Dulu, dia adalah preman yang hidup dari kekerasan dan ditakuti banyak orang. Namanya dikenal di jalanan, tangannya penuh darah, dan masa depannya seolah tidak akan pernah berubah.
Sampai sebuah kejadian memberinya kesempatan kedua.
Terbangun dengan kehidupan baru, dia justru memilih jalan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya menjadi seorang polisi.
Namun, kebiasaan lamanya belum hilang. Cara berpikirnya terlalu liar, instingnya terlalu tajam, dan metode penyelidikannya sering kali membuat rekan-rekannya geleng-geleng kepala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Revan menyadari satu hal yang sangat aneh.
Semua tangan itu hilang!
Hal yang sama terjadi pada ketiga korban. Tangan mereka yang telah dipotong tidak ditemukan di tempat kejadian perkara, bahkan sampai sekarang masih belum diketahui keberadaannya. Tanpa ragu, tangan-tangan itu pasti telah dibawa pergi oleh pelakunya!
Tapi kenapa pelaku membawa tangan mereka?
Menurut pemahaman Revan, ada kemungkinan pelaku menganggap tangan-tangan tersebut sebagai semacam trofi.
Dia mungkin menyimpan tangan para korbannya sebagai koleksi pribadi. Setiap kali melihat tangan tersebut di kemudian hari, rasa dendam dan kebencian yang tersimpan di dalam dirinya mungkin akan sedikit terpuaskan.
Perilaku seperti ini sangat mirip dengan beberapa kasus balas dendam yang pernah Revan tangani. Karena itu, dia merasa bahwa Kasus Tangan Hilang ini kemungkinan besar merupakan bentuk pembalasan dendam.
Target pelaku mungkin sudah dipilih sejak awal, bukan korban acak.
Revan menyimpulkan bahwa ketiga korban mungkin pernah menyinggung atau menyakiti pelaku sebelumnya, entah secara sengaja maupun tidak sengaja. Karena itulah pelaku memotong tangan mereka sebagai bentuk balas dendam!
Tapi...
Kebencian macam apa yang bisa membuat seseorang sampai tega memotong tangan orang lain?
Dan yang lebih aneh lagi, kenapa yang dipotong selalu tangan kanan?
Kenapa bukan tangan kiri?
Sama seperti penyelidikan sebelumnya, begitu Revan mencoba melihat kasus ini dari sudut pandang tersebut, dia kembali menemui jalan buntu.
Hasil penyelidikan menunjukkan bahwa ketiga korban tidak memiliki catatan buruk ataupun musuh yang jelas.
Menurut rekan kerja, tetangga, dan keluarga mereka, ketiganya dikenal sebagai orang yang cukup baik. Mereka bukan tipe orang yang suka mencari masalah atau membuat musuh.
Lebih aneh lagi, ketiganya bahkan tidak saling mengenal.
Jalan hidup mereka tidak pernah bersinggungan sedikit pun.
Lalu kenapa mereka bisa terseret ke dalam kasus pembunuhan yang begitu kejam dan tidak masuk akal?
Apa sebenarnya yang terjadi?
Dan siapa sebenarnya orang yang memotong tangan mereka?
Semakin Revan memikirkannya, semakin dia merasa seperti masuk ke dalam labirin tanpa jalan keluar.
Dia terus berputar di tempat yang sama.
Semakin dicari jawabannya, semakin banyak pertanyaan baru bermunculan.
Perlahan-lahan, kepalanya terasa semakin berat.
Suara dari alat pendengar di telinganya bahkan mulai terdengar samar. Jangankan menganalisis kasus, mendengar percakapan orang lain saja sudah terasa sulit.
Untungnya, Revan tidak melupakan satu hal penting.
Dia masih bisa mengandalkan Sistem Keajaiban yang ada di dalam kepalanya.
Karena waktu sudah lewat tengah malam dan hari baru telah dimulai, seharusnya dia bisa melakukan perhitungan sekali lagi!
Revan mengambil sebatang rokok, lalu menyalakannya.
Namun baru saja asap rokok memenuhi ruangan, tiba-tiba terdengar suara batuk keras dari arah ruang kerja Tim A.
