Reyhan Mahardika adalah seorang aktor figuran gagal yang nasibnya berubah drastis setelah ia diikat oleh Sistem Pemeran Penjahat Profesional yang menjanjikan karier legendaris. Namun keberuntungan itu berubah menjadi mimpi buruk ketika setiap adegan pembunuhan yang ia perankan di depan kamera tiba-tiba terjadi di dunia nyata dengan pola yang sama persis. Publik dan polisi, termasuk Detektif Alena Prameswari yang cerdas dan dingin, mulai mencurigainya setelah sebuah video aktingnya yang terlalu realistis tersebar ke internet. Kini Reyhan harus membuktikan dirinya tidak bersalah sambil terus menjalankan misi dari sistem misterius itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Reyhan mengangguk mantap tanpa ragu sedikit pun.
"Aku mengerti, dan kebetulan aku punya satu petunjuk baru untukmu."
"Petunjuk apa?" tanya Alena tertarik.
"Sebelum penguntit di gang waktu itu kabur, dia sempat mengatakan sesuatu tentang bayarannya."
Reyhan mulai mengarang cerita untuk menyamarkan informasi dari sistem.
"Dia bilang dia dibayar menggunakan uang crypto agar tidak bisa dilacak."
"Kalau kau punya kenalan ahli IT atau peretas di kepolisian, minta dia melacak aliran dana transaksi itu."
"Mungkin kita bisa menemukan dari mana asal uang bajingan itu."
Mata Alena langsung berbinar mendengar ide tersebut.
"Itu ide yang sangat bagus, Reyhan."
"Aku punya kenalan seorang peretas lepas yang masih berutang budi padaku."
"Aku akan langsung menyuruhnya melacak aliran dana crypto itu malam ini juga."
Mobil polisi itu terus melaju menembus jalanan Jakarta yang mulai sepi.
Beberapa saat kemudian, mereka berhenti di depan sebuah kompleks apartemen tua yang terlihat sangat tidak terawat.
"Ini tempatnya," kata Anton sambil menunjuk ke lantai tiga.
"Kunci kamar nomor 302 ada di bawah pot tanaman hias yang sudah mati di depan pintu."
Reyhan segera membuka pintu mobil untuk turun.
Sebelum ia benar-benar keluar, Alena memanggilnya dari kursi belakang.
"Reyhan."
"Ada apa lagi?"
"Terima kasih untuk kejadian di atap tadi."
Reyhan tersenyum tipis ke arah wanita itu.
"Sama-sama, Detektif."
"Pastikan saja kau tidak mati konyol sebelum kita menangkap bajingan bertopeng itu."
Reyhan menutup pintu mobil dan berjalan menuju tangga apartemen.
Ia menemukan kunci yang dimaksud Anton dan masuk ke dalam ruangan yang minim perabotan itu.
Reyhan langsung mandi dengan air hangat seadanya dan menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur busa yang tipis.
Kelelahan fisik dan mental langsung menghantam kesadarannya.
"Sistem," panggil Reyhan di dalam kepalanya.
[Sistem siap melayani, Host.]
"Apa yang sebenarnya akan terjadi jika aku terus-menerus gagal menyelamatkan target dari pembunuh itu?"
[Sistem akan mengevaluasi tingkat kegagalan Host secara berkala.]
[Jika kegagalan beruntun terjadi dan nilai Reputasi Host mencapai titik terendah absolut.]
[Sistem akan menganggap Host tidak lagi layak menjadi seorang 'Penjahat Profesional'.]
[Sebagai kompensasinya, Sistem akan mencabut nyawa Host saat itu juga.]
Reyhan menelan ludahnya yang tiba-tiba terasa sangat kasar.
Sistem ini benar-benar tidak kenal ampun dan sangat mematikan.
"Baiklah, aku mengerti."
"Aku pastikan aku tidak akan pernah gagal lagi."
Keesokan paginya, Reyhan terbangun oleh suara ketukan keras yang bertubi-tubi dari arah pintu depan.
Tok! Tok! Tok!
Reyhan langsung melompat dari kasur dan mengambil pisau dapur yang ada di meja pantry.
