NovelToon NovelToon
CINTAKU DI PRAMBANAN

CINTAKU DI PRAMBANAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Kutukan
Popularitas:849
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

NOVEL INI ADALAH FIKSI (Alternate Universe) DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT

Haruma dan Harumi, dua kakak beradik yang kini sudah kuliah semester 5 di salah satu universitas yang cukup ternama di Indonesia, tak lama lagi akan mengikuti sebuah lomba seni drama yang bertempat di Candi Prambanan.

Lomba itu mengangkat tema tentang kisah cinta Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang.

Akan tetapi, momen perlombaan yang diikuti oleh Haruma-Harumi justru akan menjadi sebuah pertunjukan yang MENUMPAHKAN DARAH MANUSIA ATAS NAMA DENDAM.

Seolah, kutukan Bandung Bondowoso kepada Roro Jonggrang, menimbulkan kutukan mengerikan.

Apa yang akan terjadi dengan Harumi saat tampil di atas panggung sakral di depan Candi Prambanan itu?

Dan apa yang akan dilakukan oleh Haruma?
.
.
.
DISCLAIMER‼️

Jika ada unsur sejarah, latar tempat, seni, budaya, nama tokoh, ritual, kepercayaan, dan mitos yang sama dengan kehidupan nyata, itu semua murni hanya untuk dijadikan bagian dalam cerita saja.

SELAMAT MEMBACA... ☺

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25 TEKAD KUAT YUDA

Udara di lorong rumah sakit itu masih terasa membekukan tulang, sisa-sisa dari kehadiran entitas iblis yang baru saja diusir secara paksa oleh Pak Rusdi. Bau kemenyan yang sempat menyesakkan napas kini perlahan membaur dengan aroma karbol pembersih lantai, menyisakan jejak teror yang tak kasatmata namun mencengkeram kuat di ulu hati siapa pun yang merasakannya.

Yuda melangkah keluar dari kamar rawat inap VIP bernomor tiga tersebut. Ia menutup pintu kayu bercat putih itu dengan sangat pelan, seakan takut suara derit engselnya akan membangunkan maut yang sedang mengintai.

Di dalam sana, Haruma tengah tertidur di bawah pengaruh obat penenang dan pagar gaib sementara yang dibuat oleh kakeknya.

Waktunya hanya tiga hari. Tiga hari sebelum perisai spiritual itu runtuh dan sang algojo dari Prambanan kembali untuk menagih nyawa.

Saat Yuda membalikkan badan hendak menyusuri lorong, sebuah tangan yang besar dan kapalan mencengkeram bahunya dengan kuat.

Yuda menoleh. Zaki berdiri di hadapannya. Pria paruh baya yang sebelumnya memandangnya dengan penuh kebencian dan amarah itu, kini menatapnya dengan sepasang mata yang memerah, kelelahan, dan penuh dengan permohonan yang putus asa.

Ego seorang ayah yang ingin melindungi keluarganya sendirian telah hancur lebur di hadapan kengerian yang tak bisa dilawan dengan kekuatan fisik maupun uang.

"Yuda..." suara Zaki parau dan bergetar, mencengkeram bahu pemuda itu semakin erat. "Saya minta maaf... Saya minta maaf karena sempat buta oleh amarah dan menyalahkanmu atas semua ini. Saya tidak tahu berhadapan dengan apa... Saya benar-benar tidak tahu."

Yuda menatap wajah ayah angkat kekasihnya itu. Tidak ada lagi rasa sakit hati atau dendam atas pengusirannya minggu lalu. Yang ada di dada Yuda hanyalah empati yang teramat dalam. Ia menggeleng tegas, membalas genggaman tangan Zaki di bahunya.

"Bapak nggak perlu minta maaf. Saya paham posisi Bapak sebagai seorang ayah," jawab Yuda dengan suara rendah namun memancarkan ketegasan yang tak tergoyahkan.

"Keselamatan Harumi dan Haruma adalah tanggung jawab saya juga, Pak. Saya yang membawa Harumi ke teater itu. Saya yang berjanji akan menjaganya."

