Setelah diminta mengundurkan diri dari jabatannya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, Viola Shania memilih memulai hidup baru dengan membuka toko kue sederhana bernama Sweet Cake.
Di balik senyum manis dan kue-kue manis yang dibuatnya, tersimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Sebuah kejadian tak terduga mengubah jalan hidupnya, memaksanya menikah dengan Han Seokjin, seorang CEO dingin, angkuh, berusia 35 tahun. Han Seokjin menutup rapat pintu hatinya setelah cinta tak berbalas terhadap sepupunya sendiri.
Di tengah pernikahan yang penuh tantangan, Viola bertekad mencairkan hati suaminya.
Mampukah ia meraih cinta Seokjin, atau justru menyerah pada takdir yang tak pernah berpihak padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20.
Dua jam berlalu sejak Sweet Cake dibuka, tetapi belum ada satu pun pelanggan yang datang.
"Sepi banget, ya." Rani mengeluh pelan dari balik etalase.
"Iya. Padahal kemarin ramai banget." Siska ikut menimpali sambil melirik pintu kaca. "Orang-orang pada ke mana, sih?"
"Eh, pamali tahu. Jangan ngeluh." Dimas yang sedang mengelap meja membuka mulutnya. Ia menoleh. "Namanya juga usaha. Ada pasang surutnya."
"Tapi seenggaknya, ada satu orang gitu yang masuk. Nggak sepi banget banget kaya gini," keluh Rani.
"Padahal masih dapet diskon sampe besok." Siska melirik papan promosi di depan toko.
"Sudah, jangan terlalu dipikirkan." Viola keluar dari arah dapur sambil melepas sarung tangan. "Baru dua jam kita buka. Masih terlalu pagi untuk menyerah."
"Tapi kemarin rame banget, Bu." Rani kembali berkomentar.
"Jangan jadikan kemarin sebagai ukuran hari ini." Viola tersenyum kecil. "Setiap hari punya ceritanya sendiri."
Rani dan Siska saling pandang.
"Kalau sampai siang masih sepi bagaimana, Bu?"
"Berarti rezekinya sore hari," sahut Dimas optimis.
"Dimas benar." Viola menjawab tenang. Ia kemudian melirik ke arah etalase. "Kalian jangan memasang wajah sedih begitu. Nanti pelanggan yang datang malah takut masuk."
Rani terkekeh kecil. "Iya, Bu."
Viola kembali tersenyum, lalu berjalan menuju dapur. Namun, begitu punggungnya membelakangi mereka, senyum itu perlahan memudar. Ia juga merasakan hal yang sama.
Dalam dua jam belum ada satu pun pelanggan yang masuk. Padahal tulisan diskon masih terpampang jelas di depan toko. Bahkan ia sengaja memperpanjang promo itu hingga dua hari ke depan agar lebih banyak orang yang tertarik mencoba produk Sweet Cake.
Beberapa orang memang melirik. Ada yang memperhatikan papan nama, ada pula yang melihat etalase dari luas. Tetapi tidak ada yang masuk.
Viola menghembuskan napas pelan. Dari dapur ia menatap deretan cake yang masih utuh. "Tidak apa. Ini adalah awal. Aku sudah pernah melewati hal ini sebelumnya."
Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri. Sweet Cake harus berdiri dengan kemampuannya sendiri.
Beberapa menit berlalu. Dari dalam toko Rani dan Siska melihat seorang wanita paruh baya yang berjalan di depan toko bersama seorang anak kecil. Langkah mereka tiba-tiba terhenti.
Anak itu menunjuk gambar cake yang terpampang besar di depan toko. Wanita tersebut mengikuti arah tunjukkannya.
Beberapa detik kemudian, pintu kaca Sweet Cake terbuka.
"Selamat datang." Rani langsung menyapa.
Wanita itu tersenyum sambil menggandeng cucunya masuk. "Cucu saya tertarik melihat foto kue yang ada di depan."
"Silakan, Bu. Boleh dilihat-lihat dulu."
Anak kecil itu berdiri di depan etalase dengan mata berbinar. "Aku mau yang itu, Nek." Ia menunjuk ke arah Strawberry shortcake. "Yang itu juga." Lalu beralih pada puding karakter.
Wanita paruh baya itu tersenyum pada Rani. "Saya ambil beberapa kue. Yang ini, yang itu, dan yang di ujung sana. Masing-masing tiga potong."