Ia mengintip dari lubang kunci dengan sangat hati-hati.
Ternyata itu adalah Alena.
Ceklek.
Reyhan membuka pintu dan Alena langsung menerobos masuk dengan wajah yang terlihat sangat lelah.
"Ada apa, Alena? Kau terlihat seperti belum tidur semalaman," kata Reyhan sambil meletakkan pisau dapurnya kembali.
Alena duduk di sofa yang sudah usang dan langsung membuka laptop yang dibawanya.
"Kau benar tentang uang crypto itu, Reyhan."
"Temanku berhasil menembus lapisan pelindung pertama dari transaksi dompet digital anonim tersebut."
Alena memutar layar laptopnya agar Reyhan bisa melihat grafiknya.
"Uang itu dikirim dari sebuah dompet digital yang server utamanya disembunyikan di luar negeri."
"Tapi temanku menemukan sebuah pola transaksi yang sangat aneh."
"Pola apa maksudmu?" tanya Reyhan penasaran.
"Setiap kali dompet anonim itu melakukan transfer dalam jumlah besar ke rekening gelap."
"Waktu transaksinya selalu bertepatan dengan tanggal pencairan dana donasi dari sebuah yayasan amal."
Reyhan mengerutkan keningnya dalam-dalam.
"Yayasan amal?"
"Ya, namanya Yayasan Pelita Hati."
"Yayasan ini bergerak di bidang bantuan hukum gratis dan rehabilitasi bagi mantan narapidana."
Reyhan terdiam memikirkan nama itu.
"Tunggu dulu, Alena."
"Hakim Sudarsono semalam tewas di acara lelang amal, kan?"
"Tepat sekali," jawab Alena sambil mengangguk.
"Dan coba tebak siapa penyelenggara utama acara lelang amal tersebut?"
"Jangan bilang kalau itu Yayasan Pelita Hati," tebak Reyhan.
"Memang mereka penyelenggaranya."
Benang merahnya akhirnya mulai terlihat jelas di mata Reyhan.
"Pembunuh ini pasti menggunakan yayasan amal itu sebagai kedok."
"Dia mencuci uang dari sana untuk membiayai semua 'pertunjukan' gilanya ini," analisis Reyhan.
"Kemungkinan besar memang begitu," Alena menutup laptopnya dengan kasar.
"Atau, ada seseorang dari jajaran petinggi yayasan itu yang menggunakan aksesnya secara diam-diam."
"Kita harus segera menyelidiki yayasan itu, Alena."
"Masalahnya tidak semudah itu, Reyhan."
Alena mendesah berat sambil menyandarkan punggungnya ke sofa.
"Yayasan Pelita Hati didukung langsung oleh banyak pejabat tinggi pemerintahan dan pengusaha super kaya di negeri ini."
"Aku tidak bisa sembarangan datang ke sana dan menyita data keuangan mereka tanpa surat perintah dari pengadilan."
"Dan atasanku di Mabes Polri pasti tidak akan pernah mau menandatangani surat perintah itu."
Reyhan tersenyum penuh arti mendengar keluhan detektif itu.
Kemampuan Karisma dan Akting yang ia dapatkan dari sistem sepertinya akan sangat berguna untuk masalah ini.
"Kau tidak butuh surat perintah resmi dari siapa pun, Detektif."
"Aku yang akan masuk ke dalam yayasan itu untukmu."
Alena menatap Reyhan dengan pandangan tidak percaya.
"Kau sudah gila, ya?"
"Wajahmu itu sekarang sedang terpampang di halaman depan semua media berita!"
"Kalau kau nekat ke sana, mereka akan langsung mengenalimu dan memanggil polisi!"
"Tenang saja," jawab Reyhan dengan nada sangat percaya diri.
"Seorang aktor profesional tahu betul bagaimana cara mengubah penampilannya."
Reyhan berjalan menuju cermin kecil yang retak di dinding apartemen itu.
"Lagi pula, aku harus menebus kegagalanku menyelamatkan hakim semalam."
Permainan ini baru saja memasuki babak kedua.
Dan Reyhan sudah siap untuk memberikan pertunjukan penyamaran terbaik yang belum pernah dilihat oleh siapa pun.