NovelToon NovelToon
KONTRAK LIMA MILIAR

KONTRAK LIMA MILIAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: mbu'na Banafsha

"Menikahlah dengan saya, utang studio ibumu sudah pasti saya lunaskan"

"Siapa yang sedang Anda lamar, Tuan?"

"Tidak ada perempuan lain di ruangan ini."

"Apa Anda sedang mengajukan pernikahan transaksional?"

"Itu hakmu untuk menyimpulkan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20. TAK BISA MENUNGGU

BAB 20. Tak Bisa Menunggu

Notifikasi baru kembali muncul di layar ponsel Hagia. Pengirimnya masih sama. Nika. Hagia segera membuka pesan tersebut.

Tapi ada masalah lain. Beberapa dokumen asli untuk tahap berikutnya masih ada di studio. Konsultan struktur juga mengirim revisi yang harus kamu lihat langsung. Ukurannya terlalu besar untuk dikirim lewat email.

Kalau sempat, datanglah ke studio. Kita akan menyelesaikan semuanya dalam sekali pertemuan.

Hagia segera membalas.

Jangan jadwalkan siapa pun datang ke studio saat aku di sana. Aku hanya punya waktu sebentar.

Balasan Nika datang hampir seketika.

Sudah kuatur. Studio tetap berjalan seperti biasa. Tidak ada seorang pun yang tahu urusan Xavier berkaitan dengan tempat itu.

Jadi tenang saja. Tinggal datang, lihat dokumenmu, lalu pulang.

Hagia menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia melirik jam di sudut layar. Masih cukup siang. Kalau berangkat sekarang, ia seharusnya sudah kembali sebelum Kalandra menyelesaikan pekerjaannya di kantor.

Jemarinya mulai bergerak di atas layar. Pandangannya beralih ke arah meja makan di luar kamar. Beberapa wadah makanan yang dimasak Kalandra masih tertata rapi. Uapnya memang telah lama menghilang, tetapi perhatian pria itu masih terasa memenuhi ruangan. Senyum kecil tanpa sadar terbit di wajahnya.

"Maaf, Tuan," gumamnya lirih.

"Hanya sebentar."

Ia menutup laptop abu-abu gelap yang sejak tadi digunakan untuk membuka surat elektronik Xavier. Setelah memastikan seluruh balasan telah terkirim, perangkat itu kembali disimpan di tempat semula, tersembunyi di balik tumpukan map dalam lemari pakaian. Tidak seorang pun boleh mengetahui keberadaannya.

Hari ini ia tidak memerlukan laptop tersebut. Seluruh dokumen yang harus diperiksa telah menunggunya di Studio Amara.

Beberapa menit kemudian, pintu penthouse menutup perlahan. Bangunan Studio Amara berdiri tenang di salah satu sudut Jakarta Selatan. Tidak semegah gedung Arshaka Group, tetapi fasad modern dengan dominasi kaca dan batu alam itu masih memancarkan karakter yang dulu dirancang langsung oleh Amara.

Begitu melangkah masuk, aroma khas kertas gambar, tinta cetak, dan kayu dari ruang maket langsung menyambut Hagia. Beberapa karyawan yang sedang bekerja spontan berdiri.

"Selamat siang, Bu Hagia."

Hagia membalas dengan anggukan dan senyum tipis. "Silakan lanjutkan pekerjaan kalian."

Tidak ada yang berusaha mengajaknya berbincang. Mereka sudah terbiasa melihat pemilik studio itu datang hanya ketika benar-benar diperlukan. Dari ujung koridor, seorang perempuan berambut cokelat gelap segera menghampiri. Usianya tidak jauh berbeda dengan Hagia. Setelan kerja berwarna dasty yang dikenakannya tampak sederhana, tetapi rapi. Wajah perempuan itu memancarkan ketegasan yang sama seperti ketika Hagia pertama kali merekrutnya di luar negeri beberapa tahun lalu.

"Haii."

Sapaan itu terdengar pelan. Hanya mereka berdua yang memahami maknanya. Hagia mengangguk kecil.

"Bagaimana perkembangannya?"

"Semuanya berjalan sesuai jadwal."

Nika menyerahkan sebuah map tebal. "Seluruh revisi sudah saya tandai. Tim konsultan hanya menunggu keputusan terakhir dari Anda."

Keduanya memasuki ruang kerja Amara. Ruangan itu nyaris tidak berubah sejak terakhir kali Hagia berada di sana. Rak-rak berisi buku arsitektur masih memenuhi salah satu sisi dinding. Beberapa penghargaan yang dahulu diterima Amara tetap tersusun rapi di dalam lemari kaca. Di atas meja kerja, sebuah foto Amara yang sedang tersenyum masih berada di tempat yang sama.

