NovelToon NovelToon
Aku Istrimu, Bukan Babu Mu

Aku Istrimu, Bukan Babu Mu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Wirly Pena

perkenalkan namaku Jasmine. Usiaku 34 tahun. aku sudah menikah dan mempunyai dua orang anak yang berusia 7 tahun dan 4 tahun. Kegiatanku hanya seorang Ibu rumah tangga.
Suamiku bekerja sebagai PNS di kelurahan desa.
Simak kisahku yang begitu berat aku jalani . Hanya karena ingin mendapatkan surga dari ridho suamiku.
Tapi ternyata aku tak lebih hanya dijadikan seorang babu berkedok istri.
Simak kisah lengkapku ...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirly Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana yang tersusun rapi

Jam sudah menunjukkan pukul 14.00. Aku baru teringat kalau sudah waktunya menjemput Aldi dari sekolah. Aku tidak ingin anak ku menunggu terlalu lama, apalagi biasanya gerbang sekolah mulai sepi setelah sebagian besar orang tua datang menjemput.

Aku pun perlahan mencoba bangun dari tempat tidur. Namun baru saja tubuhku bergerak, tangan Mas Rama yang sejak tadi melingkar di pinggangku ikut bergeser. Gerakanku membuatnya tersadar.

" Yang....... Mau kemana?" Tanya nya. Suaranya masih terdengar berat.

" Aku mau mandi, Mas. Setelah itu aku harus jemput Abang ke sekolah." Jawabku.

" Sebentar lagi saja, yang. Entah kenapa sekarang aku ingin selalu dekat sama kamu."

Aku terdiam sesaat. Kalimat seperti itu seharusnya membuat seorang istri merasa bahagia. Tapi entah kenapa, yang muncul di dalam hatiku justru rasa geli.

" Nanti saja, Mas. Kita masih punya banyak waktu. Sekarang aku harus jemput Abang dulu. Mas tunggu dirumah saja, temani Aira." Ucapku.

Mas Rama akhirnya mengendurkan pelukannya. Kemudian dia duduk di tepi tempat tidur sambil mengusap wajah.

" Yasudah kalau gitu kita jemput Abang. Lagi pula sudah lama kita tidak pergi keluar sama-sama." Ujar Mas Rama.

Aku hampir tertawa mendengar ucapan Mas Rama. Dia bilang sudah lama? . Rasanya bukan hanya sudah lama, tapi hampir tidak pernah ikut menjemput Aldi di sekolah. Selama ini, aku yang selalu mengurus semuanya. Aneh. Sangat aneh. Tapi aku tidak mengatakan apa-apa. Aku hanya tersenyum tipis lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Mas Rama memanaskan mesin mobilnya. Suara itu ternyata membangunkan Aira. Gadis kecil itu keluar dari kamar.

" Mama... Papa mau kemana?" Tanya nya.

" Mau jemput Abang di sekolah. Ayo sayang, biar Abang gak nunggu lama." Jawabku.

Mendengar nama kakaknya, Aira langsung terlihat lebih bersemangat. Kemudian aku membantunya merapikan rambut dan memastikan pakaiannya sudah cukup rapi. Setelah semuanya siap, kami pun segera berangkat menuju sekolah Aldi.

Aku duduk di samping Mas Rama, sementara Aira berada di kursi belakang. Sepanjang perjalanan, aku lebih banyak diam sambil memperhatikan jalan dari balik jendela. Sampai akhirnya Mas Rama membuka pembicaraan.

" Yang.......bagaimana kalau kita sekalian jemput Ibu? Kasihan kalau Ibu terus di penginapan. Pasti Ibu kesepian. Aku yakin Ibu itu sebenarnya sangat menyayangi kita. Dan tentu saja, Ibu juga menyayangimu." Ucap Mas Rama.

Mendengar perkataan Mas Rama, justru ada sesuatu yang muncul dalam pikiranku. Selama ini aku memang selalu berusaha mendapatkan tempat di hati Ibu mertuaku. Aku sudah terlalu sering menelan perkataannya, terlalu sering mengalah. Tapi sekarang semuanya sudah berbeda. Aku justru ingin sekali bertemu dengan beliau. Aku ingin menunjukkan bahwa Jasmine yang dulu sudah tidak ada lagi.

" Boleh, Mas. Tidak masalah. Kebetulan sekali kalau Ibu ada dirumah lagi. Karena aku juga punya rencana untuk membuka usaha kecil-kecilan bersama teman-temanku. Jadi nanti aku tidak perlu khawatir meninggalkan rumah dalam keadaan kosong." Jawabku dengan senyum tipis.

" Kamu mau membuka usaha? Kamu serius, yang? Memangnya gaji Mas selama ini tidak cukup ya untuk kebutuhan sehari-hari? Kalau kamu punya usaha, lalu siapa nanti nya yang mengurus Aldi, Aira dan juga Mas?" Tanya Mas Rama.

