wanita miskin yg biasa-biasa saja tiba tiba jadi putri bangsawan?
violenne lavienna arabelle wanita biasa berusia 29 tahun,yg bekerja di kota Nanterre,Paris.
Dia adalah wanita yg tidak mendapatkan peran keluarga,dan tidak tahu apa itu 'pulang' dia selalu bekerja keras untuk mewujudkan mimpinya yaitu memiliki keluarga yg harmonis.
usahanya sedikit lagi akan membuahkan hasil tapi...takdir berkata lain.dia tiba tiba saja mati,bukan tertabrak,bukan tertembak,bukan juga tertusuk,lalu apa?
semuanya terjadi begitu cepat,tanpa ada yg menyadari,ia sendiri juga tidak tahu apa yg sedang terjadi pada dirinya,lalu apakah hidupnya akan berakhir begitu saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon stella bluebell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20 - Pelayan Istana
Setelah setengah hari dipenuhi berbagai kejadian, sore harinya aku diperintahkan menyelidiki istana. "Profesor, kenapa harus aku?" rengekku kepada Profesor Olivia. "Hanya kau yang bisa menggunakan sihir penyamaran untuk menyelinap ke istana," jawabnya sambil memegang pelipis. "Aku bisa merapal sihir penyamaran kepada orang lain," ucapku dengan mata berbinar. "Tidak." Jawaban singkat itu langsung menghilangkan semangatku. "Namamu Violet Fleurine, usia lima belas tahun. Nama yang indah, bukan?" ujar Profesor dengan senyum licik. Jelas sekali dia ingin memasukkanku ke dalam permainan konyolnya.
"Bagaimana kalau seperti ini?" Aku memperlihatkan hasil sihir penyamaranku dengan rambut hijau dan mata ungu. "Mungkin itu terlalu mencolok,Tapi kuserahkan padamu." Aku memang sengaja membuat penampilanku mencolok agar Profesor mengganti orang untuk misi ini. Namun, pada akhirnya aku tetap harus menjalankannya.
"Penyamaran sebagai pelayan lagi. Dasar orang tua," gerutuku di lorong istana. "Sekarang apa yang harus aku lakukan? Aku bahkan belum mengenakan seragam pelayan. Bagaimana kalau aku dikira penyusup?" Benar saja. Saat mencari ruang pelayan untuk meminta pakaian pelayan, aku justru kebingungan saking banyaknya pintu. "Kenapa semua pintunya mewah? Jangan-jangan pelayan juga diberi fasilitas semewah ini?" Aku melihat sebuah pintu yang berbeda. "Apakah itu ruangannya?" Tanpa berpikir panjang, aku membukanya.
"Ada penyusup! Cepat panggil penjaga!"
Rupanya di dalam ruangan sudah berkumpul banyak orang. Bahkan Kak Vian juga ada di sana. Kalau Kak Vian berada di sana, berarti sedang berlangsung pertemuan penting. Dan aku baru saja masuk tanpa permisi. "Lepaskan! Aku bukan penyusup! Kalian salah paham!" teriakku ketika para penjaga menyeretku pergi. "Kalau kau bukan penyusup, lalu kau ini apa?" ejek salah satu penjaga.
Aku sebenarnya bisa saja melarikan diri, tetapi itu hanya akan membuat keributan di seluruh istana. Di tengah perjalanan, para penjaga justru membicarakan seorang gadis dengan kemampuan luar biasa. "Kudengar ada seorang gadis yang sangat hebat dalam sihir." "Aku tahu. Gadis itu adik Wakil Komandan Kesatria, bukan?" "Kalau tidak salah namanya Celestia." "Aku pernah melihatnya tujuh tahun lalu. Begitu melihatnya, aku langsung terpesona oleh kecantikannya." Hei, hei, aku di sini! Cepat lepaskan aku jika kau pernah terpesona oleh kecantikanku, batinku kesal.
"Tapi kekuatan gadis bernama Yuna juga tidak kalah hebat." "Oh, gadis yang membuat Wakil Komandan Kesatria tergila-gila itu?" "Hahaha, benar. Selain kekuatannya luar biasa, otaknya juga cukup gila."
Yuna, ya... Sepertinya dia gadis yang hebat. Bisa membuat kakakku yang tidak tertarik pada apa pun selain pedang sampai meliriknya.