Langkah Hagia sempat terhenti. Tatapannya melekat beberapa detik pada foto itu sebelum akhirnya ia menarik napas pelan. Nika memilih diam. Ia mengetahui kebiasaan Hagia setiap kali memasuki ruangan tersebut. Tanpa perlu dipersilakan, Hagia membuka map yang dibawanya. Lembar demi lembar gambar teknik terbentang memenuhi meja.

Keduanya langsung membahas revisi secara mendetail. Tidak ada pembicaraan di luar pekerjaan. Sesekali Hagia mengambil pensil, memberi tanda pada beberapa bagian gambar, lalu menjelaskan alasan teknis di balik setiap keputusan yang diambilnya. Nika hanya mencatat. Tidak pernah membantah. Tidak pula mengajukan pendapat sebelum diminta. Hubungan kerja mereka telah terbentuk selama bertahun-tahun. Kepercayaan menjadi dasar dari setiap keputusan yang diambil.

Hampir dua jam berlalu tanpa terasa. Ketika gambar terakhir kembali dimasukkan ke dalam map, Nika menutup buku catatannya.

"Kalau begitu, saya akan meneruskan keputusan ini kepada tim konsultan."

"Ya."

Hagia berdiri sambil merapikan beberapa lembar dokumen. "Pastikan tidak ada perubahan lagi setelah ini."

"Baik."

Sebelum meninggalkan ruangan, Nika kembali membuka suara.

"Senang melihatmu datang ke sini."

Hagia menoleh. "Aku juga."

Jawaban itu singkat. Namun, keduanya memahami bahwa yang dimaksud bukan sekadar kunjungan ke studio. Melainkan kembalinya Xavier, meski hanya untuk memastikan satu proyek terakhir tetap berjalan sebagaimana mestinya.

Sementara itu, suasana di lantai eksekutif Arshaka Group jauh berbeda. Sejak rapat direksi berakhir pagi tadi, ruang CEO nyaris tidak pernah benar-benar lengang. Satu agenda selesai, agenda berikutnya langsung dimulai tanpa memberi jeda. Berkas yang telah ditandatangani segera dibawa keluar oleh sekretaris, bergantian dengan map baru yang telah menunggu untuk diperiksa.

Ketukan pintu kembali terdengar.

"Masuk."

Sekretaris pribadi Kalandra melangkah masuk sambil membawa tablet berisi agenda mingguan.

"Pak, rapat evaluasi proyek kawasan timur yang semula dijadwalkan hari Kamis bisa dipindahkan sore ini. Seluruh peserta menyatakan siap."

Kalandra mengangkat pandangan sekilas. "Pindahkan."

"Baik, Pak.".Sekretaris itu mencatat perubahan tersebut sebelum melanjutkan. "Konferensi dengan investor Singapura juga bersedia dimajukan satu hari."

"Masukkan setelah rapat evaluasi."

"Baik."

Tablet kembali ditutup. Belum sempat sekretaris keluar, telepon internal di atas meja berdering. Kalandra langsung mengangkatnya.

"Ya."

Beberapa detik ia mendengarkan laporan dari kepala divisi pengadaan.

"Oke. Kirim revisinya sekarang."

Sambungan pum berakhir. Tak lama berselang, tim legal kembali memasuki ruangan membawa dokumen kerja sama yang telah diperbarui.

"Seluruh perubahan sudah kami sesuaikan dengan arahan Bapak."

Kalandra membaca halaman terakhir dengan cepat. Setelah memastikan seluruh klausul telah sesuai, ia membubuhkan tanda tangan.

"Kirim hari ini."

"Baik, Pak."

Mereka segera keluar. Belum ada lima menit berlalu, giliran kepala divisi keuangan datang membawa laporan anggaran yang harus mendapat persetujuan sebelum jam operasional bank berakhir. Aktivitas di ruang CEO terus berlangsung tanpa henti. Beberapa staf yang melintas di depan ruang kerja mulai saling bertukar pandang.

"Hari ini Pak Kalandra seperti mengejar sesuatu."

"Saya juga baru lihat agenda sepadat ini."

"Mungkin ada proyek baru."

Mereka hanya bisa menebak. Tidak seorang pun mengetahui alasan sebenarnya. Bahkan sekretaris pribadi Kalandra pun hanya menjalankan setiap instruksi tanpa pernah mempertanyakan perubahan-perubahan yang terjadi sepanjang hari.

