempuan murahan."
Diandra mengerutkan kening.
"Aku nggak pernah—"
Namun Serly langsung menyela.
"Aku benar-benar nggak pernah berniat merebut kamu dari Diandra, Mas."
Bastian tampak semakin tegang.
"Aku sudah menerima kenyataan kalau kamu memilih menikah dengannya. Bahkan aku berusaha menghormati rumah tangga kalian."
Air mata Serly terus mengalir.
"Tapi kenapa Diandra harus begitu membenciku?"
Suasana rooftop mendadak berubah.
Satu per satu orang mulai menoleh kepada Diandra.
Tatapan mereka penuh rasa penasaran, sebagian bahkan terlihat mencurigai.
Bisik-bisik mulai terdengar dari berbagai arah.
"Kasihan sekali..."
"Kalau benar dia sedang sakit, kenapa masih diperlakukan seperti itu?"
"Padahal dia sampai ingin mengakhiri hidup."
Diandra berdiri diam.
Dia bisa merasakan seluruh pandangan orang-orang tertuju kepadanya.
Namun kali ini, dia tidak ingin terburu-buru membela diri.
Ada sesuatu yang terasa janggal.
Serly seolah sengaja mengarahkan semua perhatian kepadanya.
Dan Diandra mulai menyadari bahwa kejadian di rooftop ini mungkin bukan sekadar drama seseorang yang ingin mengakhiri hidup.
Mungkin ada seseorang yang sedang memainkan sebuah permainan besar.
Dan tanpa disadari, dirinya baru saja ditempatkan sebagai tokoh antagonis di hadapan puluhan saksi.
"Serly, jangan bicara seperti itu. Diandra nggak pernah membencimu."
Bastian berusaha menenangkan keadaan.
Namun Serly justru tersenyum getir.
"Jawaban Mas justru membuktikan semuanya."
Air matanya kembali jatuh.
"Dulu Mas selalu memperlakukanku dengan baik. Aku bebas bertemu Azzam dan Azzura. Mas nggak pernah melarangku datang ke rumah."
Serly menarik napas dengan susah payah.
"Tapi sekarang semuanya berubah. Mas mulai meminta aku menjaga jarak dari anak-anak. Bahkan aku nggak boleh lagi datang ke rumah."
Bastian terdiam.
"Aku datang bukan untuk mengganggu rumah tangga kalian, Mas. Aku cuma ingin bertemu Azzam dan Azzura."
Isak tangis Serly membuat suasana semakin berat. Beberapa orang di sekitar mereka bahkan mulai mengusap air mata.
"Kalau begitu... mungkin memang lebih baik aku nggak ada."
Serly menatap Diandra dengan tatapan penuh luka.
"Mungkin setelah aku pergi, semua orang akan merasa lega. Terutama kamu, Diandra."
"Serly, cukup!"
Bastian langsung memperingatkan.
Namun Serly justru melangkah mundur.
"Selama ini kamu selalu menganggapku sebagai beban."
Suaranya bergetar.
"Kamu ingin aku pergi dari kehidupan kalian, kan?"
Diandra mengerutkan kening.
"Aku nggak pernah mengatakan—"
"Sudah!"
Serly mengangkat tangannya, menghentikan ucapan Diandra.
"Kalau keberadaanku memang membuat semua orang menderita, aku akan pergi."
Dia berbalik menuju pembatas rooftop.
"Serly!"
Bastian langsung bergerak maju.
Serly sudah berada beberapa langkah dari pagar pembatas. Suasana seketika berubah panik.
Beberapa orang berteriak memperingatkan.
"Jangan lakukan!"
"Serly, mundur!"
Diandra berdiri terpaku.
Ada sesuatu yang salah.
Terlalu banyak kebetulan.
Kematian Ola yang sebelumnya diduga terjadi.
Kalungnya yang menghilang.
Pria misterius di lantai tiga puluh.
Dan sekarang Serly kembali berada di rooftop, tepat di depan banyak saksi.
Diandra menggenggam tangannya sendiri.
Apa sebenarnya yang sedang direncanakan perempuan itu?
"SERLY!"
Bastian sontak melepaskan tangan Diandra dan berlari ke arah Serly.
Tepat ketika Serly hendak melewati pembatas, Bastian berhasil meraih tubuhnya dan menariknya menjauh. Dia langsung memeluk Serly erat untuk memastikan perempuan itu tidak kembali mendekati tepian.
"Lepaskan aku!"
Serly meronta dalam pelukannya.
"Biarkan aku pergi, Mas! Kalau aku nggak ada, semua orang pasti lebih bahagia!"
"Nggak!"
Bastian semakin mempererat pelukannya.
