NovelToon NovelToon
Bolehkah Luna Memanggilnya Mama?

Bolehkah Luna Memanggilnya Mama?

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ranaraworld

Di mata dunia, Stellan Alistair Caelmont adalah CEO dingin yang tak tersentuh. Namun di balik kekuasaannya, Stellan terancam kehilangan Luna, putri kecilnya yang menjadi satu-satunya alasan ia bertahan hidup. sebuah ancaman dari masa lalu datang untuk merebut Luna dari pelukannya.

Kekuatan dan uang Stellan tak lagi cukup. Ia butuh sebuah keluarga utuh di mata hukum.

Hingga hadir Elara Vivienne Moreau, wanita hangat yang secara ajaib menjadi satu-satunya orang yang mampu meluluhkan benteng trauma Luna. Melihat itu, Stellan menawarkan sebuah kesepakatan gila: Pernikahan Kontrak.

Satu tahun. Hanya di atas kertas.

Elara menerima demi melindungi Luna, berjanji tak akan melibatkan perasaan pada pria sedingin Stellan. Namun, hidup di bawah satu atap perlahan membongkar rahasia kelam yang Stellan sembunyikan rapat-rahasia.

Saat ikatan palsu itu mulai terasa nyata, mampukah mereka bertahan ketika masa lalu menuntut pembalasan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranaraworld, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Bawah Remang Malam

​Bab 20: Di Bawah Remang Malam

​Malam H-1 menjelang persidangan pertama membungkus Mansion Caelmont dalam keheningan yang tenang. Luna sudah tertidur lelap di kamarnya sejak pukul delapan malam, kelelahan setelah mewarnai dua halaman penuh di buku gambar barunya.

​Di dalam kamar utama, pendar lampu dinding bernuansa kuning temaram menciptakan atmosfer hangat sekaligus sarat akan ketegangan romantis yang mendebarkan.

​Elara berdiri canggung di depan lemari pakaian dengan piyama katun panjang berwarna krem dan handuk putih di tangannya. Di sudut ruangan lain, Stellan baru saja selesai merapikan berkas di meja kerja kecilnya, masih mengenakan kemeja kasual abu-abu yang lengannya tergulung hingga sebatas siku. Keduanya ternyata sama-sama belum mandi setelah seharian mendampingi Luna dan berdiskusi dengan Julian.

​Elara melirik pintu kamar mandi utama bernuansa marmer hitam yang masih terbuka, lalu menatap Stellan yang tampak lelah.

​"Aku... aku mandi di kamar mandi Luna saja kali ya, Stellan?" panggil Elara pelan, menyunggingkan senyum canggung. "Biar kamu bisa langsung mandi di sini dan tidak perlu menunggu lama."

​Elara baru saja hendak berbalik melangkah menuju pintu connecting, tetapi langkah kaki tegap Stellan dengan cepat memotong jalurnya. Pria jangkung itu melangkah mendekat, menghentikan gerakan Elara sembari menatap istrinya lurus-lurus.

​"Tidak usah," ujar Stellan rendah namun tegas. "Kamar mandi Luna air hangatnya sengaja diatur khusus untuk suhu anak-anak. Pakai kamar mandi utama di sini saja."

​Pipi Elara merona tipis. "Tapi kamu kan juga belum mandi, Stellan. Nanti kamu malah keburu kemalaman..."

​Stellan menatap Elara dengan pendar kepolosan kaku yang amat manis. Pria jangkung itu menggeleng pelan, merapikan gulungan lengan kemejanya. "Saya tidak keberatan menunggu. Mandilah duluan, Elara. Jangan terlalu malam, udara perbukitan sedang dingin."

​Mendengar perhatian kaku namun amat tulus dari suaminya, Elara menunduk malu. "Terima kasih, Stellan. Aku tidak akan lama."

​"Iya," sahut Stellan serak.

​Elara bergegas masuk ke dalam kamar mandi utama dan menutup pintunya. Di luar, Stellan yang berdiri mematung di tengah ruangan berkedip dua kali. Pria itu mengusap tengkuknya yang memerah, berdeham kaku pada dirinya sendiri sebelum melangkah ke sofa untuk menunggu giliran mandi setelah Elara selesai.