Zaki menelan ludah, air mata menggenang di pelupuk matanya. "Tiga hari, Yud... Bapak bilang kita hanya punya tiga hari. Harumi ada di rumah, sendirian, terkurung oleh rasa takutnya sendiri. Saya harus kembali ke sana untuk menjaganya dan memastikan tidak ada yang melukainya. Penelusuran ini... Saya percayakan padamu. Cari darah keturunan itu, Yud. Tolong... bawa pulang keselamatan untuk anak-anak saya."

Mendengar permohonan seorang ayah yang rela merendahkan harga dirinya demi nyawa putri-putrinya, tekad di dalam dada Yuda meledak bagaikan gunung berapi yang erupsi.

"Pasti, Pak. Saya bersumpah demi nyawa saya sendiri," Yuda menatap lurus ke dalam mata Zaki. "Saya akan menemukan keturunan Bandung Bondowoso itu. Saya akan cari cara untuk memutuskan kutukan ini dan menyegel iblis itu kembali ke nerakanya. Jaga Harumi untuk saya, Pak. Bilang padanya... Yuda akan pulang bawa jawaban."

Zaki mengangguk mantap, melepaskan cengkeramannya, lalu menepuk punggung Yuda sebelum bergegas kembali masuk ke dalam kamar rawat untuk berkoordinasi dengan mertuanya.

Yuda membalikkan badannya dan melangkah setengah berlari menyusuri lorong rumah sakit. Kepalan tangannya mengeras hingga kuku-kukunya memutih menekan telapak tangan.

Di dalam kepalanya, bayangan wajah Harumi yang tersenyum ceria di bawah rintik hujan beberapa bulan lalu berkelebat, beradu dengan bayangan mengerikan saat gadis itu menjerit histeris dengan mata hitam pekat di atas panggung Candi Prambanan.

"Bertahanlah, Harumi. Bertahanlah sebentar lagi," batin Yuda.

"Aku nggak akan biarin iblis itu ngambil nyawa kakakmu, dan aku nggak akan pernah biarin kegelapan itu nelan jiwa kamu. Nggak akan pernah."

Tiga puluh menit kemudian, motor bebek yang dikendarai Yuda membelah jalanan kota Yogyakarta dan berhenti tepat di depan sebuah rumah kos bertingkat dua di kawasan Seturan. Yuda memarkir motornya serampangan, setengah berlari menaiki tangga besi menuju kamar kos Dion di lantai dua.

Pintu kamar Dion tidak terkunci. Yuda langsung mendorongnya masuk.

Di dalam, kondisi kamar itu sangat berantakan. Peta tua daerah Jawa Tengah, buku-buku sejarah kebudayaan Jawa, hingga tumpukan kertas fotokopi silsilah keraton berserakan di atas kasur dan meja belajar.

Dion sedang duduk bersila di lantai, rambutnya berantakan, dan matanya merah karena kurang tidur. Ia sedang sibuk mencoret-coret sebuah buku catatan.

"Yon!" panggil Yuda dengan napas memburu.

Dion terlonjak kaget, nyaris menjatuhkan penanya. "Yud! Gimana keadaan di rumah sakit? Haruma baik-baik aja, kan?"

"Iblis itu datang, Yon. Siang bolong, di ruang VIP," jawab Yuda tanpa basa-basi, suaranya berat dan menggemakan teror yang baru saja ia saksikan.

Mata Dion membelalak sempurna. Ia langsung berdiri, kakinya gemetar. "A-apa? Iblis itu nunjukin diri di depan dokter?! Haruma selamat?!"

Yuda menceritakan semuanya dengan cepat. Mulai dari hawa dingin yang tiba-tiba muncul, cekikan tak kasatmata yang mengangkat tubuh Haruma, kepanikan para tenaga medis, hingga kedatangan Zaki dan Pak Rusdi yang berhasil mengusir Jin Pengikut itu dengan hantaman energi ayat suci dan membuat pagar gaib pelindung.

"Kakeknya Harumi berhasil ngusir jin itu, tapi itu cuma pagar sementara, Yon," Yuda mencengkeram kedua bahu Dion, menatap sahabatnya itu dengan sorot mata yang menyala tajam.

