Warning! Reverse Harem!!
Ratu Ahimsa Yunanda hanya ingin menjadi siswi SMA biasa. Di tahun ajaran barunya, Yuna sudah membuat satu keputusan sederhana:
Jangan mencolok.
Jangan sampai orang lain menyadari bahwa cara berpikirnya tidak seperti kebanyakan orang.
Bagi Yuna, menjadi terlalu berbeda hanya akan membuatnya sulit diterima. Maka ia belajar menahan diri.
Menahan analisis yang terlalu dalam.
Bahkan menahan komentar-komentar yang sebenarnya sudah berdesakan di kepalanya.
Ia hanya ingin menjalani masa SMA seperti remaja lainnya.
Namun ternyata, menyembunyikan dirinya sendiri jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan.
Sebab tanpa disadari Yuna, justru sisi dirinya yang paling berusaha ia tutupi mulai menarik perhatian tiga orang pemuda. Dan terpaksa menghadapi satu masalah yang tidak pernah masuk dalam perhitungannya.
Bagaimana jika orang-orang yang selama ini ingin ia jauhi justru menjadi orang-orang yang paling memahami dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon See You Soon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pak Imam Bikin Merinding
Hampir satu bulan telah berlalu sejak hari pertama mereka menginjakkan kaki di SMA itu, suasana kelas kini jauh berbeda.
Tak ada lagi sesi perkenalan. Tak ada lagi yel-yel yang menggema setiap pagi. Sebagai gantinya, tumpukan tugas mulai memenuhi meja.
Rumus demi rumus memenuhi papan tulis. Dan wajah para siswa kelas X IPS 1 perlahan mulai kehilangan semangat hidupnya.
"Baik..."
Pak Imam kembali menuliskan beberapa persamaan di papan tulis. Suara spidol hitam yang beliau pegang berderit pelan menggores papan tulis putih. Menorehkan simbol-simbol matematika yang terus mengisi ruang kosong hingga ke sudut terpojok.
"Kalau nilai x kita substitusikan ke persamaan sebelumnya..."
"Berarti hasil akhirnya menjadi seperti ini."
Suara beliau terdengar tenang di ruangan yang hening. Hanya terisi oleh suara halaman buku yang dibalik.
Namun di bangku paling belakang dekat jendela, Yuna memicingkan mata.
Ia sedikit membenarkan posisi kacamata bulatnya. Mencondongkan tubuhnya ke depan. Hingga kursinya pun bergeser beberapa sentimeter ke depan.
"Itu sebenarnya bertuliskan apa?" gumamnya lirih. Hampir seperti desahan kesal.
Matanya terus menyipit untuk membaca tulisan pada papan. Gerakan kecil itu berulang beberapa kali.
Andito yang duduk di sampingnya mulai memperhatikan gerak-gerik penuh kegelisahan itu.
"Kenapa, Yun?"
Yuna masih belum mengalihkan pandangan dari papan tulis.
"Tulisan Pak Imam..."
Ia berhenti sejenak.
"...lebih menyerupai hieroglif dibanding susunan angka dan rumus."
Andito membeku.
Baru jam sembilan loh, Yuna. Masa istilah sainsmu udah muncul aja.
Ia menoleh ke papan tulis. Lalu kembali melihat Yuna.
"Ya iya sih kek hieroglif..." ucapnya tanpa mengetahui apa artinya.
Namun ketika ia kembali menoleh ke arah papan tulis, tak dapat disangkal memang jika gaya tulisan beliau cukup kurang bersahabat.
Huruf x bisa terlihat seperti k.
Angka tiga kadang menyerupai angka delapan.
Dan tanda akar sering kali lebih mirip ranting pohon.
"Hmm..."
Ia menepuk pelan meja.
"Mau tukeran gak?"
Yuna hanya melirik. Memaksa Andito melanjutkan penjelasannya.
"Kamu duduk disini, aku kesitu. Kali aja bisa keliatan lebih jelas."
Yuna mengamati posisi bangku Andito beberapa detik. Jaraknya memang sedikit lebih ke tengah kelas. Dan sudut pandangnya terhadap papan tulis juga lebih baik.
"...Boleh."
Jawaban singkat itu langsung disambut anggukan kecil dari Andito.
"Ayok!"
"Tapi pelan-pelan aja. Takut ketahuan sama Pak Imam."
Yuna mengangguk. Keduanya pun berdiri hampir bersamaan.
Andito mengangkat kursinya sedikit agar tidak menimbulkan suara. Yuna melakukan hal yang sama.
Gerakan mereka pelan.
Sangat pelan.
Nyaris seperti dua orang agen rahasia yang sedang menjalankan misi penyamaran.
Satu langkah.
Berhenti.
Memastikan Pak Imam masih menulis.
Satu langkah lagi.
"Ekhem..."
Deheman itu membuat kedua kepala menoleh serentak. Lalu kembali bergeser dengan langkah yang jauh lebih pelan.
Putri yang berada di bangku seberang mereka sontak memicingkan mata.
