Namanya Raisha, seorang karyawan korporat cantik dan terkesan cuek. Dia belum mengenal debaran cinta seperti apa. Banyak tuntutan orang disekitarnya untuk memulai suatu hubungan dengan seorang pria. Meskipun enggan, Raisha melakukan semua tuntutan itu meskipun tanpa menggunakan hati. Satu pria, gagal. Dua pria, gagal. Hingga tak terasa beberapa pria Raisha mencoba mencari debaran itu, tapi gagal.
Hingga julukan 'Playgirl' menempel padanya.
Hingga datang seorang Aldo. Pria tampan dan maskulin, membuat Raisha merasakan debaran itu. Tapi ketika Raisha mulai mendekati Aldo, ada sesuatu dari diri Aldo yang janggal. Yang membuat Raisha merasakan debaran yang melayang tapi menyakitkan.
Bagaimana kisah cinta Raisha dan Aldo kedepannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chikaku_chiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Pria dari Masa Lalu dan Pandangan yang Mendingin
Sore di penghujung minggu itu ditutup oleh langit Jakarta yang berawan kelabu. Di lantai lima gedung kantor, suasana kerja perlahan surut seiring berdetaknya jarum jam menuju angka lima. Para karyawan mulai merapikan meja, mematikan komputer, dan memadati area lift untuk menyambut akhir pekan.
Raisha berdiri di depan cermin toilet kantor, memoleskan lip tint berwarna merah mawar yang lembut di bibirnya. Dia merapikan rambut panjangnya yang terurai, memastikan penampilannya tampak segar dan tidak memperlihatkan sisa-sisa kelelahan emosional yang menguras tenaganya selama beberapa hari terakhir.
Hari ini, dia bertekad untuk sepenuhnya menikmati waktu, melapangkan dada, dan membiarkan dirinya dimanjakan oleh situasi tanpa perlu memikirkan bayang-bayang Aldo. Sudah waktunya me-refresingkan hati setelah beberapa hari naik turun seperti rollercoaster.
Sementara itu, di balik kubikelnya, Aldo tampak gelisah. Pria itu menyandarkan punggung ke kursi kerjanya, memperhatikan pergerakan Raisha dari kejauhan sejak gadis itu kembali dari toilet dengan tas sandang yang sudah melekat di bahunya.
Ada pergolakan aneh yang terus mengikis keangkuhan Aldo. Sikap dingin dan penarikan diri Raisha sepanjang minggu ini ternyata berhasil membongkar benteng pertahanan psikologis yang selama ini dia banggakan.
Hari ini, Aldo memutuskan untuk mengalah pada ego dan ketakutannya sendiri. Dia berniat menawarkan tumpangan pulang pada Raisha, sebuah langkah nyata untuk mencairkan suasana dan menarik kembali gadis itu ke dalam jangkauannya, sama seperti malam berhujan saat mereka mengendarai motor berdua.
Ketika Raisha berjalan melintasi koridor menuju lift utama, Aldo dengan cekatan membereskan barang-barangnya, mengambil kunci motor di meja, lalu menyusul dengan langkah lebar. Menyusul Raisha.
"Ra," panggil Aldo saat berdiri hanya beberapa langkah di belakang Raisha yang sedang menunggu pintu lift terbuka.
Raisha menoleh pelan. Tidak ada binar kejutan atau raut salah tingkah di wajah cantiknya, hanya sebuah ekspresi tenang dan netral yang sangat terkontrol.
"Eh, Al. Belum pulang?" ujar Raisha berusaha bersikap sesantai mungkin.
"Ini mau pulang kok," balas Aldo dengan nada suara yang disengaja dibuat hangat dan memikat, lengkap dengan senyum tipis yang biasa menjadi andalannya.
"Kamu naik apa sore ini? Kalau mau, bareng aku aja. Sekalian jalan pulang, daripada kamu desak-desakan naik transportasi umum sore-sore begini."
Untuk sejenak, ingatan tentang kehangatan usapan kepala dan aroma jaket kulit Aldo sempat melintas di kepala Raisha. Namun, nasihat Reno dan Sisil di kafe kemarin mendadak menggema kuat, memperingatkannya akan racun manis yang siap mengintai di balik tawaran tersebut. Raisha tidak ingin kembali terjebak dalam siklus yang sama.
Raisha tersenyum tipis, sebuah senyum formal yang menyisakan jarak yang sangat tegas.
"Terima kasih penawarannya, Al. Tapi sore ini aku udah ada janji sama teman. Dia udah jemput di bawah." sahut Raisha yang membuat Aldo terdiam seketika.
