Serina Nirmala harus kehilangan suaminya, secara tragis tepat di hari ulang tahun putra mereka. Saat hendak membeli kue, Riki tewas tertabrak mobil Jovan Narendra, seorang pembalap muda yang saat itu kehilangan kendali akibat pengaruh obat yang diam-diam diberikan oleh seseorang yang ingin mencelakainya.
Dihantui rasa bersalah, Jovan berniat menebus kesalahannya dengan menikahi Serina, seorang wanita yang lima tahun lebih tua darinya. Awalnya Serina menolak, tetapi demi masa depan putranya dan karena Jovan bersedia bertanggung jawab atas kehidupan mereka, ia akhirnya menerima pernikahan tersebut.
Namun, pernikahan yang dimulai dari rasa bersalah perlahan berubah menjadi cinta bagi Jovan. Sementara Serina masih bergulat dengan luka kehilangan suaminya, sebuah pertanyaan terus menghantuinya.
Mampukah ia mencintai pria yang menjadi penyebab kematian suaminya, atau pernikahan ini justru menyimpan tujuan lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15
Siang itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Farel merasakan bagaimana rasanya berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan yang begitu besar dan mewah.
Lampu-lampu terang menghiasi setiap sudut mall. Musik lembut terdengar dari berbagai toko, sementara aroma makanan menggoda memenuhi udara.
Farel berjalan sambil menggenggam erat tangan Jovan.
Matanya tak henti-hentinya bergerak ke sana kemari.
"Om... itu apa?"
"Restoran."
"Kalau itu?"
"Toko mainan."
"Kalau yang itu?"
"Itu toko baju."
"Kalau yang itu?"
Jovan terkekeh.
"Farel, dari tadi semua ditanyain. Om juga bisa capek jawabnya."
Farel justru tertawa.
"Farel baru pertama kali ke sini, Om."
Jovan terdiam sejenak.
Entah mengapa, kalimat sederhana itu membuat dadanya terasa sesak.
Anak seusia Farel seharusnya mengenal tempat-tempat seperti ini. Seharusnya ia bisa menikmati masa kecilnya tanpa harus memikirkan keadaan ekonomi keluarganya.
Namun selama ini, Farel hidup sederhana bersama Serina dan Riki.
Bahkan untuk membeli sesuatu yang bukan kebutuhan pokok pun mereka harus berpikir berkali-kali.
Hari ini, Jovan ingin memberikan sedikit kebahagiaan kepada anak itu.
Mereka akhirnya masuk ke sebuah restoran cepat saji yang menjadi favorit anak-anak.
Begitu makanan datang, mata Farel langsung berbinar.
Ada ayam goreng, kentang goreng, burger, nugget, minuman dingin, hingga es krim sebagai hidangan penutup.
"Om... semuanya boleh dimakan?"
Jovan tertawa.
"Iya. Tapi jangan semuanya sekaligus. Nanti perut kamu sakit."
Farel mengangguk cepat.
Ia langsung mengambil ayam goreng dan menggigitnya dengan lahap.
"Enak banget!"
Jovan tersenyum melihatnya.
"Makan pelan-pelan."
"Farel suka!"
"Kalau suka, habiskan."
Farel makan dengan wajah bahagia. Sesekali ia mengambil kentang goreng dan mencelupkannya ke saus.
Jovan hanya bisa tersenyum.
Untuk pertama kalinya, ia merasa bahagia hanya karena melihat seorang anak kecil menikmati makanan.
Setelah selesai makan, Jovan mengajak Farel menuju toko mainan.
Begitu memasuki toko tersebut, Farel kembali terpana.
Berbagai macam mobil-mobilan, robot, boneka, puzzle, dan mainan lainnya terpajang di rak-rak tinggi.
"Om!"
"Kenapa?"
"Boleh pilih satu?"
Jovan mengangguk.
"Satu?"
Farel berpikir sejenak.
"Kalau dua?"
Jovan tertawa.
"Dasar."