"Nih dua orang kenapa dah?"
Meski begitu, sindiran itu tak Andito hiraukan.
Mereka berdua terus berjinjit hingga tinggal selangkah lagi.
Namun tepat ketika bokongnya hampir menyentuh kursi, suara spidol di depan kelas mendadak berhenti.
Srett....
Seluruh kelas langsung hening.
Suara bariton Pak Imam terdengar begitu jelas setelahnya. Meski tubuh beliau belum sampai berbalik.
"Yang bermain-main sendiri..."
"...dan tidak menyimak."
"Kerjakan contoh soal yang ada di depan."
Andito membeku. Wajahnya seketika kehilangan warna.
MATI GUE
Beberapa detik berlalu larut dalam kesunyian yang penuh tekanan hingga atmosfer sampai terasa berat.
Pada akhirnya...
Srett... Srett...
Spidol itu kembali bergerak.
Beliau melanjutkan menulis rumus seolah tidak terjadi apa-apa.
Andito langsung mengembuskan napas panjang.
"Huff..."
Dadanya naik turun beberapa kali.
"Selamet gue jir..."
Ia kemudian menoleh ke samping. Berharap menemukan seseorang yang sama paniknya.
Namun...
Yuna tetap duduk tenang.
Punggungnya lurus. Tatapannya kembali tertuju ke papan tulis. Tangannya mulai menyalin rumus satu per satu ke dalam buku catatan. Seolah ancaman Pak Imam beberapa detik yang lalu hanyalah gangguan kecil yang sudah lewat.
Andito hanya bisa berkedip.
"Nih cewek..."
"Bener-bener gak ada takut-takutnya."
Entah kenapa, ia sedikit iri.
Kalau berada di posisi Yuna, mungkin jantungnya sudah meloncat keluar sejak tadi. Tapi melihatnya yang kini mulai menulis dengan lebih ringan, akhirnya membuatnya kembali bicara.
"Gimana? Udah mendingan?"
Tanpa menoleh, Yuna tetap melanjutkan catatannya.
"Lumayan, Dit. Terima kasih atas bantuannya," jawabnya sembari tersenyum tipis. Namun cukup untuk membuat perasaannya bergetar.
Andito pun mengangguk kecil.
"Tumben senyum..."
Ucapan itu membuat alis Yuna mengkerut, sembari memiringkan kepalanya.
"Tapi..."
"Iya deh. Masama."
Percakapan mereka kembali terputus.
Kelas kembali dipenuhi suara gesekan spidol dan lembaran buku yang dibalik.
Namun...
Di antara semua penghuni ruangan itu...
Entah mengapa...
Andito merasa hanya dirinya seorang yang masih bisa mendengar detak jantungnya sendiri berdentum terlalu kencang.
Mungkin karena nyaris dipanggil ke depan. Atau mungkin karena baru pertama kali mendapat ucapan terima kasih sesederhana itu dari teman sebangkunya. Ia sendiri belum tahu jawabannya.
....
Di depan kelas, Pak Imam akhirnya meletakkan spidolnya. Lalu beliau mundur selangkah—menatap seluruh rumus yang hampir memenuhi papan tulis dengan ekspresi puas.
"Baik. Kalau penjelasannya sudah sampai sini..."
Beliau meraih penghapus papan.
"...kita lanjut latihan."
Andito yang baru saja selesai menuliskan satu baris rumus langsung membeku. Matanya membelalak.
"Loh? Maksudnya?"
Pak Imam mengangkat penghapus itu perlahan.
Refleks Andito melirik buku catatannya yang hanya berisi satu judul materi yang tertulis besar. Dengan baris dibawahnya yang masih putih bersih.
Benar-benar kosong.
Tunggu, tunggu...
Penghapus papan tulis digesekkan tanpa jeda.
Muridmu ini belum selesai nyatet, loh...
Separuh rumus yang sebelumnya memenuhi sudah menghilang.
J-jangan, please...
Tentu saja kalimat itu mustahil untuk benar-benar keluar dari mulutnya. Dan hanya bisa menatap papan dengan penuh harap—berharap ada satu orang saja yang cukup berani berkata,
"Pak, belum selesai nulis."
Sayangnya, seluruh kelas justru membisu. Entah karena memang sudah selesai mencatat. Entah karena sama-sama takut membuka suara.
Pak Imam menepuk telapak tangannya pasca papan tulis itu telah bersih tanpa noda. Kemudian berbalik dengan raut wajah bengis dan tanpa rasa bersalah.
"Baik."
Wajah Andito memucat. Kedua tangannya meremas rambutnya. Menyaksikan dengan pasrah seluruh rumus yang kini lenyap tanpa ampun.
"Gua... gua..."
Suara gesekan spidol kembali terdengar. Andito pun menatap papan dengan nyali yang nyaris ciut.
Pak Imam bukannya menulis ulang rumus itu. Melainkan malah menulis angka dari 1 sampai 5. Lima nomor latihan yang ia goreskan begitu mantap tanpa ragu. Dengan soal yang bervariasi yang tak nampak bisa dikerjakan hanya dengan sekali hitungan jari.
