Pernikahan Ardan dan Naresa dimulai dengan duka.
Namun, rumah tangga yang mereka bangun perlahan kembali diuji oleh cinta lama yang seharusnya telah menjadi masa lalu, serta cinta dari seseorang yang seharusnya tidak mencintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yavarnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertanyaan Keluarga
"Om Ardan!"
"Ehh, Kiaa..." Ardan merangkul balik Kiara yang memeluknya begitu erat. "Selamat ulang tahun, Kia." Ia melepaskan rangkulan itu lalu memberikan hadiahnya pada Kiara. "Ini dari Om sama Tante Resa.” Ardan melirik sekilas pada Naresa.
"Selamat ulang tahun, ya Kiara," kata Naresa sembari tersenyum.
"Makasih, Tante Resa." Kiara membalas ucapan Naresa. "Ayo masuk, yang lain udah nunggu." Kiara menarik pergelangan tangan Ardan.
Ardan mengangguk singkat, lalu menarik pergelangan tangan Naresa agar mengikutinya.
“Selamat malam, Om, Tante,” sapa Ardan begitu sudah berada di hadapan keluarga besarnya yang telah berkumpul. “Maaf kita datangnya telat."
“Ayo, duduk aja, Dan,” kata ayah Kiara
Ardan dan Naresa pun berjalan beriringan mendekati meja panjang yang sudah dipenuhi banyak orang. Sesampainya di kursi sana, Ardan menarikkan sebuah kursi untuk Naresa.
“Di sini aja, sayang.”
Tanpa banyak bicara, Naresa pun duduk. Begitu matanya berkeliling, akhirnya matanya berhenti pada Kale yang duduk di depannya yang sedang mengemil makanannya, tatapannya santai, menaikkan sebelah alisnya menatap Naresa. Melihat itu Naresa kembali mengalihkan pandangannya pada yang lain.
Perayaan ulang tahun Kiara pun berlangsung begitu meriah. Lilin telah ditiup, kue telah dipotong, dan ucapan ulang tahun dari kedua orang tua serta keluarga besar telah disampaikan. Setelahnya, orang-orang mulai berpencar, begitu pun dengan Ardan. Biasa si social butterfly. Beberapa masih mengobrol di sekitar meja makan, sementara Naresa tetap duduk di tempatnya sembari mengemil beberapa makanan.
“Udah berapa lama Kal, kamu di luar negeri?” tanya salah satu tante yang kemudian duduk di samping Kale.
Kale yang sedang makan sembari menatap ponselnya langsung menoleh. “Kayaknya 10 tahunan, lah.”
“Betah juga, ya, kamu.” Tante itu terkekeh kecil. Matanya berkelana menatap penampilan Kale. “Itu nggak sakit, apa, piercing sebanyak itu?”
Kale kembali fokus pada ponselnya. Ia terdiam sejenak. Sudah bisa ditebak arah obrolannya akan ke mana.
“Biasa aja,” jawab kale sekadarnya, tak berniat menanggapi lebih lanjut.
“Aduh, Kal, udah gede aja kamu,” Tante yang lain tiba-tiba ikut berkomentar sembari menepuk-nepuk pundaknya. “Udah punya pacar belum? Gagah gini, masa belum?” Tawa kecil kembali terdengar dari bibir tantenya.
“Iya, bener tuh,” sahut tante yang tadi berbicara dengan Kale.
"Gak minat," jawab Kale lagi-lagi datar.
"Nggak boleh gitu kalau ngomong," sahut tante yang lain.
Naresa hanya menahan senyum kecil melihat perubahan raut wajah Kale yang mulai menunjukkan betapa kesalnya dirinya.
"Tato kamu makin banyak aja, Kal. Nggak sakit, apa?"
"Iya, kalau nggak salah, pas masih kecil tuh kamu suka banget, kan, sama kulit yang bersih? Katanya sayang, nggak mau ngerusak kulit sendiri. Ehh, sekarang pas udah gede malah ngelakuin hal yang dulu kamu nggak gak suka."
"Ya, kan setiap orang berubah, lah, Tan. Dulu ya dulu, sekarang ya sekarang." Kale menatap ketiga tantenya itu.
"Resa!" panggil Kale begitu saja, membuat Naresa tentu saja terkejut. Ke-3 tante itu pun kini menatap Naresa.
"Astaga! Lupa kalau di sini ada Resa," kata salah satu tante.
Mendengar itu, Naresa hanya tersenyum simpul. Ia menatap Kale dengan sedikit pelototan seakan berkata, gara gara kamu, Kal!
Kale yang ditatap itu hanya menyengir lebar, tak merasa bersalah sedikit pun.
"Gimana, Res? Belum ada tanda-tanda, nih?" tanya Tante yang lain.
Naresa mengernyit. "Tanda-tanda?"
"Keturunan, Res." celetuk tante yang lain. "Kamu tahu, kan, Ardan itu suka anak-anak? Dulu itu—"
"Dulu mulu," potong kale cepat.
"Ya, emang dulu kalian itu memang suka cerita apa pun. Sekarang mah boro-boro." Tante itu menoleh pada kale.
"Iya tuh," kata tante yang lain. "Ardan itu kan pengen banget jadi ayah. Nggak kebayang dia kalau jadi ayah bakal sesayang aoa sama anaknya nanti."
"Dara, istrinya Jamal, udah hamil, ya? 4 bulan?" tanya Tante lain. "Kalian belum, Res?" Tante itu menatap Naresa.
"Udahlah... Itunkan urusan rumah tangga mereka," kata Kale melerai setelah melihat kakak iparnya yang hanya diam.
Kale menunduk, lalu mengetik cepat di ponselnya.
Dan, istri lo.
Pesan itu langsung terkirim ke nomor Ardan.