NovelToon NovelToon
Musuh Disekolah, Pasutri Dirumah

Musuh Disekolah, Pasutri Dirumah

Status: tamat
Genre:Ketos / Romantis / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Di luar pagar sekolah, Affan dan Monisha adalah sepasang suami istri karena perjodohan wasiat keluarga.

Di dalam kelas, mereka adalah dua kutub yang berpura-pura tidak kenal. Affan si ketua OSIS yang harus menjaga reputasinya, sementara Mona hanya ingin lulus dengan tenang.

Mereka sepakat merahasiakan pernikahan ini rapat-rapat. Namun, menyembunyikan status pernikahan di lingkungan SMA tidaklah mudah. Hanya dalam waktu satu minggu, kecemburuan merusak segalanya. Kecurigaan teman-teman, teror dari siswa yang menyukai Mona, hingga kecerobohan mereka sendiri meledakkan rahasia besar tersebut ke seluruh sekolah.

Kini, mereka harus menghadapi konsekuensi sosial, aturan ketat sekolah, di atas perasaan sayang yang sudah tumbuh di antara mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Karut Marut Terhebat 20.

Pukul sepuluh malam, kamar utama di lantai dua rumah minimalis itu terasa sunyi.

Mona duduk meringkuk di atas kasur king size, memeluk lututnya erat-erat.

Di hadapannya, sebuah ponsel pintar tergelak dalam kondisi layar menyala. Di layar itu, grup WhatsApp angkatan kelas 12 yang biasanya berisi jadwal tugas atau candaan receh, malam ini berubah menjadi ruang eksekusi mati bagi mentalnya.

Semua bermula dari satu pesan. Satu tangkapan layar.

Itu dikirim oleh Rendy. Teman masa kecil Mona. Laki-laki yang dulu sering meminjam mainannya, kini berubah menjadi monster paling kejam yang pernah Mona kenal. Rendy tahu segalanya tentang Mona. Termasuk rahasia paling tabu yang dijaga ketat-ketat selama ini: pernikahan dininya dengan Affan, Si Ketua OSIS sekolahnya.

Di grup angkatan, Rendy mengirim foto Akta Nikah Mona dengan Affan.

'Gak usah sok nutupin diri lagi kamu di kelas, Mon. Pantesan tadi berangkat dan pulang bareng Ketos kebanggaan sekolah. Ternyata udah sah ya? Gaya banget nikah muda, hamil duluan atau gimana nih ceritanya?' Pesan Rendy, disertai emoji kedipan mata satu.

Pesan itu memicu ledakan raksasa. Ratusan notifikasi masuk dalam hitungan menit.

'Seriusan? Affan yang sesempurna itu nikah sama Mona?'

'Gila, pantesan Mona sering izin sakit. Nutupin perut apa?' Ada juga yang mengira Mona hamil, padahal mereka selama ini belum berhubungan intim.

'Murahan banget sih.'

'Hamil? Dasar perempuan gak bener!'

'Ketos kita kok mau ya sama modelan begitu?'

Setiap kata, setiap tuduhan, dan setiap emoji tertawa di grup itu terasa seperti belati yang menusuk langsung ke dada Mona.

Dunianya runtuh dalam sekejap. Air matanya sudah kering, menyisakan rasa perih di sudut mata dan sesak yang luar biasa di dada.

Dia merasa telanjang. Semua privasinya, harga dirinya, dan masa depannya di sekolah hancur lebur.

Mona patah semangat. Dia merasa tidak punya alasan lagi untuk datang ke sekolah besok. Bagaimana dia harus menghadapi tatapan sinis ribuan murid? Bagaimana dengan kelanjutan belajarnya?

Ceklek.

Pintu kamar terbuka. Affan melangkah masuk. Laki-laki itu sudah mengenakan kaos oblong yang biasa dipakai untuk tidur, lengkap dengan celana boxer biar adem. Wajahnya yang biasanya tenang dan berwibawa sebagai Ketua OSIS, kini mengeras menahan amarah yang luar biasa. Dia baru saja memeriksa ponselnya sendiri di ruang belajar bagian bawah.

Affan langsung menghampiri tempat tidur. Melihat tubuh istrinya yang bergetar hebat, hatinya ikut teriris. Dia duduk di tepi kasur, lalu perlahan mendekatkan tubuhnya.

"Sayang..." panggil Affan, suaranya sangat lembut, berbanding terbalik dengan badai yang ada di dalam kepalanya saat ini.

Merasa terpanggil, Mona mendongak, tepat saat Affan sudah berada di depannya persis.