"Saya tunggu..."
"...sampai jam pelajaran berakhir."
Andito memandang wajah Pak Imam dengan mata bergetar.
"Kalau belum dikumpulkan."
"Nilainya dikurangi."
Suasana kelas langsung sunyi.
Beberapa siswa mulai membolak-balik buku catatan. Yang lain buru-buru menyalin soal.
Sementara itu...
Andito menatap bukunya sendiri.
Judul materi.
Lalu...
Halaman kosong.
"Terlalu... sadis..."
Di sampingnya, Yuna yang sejak tadi telah selesai mencatat seluruh rumus menutup bukunya dengan tenang.
Andito hanya menoleh dengan tatapan kosong tanpa harapan lagi.
....
Pak Imam masih berdiri di depan kelas, sesekali berkeliling memperhatikan pekerjaan para siswanya.
Beberapa siswi ada yang hampir selesai. Begitupun Andito yang juga selesai...
Selesai menyalin soal.
Ia menatap lima nomor yang berjajar rapi dengan bagian jawaban yang masih kosong.
Ia mencengkeram pinggiran bukunya dengan harapan akan ada sihir ajaib yang muncul untuk mengisinya.
Gue harus nulis apa ini, Anjir?!
Keringat dingin mulai mengalir dari pelipisnya.
Tepat saat itu, suara Pak Imam kembali menggema.
"Waktu tinggal lima belas menit."
Andito refleks mendongak. Tak menyangka waktu akan terasa cepat seperti kedipan mata.
Lalu ia kembali menjatuhkan kepalanya ke atas meja.
"Tamat nasib gue..."
Hingga...
Sebuah buku catatan perlahan bergeser ke sisi mejanya.
"Nih. Kamu bisa salin punyaku."
Andito langsung menoleh. Matanya membelalak.
"A-apa?"
Yuna masih berakting menulis dengan wajah setenang biasanya. Sembari menyembunyikan lembar jawaban dibawah lengannya.
"Tak apa. Anggap saja itu imbalan atas membolehkanku untuk bertukar tempat duduk.
Andito memandang wajah Yuna dengan mulut ternganga. Diikuti air mata yang entah secara tiba-tiba menetes tanpa suara.
"Oh God. You're like a angel."
"Angel? Yoriko Angeline ada di bangku depan. Mau ku panggilkan?"
"Huh?"
Andito menoleh ke depan. Dan langsung menangkap apa maksudnya.
"Gak gitu, Anjir!"
"Makanya cepatlah!" bisiknya tegas.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, tangannya langsung bergerak secepat mesin fotokopi.
Pulpen menari di atas kertas. Baris demi baris berpindah ke buku miliknya.
Gerakannya begitu lincah. Seolah-olah ia memang sudah sangat berpengalaman dalam situasi seperti ini.
Yuna memperhatikannya sekilas.
"Cepat sekali?" gumamnya tak percaya.
Andito bahkan tidak sempat mengangkat kepala.
"Bertahun-tahun latihan," jawabnya singkat.
Yuna langsung meringis prihatin.
Hanya dalam lima menit, Andito hampir selesai mengerjakan keseluruhan soal.
Namun ketika ia akan menyalin jawaban nomor empat—
"Aku sengaja membuat nomor empat keliru."
Pulpen Andito langsung berhenti.
"Loh?"
Ia menoleh cepat.
"Kenapa?"
"Kalau semua jawabanku selalu sempurna, orang akan mulai memperhatikan."
Yuna memalingkan wajahnya.
"Tapi kalo kamu mau, aku bisa menjawabnya untukmu."
Andito mengernyit.
"Maksudnya?"
"Tak ada maksud apa-apa."
"Kamu mau ikut caraku, atau tidak?"
Ia menoleh sebentar ke arah Pak Imam yang masih berkeliling.
"Kalau ikut caraku, nomor empat kita salahkan..."
"Kalo tidak, aku akan mengerjakan—"
"Oke! Stop! Gua ngikut."
Andito memotong cepat. Karena situasi sekarang cukup rumit untuk debat logika dengan gadis berambut pendek itu. Meski otaknya mencoba mengejar logikanya.
Yuna tersenyum tipis. Lalu kembali berakting menulis agar Pak Imam tak mencurigai bangku paling belakang, dekat jendela ini.
"By the way, Yun."
Yuna hanya melirik.
"Prinsip gue sederhana sih. Yang penting ngumpul. Udah."
Yuna refleks terkekeh mendengar logika aneh itu.
"Tumben lu ngetawain gue."
"Kamu cukup anomali dalam pemikiranku," jawabnya sembari terkekeh kecil.
"Bodoamat dah!"
Ucapan itu selesai. Goresan tinta Andito akhirnya akan mencapai jawaban nomer lima.
Ia sama sekali tidak menyadari...
Bahwa keputusan sederhana itu...
Akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.
sebelumnya lebar lapangan