Akhirnya Jovan membiarkan Farel memilih beberapa mainan yang memang ia sukai.
Farel begitu bahagia sampai-sampai terus tersenyum sepanjang perjalanan keluar dari toko.
Namun saat mereka melewati sebuah butik, langkah Farel mendadak berhenti.
Tatapannya tertuju pada sebuah tas wanita yang dipajang di balik etalase kaca.
Tas itu terlihat sederhana, tetapi elegan dan cocok digunakan untuk bekerja.
Farel tidak mengatakan apa-apa.
Jovan yang berjalan beberapa langkah di depannya akhirnya menyadari bahwa anak itu tidak lagi mengikutinya.
Ia kembali menghampiri.
"Farel?"
Anak itu masih menatap tas tersebut.
"Farel, kamu kenapa bengong?"
Farel menunjuk tas itu.
"Itu, Om..."
"Apa?"
Farel menundukkan kepalanya.
"Nanti kalau Farel punya rezeki, Farel pengen beliin Bunda tas itu."
Jovan terdiam.
"Kenapa?"
"Setiap hari Bunda pergi ke pabrik memakai tas yang sudah tidak layak pakai."
Farel menghela napas kecil.
"Talinya juga sudah hampir putus. Tapi Bunda selalu bilang tasnya masih bagus."
Jovan menatap wajah polos itu.
Farel kemudian tersenyum kecil.
"Farel tahu Bunda bohong."
Jovan terdiam.
Anak kecil itu ternyata memperhatikan semuanya.
"Selama ini kami memang nggak punya banyak uang, Om. Dulu Ayah juga sudah mulai bekerja dan bilang nanti kehidupan kami akan lebih baik."
Senyum Farel perlahan memudar.
"Tapi Ayah malah pergi selamanya."
Jovan menelan ludah.
Nama Riki kembali terlintas di pikirannya.
Farel mengusap matanya sebentar sebelum kembali tersenyum.
"Makanya kalau nanti Farel sudah besar dan punya banyak uang, Farel mau beliin Bunda rumah, tas, baju bagus... semuanya."
Hati Jovan terasa tersentuh.
Ia kemudian berjongkok di hadapan Farel.
"Farel."
"Iya, Om?"
"Kamu anak yang baik." Jovan mengusap kepalanya Farel. "Dan Om bangga sama kamu."
Farel tersenyum.
"Jadi... kita beli tas itu?"Jovan berdiri dan tersenyum.
"Bukan nanti kalau kamu punya rezeki." Jovan menunjuk ke arah butik."Tapi sekarang."
Farel membulatkan matanya. "Serius?"
"Serius."
"Tapi itu mahal, Om." Farel terdiam sejenak "Om punya uang."Farel tampak ragu. "Nanti Bunda marah?"
"Kalau Bunda marah, biar Om yang jelaskan."
Akhirnya mereka masuk ke butik tersebut.
Beberapa menit kemudian, Jovan keluar membawa sebuah tas kerja wanita yang elegan. Tas itu kemudian dimasukkan ke dalam tote bag besar berisi mainan dan beberapa barang lainnya. Jovan menyerahkannya kepada Farel.
"Ini tasnya Om selipkan di bagian paling bawah tote bag ini."
Farel mengangguk.
"Farel jangan ngomong apa-apa dulu sama Bunda, ya?"
Farel langsung mengacungkan kedua ibu jarinya.
"Siap, Om!"
Jovan tertawa. Namun diam-diam, kejadian itu ternyata tidak luput dari perhatian seseorang.
Dari kejauhan, seorang paparazi yang selama ini diam-diam mengikuti aktivitas Jovan mengangkat kameranya.
Klik.
Satu foto.
Klik.
Foto kedua.
Terlihat jelas Jovan sedang mengusap kepala Farel.
Kemudian sebuah foto lain memperlihatkan Farel memeluk pinggang Jovan.
Sang paparazi menyipitkan mata.
"Jovan Narendra..." Ia kembali memotret."Siapa anak kecil itu?" Ia belum mengetahui jawabannya.