"Kita cuma punya waktu tiga hari. Tiga hari sebelum pagar gaib itu hancur dan iblis dari Prambanan itu datang sendiri buat nyabut nyawa Haruma. Kalau Haruma mati, perisai Harumi hancur total. Kutukan tahun 92 bakal terulang."

Dion merosot kembali ke lantai. Tangannya mengusap wajahnya dengan kasar. "Tiga hari... Gila. Ini gila, Yud! Gimana caranya kita nyari keturunan orang yang hidup ribuan tahun lalu dalam waktu tiga hari?! Bandung Bondowoso itu mitos, Yud! Kalaupun dia nyata, silsilahnya pasti udah hancur ditelan zaman!"

"Gue nggak peduli kalau dia mitos atau bukan! Gue nggak peduli kalau gue harus ngegali seribu makam di tanah Jawa ini buat nyari tulang-belulangnya!" bentak Yuda, suaranya menggelegar memenuhi kamar kos yang sempit itu. Kesetiaannya pada Harumi telah membakar habis semua keraguan logis di kepalanya.

"Kakek Harumi bilang darah keturunan itu ada, dan cuma darah itu yang bisa nyegel kutukan arca Roro Jonggrang. Kita udah berjanji buat nyelesaiin apa yang udah kita mulai, Yon. Kita yang bawa mereka ke Prambanan, kita juga yang harus bawa mereka keluar dari neraka ini!"

Teriakan Yuda menampar kesadaran Dion. Sutradara muda itu menatap Yuda. Ia melihat tidak ada sedikit pun keraguan di mata sahabatnya itu. Yang ada hanyalah tekad baja yang siap menantang maut demi cinta dan tanggung jawab. Dion mengingat kembali wajah Harumi yang lugu, dedikasi Haruma yang selalu mendukung adiknya, dan bayangan kematian Sekar Ayu yang terus menghantuinya.

Rasa bersalah yang selama ini menggerogoti Dion akhirnya bermetamorfosis menjadi sebuah keberanian yang nekat.

Dion mengepalkan tangannya, memukul lantai kamar dengan keras. "Lo benar, Yud. Persetan dengan mitos. Kita cari bajingan pencipta kutukan itu. Bapak kos gue tadi pagi nelepon. Orang pintar yang di Klaten, Mbah Kliwon, sudah turun dari Merapi dan bersedia nemuin kita sore ini."

"Bagus," Yuda mengangguk cepat. "Kemasi barang lo yang penting. Bawa senter, bawa pisau lipat, bawa apa aja yang bisa kita pakai buat bertahan hidup. Kita berangkat ke Klaten sekarang juga. Kita nggak akan balik ke Jogja sebelum nemuin garis keturunan itu."

Hanya butuh waktu sepuluh menit bagi mereka berdua untuk bersiap. Mereka memasukkan jaket tebal, air minum, buku catatan silsilah, dan senter ke dalam satu ransel besar.

Setelah memastikan semuanya siap, Yuda dan Dion segera melompat ke atas sepeda motor. Mesin motor bebek itu meraung keras, membelah keramaian jalan raya ringroad timur Yogyakarta, mengarah ke timur menuju Kabupaten Klaten.

Perjalanan sore itu terasa sangat berbeda.

Langit kembali berubah mendung, matahari tertutup awan abu-abu pekat yang menggantung rendah, seakan alam semesta sedang berduka atau justru sedang memberikan peringatan. Angin berembus kencang, menampar wajah mereka dengan hawa dingin yang membawa aroma tanah basah dan sisa-sisa polusi jalanan.

Namun, baik Yuda maupun Dion tidak memedulikan cuaca yang semakin memburuk. Pikiran mereka hanya tertuju pada satu hal: berpacu dengan batas waktu tiga hari.

Sekitar empat puluh lima menit kemudian, motor mereka melintasi jalan raya perbatasan Yogyakarta dan Jawa Tengah. Di sebelah kiri mereka, dari kejauhan, siluet kompleks Candi Prambanan menjulang membelah cakrawala sore yang kelabu. Menara-menara batunya yang runcing tampak seperti deretan taring raksasa yang mencuat dari dalam bumi, gelap, diam, dan mengancam.