​Empat puluh menit kemudian, mereka berdua telah selesai mandi secara bergantian.

​Elara dengan piyama krem dan rambut cokelatnya yang sedikit lembap, dan Stellan yang sudah rapi mengenakan kaus oblong putih dan celana kain abu-abu sedang duduk di tepi tempat tidur king-size, mengeringkan rambutnya sendiri dengan handuk sembari menatap layar ponsel.

​Melihat Elara melangkah mendekat menuju meja rias, Stellan lekas meletakkan ponselnya. Pria itu berdiri, meraih pengering rambut (hairdryer) dari dalam laci meja rias, lalu menyodorkannya pada Elara.

​"Gunakan ini. Nanti kamu masuk angin," ujar Stellan serius, persis seperti seorang komandan yang sedang memberikan instruksi operasional.

​Elara tidak bisa menahan tawa kecil yang lolos dari bibirnya. Cara Stellan memberikan perhatian memang selalu kaku dan serba salah, tetapi ketulusannya selalu berhasil melelehkan dada Elara.

​"Terima kasih, Stellan," senyum Elara manis, menerima alat itu.

​Elara mencolokkan kabel hairdryer dan mulai mengeringkan helai rambutnya di depan cermin. Stellan tidak beranjak pergi; pria jangkung itu tetap berdiri tegap dua langkah di belakang kursi rias Elara, memperhatikan pantulan wajah istrinya dari cermin dengan tatapan yang amat dalam.

​Setelah suara dengung hairdryer dimatikan dan keheningan kembali membungkus ruangan, Stellan mengambil alih sisir kayu di atas meja rias. Dengan gerakan yang sangat pelan, canggung, dan ekstra hati-hati, seolah-olah sedang memegang porselen paling rapuh di dunia, jemari besar Stellan mulai menyisir rambut halus Elara dari belakang.

​Elara membeku di kursinya. Cermin di hadapannya memantulkan raut wajah Stellan yang tampak begitu fokus, tegang, dan bersungguh-sungguh menyisir rambutnya.

“Sepertinya ini pertama kali saya menyisir rambut perempuan”

​Elara mengulas senyum goda, tidak tahan untuk tidak memprotes ucapan kaku suaminya. "Serius? Kamu punya adik perempuan dan Luna sudah hampir tiga tahun tinggal disini, sepertinya itu hanya alasan kamu supaya aku ngerasa seneng kan? 

​Gerakan tangan Stellan seketika terhenti di udara. Pria jangkung itu berdeham cukup keras, warna kemerahan merambat cepat dari rahang hingga ke ujung telinganya karena kepergok logika istrinya.

​"Maksud saya..." ujar Stellan dengan nada suara rendah yang terbata-bata dan canggung luar biasa, "ini pertama kalinya saya menyisir rambut seorang wanita dewasa... wanita yang saya cintai."

​Deg.

​Sensasi hangat dan sengatan mendebarkan seketika menjalar ke seluruh pembuluh darah Elara. Pipi Elara merona merah padam, matanya berkedip tak percaya menatap pantulan Stellan dari cermin.

​Stellan meletakkan sisir kayu itu kembali ke atas meja rias. Pria itu menundukkan kepala tegapnya sedikit, menatap mata cokelat Elara lurus-lurus melalui cermin.

​"Kita ini... sama-sama kaku dan canggung, Elara," aku Stellan dengan nada jujur yang begitu polos. "Tapi kalau kita terus-terusan canggung seperti ini, kapan kita bisa terbiasa? Kita harus mulai terbiasa dekat... sebagai suami istri."

​Mendengar pengakuan lugas dan kaku dari pimpinan tertinggi Caelmont Corp yang mendadak berusaha keras menjadi suami romantis itu, tawa halus Elara akhirnya pecah. Stellan yang melihat istrinya tertawa bahagia ikut menyunggingkan senyum tipis yang amat tampan, sebuah gelak tawa bersama yang seketika menyapu bersih seluruh sisa kekakuan dan jarak di antara mereka.