Namun foto-foto tersebut sudah cukup untuk menjadi bahan berita besar.
Menjelang sore, Jovan memutuskan untuk mengantar Farel menjemput Serina.
Ia sengaja memilih menunggu di dekat pintu gerbang karyawan pabrik garmen tempat Serina bekerja. Mobil sport merah miliknya terparkir di sana.
Karena tidak ingin langsung dikenali, Jovan memakai topi, masker, dan kacamata hitam. Namun tetap saja, kehadirannya membuat suasana di sekitar gerbang berubah. Beberapa karyawan perempuan mulai berbisik.
"Itu siapa?"
"Mobilnya mahal banget!"
"Cowoknya tinggi banget!"
"Jangan-jangan artis."
Jovan pura-pura tidak mendengar.
Sementara Farel duduk di dalam mobil sambil memeluk mainan barunya. Sesekali ia melihat tote bag berisi tas untuk Bundanya. Ia tersenyum sendiri.
Rahasia kecil itu terasa begitu menyenangkan.
Di dalam pabrik, Serina baru saja menyelesaikan pekerjaannya.
Hari itu target jahitannya kembali tercapai. Ia tersenyum puas. "Syukurlah..."
Setelah menyimpan perlengkapan kerja, Serina menuju loker karyawan bersama Reni dan Salma.
"Kita pulang bareng lagi, Serin?" tanya Reni.
"Iya. Kalau boleh nebeng."
"Ya ampun, jangan sungkan. Toh searah."
Salma ikut tertawa.
"Lumayan, kan? Hemat ongkos."
Serina mengangguk. "Terima kasih, ya."
Mereka kemudian keluar dari ruang loker.
Begitu pintu gerbang karyawan dibuka, Serina berjalan bersama kedua temannya. Namun baru beberapa langkah, terdengar suara yang sangat dikenalnya.
"Bunda...!"
Serina berhenti. Ia menoleh. Matanya langsung membesar.
Di dekat sebuah mobil sport merah, berdiri seorang pria tinggi dengan tubuh atletis. Pria itu mengenakan topi, masker, dan kacamata hitam. Namun Serina langsung mengenalinya. Jovan!
Dan pria itu sedang menggendong Farel.
"Jovan... Farel?"
Serina benar-benar terkejut. Sementara Farel melambaikan tangan dengan wajah ceria.
"Bunda!"
Ia kemudian mengulurkan kedua tangannya.
Jovan menurunkan Farel. Anak kecil itu langsung berlari menghampiri ibunya.
"Bunda!"
Serina memeluk putranya. "Kamu dari mana?"
"Farel jalan-jalan sama Om Jovan!"
Serina langsung menatap Jovan.
"Kamu..."
Belum sempat ia melanjutkan kalimat, Reni sudah menyenggol lengannya.
"Cie..."
Serina mengerutkan keningnya.
"Cie apaan?"
Reni menunjuk Jovan. "Siapa tuh cowok di samping putramu?"
Salma ikut memperhatikan. "Pacar kamu, ya?"
Serina langsung membelalakkan matanya.
"Bukan!" Jawabannya terlalu cepat.
Reni malah semakin menggoda. "Terus siapa?"
"Dia..." Serina menoleh ke arah Jovan.
Jovan masih mengenakan masker, tetapi matanya terlihat sedang tersenyum.
"Dia adiknya seorang teman."
Reni mengangkat alisnya. "Adik teman?"
"Iya."
"Teman yang mana?"
Serina mendadak gugup. "Pokoknya teman."
Salma menahan tawa. "Wah, mencurigakan."
"Sudahlah."
Serina mengabaikan mereka dan menghampiri Jovan.
"Kamu kenapa membawa Farel ke sini?"
Jovan memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
"Farel ingin jalan-jalan."
Serina menatap putranya. "Kamu bilang mau jalan-jalan?"
Farel mengangguk penuh semangat. "Iya, Bun! Farel tadi makan ayam goreng, kentang, burger, nugget, terus makan es krim!"