"Affan... saya enggak mau sekolah besok," tangis Mona pecah di dada Affan. Jari-jarinya meremas kaus hitam yang dikenakan suaminya. "Mereka semua tahu. Rendy jahat banget, Fan. Dia sebar fitnah. Saya... saya malu. Saya gak punya muka lagi buat keluar rumah."

"Hei, lihat saya," Affan mengurai pelukan mereka perlahan. Dia memegang kedua bahu mungilnya Mona, memaksa gadis itu menatap langsung ke dalam manik matanya yang hitam dan meyakinkan. "Dengar. Kamu tidak melakukan kesalahan apa pun. Pernikahan kita sah secara agama dan hukum. Kita tidak merugikan siapa pun."

"Tapi mereka bilang saya murahan! Mereka bilang saya... Saya perempuan gak bener!" teriak Mona histeris, air matanya kian deras. "Semangat saya udah habis, Fan. Saya capek. Saya mau menyerah aja."

Affan menghapus air mata di pipi Mona dengan ibu jarinya. Gerakannya sangat lembut, kontras dengan kilat kemarahan yang sempat muncul di matanya tadi.

"Kamu punya saya, Mona," ucap Affan dengan nada yang mutlak dan tidak bisa dibantah. "Kamu pikir untuk apa saya ada di sini? Saya bukan cuma pajangan di rumah ini. Saya suami kamu. Dan di sekolah, saya Ketua OSIS kalian."

Affan menggenggam tangan Mona yang dingin dan menyatukan jemari mereka.

"Besok, kamu tetap harus sekolah. Kamu harus jalan dengan kepala tegak. Jangan tunjukkan kalau kamu lemah di depan manusia-manusia pengecut yang cuma bisa mengetik di balik layar," lanjut Affan, memberikan suntikan kekuatan yang sangat dibutuhkan Mona.

"Tapi Rendy—"

"Rendy bagianku," potong Affan cepat, matanya menyipit tajam mengingat nama itu. "Dia harus membayar setiap kata yang dia ketik malam ini. Saya yang akan seret dia ke ruang BK, dan saya sendiri yang akan pastikan dia dapat sanksi paling berat karena pencemaran nama baik dan cyberbullying." Affan mengecup dahi Mona cukup lama, menyalurkan seluruh rasa aman yang dia miliki.

"Jangan takut. Badai ini tidak akan meruntuhkan kita. Kita hadapi ini sama-sama, oke? Ada saya di depan kamu."

Mendengar kalimat itu, perlahan sesak di dada Mona mulai berkurang. Hangat tubuh Affan dan ketegasan suaranya perlahan-lahan membangun kembali puing-puing semangat Mona yang sempat runtuh. Dia tidak lagi sendirian di tengah badai ini. Ada Affan, suami tercinta.

"Sekarang, kamu harus istirahat. Jangan lihat ponsel lagi," Affan mengambil ponsel dari tangan Mona, mematikan dayanya, dan menaruhnya jauh di atas nakas samping ranjang.

Affan kemudian memperbaiki posisi duduk Mona, membimbingnya untuk berbaring di dada kasur yang empuk. Ia menarik selimut tebal sampai sebatas dada Mona. Menyadari Mona masih memandangnya dengan mata sayu yang ketakutan, Affan ikut merebahkan tubuhnya di samping sang istri.

Ia menarik Mona ke dalam dekapannya, membiarkan kepala Mona bersandar di lengan kekarnya. Salah satu tangan Affan bergerak perlahan, mengusap-usap puncak kepala Mona, menyisir rambut gadis itu dengan jari-jemarinya yang hangat.

"Tidur, Sayang. Saya nggak akan ke mana-mana," bisik Affan tepat di kening Mona, lalu mengecupnya dengan durasi lama.

Mona memejamkan mata. Kamar mereka begitu hening, hanya terdengar suara detak jantung Affan yang konstan dan menenangkan di telinganya. Usapan lembut di kepalanya membuat rasa lelah yang luar biasa setelah gejolak emosi tadi mulai mengambil alih.

Dalam dekapan hangat sang suami, di bawah perlindungan cowok yang berjanji akan menjadi tamengnya esok hari, Mona akhirnya membiarkan dirinya tenggelam dalam kantuk. Affan terus mengelus rambut Mona, membisikkan kata-kata penenang, sampai deru napas istrinya itu terdengar halus dan teratur. Mona telah tertidur, melupakan sejenak badai yang menantinya di luar sana.

......................

...****************...

To be continue,

1
Shabrina Darsih
keahuan juga sm sahabat mona
jujur aja mona sm sahabatnya
klo sudah menikah sm afan
Shabrina Darsih
mona. mennding jujir aja sm sahabat nya andini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!