Nadira Sasmita selalu mengira suaminya adalah lelaki yang paling mengenalnya.
Rendra Kalyana tahu jadwalnya, siapa yang menemaninya, ke mana ia pergi, bahkan siapa yang berada di sekelilingnya ketika ia tidak menyadarinya. Nadira mengira semua itu adalah bentuk perlindungan.
Sampai ia menemukan sebuah buku berisi daftar nama orang-orang terdekatnya.
Di samping setiap nama terdapat jumlah uang.
Sahabat. Sopir. Psikolog. Rekan kerja. Orang-orang yang selama ini ia percaya.
Mereka dibayar oleh suaminya.
Rendra tidak menyangkalnya. Ia hanya mengatakan satu hal: semua dilakukan agar Nadira tetap aman.
Tetapi semakin banyak rahasia yang terbuka, semakin sulit Nadira membedakan cinta dari pengawasan, perlindungan dari kendali, dan perhatian dari kepemilikan.
Ketika rahasia keluarga Kalyana mulai terungkap, Nadira akhirnya dihadapkan pada pilihan yang paling menyakitkan dalam hidupnya:
tetap bersama lelaki yang mencintainya dengan cara yang salah, atau pergi dan kehilangan satu-satuny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 — Audit Pernikahan
Aku menulis nama pernikahanku di bagian atas papan putih seperti sedang membuka perkara milik orang lain.
NADIRA SASMITA — RENDRA KALYANA
Di bawahnya kubuat lima kolom.
PERISTIWA.
YANG KUPILIH.
YANG DIATUR.
BUKTI PEMBAYARAN.
HAL YANG BELUM DIKETAHUI.
Damar berdiri di belakangku sambil membawa dua map. Ia membaca judul kolom terakhir, lalu menambahkan satu garis kecil supaya tulisannya tidak miring.
“Kalau terus begini, honor saya harus ditambah karena merapikan papan,” katanya.
“Aku mediator. Tulisan miring bukan pelanggaran hukum.”
“Tapi menyiksa yang baca.”
Sudut bibirku terangkat sedikit.
Hampir saja aku tersenyum.
Di atas meja ruang rapat tergeletak enam tahun riwayat hidupku: surel, foto, kuitansi restoran, riwayat perjalanan, kalender, laporan transaksi dari buku abu-abu, serta salinan halaman terakhir Laksmi.
Rendra Kalyana — BEBASKAN.
Aku sudah membacanya berkali-kali sejak Elsa mengirim hasil pemeriksaan rumah sakit. Setiap melihat kata itu, perasaanku berubah.
Marah karena Rendra tidak pernah menerima instruksi terakhir.
Lebih marah karena ia tetap memilih menguasai hidupku tanpa membutuhkan perintah siapa pun.
Sedikit lega karena Ibu tidak menyerahkanku sebagai hadiah atau tanggung jawab dalam pernikahan.
Lalu marah lagi karena bahkan kata BEBASKAN tetap menempatkan keputusan tentang kebebasanku dalam kalimat yang diberikan kepada lelaki lain.
“Mulai dari pertemuan pertama,” kata Damar.
Aku menulis:
Seminar mediasi keluarga.
Kolom yang diatur segera terisi. Yayasan keluarga Rendra membiayai pemindahan lokasi. Sesi mediasi ditambahkan agar aku diundang. Rendra datang setelah melihat berkas tentang diriku.
Kolom yang kupilih tidak sepenuhnya kosong.
Aku menambahkan:
Aku menerima undangan. Aku tetap tinggal setelah sesi. Aku memulai perdebatan tentang kopi.
Damar melihat tulisan itu.
“Percakapan pertama tidak diarahkan?”
“Tidak ada bukti seseorang memberi naskah kepadanya.”
“Bisa saja.”
“Bisa. Tapi kita nggak bisa masukin semua ketakutan sebagai fakta.”
Aku sering mengatakan kalimat seperti itu kepada klien.
Hari itu, kalimat itu terasa seperti sedang menghakimiku sendiri.
Peristiwa kedua: acara bantuan hukum dua minggu kemudian.
Rendra mengubah waktu rapat agar bisa hadir. Panitia menempatkan kami di meja yang sama atas permintaannya.
Tapi aku yang mengirim pesan setelah acara.
Aku menemukan surel lama di ponsel cadangan.
