NovelToon NovelToon
Karina Dan Sistem Kehidupan

Karina Dan Sistem Kehidupan

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Transmigrasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: kirana_euforia

Karina, gadis yatim piatu berusia tujuh belas tahun, kehilangan nyawanya setelah menyelamatkan seluruh penumpang bus yang terjun ke jurang. Namun, kematiannya bukan akhir. Sebuah sistem misterius memberinya kesempatan hidup kembali dengan satu syarat: mengumpulkan 100.000 Poin Kehidupan dengan menyelamatkan para antagonis pria dari takdir tragis mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kirana_euforia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dunia Pertama — 11

Tiga haei berlalu sejak percakapan terakhir mereka ditaman belakang gedung olahraga dan selama itu pula, Bram kembali menjaga jarak, bukuan seperti dulu, tapi cukup terasa bagi Karina yang sudah terbiasa dengan kehangatan yang perlahan mereka bangun bersama.

Mereka masih duduk sebangku, masih bertegur sapa, namun percakapan mereka kini terbatas pada hal hal seperlunya saja, seperti tugas sekolah, tugas kelompok ayau basa basi singkat yang terasa hambar dibandingkan obrolan panjang yang biasa mereka lakukan.

Karina merasa jarak itu seperti luka kecil yang terus digaruk setiap hari, tapi ia memilih untuk tidak memaksa, hanya membiarkan Bram mengambil waktu yang dia butuhkan untuk memproses semua kebijgungan itu sendiri.

Hingga suatu sore saat hujan deras tiba tiba turun saat mereka barusaja keluar dari gerbang sekolah, keduanya terpaksa berteduh bersama dihalte bus kosong yang tidak jauh dari sekolah.

"Kayaknya bakal lama nih hujannya." Gumam Bram memecahkan keheningan canggung yang sejak tadi menggantung diantara mereka.

"Iya." Jawab Karina singkat sambil menatap tetesan air hujan uang jatuh dari atap halte itu.

Keheningan berlanjut lagi untuk beberapa saat yang janya suara hujan yang mengisi ruang diantara mereka, sampai akhirnya Bram menghela nafas panjang dan berbicara.

"Al, gue udah mikirin banyak hal beberapa hari ini." Ucapnya dengan tenang. "Dan gue sadar, mungkin gue terlalu keras sama lo soal Rangga."

Karina menoleh dengan terkejut mendengar penuturan itu. "Bram...."

"Tapi bukan berarti gue nggk bingung lagi." Lanjutnya dengan cepat seolah ingin menyelesaikan seluruh isi pikirannya sebelum kehilangan keberanian.

"Gue ngerasa lo emang nyembunyiin sesuatu Al, bukan cuma soal Rangga, tapi gue ngerasa ada banyak hal kayak cara ngomong lo beda, trus tindakan lo yang selalu paham apa yang harus lo lakuin waktu gue lagi hancur hancurnya."

(kok aing lama lama jadi ngerasa nggk pas kalo si bram masih pake lo gue ya? Tapi mau ganti panggilan merekanya ttm doang)

Jantung Karina berdegup kencang mendengar kata kata itu, ia tau momen ini akan datang cepat atau lambat, momen dimana Bram mulai menyadari ada yang tidak biasa dari dirinya.

Ia harus memutuskan seberapa jauh ia bisa jujur tanpa mengungkapkan kebenaran yang mustahil untuk dipercaya oleh manusia normal.

"Bram.." Ucapnya pelan sambil mencoba memilih kata kata yang tepat dengan hati hati. "Aku nggak bisa ceritain semuanya sekarang. Bukan karna aku nggak percaya kamu, tapi karna kalo aku ceritain ini mungkin kamu malah nggak akan percaya, atau malah ngerasa aku aneh, bahkan mungkin aja kamu takut sama aku."

"Coba aja." Bram menatap lekat lekat dengan penuh kesungguhan. "Gue janji apapun yang terjadi gue nggak akan lari."

Karina menatap balik mata itu, merasakan pertarungan yang hebat antara keinginan untuk jujur sepenuhnya dan kesadaran bahwa kebenaran itu terlalu besar untuk dipahami siapapun yang hidup normal didunia ini.

"Aku nggak bisa cerita semuanya, tapi aku bisa bisa kasih tau kamu satu hal paling penting yaitu aku bukan orang jahat Bram.."

"Dan semua yang aku lakuin buat kamu, semua perasaan yang aku rasain itu semua nyata, meskipun aku nggak bisa jelasin kenapa aku bisa jadi kayak gini."

"Itu doang?" Tanyanya dengan nada yang sedikit kecewa.