Melihat candi itu, Yuda refleks mengurangi kecepatan motornya. Matanya terpaku pada struktur batu purba tersebut. Jantungnya berdetak lebih cepat.

Di sanalah segalanya bermula. Di sanalah kutukan itu terbangun, di sanalah Harumi mengayunkan pisau pusaka itu ke tubuh kakaknya, dan di sanalah iblis bermata hitam itu sedang menunggu mangsa-mangsanya.

Hawa dingin tiba-tiba berembus dari arah kompleks candi, menyapu jalan raya dan menerpa tubuh Yuda serta Dion. Bulu kuduk mereka serempak meremang.

Dari kejauhan, seolah-olah terbawa oleh angin sore, telinga mereka menangkap suara sayup-sayup yang sangat mengerikan.

GWOOOOOONNNGGG...

Suara pukulan gong yang sangat berat, disusul oleh suara gemerincing gelang kaki dari perunggu yang beradu secara ritmis.

Sring... sring... sring...

"Lo dengar itu, Yud?" bisik Dion dengan suara bergetar dari kursi belakang, tangannya mencengkeram erat jaket Yuda. "Makhluk itu... dia tahu kita lagi ngelihatin candi itu."

Yuda mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Matanya menatap tajam ke arah siluet candi utama tempat arca Roro Jonggrang bersemayam. Ketakutan memang merayapi hatinya, tapi amarah dan tekadnya jauh lebih besar.

"Gue dengar, Yon," desis Yuda di balik kaca helmnya. Ia menantang aura kegelapan yang memancar dari tumpukan bebatuan andesit tersebut. "Biarkan dia tahu kita datang. Biarkan iblis itu tahu kalau kita nggak lari ketakutan."

Yuda menarik napas panjang, meresapi rasa dingin yang menusuk paru-parunya. Di dalam hatinya, ia membisikkan sebuah janji yang bergema melintasi jarak dan waktu, tertuju lurus pada gadis yang kini sedang mengurung diri di dalam kamarnya yang gelap.

"Tunggulah, Harumi. Jangan menyerah pada suara-suara di kepalamu. Pegang janjiku. Aku akan pulang membawa jawaban. Aku akan mengembalikan hidupmu, mengembalikan kakakmu, dan mencabut kutukan sialan ini dari darahmu. Aku janji."

Dengan sekali tarikan gas yang kuat, motor bebek itu kembali melesat cepat, meninggalkan siluet Candi Prambanan di belakang mereka.

Mereka membelah jalan raya menuju pedalaman Klaten, memasuki wilayah asing yang dipenuhi oleh mitos, klenik, dan rahasia masa lalu yang menolak untuk dilupakan.

Satu jam kemudian, setelah melewati jalan-jalan desa yang sempit dan berlubang, dikelilingi oleh persawahan yang mulai gelap karena matahari telah benar-benar tenggelam, mereka tiba di sebuah desa terpencil di lereng bukit. Tidak ada lampu jalan, hanya ada cahaya temaram dari rumah-rumah warga yang jaraknya saling berjauhan.

Sesuai dengan petunjuk arah dari bapak kos Dion, mereka berhenti di depan sebuah rumah kayu tradisional Jawa berbentuk limasan yang halamannya dipenuhi oleh rimbunan pohon kamboja dan melati yang tumbuh liar.

Suasana rumah itu sangat sunyi, namun bau kemenyan yang dibakar tercium sangat kuat menguar dari dalam, bukan bau kemenyan busuk milik jin pengikut, melainkan bau kemenyan Jawa yang wangi dan mistis.

Yuda dan Dion memarkir motor mereka, saling bertukar pandang dengan jantung yang berdebar kencang. Mereka melangkah melewati gerbang bambu, menapaki jalan setapak yang ditaburi kerikil.

Sebelum Yuda sempat mengetuk pintu kayu jati yang diukir dengan kaligrafi aksara Jawa kuno tersebut, pintu itu berderit terbuka dengan sendirinya.

