NovelToon NovelToon
Adik Angkatku Bukan Manusia

Adik Angkatku Bukan Manusia

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Anak Genius / Crazy Rich/Konglomerat / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:15.7k
Nilai: 5
Nama Author: Eidolon

Satu keputusan membawa Elara masuk ke keluarga Halvar. Gadis yang ditemukan di sebuah desa mati itu tidak banyak bicara. Ia hanya tahu bahwa dirinya kini memiliki rumah, keluarga, dan kehidupan yang jauh berbeda dari sebelumnya.

Namun, sejak Elara datang, sesuatu mulai terasa tidak biasa. Gadis itu terkadang mengatakan sesuatu sebelum hal itu terjadi, menghilang tanpa jejak lalu muncul tiba-tiba. Dan seolah mengetahui rahasia yang bahkan belum pernah diceritakan.

Semakin keluarga Halvar mengenalnya, semakin mereka menyadari satu hal… gadis yang mereka bawa pulang mungkin bukanlah gadis biasa.

Lalu, siapa Elara sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eidolon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bangunan besar itu menjulang di hadapan Elara.

Gadis itu berdiri diam di samping mobil keluarga Halvar. Mata hijaunya bergerak perlahan, menyapu bangunan yang dipenuhi kaca dan lampu tersebut.

“Ini… mall?”

Faresta yang baru saja menutup pintu mobil mengangguk singkat.

“Iya.”

Elara masih menatap bangunan itu. “Besar sekali…”

Faresta tersenyum tipis. “Memangnya kamu kira mall seperti apa?”

Elara mengalihkan pandangannya kepada Faresta.

“Seperti rumah kita.”

Elara kembali melihat bangunan di hadapannya. “Berapa luas hutan yang hilang karena bangunan ini?”

Faresta langsung terdiam.

Ia menatap Elara beberapa detik, seolah berharap dirinya salah dengar.

Faresta menghela napas kecil. “Aku… tidak begitu tahu.”

Elara mengangguk pelan. “Begitu.”

Hanya itu, tidak ada pertanyaan lain. Seolah jawaban Faresta sudah cukup memuaskan rasa penasarannya.

Faresta menggeleng kecil sebelum akhirnya memberi isyarat agar Elara mengikutinya.

“Ayo masuk.”

Elara mengangguk patuh.

Mereka baru berjalan beberapa langkah melewati pintu utama ketika Elara kembali menghentikan langkahnya.

Faresta yang berjalan di sampingnya ikut berhenti. “Kenapa?”

Elara tidak menjawab. Tatapannya justru tertuju pada sebuah tangga yang terus bergerak naik dan turun tanpa henti.

Ia memperhatikannya cukup lama hingga Faresta ikut melihat ke arah yang sama.

Telunjuk Elara perlahan terangkat. “Itu tangganya rusak?”

“Hah?” Faresta menoleh.

“Itu…” Elara menunjuk eskalator. “Dia bergerak terus.”

Faresta menatap eskalator tersebut, kemudian kembali melihat Elara.

Butuh beberapa detik sampai akhirnya ia menyadari sesuatu.

Elara benar-benar tidak tahu apa itu eskalator.

“Itu bukan rusak.” Faresta menunjuk ke arah tangga berjalan tersebut. “Namanya eskalator.”

“Es-eskalator?”

“Iya.”

Elara kembali menatap benda itu.

“Cara kerjanya memang seperti itu,” jelas Faresta santai. “Supaya orang tidak perlu capek naik atau turun tangga.”

Elara memperhatikan orang-orang yang dengan santainya berdiri di atas eskalator. Ada yang sibuk melihat ponsel, ada yang mengobrol, dan ada pula yang bahkan membawa beberapa kantong belanja.

Tidak seorang pun terlihat kesulitan.

“Ternyata manusia memang cepat lelah.”

Faresta mengusap pelipisnya pelan. “Bukan begitu maksudnya.”

Elara menoleh dengan tatapan bingung.