Menjelang pukul empat sore, map terakhir akhirnya ditutup. Kalandra melirik jam tangan di pergelangan kirinya. Setelah memastikan tidak ada lagi dokumen yang harus diselesaikan hari itu, ia berdiri, mengambil jas yang tergantung di sandaran kursi, lalu keluar dari ruangannya.

"Kalau ada yang mendesak, hubungi saya."

"Baik, Pak."

Sekretaris itu mengangguk hormat. Ia memperhatikan punggung Kalandra yang berjalan menuju lift eksekutif dengan raut heran. Biasanya, pada jam seperti itu sang CEO masih berada di ruang kerjanya. Namun sore itu, pria tersebut justru meninggalkan kantor lebih awal daripada kebiasaannya.

Di sisi lain kota, Hagia baru saja berpamitan kepada Nika. Map berisi gambar teknik telah kembali tersimpan rapi di dalam lemari arsip. Seluruh keputusan yang diperlukan untuk proyek pemerintah itu juga telah disampaikan kepada tim konsultan melalui Nika.

"Kalau ada perkembangan baru, kabari saya."

"Tentu, Chief."

Hagia mengangguk kecil sebelum meninggalkan studio. Begitu duduk di dalam taksi, tubuhnya perlahan bersandar pada sandaran kursi. Rasa lelah yang sejak tadi tertahan mulai terasa. Ia memejamkan mata beberapa saat. Di tengah keheningan perjalanan, nada notifikasi terdengar dari dalam tasnya. Hagia membuka ponsel. Sebuah pengingat digital muncul di layar.

Pengingat: Perkiraan jadwal menstruasi tiga hari lagi. Periksa persediaan kebutuhan pribadi.

Hagia mengembuskan napas pelan.

Kalau bukan karena pengingat itu, ia benar-benar sudah melupakannya. Hari-harinya bersama Kalandra berjalan begitu padat hingga urusan pribadi yang sederhana pun nyaris terabaikan. Tepat saat itu, taksi melintas di depan sebuah swalayan kecil.

"Pak, bisa berhenti sebentar?"

"Tentu."

Pengemudi segera menepikan kendaraan. Hagia masuk hanya beberapa menit. Ketika kembali keluar, sebuah kantong belanja kecil telah berada di tangannya. Isinya tidak banyak. Hanya satu kebutuhan pribadi yang memang harus segera disiapkan. Ia kembali duduk di kursi belakang taksi sambil melirik jam di layar ponselnya. Masih belum terlalu sore. Dalam benaknya, Kalandra pasti masih disibukkan oleh pekerjaan di kantor.

Tanpa disadarinya, pada saat yang hampir bersamaan, sebuah mobil hitam telah lebih dahulu memasuki area parkir pribadi penthouse.

Next--->

1
alfian Agel
bagus
🍾⃝ sͩᴀᷞᴍͧsᷡʏͣ ⏤͟͟͞R
baru sempet mampir Mbu🙏
semoga bukunya sukses
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
ternyata pernah ngalamin kekurung diruangan juga Kalandra, tapi dia terkurung apa di kurung mamanya ya 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
apakah yang terjadi dengan Hagia disengaja 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
syukurlah Hagia gak kenapa napa
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
semoga saja Hagia selamat 🤲
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
cepat tolongin Hagia Kalandra 😔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
Hagia terkurung dia ruang arsip 🤔
semoga saja ada yang menolong 😔🤲
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
makan pun yang dibahas soal kerjaan dan harga diri, apa orang kaya kalau makan selalu begitu ya 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
kan kan benar Kalandra dah curiga 🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
sepertinya Kalandra mulai curiga 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
ini apa maksudnya ya , apa sebenarnya dia sudah tau siapa Hagia 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
semangat Hagia, semoga berhasil mengerjakan tantangan itu💪
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
gimana ya rasanya jadi Hagia,
pada penasaran dengan sosoknya, tapi dia ada didepan orang² yang penasaran padanya 🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
wah gimana reaksi mereka kalau tau orang yang mereka cari berada dalam ruangan yang sama mereka 🤔🤭
sunshine wings
bagus ceritanya.. 👍👍👍👍👍
enak dibaca.. ❤️❤️❤️❤️❤️
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
Angga Gati
ah dgantung....lanjut kal👍
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
gak papa terlambat Hagia🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
studio itu ternyata peninggalan mendiang ibunya Hagia, kirain ibunya masih ada 🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
Kalandra sama Hagia sama² terdesak 🤭🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!