"Jangan pernah berpikir seperti itu. Kalau kamu pergi, orang-orang yang menyayangimu akan hancur. Orang tuamu, keluargamu... dan anak-anak juga akan kehilanganmu."
Tangisan Serly pecah.
Dia akhirnya berhenti meronta dan justru mencengkeram pakaian Bastian.
"Jangan tinggalin aku..."
Suaranya berubah menjadi isakan kecil.
"Aku takut, Mas. Aku nggak sanggup menghadapi semuanya sendirian. Aku butuh kamu."
Bastian menghela napas.
"Aku nggak akan meninggalkan kamu dalam keadaan seperti ini. Kamu harus tenang dulu. Kita cari bantuan dan selesaikan semuanya dengan baik."
Serly menangis semakin keras.
Tubuhnya tiba-tiba kehilangan tenaga.
"Serly?"
Bastian merasakan tubuh perempuan itu melemas dalam pelukannya.
"Serly!"
Wajah Serly tampak pucat. Dia tidak sadarkan diri.
Tanpa membuang waktu, Bastian mengangkat tubuhnya dan membawanya menjauh dari rooftop untuk mendapatkan pertolongan.
Sebelum pergi, Bastian sempat menoleh kepada Diandra.
Tatapan mereka bertemu.
Namun keadaan membuat Bastian tidak memiliki pilihan lain.
Dia akhirnya membawa Serly pergi.
Aretha dan orang-orang lainnya pun ikut meninggalkan rooftop.
Diandra masih berdiri seorang diri.
Dia tidak tahu harus melakukan apa.
Beberapa detik kemudian, terdengar suara berat dari belakangnya.
"Senang sekarang?"
Diandra perlahan menoleh.
Dia mengira semua orang sudah pergi.
Ternyata Abian masih berdiri di sana.
Tatapan pria itu penuh kemarahan.
"Apakah kamu puas sudah membuat putri saya menderita?"
Diandra menggeleng.
"Saya nggak pernah membuat Serly menderita, Om."
Suaranya bergetar, tetapi dia berusaha tetap tenang.
"Justru selama ini saya yang terluka karena sikap Serly. Dia—"
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Diandra.
Kepalanya langsung terlempar ke samping. Rasa perih menjalar hingga membuat telinganya berdenging.
Abian menatapnya dengan penuh kemarahan.
"Jangan pernah gunakan mulutmu untuk menghina putri saya."
Diandra terdiam.
Pipinya terasa panas.
Namun yang lebih menyakitkan bukanlah tamparan itu.
Melainkan tatapan Abian yang begitu jelas menunjukkan betapa besar rasa sayangnya kepada Serly.
Diandra menunduk.
Untuk sesaat, sebuah pertanyaan muncul di dalam hatinya.
Bagaimana rasanya memiliki seorang ayah yang akan berdiri paling depan ketika anaknya terluka?
Bagaimana rasanya dilindungi tanpa harus meminta?
Bagaimana rasanya dicintai begitu dalam hingga seseorang rela membela kita meskipun dunia menentang?
Diandra menggigit bibirnya.
Selama ini dia mungkin pernah merasa dicintai.
Tetapi melihat cara Abian melindungi Serly, untuk pertama kalinya Diandra menyadari ada jenis kasih sayang yang belum pernah benar-benar dia rasakan.
Kasih sayang seorang ayah.
Diandra menatap Abian dengan mata berkaca-kaca.
Entah mengapa, setelah melihat bagaimana pria itu membela putrinya, hatinya justru terasa semakin kosong.
Dia ingin merasakan hal yang sama.
Ingin memiliki seorang ayah yang bisa dia datangi ketika hidup terasa terlalu berat.
Ingin mengadu tanpa takut dihakimi.
Namun keinginan itu hanya bisa dia simpan dalam hati.
"Demi membela putri Om, Om sampai menampar saya."
Abian menatapnya dingin.
"Kalau ada yang berani menyakiti putri saya, saya tidak akan berhenti hanya dengan satu tamparan."
Suaranya rendah dan penuh peringatan.
"Jadi saya minta kamu menjauh dari Bastian. Kalau perlu, ceraikan dia dan biarkan Bastian kembali bersama putri saya."
Diandra menelan ludah.
"Lalu saya bagaimana, Om?"
Dia menatap Abian dengan mata berkaca-kaca.
"Memangnya saya nggak berhak bahagia?"
Abian tidak menjawab.
"Kenapa hanya Serly yang berhak mendapatkan kebahagiaan?"
"Kamu juga berhak bahagia," jawab Abian dingin. "Asalkan kamu tidak menghalangi kebahagiaan putri saya."
Diandra menggeleng.
"Saya nggak pernah menghalangi Serly."