Faresta mengembuskan napas panjang sebelum kembali berjalan.

“Sekarang aku mulai paham kenapa Leonard dan Lionel sering bilang cara berpikirmu berbeda.”

Elara menyusul langkahnya. “Berbeda bagaimana?”

Faresta meliriknya sekilas. “Sulit dijelaskan.”

“Kenapa?”

“Karena setiap kali aku mencoba menjelaskan, kamu selalu punya pertanyaan yang membuatku tidak tahu harus menjawab apa.”

Elara terdiam sejenak. “Oh.”

Faresta kembali menghela napas. “Elara.”

“Hm?”

“Itu bukan kesimpulan yang harus diambil.”

Elara mengangguk kecil. “Baiklah.”

Faresta menatapnya sebentar, lalu tanpa sadar tersenyum tipis.

Sepertinya membawa Elara ke mall tidak akan menjadi perjalanan yang sederhana.

Mereka akhirnya menaiki eskalator.

Begitu sampai di lantai dua, Elara langsung menoleh ke belakang. Tatapannya masih tertuju pada eskalator yang terus bergerak membawa orang-orang dari lantai bawah.

“Kalau listriknya mati saat kita di atas…” Elara berhenti sebentar, lalu menatap Faresta. “Tangga itu akan berhenti?”

“Iya.”

“Kalau begitu, kita turun jalan kaki?”

“Iya.”

Elara mengangguk-anggukkan kepala. “Hm. Berarti manusia tetap membutuhkan tangga biasa.”

Faresta memejamkan mata sejenak.

Entah kenapa, membawa Elara ke mall terasa jauh lebih melelahkan daripada menghadiri rapat direksi selama tiga jam.

“Kak Faresta?”

“Hm?” Faresta membuka matanya kembali.

“Mall ternyata menarik.”

Faresta menoleh. Sudut bibirnya sedikit terangkat. Wajahnya yang biasanya kaku terlihat sedikit melunak.

“Bagus kalau kamu suka.”

Elara kembali mengedarkan pandangan ke sekeliling.

Toko-toko berjajar di sepanjang koridor. Orang-orang berlalu-lalang dengan membawa kantong belanja, sementara suara musik dari beberapa toko terdengar bersahutan.

“Di sini ada banyak hal yang tidak ada di hutan.”

Faresta kembali menghela napas. Lagi-lagi hutan. Tentu saja perbedaannya sangat jelas.

Sepertinya akan butuh waktu cukup lama sampai Elara benar-benar terbiasa dengan kehidupan di kota.

Mereka kembali melanjutkan langkah menyusuri koridor pusat perbelanjaan.

Di kanan dan kiri, berbagai toko berjajar rapi. Elara tak henti-hentinya mengamati setiap etalase dengan rasa penasaran. Sesekali ia bahkan berhenti beberapa detik hanya untuk memperhatikan benda-benda yang menurutnya menarik.

Faresta yang berjalan beberapa langkah di depannya terpaksa ikut berhenti setiap kali Elara berhenti.

Hingga sebuah aroma manis tiba-tiba menguar di udara.

Elara langsung menghentikan langkah.

Hidungnya bergerak pelan, seolah sedang mengenali sumber aroma tersebut.

Faresta yang menyadari langkah Elara berhenti ikut menoleh.

“Kenapa?”

Elara tidak menjawab. Ia justru mengangkat tangan dan menunjuk sebuah toko dengan etalase penuh aneka roti dan kue.

“Baunya… enak.”

Faresta mengikuti arah telunjuknya. “Itu toko roti.”

“Roti?”

“Iya.”

Elara kembali mencium aroma yang semakin terasa kuat.

“Di hutan tidak ada yang baunya semanis ini.”

Faresta terdiam sebentar. Kemudian ia mengubah arah langkahnya.

“Kalau begitu, kita masuk.”

Mata Elara langsung mengikuti langkah Faresta.

Bel kecil berbunyi saat pintu toko terbuka.