"Aku tau itu nggak cukup, tapi itu yang bisa aku kasih tau sekarang, dan aku minta kamu percaya, bukan karna aku bisa buktiin semuanya, tapi karna kamu udah liat sendiri selama ini aku nggk pernah sekalipun bohong soal perasaan aku kekamu dan seberapa peduli aku sama kamu."

Bram terdiam lama sambil menatap hujan yang masih turun dengan deras diluar halte dan memikirkan setiap kata kata yang baru saja Karina ucapkan.

"Lo tau nggak yang bikin gue takut bukan soal lo yang nyembunyiin sesuatu, tapi yang gue takutin itu kalo ternyata rahasia yang lo sembunyiin itu bakal bikin lo ninggalin gue, kayak yang lo bilang waktu itu."

Kalimat itu menusuk tepat dititik paking rapuh dari kebenaran yang tidak bisa Karina ungkapan. Ia menutup matanya sejenak, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang.

(kok aing merasa menjadi yang paling jahat disini)

"Bram.... Aku emang nggk bisa janji aku bakal selamanya disini, aku udah bilang itu dari awal. Tapi aku aku janji selama aku masih disini, aku nggak akan pernah nyesel udah kenal kamu dan apapun yang terjadi nanti, aku akan pastiin kamu tetep jadi orang yang kuat, yang bisa berdiri sendiri bahkan tanpa aku."

Hujan mulai mereda, menyisakan gerimis tipis yang jatuh perlahan.

Bram menatap Karina lama dengan mata penuh rasa campur aduk antara emosi yang sulit ia definisikan sendiri, kesedihan, ketakutan, tapi juga ada sesuatu uang mirip dengan penerimaan.

"Oke, gue nggak akan maksa lo cerita semuanya sekarang, tapi gue minta satu hal." Ucapnya dengan suara yang lebih mantap.

"Apa?"

"Kalo suatu saat benaran tiba lo harus pergi.... Jangan pergi tanpa pamit, gue nggak peduli seberapa aneh alasannya, gue nggk mau lp ngilang gitu aja kayak yang lain."

Kalimat itu membuat dada Karina tersa sesak, karna ia tau pada akhirnya mungkin itu adalah satu satunya janji yang tidak sepenuhnya bisa ia pastikan terpenuhi, mengingat sistem uang seringkali menarik penggunanya dari sebuah dunia tanpa peringatan sama sekali.

Tapi untuk saat ini ia memilih untuk mengaguk, memberikan janji yang tulus meskipun penuh dengan ketidakpastian. "Aku janji Bram, aku akan usahain sekuat mungkin buat pamit kalo itu beneran terjadi."

Bram tersenyum tipis, senyum yang penuh dengan kelegaan meski masih menyimpan kehawatiran dibaliknya. "Itu udah cukup buat sekarang."

Mereka berjalan pulang bersama setelah hijan benar benar mereda, langkah meteka lebih ringan dari beberapa hari terakhir.

"Al... Thanks udah tetep jujur walaupun nggak sepenuhnya." Ucap Bram sebelum meteka berpisah di persimpangan jalan.

"Sama sama." Jawab Karina sungkat sambil tersenyum meskipun hatinya masih terasa bergejolak.

...----------------...

Malam harinya layar tembus muncul kembali dikamar kos Karina.

[Pembaruan status.]

[Poin kehidupan: 3.400 / 100.000.]

[Poin diberikan atas keberanian menghadapi ujian kepercayaan tanpa mengorbankan kejujuran emosional, meski kebenaran penuh tidak dapat diungkapkan.]

[Catatan penting: subjek kini menunjukkan tanda tanda kematangan emosional yang jauh melampaui definisi akhir bahagia yang berkelanjutan, tidak bergantung sepenuhnya pada kehadiran pengguna.]

Karina menatap catatan itu dengan perasaan campur aduk antara lega karna Bram menunjukkan tanda tanfa kedewasaan uang semakin kuat, tapi juga sedih mengingat bahwa cepat atau lambat ia harus pergi meninggalkannya.

1
Diana Lely
kirana apa karina thor
kirana_euforia: karina, kalo kirana namaku
total 1 replies
Priska Heriska
bagus semangat!
reaaannaaa
sistem sampah,buat apa ada sistem
buang aja,karina mati lagi aja
Alnilam Mintaka
Bagus!!!
kirana_euforia: tengkyu(⁠≧⁠▽⁠≦⁠)
total 1 replies
Alnilam Mintaka
Semangat Thor!!! 💪
Alnilam Mintaka
jujur janggal . lvl author tinggi tapi karya cuma satu??
Alnilam Mintaka: okey .. good luck thor
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!