Aku akhirnya dibawa ke pos kesatria untuk diinterogasi. "Renungilah kesalahanmu di sana," ujar salah satu penjaga sambil mendorongku ke dalam sel. "Kau terlalu kasar kepada gadis manis sepertiku." "Kau memang cantik. Sayang sekali kau telah mengganggu Tuan Marcus," balasnya sebelum pergi.
Tuan Marcus? Apakah pria tua yang tadi berteriak saat aku masuk ke ruangan? Padahal aku baru berada di sana sekitar 0,55 detik.
Tak lama kemudian, Komandan Kesatria Kerajaan datang untuk menginterogasiku. Louis Oliver Magnus. Aku pernah bertemu dengannya beberapa kali di rumah Kael. Dia adalah orang yang mengajari Kael teknik berpedang, jadi secara tidak langsung dia adalah guruku. Sayangnya, dia selalu menolak mengajariku karena aku perempuan. Keputusannya mutlak dan sama sekali tidak bisa dibantah. Sangat keras kepala.
"Aku hanya tersesat," jawabku dengan wajah masam.
"Kau bukan pelayan istana. Bahkan jika iya, kau tidak seharusnya mengenakan pakaian seperti itu."
"Aku pelayan baru."
"Pelayan baru, ya? Lalu siapa yang merekomendasikanmu?" tanyanya dengan senyum puas.
"Profesor Olivia," jawabku tenang. Untuk sekarang, jangan menyalahkanku jika aku menggunakan namamu sebagai tameng, Profesor.
"Komandan, penyusupnya telah tertangkap," ujar Nolan, salah satu kesatria yang menemani Komandan Louis. Rupanya memang ada penyusup diistana saat ini.Tiba-tiba Komandan Louis menunduk ke arahku. "Maaf. Sepertinya aku telah salah menangkap orang."
"Komandan!" seru Kak Vall dan Nolan bersamaan.
"Eh, tidak apa-apa. Pelaku aslinya sudah tertangkap, bukan?" sahutku. "Jika kau membebaskanku, aku akan menganggap semua ini tidak pernah terjadi."
"Tidak bisa seperti itu."
Aku tahu masalah ini tidak akan selesai jika terus kutanggapi. Jadi, kulepaskan tali yang mengikat tanganku dengan sihir dan langsung pergi mencari ruang pelayan.
Aku berjalan kembali menyusuri lorong lorong"Eh, apa kau pelayan baru itu?" tanya seorang wanita berseragam pelayan yang baru keluar dari salah satu pintu.
"I-iya."
"Wah, kebetulan sekali. Aku memang sedang mencarimu. Aku Delia. Ini seragammu. Ayo masuk."
Di ruang istirahat para pelayan, Delia menjelaskan struktur kepelayanan istana. Pelayan dibagi menjadi tiga bagian: kebersihan, konsumsi, dan keamanan. Para penjaga serta kesatria juga termasuk pelayan karena berada di bagian keamanan. Aku ditempatkan di bagian konsumsi, sedangkan Delia berada di bagian kebersihan. Karena hari sudah sore, aku baru mulai bekerja keesokan harinya.
Pagi berikutnya, aku pergi ke dapur. Kupikir akan ada banyak pelayan, tetapi ternyata jumlahnya tidak sampai sepuluh orang. Pelayan bagian konsumsi memang tidak banyak diminati karena jika ada seseorang keracunan makanan, pelayan yang bertugas bisa saja dieksekusi.
"Kau Violet, kan? Aku Rena, kepala pelayan di sini. Yang sedang memasak itu kepala koki kami, Nox. Tugasmu hari ini adalah melayani Pangeran Keempat, Pangeran Asher. Pelayan sebelumnya sudah pensiun, jadi mulai sekarang kau menggantikannya. Hati-hatilah. Melayani pangeran Asher cukup berbahaya."
Setelah mengatakan itu, Rena langsung pergi.
Apa-apaan dia? Aku bahkan belum sempat menjawab.
"Tapi kenapa harus melayani pangeran itu?" batinku kesal. Tentu saja aku kesal. Dia adalah pangeran playboy yang sangat sulit diatur. Kalau bisa memilih, aku tidak akan pernah memilihnya.