Aroma mentega, susu, dan roti yang baru matang langsung memenuhi udara. Mata hijau Elara bergerak ke segala arah, memperhatikan setiap sudut toko.

Di balik etalase kaca, berbagai macam roti dan kue tersusun rapi dengan bentuk dan ukuran yang berbeda-beda.

“Banyak sekali.”

Faresta berdiri di sampingnya. Ia menunjuk salah satu roti yang berada paling dekat dengan Elara.

“Ini namanya croissant.”

Telunjuknya berpindah ke roti lainnya.

“Kalau yang itu roti sobek.”

Mata Elara terus mengikuti ke mana telunjuk Faresta mengarah.

“Yang itu cheesecake.”

Tatapannya langsung berhenti pada sepotong kue berwarna putih kekuningan dengan lapisan tipis di atasnya.

“Kenapa namanya memakai kata keju?” Elara memiringkan kepala. “Padahal bentuknya bukan keju.”

“Karena bahan utamanya memang keju.”

“Oh.” Elara mengangguk kecil.

Ia kembali memperhatikan kue tersebut beberapa saat. “Kalau yang itu?”

“Itu red velvet.”

“Yang cokelat?”

“Chocolate mousse.”

“Yang hijau?”

“Matcha.”

Elara mengangguk pelan setiap kali Faresta menjelaskan.

Sementara itu, Faresta mulai merasa seperti sedang menemani seseorang mengikuti pelajaran dasar tentang kehidupan manusia.

Hingga akhirnya Elara menunjuk salah satu kue.

“Aku mau mencoba yang itu.”

“Cheesecake?”

“Iya.”

Faresta menatap kue yang ditunjuk Elara. “Kenapa?”

Elara diam sebentar. Tatapannya masih tertuju pada cheesecake di balik kaca.

“Karena warnanya menenangkan.”

Faresta kembali dibuat terdiam. Ia menatap Elara, kemudian kembali melihat kue yang dipilihnya.

Sekali lagi, cara berpikir Elara benar-benar di luar dugaan.

Bukannya memilih karena terlihat lezat. Gadis itu justru memilih berdasarkan… warna.

Faresta mengembuskan napas pelan sambil menggeleng kecil.

“Baiklah. Cheesecake.”

Elara mengangguk puas. “Terima kasih, Kak Faresta.”

Faresta hanya mengangguk, lalu meminta pelayan mengambilkan kue tersebut.

Namun tanpa disadari Elara, sejak saat itu satu hal mulai berubah.

Untuk pertama kalinya, gadis yang selalu menganggap hutan sebagai tempat paling nyaman mulai menemukan sesuatu yang juga ia sukai di dunia manusia.

Beberapa menit kemudian, cheesecake itu telah tersaji di atas meja dekat jendela.

Elara duduk dengan tenang. Ia mengambil garpu dengan sedikit canggung, lalu memotong bagian kecil dari kue tersebut.

Perlahan, ia memasukkannya ke dalam mulut.

Begitu rasa manis dan lembut itu terasa, mata hijaunya perlahan membesar.

Faresta yang duduk di hadapannya langsung memperhatikan perubahan ekspresi tersebut.

“Bagaimana?” tanyanya.

Elara menelan suapannya terlebih dahulu sebelum menjawab.

“Ini…” Ia berhenti sebentar, seolah mencari kata yang tepat. “Enak.”

Sudut bibirnya terangkat sangat tipis. Senyum yang hampir tak terlihat.

Namun, itu sudah cukup untuk membuat Faresta menyadari satu hal.

Gadis itu benar-benar menyukainya.

“Kalau begitu, nanti kita beli untuk dibawa pulang,” ujar Faresta sambil tersenyum kecil.

Elara mengangguk pelan. “Mama pasti juga suka.”

Mendengar itu, Faresta tersenyum tipis. “Boleh.”

Tak lama kemudian, mereka keluar dari toko dengan beberapa kotak kue di tangan Faresta.