​Stellan perlahan merangkul bahu Elara dari belakang, menyandarkan dagunya di ceruk leher Elara dengan hembusan napas hangat yang menenangkan.

​"Elara..." panggil Stellan rendah.

​"Ya, Stellan?"

​"Soal berkas persidangan dan saksi yang dibawa pihak musuh tadi pagi..." Stellan jeda sejenak, mengencangkan pelukan tangannya di bahu Elara. "Saya rasa... kamu berhak tahu segalanya malam ini."

​Beberapa menit kemudian, lampu utama kamar telah dipadamkan, menyisakan pendar lampu tidur temaram berwarna keemasan.

​Di atas tempat tidur king-size yang luas, Elara dan Stellan duduk bersandar pada headboard kayu tebal, tertutup selimut abu-abu hingga sebatas pinggang. Jarak mereka begitu dekat hingga lengan mereka saling bersentuhan hangat.

​Stellan menatap lurus ke depan, jemari tegapnya meremas lembut jemari halus Elara di atas selimut.

​"Nama saksi yang tertera di amplop pengadilan tadi pagi adalah Hendra Vance," ujar Stellan memulai dengan suara beratnya yang tenang namun mendingin. "Paman kandung dari almarhum Tristan... ayah kandung Luna."

​Elara mendengarkan dengan penuh perhatian, meremas balik jemari Stellan untuk menyalurkan kekuatan batin.

​"Hendra Vance adalah pria yang amat haus harta," lanjut Stellan. "Tiga tahun lalu, tepat tiga hari setelah kecelakaan maut yang menewaskan Tristan dan Alyssa, pria itu mencoba memalsukan surat kuasa untuk menjual saham warisan Luna. Saya menghentikannya dan mendepaknya dari jajaran pemegang saham Vance Corp. Sekarang... Tante Henny dan Pengacara Reihan sengaja membayarnya untuk menjadi saksi bohong, mencoba membuktikan bahwa saya merebut hak wali Luna demi menguasai aset."

​Elara membelalak pelan, rasa geram menyelinap di dadanya. "Pria itu sungguh tega memanfaatkan duka dan trauma Luna demi uang..."

​"Saya tidak akan membiarkan dia menyentuh atau menakuti Luna lagi," tegas Stellan tajam. Pria itu menghembuskan napas panjang, lalu memutarkan tubuhnya miring, menatap mata cokelat Elara lurus-lurus di bawah pendar remang lampu.

​"Dan soal Tristan dan Alyssa..." Stellan menelan ludahnya kaku, raut wajahnya tampak begitu jujur, polos, dan rentan. "Mereka adalah dua sahabat terbaik saya sejak kecil."

​Elara berkedip pelan, membalas tatapan suaminya dengan kelembutan. "Sahabat terbaikmu?"

​"Ya," aku Stellan serak. "Tristan Xavier Vance dan Alyssa Rosalind. Kami bertiga tumbuh bersama. Tristan adalah sosok yang hangat dan ceria kebalikan dari saya yang kaku dan hanya tahu buku pelajaran. Dan Alyssa..."

​Stellan memejamkan matanya sejenak, merogoh kenangan masa lalunya tanpa ada yang disembunyikan lagi di depan istrinya. "Mungkin aneh menyampaikan ini, saat masa SMA... saya pernah mengagumi kelembutan Alyssa. Saya menyukainya secara diam-diam. Tapi karena saya kaku dan buta asmara, saya tidak pernah tahu cara mengungkapkan perasaan itu."

​Dada Elara berdesir pelan mendengar pengakuan itu, namun ia tetap diam mendengarkan, membiarkan Stellan menyelesaikan kalimatnya secara utuh.

​"Begitu saya sadar Tristan dan Alyssa saling menyukai dan ikatan mereka jauh lebih hangat..." lanjut Stellan dengan kerendahan hati yang murni, "saya memilih mundur secara terhormat. Saya bahagia melihat Alyssa berada di tangan sahabat terbaik saya. Sejak mereka menikah dan adanya Luna, saya mengunci pintu hati saya rapat-rapat. Saya pikir... perjalanan asmara dalam hidup saya sudah selesai."