"Baik, Bu. Sebentar, saya siapkan."
Siska ikut membantu mengambil beberapa kue dari etalase. Pesanan itu ternyata cukup banyak karena wanita tadi menambah beberapa potong cake lagi hingga beberapa kotak terisi penuh.
Di dapur, Viola yang mendengar suara pelanggan mulai kembali bekerja dengan lebih bersemangat. Sesekali ia melirik melalui celah pintu dapur ketika mendengar Rani dan Siska melayani pelanggan itu.
Setelah wanita itu dan cucunya pergi, toko kembali sepi. Hampir satu jam tidak ada pelanggan yang masuk.
Viola kembali sibuk memeriksa persediaan bahan sambil menunggu keadaan di depan.
Menjelang makan siang, suara pintu kaca yang dibuka kembali terdengar.
"Selamat datang," sapa Rani.
"Silakan, Kak. Dilihat dulu mana yang disuka." Siska ikut menyambut.
Beberapa orang berpakaian rapi masuk hampir bersamaan. Mereka tampak seperti karyawan sebuah perusahaan besar. Sebagian langsung menuju etalase, sementara yang lain memilih duduk.
"Kami pesan beberapa cake untuk dibungkus. Sekalian kopi dan minuman dingin," ujar salah seorang pelanggan wanita berambut sebahu.
"Silakan dipilih dulu, Kak." Rani menyerahkan buku menu pada pelanggan itu.
Pelanggan itu lalu menyebutkan pesanannya.
"Yang ini dua. Strawberry shortcake empat. Roti yang itu tiga. Puding karakternya 2. kopi latte 5."
"Jangan lupa tiramisu dan croissantnya masing-masing empat." Pelanggan lain yang berdiri di samping wanita tadi ikut menambahkan.
Siska sibuk mencatat pesanan itu.
"Mohon tunggu sebentar," ucapnya setelah menyebutkan ulang pesanan tadi.
Selanjutnya datang lagi beberapa orang pelanggan memesan beberapa jenis cake dan minuman dingin. Hingga akhirnya, ruangan yang sebelumnya sepi kini dipenuhi pelanggan.
Dapur yang semula tenang kembali dipenuhi suara aktivitas. Viola dan Pak Mario segera membuat adonan cake yang hampir habis. Rani dan Siska sibuk melayani pelanggan di depan, sementara Dimas dan Wawan sibuk mengantar pesanan ke meja masing pelanggan.
Awalnya Viola sempat mengira kedatangan mereka ada hubungannya dengan Seokjin. Namun, suara percakapan dari beberapa pelanggan, secara tidak langsung menjelaskan bahwa mereka ternyata datang karena penasaran setelah melihat unggahan dan ulasan dari beberapa orang yang kemarin datang dan mencoba produk kue Sweet Cake.
Senyum kecil muncul di bibir Viola. Ternyata dugaannya salah. Pelanggan yang datang hari ini tidak ada hubungannya dengan Seokjin. Mereka datang murni karena rasa penasaran yang tinggi.
"Pelan-pelan saja," bisiknya pada diri sendiri. "Sweet Cake pasti bisa lebih berkembang di sini."
**
Menjelang sore, beberapa pengunjung masih memenuhi ruangan Sweet Cake. Ada yang merasa bingung saat memilih beragam pilihan yang terpajang di etalase, ada pula yang menunggu pesanan yang sedang disiapkan.
Pengunjung yang datang hari ini memang tidak seramai kemarin, tetapi cukup membuat Viola berulang kali mengisi ulang etalase dengan cake dan roti yang baru matang. Ia juga ikut membantu melayani pelanggan atau mengantar pesanan.
"Ini pesanannya, Kak. Silakan dinikmati." Viola meletakkan dua piring cake dan dua gelas coffe latte di atas meja. Setelah memastikan semuanya lengkap, ia hendak berbalik menuju dapur.
Namun, langkahnya terhenti ketika pintu kaca Sweet Cake terbuka.
Seorang pria dan wanita masuk berdampingan. Keduanya tersenyum ramah ke arahnya.
"Apa kabar, Kak?" sapa wanita itu ramah.
Viola membeku. Matanya membesar sesaat. "Kalian ...."
***** Bersambung.
coba kalau jauh dari perkotaan, harga nya ga murah ga kemahalan juga.
ngarep boleh ya Thor