Tepat saat kalimat itu selesai diucapkan, pintu lift berdenting dan terbuka. Raisha mengangguk kecil sebagai tanda pamit, lalu melangkah masuk ke dalam lift meninggalkan Aldo yang membeku di tempatnya.
Aldo mengepalkan tangannya pelan. Rasa tidak terima atas penolakan halus itu mendorong langkah kakinya untuk mengikuti lift tersebut hingga ke lantai dasar. Dia berjalan menuju pelataran parkir depan gedung, tempat para penjemput biasanya berhenti.
Dari balik pilar besar di dekat pintu kaca lobby, langkah Aldo terhenti seketika. Pandangannya terpaku pada pada area drop-off.
Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam mengkilap tampak sedang terparkir anggun di area drop-off. Di samping pintu kemudi, berdiri seorang pria tegap berjas kasual dengan jam tangan elegan yang berkilau diterpa lampu jalanan. Pria itu adalah Erick.
Penampilannya memancarkan aura kemapanan, rasa percaya diri yang matang, dan kelas sosial yang sangat berjarak dibanding karyawan biasa.
Mata Aldo memicing tajam saat melihat Raisha berjalan keluar dari lobby. Wajah Raisha yang sepanjang minggu ini kaku dan dingin mendadak mekar oleh senyuman lebar dan tulus saat menyapa pria tersebut.
Erick menyambut Raisha dengan tawa hangat, membukakan pintu penumpang depan dengan gestur yang sangat gentleman, lalu sempat mengusap punggung Raisha secara kasual sebelum menyusul masuk ke kursi pengemudi.
Raisha tidak menolak sedikit pun perlakuan itu; dia justru tertawa renyah, masuk ke dalam kabin mobil yang mewah, dan membiarkan pintu tertutup rapat.
Sedan hitam itu perlahan bergerak membelah kepadatan lalu lintas sore, meninggalkan area gedung kantor.
Aldo berdiri mematung di balik pilar. Kunci motor yang digenggamnya terasa begitu dingin di dalam telapak tangannya. Niatnya untuk memberikan tumpangan pulang menggunakan motor sport-nya mendadak menguap begitu saja, berganti menjadi sebuah tamparan keras pada ego dan harga dirinya.
Tatapan mata cokelat gelap milik Aldo mendadak mendingin, sangat dingin hingga hampir menyerupai gumpalan es yang kaku.
Ada rasa perih yang asing dan sangat tajam bersarang di dadanya. Selama ini, Aldo selalu menganggap Raisha sebagai objek yang mudah ditebak dan bisa ditarik-ulur sesuka hati.
Namun melihat Raisha tertawa lepas di dalam mobil mewah bersama pria lain yang jauh lebih mapan, Aldo menyadari satu hal yang membakar emosinya: Raisha tidak sedang memainkan taktik dengannya. Raisha benar-benar sedang melangkah pergi dan membuka pintu untuk pria lain.
Rasa ingin memiliki yang tadinya tersembunyi di balik ketakutan komitmen kini meledak menjadi benih cemburu yang membakar. Aldo memandang ke arah jalan raya tempat sedan hitam itu menghilang, dengan raut wajah yang menggelap dan rahang yang mengeras kaku.
Sementara itu, di dalam kabin sedan mewah yang tenang dan harum aroma vanila, Raisha menyandarkan punggungnya ke jok kulit yang empuk. Wajahnya terlihat berseri. Entah karena dirinya bisa mengendalikan hati terhadap ajakan Aldo yang jujur sempat membuat Raisha sedikit goyah, atau karena akan berbelanja sesuatu yang diminatinya.
"Raut muka kamu kelihatan lebih lega dibanding pas pertama jalan tadi, Ra," ujar Erick sambil tetap fokus mengendalikan kemudi di tengah kemacetan. "Gimana? Udah siap borong satu mall?"
Raisha terkekeh pelan, menatap deretan lampu kendaraan di luar kaca mobil.
"Siap banget, Erick. Jangan menyesal ya udah tawarkan penawaran itu ke aku."
"Tenang aja," balas Erick seraya tersenyum mantap.
"Bisa bikin kamu senyum lagi setelah minggu yang kacau itu udah lebih dari cukup kok."
Raisha menghela napas panjang, kali ini bukan helaan napas sesak akibat permainan psikologis Aldo, melainkan helaan napas lega karena akhirnya dia mengizinkan dirinya sendiri untuk beristirahat dari rasa sakit yang tak perlu.
Di balik jendela mobil yang melaju, Raisha tahu perjalanan emosinya belum sepenuhnya selesai, tetapi sore ini, dia telah mengambil satu langkah besar untuk merebut kembali kendali atas hatinya sendiri.