​Stellan menggeser posisinya lebih dekat. Jemari tegapnya terulur merengkuh kedua belah tangan Elara, menggenggamnya hangat dan erat. Iris mata gelap Stellan menatap Elara dengan pendar kejelasan yang begitu kuat dan mengikat.

​"Tapi itu dulu, Elara," bisik Stellan rendah, nada suaranya bergetar menahan luapan emosi yang begitu tulus. "Rasa kagum saya pada Alyssa di masa muda adalah kenangan masa lalu yang murni dan sudah diikhlaskan sepenuhnya. Tanggung jawab saya pada Luna adalah janji persahabatan saya pada Tristan dan Alyssa."

​Stellan menundukkan kepalanya sedikit, mendekatkan wajahnya hingga kening mereka hampir bersentuhan.

​"Tapi kamu... Elara..." bisik Stellan serak, ibu jarinya mengelus lembut pipi hangat Elara. "Kamu bukan bayang-bayang siapa pun. Kamu adalah wanita pertama yang membuat jantung saya berdetak hebat seperti ini. Kamu adalah cinta dewasa saya yang nyata... alasan saya ingin memiliki rumah tangga yang sebenarnya."

​Air mata keharuan merebak di sudut mata cokelat Elara. Mendengar pengakuan paling jujur dan terbuka dari pria yang biasanya sangat dingin dan kaku itu, seluruh keraguan dan ketakutan yang tersisa di dalam batin Elara runtuh seketika.

​Di dalam sudut hatinya yang paling dalam, Elara menegaskan janji pada dirinya sendiri. Kertas perjanjian nikah kontrak satu tahun yang pernah mereka tandatangani dulu... kini sudah sepenuhnya hangus, mati, dan tak berarti lagi. Pria kaku di hadapannya ini bukan lagi sekadar mitra hukum atau 'Tuan CEO', melainkan suaminya yang nyata. Elara telah mantap menyerahkan seluruh hatinya, siap hidup dan menua bersama Stellan dan Luna selamanya.

​Elara mengulas senyum manis yang mekar sempurna. Tangan halusnya terulur menyentuh rahang kokoh Stellan, mengelusnya dengan rasa cinta yang mendalam.

​"Terima kasih sudah jujur padaku, Stellan," bisik Elara halus, mendekatkan wajahnya dan mengecup pelan pipi tegap Stellan. "Aku tidak cemburu pada masa lalumu. Justru... aku makin bangga pada pria yang berdiri di depanku hari ini."

​Stellan terpaku sejenak menerima kecupan lembut di pipinya. Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyuman tampan yang amat langka. Pria jangkung itu merangkul pinggang Elara, menarik tubuh istrinya secara utuh ke dalam pelukan hangatnya di atas tempat tidur.

​Elara menyandarkan kepalanya dengan nyaman di dada tegap Stellan, mendengarkan detak jantung suaminya yang berpacu kencang namun penuh rasa aman.

​"Besok di ruang sidang..." bisik Elara mantap sembari membalas pelukan Stellan erat-erat, "aku akan berdiri di sisimu, Stellan. Kita akan lindungi Luna serta rumah tangga kita bersama-sama."

​"Iya, Elara... bersama-sama, kamu juga harus inget Elara, perjanjian kontrak kita sudah tidak ada lagi. Aku milikmu," jawab Stellan rendah, membenamkan wajahnya di helai rambut harum vanilla milik istrinya.

​Di bawah remang pendar lampu kamar utama malam itu, dengan kejujuran yang telah terurai tanpa rahasia dan batin yang telah menyatu utuh, Stellan dan Elara akhirnya memejamkan mata dalam satu pelukan erat, siap menyongsong fajar esok hari untuk menghadapi badai persidangan sebagai sepasang suami istri sejati.

1
Rian Moontero
mampiiirr👍
Mei TResna Rahmatika
akhirnya up kak😍
Mei TResna Rahmatika
lanjut kak,baguss ceritanya 😍
Ranaraworld: makasih kak, tungguin terus ya kelanjutan nyaa
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
bab 1 udah menarik kak,lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!