Terima kasih sudah tidak menjelaskan pekerjaanku kepada orang lain seperti Anda lebih mengerti. Itu jarang terjadi.
Balasan Rendra datang empat menit kemudian:
Saya sedang berusaha tidak mengulang kesalahan pembukaan percakapan pertama.
Aku masih ingat membaca balasan itu dan tersenyum kecil waktu itu.
Sekarang kalimat yang sama terasa berbeda.
Tidak ada transaksi pada tanggal itu selain biaya sponsor acara yang sudah berlangsung sebelum kami saling mengenal.
Aku menulis di kolom pilihanku:
Aku menghubunginya lebih dulu.
Peristiwa ketiga: makan siang pertama.
Rendra mengetahui restoran yang kusukai dari Tara. Ia meminta meja dekat jendela dan memastikan menu tertentu tersedia.
Pengaturan.
Tapi setelah makan siang selesai, aku yang mengajaknya berjalan ke toko buku di seberang jalan. Kami pergi tanpa pengemudi yang membuntuti, pemesanan tersembunyi, atau transaksi di buku.
Pada foto lama, Rendra berdiri memegang tiga buku karena aku menolak kantong plastik. Wajahnya terlihat jengkel, tetapi ia tetap membawanya sampai hujan turun.
Aku masih ingat bagaimana ia mengomel sepanjang jalan karena tangannya pegal.
Aku menulis:
Toko buku terjadi tanpa rencana.
Peristiwa keempat: malam ketika listrik di apartemen padam.
Aku menelepon Rendra karena baru pertama kali tinggal sendiri setelah Ibu meninggal. Ia datang membawa lampu darurat, makanan, dan teknisi.
Semua pembayaran tercatat.
Teknisi dipanggil bahkan sebelum aku menelepon.
Aku membaca bukti transaksi cukup lama.
“Dia tahu listrik akan diputus?” tanyaku.
Damar memeriksa tanggal tagihan gedung.
“Bukan diputus. Ada perbaikan panel yang diumumkan sehari sebelumnya.”
“Aku tidak membaca pengumuman.”
“Rendra mungkin membaca.”
“Lalu menunggu aku menelepon.”
Begitu mengucapkannya, aku langsung menyesal.
Bukan karena kemungkinan itu tidak masuk akal.
Karena kemungkinan itu terlalu masuk akal.
Kemungkinan itu membuat kenangan lama berubah bentuk. Dulu kupikir ia datang karena aku memilih meminta bantuan. Sekarang aku tidak tahu apakah ia sengaja membiarkanku takut supaya bisa menjadi orang pertama yang kubutuhkan.
Aku menulisnya di kolom belum diketahui.
Peristiwa kelima: pertama kali aku mengatakan cinta.
Tidak ada restoran, hadiah, atau rencana perjalanan. Kami sedang duduk di dalam mobil tua milikku yang mogok di pinggir jalan. Rendra baru saja gagal mengganti ban karena bautnya macet. Tangannya kotor. Kemejanya basah oleh keringat.
Aku menertawakan lelaki yang mampu membeli bengkel tetapi tidak bisa membuka satu baut.
Ia menatapku kesal.
“Kalau bisa, kamu saja.”
Aku mencoba.
Aku berhasil setelah menginjak kunci roda.
Rendra menatapku sejenak, lalu tertawa sampai harus bersandar pada pintu mobil.
Aku ikut tertawa.
Dan entah kenapa, di tengah tawa itu, aku berkata aku mencintainya.
Aku masih ingat wajahnya ketika tawanya berhenti.
Bukan wajah lelaki yang sedang menjalankan rencana.
Setidaknya, dulu aku yakin begitu.
Damar mencari pembayaran pada tanggal tersebut.
Tidak ada.
Tidak ada mobil pengganti yang disiapkan. Tidak ada petugas keamanan. Tidak ada instruksi kepada Tara. Bahkan riwayat pesan menunjukkan Rendra seharusnya menghadiri makan malam keluarga, tetapi membatalkannya setelah mobilku mogok.
“Ada kemungkinan mobil itu sengaja dirusak?” tanya Damar.
Aku memeriksa laporan bengkel. Pompa bahan bakarnya memang sudah bermasalah selama dua bulan dan aku terus menunda perbaikan.
“Tidak ada bukti.”
Aku menulis:
Aku mengatakan cinta tanpa diarahkan.