"Aku harus memasak untuknya, bukan? Tapi... harus memasak apa?" Aku bahkan tidak tahu makanan favorit Pangeran Asher. "Kalau begitu, akan kubuat makanan favoritku saat masih di Bumi saja."
Aku menyiapkan tepung, air, sedikit ragi, dan telur, lalu mengaduknya hingga rata sebelum mengukusnya selama tujuh menit.
"Selesai! Bakpau kukus nomor satu di dunia!" teriakku penuh semangat.
"Hei, Violet. Apa yang kau buat? Kenapa aromanya sangat harum?" tanya Rena penasaran.
"E-e... ini makanan paling enak di dunia. Lebih baik kalian coba yang masih ada di panci. Aku akan menyajikan yang ini untuk Pangeran. Kalau kalian keracunan, jangan salahkan aku."
Aku langsung membawa bakpau tersebut ke kamar Pangeran Asher.
"Permisi, Pangeran."
"Rasakan itu!"
"Aku tidak mau makan makanan hambar, itu. Sangat menjijikkan."
Sepertinya Pangeran salah posisi.
"Saya ada di belakang Anda."
"Bagaimana mungkin?"
Pintu kamar sudah terbuka sejak awal. Tepat sebelum ember tepung jatuh menimpaku, aku menggunakan sihir teleportasi dan berpindah ke belakangnya.
"Oh ya. Makanan hari ini sama sekali tidak hambar. Setidaknya cobalah sekali."
Tanpa basa-basi, aku memasukkan satu bakpau ke dalam mulutnya.
"Apa ini? Kenapa ini sangat enak? Aku belum pernah makan makanan seenak ini. Aku bisa memakan ini setiap hari. Sangat hangat dan lembut, serta lumer di mulut. Berikan aku lagi."
"Maaf, tapi aku tidak akan memberikan masakanku kepada orang yang baru saja mengatakan makananku MENJIJIKAN."
"Apa pun akan kulakukan. Kumohon."
"Baiklah. Habiskan, lalu kembalikan piringnya, cuci, dan bersihkan kamar kotor ini. Selamat tinggal, Pangeran."
"Akan kubalas kau nanti pelayan."
"Huh, sekarang pekerjaanku selesai, bukan? Aku bisa beristirahat sembilan jam ke depan."
Namun, ketika kembali ke dapur, aku justru menemukan sembilan pelayan dan tujuh koki tergeletak pingsan sambil menggenggam bakpau buatanku.
"Apa yang kalian lakukan? Jangan-jangan kalian benar-benar keracunan."
"Oh ya, Pangeran! aku harus segera...!"
"Violet... roti lembut yang kau sebut bakpau ini sangat enak. Sekarang aku merasa seperti berada di surga. Oh, Dewi..."
"Hey, Rena! Sadarlah."
"Sungguh merepotkan. Area Heal!"
Para pelayan langsung tersadar.
"Eh... kenapa aku terbaring di sini?" tanya Rena.
"Apa yang terjadi padaku?" tanya yang lain.
"Bagaimana dengan masakanku?" Nox justru panik. "Pelayan baru,bukan! Violet. Bisakah kau mengajariku cara membuat roti tadi? Dan... apa kau juga bisa mengajariku masakan ajaib lainnya?"
Karena Nox menatapku penuh harap, aku pun mengajarinya membuat bakpau dan beberapa makanan lainnya.
"Baik, kurasa pekerjaanku di sini sudah selesai,Lalu kenapa aku ada ditaman?"
"Permisi, Nona."
Aku menoleh. "Kau Violet, kan? Aku ingin meminta maaf atas ketidaksopananku kemarin."
"Eh, kamu siapa?"
"Serius, kau lupa? Aku Nolan."
"Oh, jadi kau. Maaf, ya. Ada banyak orang yang kutemui tadi, jadi aku sedikit lupa."
"Tidak apa-apa. Ini ada surat untukmu."
Setelah Nolan pergi, aku membuka surat itu.
"Dia siapa, sih? Aku beneran lupa. Ini surat dari..."
"Hah?"
"Profesor?"
Ternyata Profesor mengirimiku surat darurat.
"Hei, murid kurang ajar. Kenapa kau tidak pulang? Teman-temanmu melapor bahwa kau tidak ditemukan di mana-mana. Bahkan tunangan bodohmu itu hampir mengubah akademi menjadi sejarah."