Suaranya semakin bergetar.
"Justru dia yang terus masuk ke dalam rumah tangga saya. Dia pergi begitu saja, lalu kembali membawa masalahnya sendiri dan membuat kehidupan saya bersama Bastian berantakan."
Diandra mengusap air matanya.
"Kalau Om ingin menyalahkan seseorang, seharusnya Om juga menasihati putri Om agar berhenti—"
Plak!
Tamparan kedua kembali mendarat di pipinya.
Kali ini lebih keras.
Diandra terhuyung. Sudut bibirnya terasa perih dan darah tipis mulai terlihat.
Kepalanya berdenyut.
Namun anehnya, rasa sakit itu justru terasa lebih mudah diterima daripada luka yang selama ini bersarang di dadanya.
Dia tertawa kecil dengan getir.
"Segitu saja?"
Abian mengerutkan kening.
Diandra mengangkat wajahnya.
"Kalau Om memang membenci saya, tampar saja lagi."
"Jangan menantang saya."
Diandra tetap diam.
Abian yang emosinya sudah tidak terkendali akhirnya melayangkan tamparan berikutnya.
Tubuh Diandra terhuyung dan hampir kehilangan keseimbangan. Dia jatuh ke samping, sementara darah dari sudut bibirnya kembali menetes.
Beberapa detik dia hanya terdiam.
Bukan karena tidak merasakan sakit.
Melainkan karena untuk pertama kalinya, rasa sakit di tubuhnya terasa lebih sederhana daripada rasa sakit di hatinya.
Setidaknya luka di pipinya bisa sembuh.
Tapi luka karena merasa tidak pernah menjadi seseorang yang dipilih, dilindungi, dan diperjuangkan...
Diandra tidak tahu kapan luka itu akan benar-benar menghilang.
Diandra justru tertawa.
Bukan karena merasa lucu, melainkan karena air mata terus mengalir di pipinya. Tawa getir itu membuat suasana terasa semakin menyakitkan.
"Kamu masih bisa tertawa?"
Abian berjongkok di hadapannya.
"Kamu sengaja menantang saya?"
Dalam luapan emosi, Abian mencengkeram kerah pakaian Diandra dan menatapnya tajam.
Diandra sama sekali tidak menundukkan kepala. Dia membalas tatapan pria itu tanpa rasa gentar.
"Berani sekali kamu menyuruh putri saya mengakhiri hidupnya."
Suara Abian bergetar menahan amarah.
"Serly sedang berjuang menghadapi masalahnya, tapi kamu malah membuatnya merasa tidak berharga."
Diandra menggeleng.
"Kalau Om mau percaya, saya tidak pernah mengatakan hal seperti itu kepada Serly."
"Dia yang memfitnah saya."
"Diam!"
Abian semakin emosi. Tangannya masih mencengkeram pakaian Diandra.
Diandra menarik napas panjang, lalu berkata dengan suara lirih.
"Saya nggak pernah melakukan apa yang Om tuduhkan."
Abian menatapnya tajam.
"Saya bisa saja membuat hidupmu hancur sekarang."
Diandra tersenyum pahit.
"Kalau memang semua orang menganggap saya sumber masalah, mungkin saya memang seharusnya pergi."
Tatapannya tetap teguh.
Namun saat Abian kembali menatap wajah Diandra, ekspresinya mendadak berubah.
Ada sesuatu pada mata perempuan itu.
Sesuatu yang terasa sangat familiar.
"Mata itu..."
Cengkeramannya perlahan mengendur.
Abian terdiam, seolah baru saja melihat bayangan seseorang dari masa lalu.
"DIANDRA!"
Suara Sean tiba-tiba menggema di rooftop.
Dia berlari menghampiri mereka dan langsung mendorong Abian menjauh dari Diandra.
"Apa yang Papa lakukan?!"
Sean berdiri di depan Diandra, melindunginya. Tatapannya penuh kemarahan kepada sang ayah.
Jika Abian bukan ayahnya sendiri, mungkin Sean sudah kehilangan kendali.
"Papa boleh marah kepada siapa pun, tapi bukan berarti Papa berhak memperlakukan perempuan seperti ini!"
Sean membantu Diandra berdiri.
"PAPA ADALAH ORANG PALING PENGECUT YANG PERNAH AKU TEMUI!"
Suara Sean menggema.
"Orang kuat itu bukan yang bisa menyakiti perempuan ketika sedang marah. Orang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya sendiri."
Abian terdiam.
Tatapannya kembali jatuh pada Diandra.
Terutama pada mata perempuan itu.
Mata yang entah mengapa membuat kenangan lama yang sudah bertahun-tahun dia kubur kembali muncul ke permukaan.