Saat fajar mulai menyingsing, Revan terbangun karena suara alarm dari ponselnya sendiri.
"Hanya padamu...Hanya padamu..."
Revan terkejut dan langsung duduk tegak!
Baru saat itu dia sadar bahwa dirinya ternyata tidak pulang semalaman.
Dia malah tertidur di atas meja kantor.
"Oh, iya..."
Tiba-tiba Revan teringat sesuatu yang terjadi sebelum dirinya tertidur tadi malam.
Sepertinya dia sempat mengaktifkan Sistem Keajaiban dan melakukan sebuah perhitungan.
Tapi apa hasilnya tadi?
Revan menggaruk-garuk kepalanya.
Dia bahkan tidak ingat judulnya, apalagi hasil perhitungannya!
Malam tadi dia benar-benar terlalu lelah. Begitu memejamkan mata, dia langsung tertidur.
"Hanya padamu...Hanya padamu..."
Ponselnya masih terus bergetar di atas meja.
Revan membuka kunci layar ponselnya dan langsung terkejut ketika melihat nama penelepon.
Ternyata yang menelepon adalah Siska, putri pemilik kos tempat Revan tinggal, Pak Jaya.
Revan melirik jam tangannya.
Sudah lewat pukul tujuh pagi.
Seharusnya Siska sudah berangkat sekolah sekarang.
"Kenapa dia menelepon aku pagi-pagi begini?"
Revan sebenarnya tidak ingin mengangkatnya.
Namun ponsel itu terus berdering tanpa henti.
Dia khawatir Siska mungkin mempunyai sesuatu yang penting untuk disampaikan. Akhirnya, Revan menekan tombol jawab.
"Huft... akhirnya diangkat juga!"
Suara Siska terdengar lega dari seberang telepon.
"Eh... Pak kamu di mana? Sepertinya kamu nggak pulang tadi malam, ya? Aku juga sudah kirim pesan lewat WhatsApp. Kamu sudah baca belum?"
"Aku lembur. Ada apa?"
Jawaban Revan terdengar ketus.
"Yah...Pak kamu... anu..."
Siska terdengar gugup.
Sepertinya ada sesuatu yang sulit dia katakan.
"Bicara yang cepat. Aku masih punya kasus yang harus diselesaikan."
Revan mulai tidak sabar.
Dia segera menyalakan alat pendengar untuk memeriksa apakah ada perkembangan baru dari Pak Dimas dan anggota timnya.
"Begini saja..."
Siska menarik napas.
"Aku nggak bisa menjelaskannya lewat telepon. Aku akan segera datang ke kantor polisi tempat kamu bekerja. Kamu bisa keluar sebentar?"
Nada suaranya terdengar cemas dan kata-katanya keluar dengan cepat.
"Aduh, aku sedang menangani masalah serius!"
Revan semakin tidak sabar.
"Kalau memang ada sesuatu, bukannya bisa dibicarakan besok?"
"Besok sudah nggak ada gunanya!"
Siska terdengar semakin panik.
"Pokoknya... kamu..."
Dia seperti mengumpulkan keberanian sebelum akhirnya berkata keras,
"Bukankah kamu pernah bilang kita ini partner?"
Revan terdiam.
"Jadi sekarang aku sedang dalam masalah. Kamu harus bantu aku! Kita sudah sepakat, kan?"
Mendengar itu, Revan mulai merasa tidak enak.
Jangan-jangan ada seseorang yang sudah mengetahui soal kejadian nomor ponsel yang dia curi?
Kalau benar begitu, masalahnya bisa menjadi besar.
"Baiklah, baiklah..."
Revan akhirnya menyerah.
"Aku takut sama kamu. Aku keluar sekarang, oke?"
Setelah mengakhiri panggilan, Revan tidak langsung meninggalkan ruangan.
Dia kembali menyalakan alat pendengar dan memeriksa keadaan Tim B.
Namun yang terdengar hanya keheningan.
Revan tidak yakin apakah situasi di sana sudah berubah atau belum.
Dia langsung berlari keluar ruangan dan menuju koridor.