Tanganku berhenti setelah menulis titik.
Aku menatap kalimat itu cukup lama.
Satu momen nyata tidak menghapus semua pelanggaran. Aku juga tidak ingin menghancurkan kebenaran hanya karena kebohongan tumbuh di sekitarnya.
Aku mencintai Rendra.
Kalimat itu masih benar.
Yang berubah hanya keyakinanku tentang berapa banyak bagian dari perjalanan kami yang benar-benar milikku.
Menjelang sore, papan dipenuhi catatan.
Pertemuan pertama: diarahkan.
Kedekatan awal: sebagian diarahkan.
Keputusan membuka diri: campuran.
Pindah ke apartemen lebih aman: diarahkan.
Pendirian kantor kedua: Rendra menghapus hambatan sewa tanpa memberi tahu.
Pertunangan: belum jelas.
Pernikahan: terkait kode NIKAHI yang ternyata bukan instruksi terakhir Laksmi.
Aku mundur dan membaca semuanya.
Kalau kasus ini milik klien, aku akan mengatakan ia tidak perlu membuktikan seluruh cintanya palsu untuk mengakui bahwa kebebasannya telah dilanggar.
Cinta nyata dan manipulasi bisa hidup dalam hubungan yang sama.
Itulah yang membuat pergi jauh lebih sulit.
Damar membuka map transaksi baru.
“Kita belum memeriksa lamaran.”
Aku mengambil kalender lama.
Tanggalnya masih kuingat tanpa bantuan apa pun.
Rendra melamar di dapur apartemen, bukan di restoran atau tempat mewah. Ia sedang mencuci piring setelah kami bertengkar karena aku menolak menghadiri makan malam keluarganya.
Aku yang memulai percakapan.
“Apa kamu pernah berpikir menikah denganku?” tanyaku waktu itu.
Rendra mematikan keran.
Ia membiarkan pertanyaan itu menggantung sambil mengeringkan tangan, lalu membuka laci tempat sendok dan mengeluarkan cincin yang ternyata sudah disimpan selama tiga minggu.
Aku selalu menganggapnya lucu.
Ia menyiapkan lamaran besar, tapi aku malah merusak rencananya dengan bertanya lebih dulu.
Waktu itu aku tertawa sampai Rendra bilang aku benar-benar tidak tahu cara menghargai kejutan.
Aku menulisnya sekarang tanpa ikut tersenyum.
“Aku yang membuka pembicaraan soal menikah,” kataku.
“Itu masuk kolom pilihanmu,” jawab Damar.
Aku menuliskannya.
Kemudian kami memeriksa pembayaran pada minggu yang sama.
Tidak ada uang kepada Tara. Tidak ada pembayaran kepada panitia acara. Tidak ada biaya untuk restoran atau fotografer karena lamaran besar itu belum sempat terjadi.
Hampir saja aku menutup map ketika Damar menemukan satu transfer melalui yayasan keluarga.
Nominalnya lebih besar daripada pembayaran tahunan kepada Gilang.
Tanggalnya tepat pada hari Rendra melamarku.
Penerima dana bernama Hasyim Raharja.
Nama itu tidak ada dalam buku abu-abu.
Damar mencari nomor identitas, riwayat organisasi, dan hubungannya dengan keluarga kami.
Hasil pertama menunjukkan Hasyim adalah pengurus yayasan kecil di luar Jakarta.
Hasil kedua menampilkan foto acara keagamaan enam tahun lalu.
Aku mengenali lelaki yang berdiri di sampingnya.
Pak Ridwan.
Penghulu yang menikahkan kami.
Aku mendekat ke meja.
“Hubungannya apa?” tanyaku.
Damar membuka catatan keluarga yang tercantum di profil Ridwan.
Hasyim Raharja tercatat sebagai ayah angkatnya.
Aku diam.
Aku melihat kembali nominal transfer, tanggal lamaran, lalu kolom tujuan pembayaran.
Tulisan yang digunakan sangat singkat.
PENYELESAIAN KEBERATAN KELUARGA.
Jari-jariku masih berada di atas kertas ketika aku membaca kalimat itu sekali lagi.
Pada hari aku mengira membuka pembicaraan tentang pernikahan atas pilihanku sendiri, Rendra mengirim pembayaran besar kepada ayah angkat penghulu yang kelak menikahkan kami.