Serina membelalakkan matanya. "Banyak sekali."
"Enak banget, Bun!"
Jovan tertawa kecil. "Dia makannya lahap sekali."
Serina kembali menatap Jovan.
"Terima kasih sudah menjaga Farel."
Jovan mengangguk. "Sama-sama."
Kemudian Farel tiba-tiba menarik tangan Serina.
"Bunda, Farel punya sesuatu."
"Apa?"
Farel hampir saja membuka tote bag. Jovan buru-buru memberikan kode dengan tatapan. Farel langsung menutupnya kembali. Ia tersenyum lebar. "Rahasia."
Serina mengerutkan keningnya. "Rahasia?"
Farel mengangguk.
"Iya."
Reni dan Salma semakin penasaran.
"Serin, kayaknya anakmu punya rahasia sama cowok itu."
"Jangan mulai lagi."
Tiba-tiba Jovan menatap jam tangannya.
"Serina, aku harus pergi."
Serina mengangguk. "Baik."
Jovan kemudian berjongkok di depan Farel.
"Farel, Om pergi dulu."
Farel langsung memeluk leher Jovan. "Om jangan pergi!"
Jovan tersenyum dan mengusap punggungnya.
"Om cuma ada urusan. Nanti kita ketemu lagi."
"Janji?"
"Janji Farel."
Farel akhirnya melepaskan pelukannya. Namun sebelum Jovan berdiri, Farel kembali berkata dengan suara cukup keras.
"Om Jovan itu sudah seperti Doraemonnya Farel!"
Beberapa karyawan yang berada di sekitar mereka langsung menoleh.
Farel melanjutkan dengan polos. "Apapun yang Farel mau selalu Om kabulkan!"
Jovan tertawa malu. Serina hanya bisa menghela napasnya.
"Farel..."
Reni menutup mulutnya menahan tawa.
"Serin..."
"Apa lagi?"
"Kayaknya bukan cuma Farel yang menemukan Doraemon." Reni melirik Jovan.
"Bundanya juga."
"RENI!"
Tawa kecil pecah di antara mereka.
Sementara Jovan hanya menggeleng-gelengkan kepala. Namun di kejauhan, tanpa mereka sadari, kamera kembali berbunyi.
Klik.
Paparazi itu tersenyum tipis. Kali ini ia mendapatkan foto yang jauh lebih menarik.
Foto seorang pembalap terkenal berdiri di depan pabrik, menggendong seorang anak kecil yang memanggilnya "Om Jovan".
Dan yang paling menarik...
Ada seorang wanita cantik bernama Serina yang tampak begitu dekat dengan mereka. Paparazi itu segera menyimpan kameranya.
"Besok pagi, foto ini pasti bikin heboh." Ia kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut.
Tanpa mengetahui bahwa satu foto sederhana itu akan menjadi awal dari badai besar dalam kehidupan Jovan dan Serina.
Bersambung...
dia tidak pernah minta untuk dilahirkan di keluarga narendra...
mungkin blm karma menghampiri kamu jika seuatu saat nanti kebenaran tentang masal lalu narendra, mama kandung jovan dan kau marcella ada terkaitannya tidak mungkin jovan akan menutup mata dia pasti akan membalas perbuatan itu entah apa yg dilakukan
jovan setelah menikahi serina adakah kejutan buat keluarga narendra atau tentang masa lalu yang blm usai🤔🤔🤔🤔
benar kata leo bahwa kamu sudah mulai mencintai serina dan farel sebagai orang tercinta🤭🤭🤭🤭
mungkin setelah kamu menikah dengan serina adakah nanti kamu akan menggantikan mendiang riki🤔🤔🤔🤔🤔
untuk darren hatimu sakit wanita yang menjadi cinta pertama akan menikah dengan saudara kandung sendiri namun dirimu kuat untuk tidak mengahancurkan adik kamu.
nanti apa kebenaran tentang masa lalu
Awal cerita sudah sedih .... 😭