Dari balik keremangan ruang tamu yang hanya diterangi oleh lampu minyak tanah, sesosok pria tua renta dengan rambut memutih panjang dan memakai pakaian serba hitam duduk bersila di atas tikar pandan. Matanya yang tajam dan cekung menatap langsung ke arah Yuda dan Dion yang berdiri di ambang pintu.

"Masuklah, anak-anak muda yang menantang takdir," suara Mbah Kliwon parau namun bergema memenuhi ruangan. Ia menyeringai tipis, memperlihatkan giginya yang menghitam karena kunyahan sirih.

Mbah Kliwon menunjuk ke arah mereka berdua dengan jari telunjuknya yang kurus kering. "Aku sudah mencium kedatangan kalian sejak kalian melintasi perbatasan Prambanan. Kalian membawa bau kematian yang sangat pekat... Bau darah tulang wangi yang telah ditandai oleh kutukan seribu candi."

Yuda menegakkan punggungnya. Tekad di dadanya menyala semakin terang. Ia melangkah masuk menembus kepulan asap kemenyan, siap mengorek rahasia tergelap dari tanah Jawa, untuk mencari satu-satunya darah yang bisa mengakhiri penderitaan kekasihnya.

1
My.mitsubishi.triton Adventure X
Kenapa nama tokoh pemerannya sama dengan tirakat tp cerita nya berbeza bahkan tidak ada perewangan milik nisa dn haruma
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Karena novel "CINTAKU DI PRAMBANAN" ini adalah versi Alternate Universe (AU) dari Universe novel "TIRAKAT", Kak...

Jadi cerita utamanya berbeda, namun sebagian besar tokohnya sama.

Semoga Kakak juga suka ya... Dan, terima kasih banyak Kak, sudah komentar... 😍😍😍
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
di babb 20 keatas baru menangkap alur nya wkwkwk
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Iyakah??? Hehehe... 🤭🤭🤭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Bagus, rekomendasi juga buat yang suka bacaan horror.
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: TERIMA KASIH, KAK ASMARA... 😍😍😍
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
iyalah nisa sebagai ibu nggak bakalan diam sama iblis itu, jadi percaya saja harumi biar sulit pasti bisa dilawan
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Hehehe...

"SAYA AKAN LAWAN!!!"
#KataSalahSatuLelakiDariSolo
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
yang ini serem ya apalagi baca nya malem
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ: iyaa serem
total 2 replies
Ilham
lanjut kak
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Berat berat baca cerita haruma harumi sii baling wangi. bener ini mah ujian nya lbh berat dari Nisa. dikejar kejar entintas kna baling wangi gimana nggak harus kerja keras bwt melawan nya.

kira kira ntar ada plot Twitter nya nggak ya, kek pov lain bwt bantu mereka. selain yuda
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ: typo itu plot twist mksdnya ya
total 2 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Apa zaky masih bisa merasakan sesuatu yg ghoib setelah putus hubungan sama sekar mayang? 🤔 kek nya nggak. sekarang keknya Zaky lebih mengedepankan logika nya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ: awas aja klo anak anak nya dalam bahaya Zaky nggak bisa apa apa
total 4 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Masij menyimak kak.... blom bisa meraba wkwkwk penasaran juga sama yg sblom nya yg kejadian di gunung lawu itu, apakah ntar ada alur mundur nya?
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Terima kasih, Kak Asmara... 😍😍😍
total 3 replies
Ilham
aku pengen Arumi sama Arum selamat mereka berdua kak
Ilham
lanjut bg...jadi kemana Perawang Arumi sama Arum kakak..masa ngk menolong mereka kak
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Terima kasih banyak, Kak Ilham... 🥰🥰🥰

Perewangan Haruma dan Harumi akan muncul, Kak...

Oh iya, karena novel ini adalah AU (Alternate Universe) dari seri TIRAKAT, jadi nggak terlalu banyak kemunculan para perewangannya... 💪💪💪😍😍😍😍🥰
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Waduh ini lbh serem, perawangan harumi jenis yang berbeda kah
Author Melda
salam support kak👍
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Okeee... 😍😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!