" Cukup kok, Mas. Tapi aku tidak bisa menyisihkan uang untuk simpanan. Mas kan cuma memberikan jatah mingguan kepadaku. Itu pun pas-pasan. Aku kan juga ingin perawatan ke salon, supaya menjadi istri yang menarik di mata Mas. Terus Mas juga tidak perlu khawatir tentang masalah rumah tangga. Karena aku akan menyewa jasa ART. Kalau aku terlalu sibuk mengurus bisnis sekaligus rumah tangga, kapan aku punya waktu untuk merawat diri? Aku bisa saja setiap hari hanya mengurus rumah. Tapi pasti aku akan capek, Mas. Aku tidak akan bisa tampil cantik dan juga tidak akan bisa melayani Mas dengan baik. Aku takut........kalau nanti Mas selingkuh di belakangku." Ucap ku panjang lebar dengan nada penekanan di setiap kata-kataku.

Seketika raut wajah Mas Rama berubah setelah mendengar ucapanku. Matanya melebar. Tangannya yang memegang kemudi terlihat menegang.

Mas Rama masih terlihat gelisah setelah mendengar ucapanku tentang perselingkuhan. Beberapa kali dia melirik ke arahku, seolah ingin memastikan apakah aku benar-benar mencurigainya atau hanya sekedar bercanda.

" Kamu itu bicara apa sih, yang? Tidak mungkinlah kalau aku selingkuh. Cuma kamu yang ada di hatiku saat ini. Kamu itu istri yang sempurna dimataku." Katanya sambil menggenggam tanganku.

Aku tersenyum sinis mendengar ucapan nya. Tentu saja dia mengatakan semua itu sekarang. Setelah dua hari terakhir aku berubah menjadi istri yang bisa mengimbangi permainan dan nafsu besarnya.

" Benarkah yang Mas ucapkan? Tapi bukannya Mas kemarin sudah menjatuhkan talak kepadaku dan berniat untuk menceraikanku." Tanyaku.

" Sayang..... Aku minta maaf. Kemarin itu aku khilaf. Aku terlalu emosi. Dan aku sama sekali tidak punya niat untuk menjatuhkan talak, apalagi menceraikanmu." Jawab Mas Rama.

Aku hampir tidak percaya mendengarnya. Khilaf? Sebuah ucapan yang begitu besar sekarang dianggap hanya sebagai kesalahan karena emosi?

" Yakin? Mas cuma khilaf mengatakannya? Bagaimana kalau Mas mengulanginya lagi?"

" Tidak mungkin, sayang. Kita itu sudah punya dua anak yang lucu-lucu. Dan aku juga punya istri yang cantik sepertimu. Aku tidak mau menghancurkan keluarga ini. Mulai bulan depan semua gajiku akan aku serahkan kepadamu, yang. Kartu Atm ku kan juga sudah kuberikan kepadamu semua." Ucap Mas Rama.

Bagus. Mas Rama mulai masuk kedalam jebakanku. Kurang sedikit lagi. Aku tidak boleh terburu-buru.

" Kalau aku cuma pegang uangnya saja, rasanya kurang seru, Mas. Aku juga ingin mengelolanya. Mulai bulan depan Mas ku jatah saja, bagaimana?" Tanyaku.

" Tentu. Apa sih yang enggak buat kamu, yang. Lakukan saja sesukamu. Yang penting kamu harus selalu siap melayaniku kapanpun aku mau." Jawab Mas rama.

Ternyata mudah sekali. Lelaki yang sudah berselingkuh ternyata hanya memikirkan nafsunya saja.

" Oke kalau gitu, kita sepakat. Berarti aku benar-benar bebas mengelola uang sesuai kebutuhanku kan, Mas?"

Mas Rama langsung menganggukkan kepalanya mengiyakan. Lega sekali rasanya. Namun aku harus memastikannya sekali lagi.

" Beneran ya, Mas. Jangan bohong." Tanyaku meyakinkan sekali lagi.

" Iya sayang, iya. Apa sih yang enggak buat kamu." Jawabnya, lalu tersenyum ke arahku. Kubalas senyumnya dengan senyumku yang paling manis.

Aku menarik napas lega. Satu persatu rencanaku sudah mulai berhasil. Aku harus bermain halus, supaya Mas Rama tidak mencurigaiku.

...****************...

Terimakasih sudah membaca 🙏😘

1
partini
habis masuk lobang si jalang masuk lobang istri,,apa ga takut jas banyak penyakit takut kena penyakit kelamin
Wirly Pena: Ikuti terus episode selanjutnya ya kak 😄
total 1 replies
Anonim
Lemah banget jadi cewe ,
Wirly Pena: jangan lupa, ikutin terus ceritanya, ya kak ☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!