Sesampainya di depan ruang Tim B, Revan bersandar di jendela lalu mengintip ke dalam.
Begitu melihat keadaan di dalam, dia langsung merasa lega.
Ternyata seluruh anggota Tim B sama sepertinya.
Mereka semua tertidur di atas meja kerja masing-masing!
Hanya ketua tim, Pak Dimas, yang masih berdiri di depan papan tulis sambil memikirkan kasus tersebut dengan serius.
Syukurlah mereka belum memecahkan kasusnya!
Revan merasa jauh lebih tenang.
Baru setelah itu dia merapikan rambut dan pakaiannya sebelum berjalan menuju gerbang utama kantor polisi.
Ketika sampai di sana, Siska ternyata sudah menunggunya.
Gadis itu masih mengenakan seragam sekolah.
Angin pagi yang berembus membuat rambutnya sedikit berantakan. Wajahnya terlihat tegang, sementara matanya bergerak gelisah ke sana kemari.
Begitu melihat Revan, dia langsung berdiri.
Revan tidak banyak bicara.
Dia langsung menarik Siska ke sebuah gang kecil di samping kantor polisi.
"Bicara. Kenapa kamu mencariku?"
Sambil berbicara, mata Revan tiba-tiba melihat sesuatu di saku samping tas sekolah Siska.
Sebotol teh pucuk yang masih belum dibuka.
Tanpa ragu, Revan mengambilnya.
Dia membuka tutup botol tersebut lalu langsung meneguknya.
Siska masih sibuk memikirkan masalahnya sendiri sehingga sama sekali tidak peduli dengan teh miliknya.
Dia membuka mulut beberapa kali.
Namun tidak ada satu kata pun yang keluar.
Setelah mengumpulkan cukup keberanian, akhirnya Siska menatap Revan.
"Pak Revan..."
"Hm?"
"Bisakah kamu jadi ayahku hari ini?"
"BUUAAKKK!"
Revan langsung menyemburkan teh dari mulutnya.
Karena terlalu kaget, sebagian teh bahkan keluar dari hidungnya.
"Huek! Huek! Huek!"
Wajah Revan langsung berantakan.
Dia terbatuk-batuk sambil menggunakan lengan bajunya untuk mengelap wajah.
Siska buru-buru menjelaskan,
"Jadi pagi ini ada rapat orang tua murid. Semua orang tua wajib datang. Aku cuma bisa mencari kamu!"
"Kalau ayahku yang datang, aku bisa mati!"
"Berhenti!"
Revan mengangkat tangannya dengan wajah penuh kebingungan.
"Kamu... aku... jadi ayahmu?"
Dia menunjuk dirinya sendiri.
"Apa aku kelihatan setua itu? Kenapa nggak sekalian aku jadi kakakmu?"
"Kamu cuma boleh jadi ayahku!"
Siska menjawab dengan wajah serius.
"Aku bahkan sudah menyadap informasi dari ponsel ayahku dan menyalinnya ke ponsel kamu. Guruku nggak akan tahu!"
"Njirlah..."
Revan hampir berlutut.
"Sis, kamu sebenarnya cocok kerja di kantor polisi!"
Dia menatap Siska dengan tidak percaya.
"Kamu profesional banget!"
"Tolonglah!"
Siska langsung memohon.
"Rapat orang tua dimulai jam delapan. Aku bayar ongkos taksimu, bagaimana?"
"Sudah cukup!"
Revan memasang wajah tegas.
"Kalau ayah kandung lo sampai tahu, gue bisa diusir dari tempat kos! Lo ngerti nggak?"
"Kenapa nggak menyewa orang lain saja?"
"Gue nggak mungkin pergi!"
Revan menunjuk dirinya sendiri.
"Terus terang saja, hari ini gue benar-benar punya kasus penting yang harus diselidiki."
Dia kemudian mengibaskan tangan.
"Sudah, sana! Cepat!"
"Kalau tidak, lo bisa terlambat!"
Revan sudah kehilangan selera untuk minum teh.
Dia menutup kembali botol tersebut, lalu mengembalikannya kepada Siska.