Suasana mall masih ramai. Orang-orang berlalu-lalang di sepanjang koridor, sebagian sibuk membawa kantong belanja, sementara suara percakapan terdengar dari berbagai arah.

Namun, baru beberapa langkah meninggalkan toko, langkah Elara perlahan melambat.

Faresta yang berjalan di sampingnya ikut berhenti. “Elara?”

Gadis itu tidak menjawab.

Tatapan hijaunya yang semula tenang tiba-tiba berubah tajam. Bahkan dalam sekejap, warna matanya terlihat lebih terang dari sebelumnya.

“Ada seseorang.”

Faresta mengernyit. “Maksudnya?”

Elara masih diam. Matanya bergerak perlahan, menyapu kerumunan pengunjung yang berlalu-lalang di hadapan mereka.

Kemudian, tatapannya berhenti di balkon lantai tiga.

Seorang pria berjaket abu-abu tua baru saja menurunkan ponselnya. Ia berdiri di antara beberapa pengunjung sambil memperhatikan sesuatu dari kejauhan.

Saat tatapannya bertemu dengan mata Elara, pria itu tampak terkejut.

Ia segera memasukkan ponselnya ke dalam saku, lalu berbalik dan menghilang di balik kerumunan.

Faresta ikut menoleh ke arah balkon tersebut. “Siapa dia?”

Elara masih menatap ke tempat pria itu menghilang.

Wajahnya kini terlihat jauh lebih serius.

“Dia…” Elara terdiam sejenak.

Kemudian perlahan menoleh kepada Faresta. “...Orangnya Adrian.”

1
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥ 💎
mimpi saja kau untuk mendapatkan kekuatan Ellara/Drowsy/, yang satu haus kekuasaan, yang satu haus kekuatan, kalian sama-sama gila /Drowsy//Drowsy/
Nonik Anda Swl
Ah great, next please Thor, thank you 🌹🙏
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥ 💎
kan kamu juga yang minta Ellara untuk menjadikan dia anaknya /Drowsy/
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥ 💎
akhirnya pertanyaan itu keluar juga, aku juga penasaran, siapa sebenarnya Ellara ini/Slight/
Ayu Padi
kereeen ...seru sekali ....💪💪💪💪 up nya Thor selalu di tunggu..
Ayu Padi
keren sekali cerita nya Thor...br baca langsung marathon. selalu penasaran tiap bab nya.. sebnrny siapa Elara ya Thor.. ..ditunggu up nya Thor yg rajin up ya Thor... cerita ny campe tamat Thor...ceritanya lain dari yg lain seru sekali tp Napa yg baca dikit yaaa.... Semangatt up
Nonik Anda Swl
Thank you Thor, di tunggu next nya ya kayau 💪💪🌹🌹
Nonik Anda Swl
Next Thor please 🙏,thank you 🌹
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥ 💎
Ayo beri Bianca pelajaran Ellara /Determined/
Nonik Anda Swl
Thank you Thor ,kayau 💪💪💪🌹
Nonik Anda Swl
ceritanya luar biasa, membuat candu yang membaca nya.
Nonik Anda Swl
double up please Thor, serasa terlalu sedikit, maaf, but thank you buat up nya 🌹🌹 kayau 💪💪💪💪
Nonik Anda Swl
next please 🙏
Nonik Anda Swl
thank you Thor, 🌹🌹 next please 🙏di tunggu dari Hongkong
Exo L
✨✨✨✨✨
Nonik Anda Swl
thanks Thor, next please 🙏🌹
Nonik Anda Swl
next please Thor kayau 💪💪 thank you ya Thor 🌹🌹🌹
Nonik Anda Swl
Ah aku kecanduan baca ini Thor, bagaimana ini hik hik, di tunggu next nya ya, sukses selalu Thor, thank you 🙏
Nonik Anda Swl
keren Thor, thank you ya, di tunggu next nya ah ngk sabar
lily
menarik.. semoga sampai tamat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!