Teror yang mengguncang Desa Keramat sudah melahirkan kondisi yang mencekam bagi warga.
Dimana ada banyak anak-anak yang menghilang, wanita hamil, dan bahkan orang dewasa tak luput dari serangan tersebut.
Siapakah penerornya?
Ikuti kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehebohan
Malam hampir mendekati fajar. Purnama tergantung tepat di atas Sungai Mahakam, dengan bentuk yang bulat dan juga terang
Udara dingin masih menusuk dan kabut turun cukup tebal.
Di sebuah rumah panggung yang yang sederhana milik Salim dan Aminah, lampu bohlam tampak meredup, seolah sedang kehabisan watt.
Aminah baru saja bangun, sebab bermimpi bertemu Anto malam ini.
Ia duduk di lantai kayu rumahnya. Ia masih terlihat sesenggukkan, sembari memeluk baju puternya yang menjadi kenangan paling menyakitkan.
Ia belum bisa menerima kenyataan, jika puteranya pergi secepat itu. Baginya, dunia seakan tak berpijak, dan langit runtuh menimpanya..
Kiamat sugra yang di berikan padanya, seolah bencana tsunami paling dahsyat tahun ini.
Matanya terlihat masih bengkak, karena terlalu banyak menangis. Ia tidak dapat menahan semua kesedihannya.
"Anto... nak..." bisiknya dengan suara yang lirih menahan kehancuran yang saat ini sedang menimpanya.
Salim duduk di sampingnya, menatap kosong ke arah sungai. Di luar sana, suara lolongan anjing belum juga berhenti, dan semakin panjang.
Bahkan sosok anjing liar sedang mengejar sesuatu yang melayang di balik gelap malam.
Tok. Tok. Tok.
Suara ketukan yang cukup keras di anak tangga rumahnya, dan itu membuyarkan lamunannya.
"Pak Salim! Buka pintunya! Ada hal yang ingin kita beritahu!." suara Pak RT membelah kesunyian, dan nadanya terdengar sangat panik. Itu memberi isyarat, jika komdisi memang sangat mencekam.
Salim membuka pintu. Di luar sudah berkerumun sepuluh orang pria dewasa. Wajah mereka terlihat pucat. Tampak keraguan yang lebih kentara.
"Ada apa, Pak?" tanya Salim, sembari menuruni anak tangga. Ia tak kala penasarannya.
Nafas Pak RT terdengar berat. Dadanya seolah ada yang sedang mengganjal dasanya. "Bukan Anto saja korbannya! Tetapi Rodiah juga. Ia mengalami keguguran! Di ujung kampung! Ia harus segera di selamatkan." Suar la
Aminah yang mendengar langsung lemas. "Astaghfirullah, apa lagi ini?" wajahnya mendadak tampak pucat.
Sementara itu, di rumah panggung milik Rodiah sudah sangat ramai. Bau anyir menusuk hidung.
Wanita itu merasakan pandangannya tergeletak di atas tikar. Ia sangat pucat, dan bagian bawahnya penuh dengan cairan pekat darah.
Dua bidan desa panik. "Ini keguguran! Tapi aneh...." sebut Sinta yang menangani peristiwa tersebut. "Janinnya hilang entah kemana," suara Sinta hampir tenggelam, dan ia benar tidak memahami kondisi pasiennya.
"Ini pasti ulah Kuyang. Ada yang sudah meneruskan ilmu tersebut," ucap Pak Karim dengan deguban jantungnya yang memburu.
Sedangkan di bagian perut Bu Rodiah ada bekas lebam. Warna biru kehitaman. Seperti luka yang habis dipukul dari arah dalam dan teriakannya sangat menyakitkan.
Tak hanya itu, di kulit perutnya ada lima bekas gigi taring yang seperti melukai kulit Rodiah, dan pastinya itu bukan gigi manusia.
"Ya Allah..." Pak Lurah menutup mulut. "Tadi malam dia teriak. Dan mengatakan jika ada yang menariknya dari arah dalam perutnya." ucapnya dengan wajah penuh penyesalan.
Seandainya saja ia langsung memeriksa kondisi warganya, maka hal ini tidak akan pernah terjadi.
Sedangkan suami Rodiah—Pak Thamrin sedang duduk di pojok. Kepalanya dipegangi dengan kedua tangannya.
"Kami tidur seperti biasa. Tiba-tiba dia ku temukan di anak tangga sudah dalam kondisi seperti itu," nafasnya terasa berat, dengan dada yang naik turun. "Dia bilang... ada yang ketawa di atas atap." ia kembali menjelaskan.
Sementara itu, pria paruh baya sedang berjalan dari jalanan setapak yang kanan kirinya di tumbuhi rumput liar.
Semakin lama, sosok itu semakin mendekat, dan ia tak lain adalah Damang Jaya, yang datang paling akhir.
Ia menaiki anak tangga, dan orang-orang memberinya jalan untuk masuk.
Pria itu masuk ke dalam rumah, dan menuju tempat dimana Rodiah di baringkan.
Saat begitu melihat perut Rodiah yang sudah kempis, wajahnya semakin terlihat suram.
Ia tampak berkomat-kamit membaca mantra, sembari menabur beras yang sudah di beri kunyit, sehingga warnanya menjadi kuning.
Ia menaburkannya ke tubuh Rodiah dan juga empat penjuru mata angin.
Saat menyentuh kulit sang pasien, beras itu -kamit. Tabur beras. Tapi berasnya langsung bersentuhan, justru menghitam dan seolaah sedang terbakar saat terkena lantai.
"Ini bukan keguguran biasa," gumam Damang. "Ini ulah Kuyang. Dia sangat haus darah bayi." ucapnya dengan wajah yang sangat serius.
Ia menatap ke arah langit yang mulai menyingsing. "Dia sangat lapar, dan membutuhkan banyak tumbal untuk penyempurnaan ilmu yang dimilkinya." terangnya lagi.
"Berapa banyak tumbal yang diinginkannya , Tok?" tanya karim dengan tubuh yang gemetar.
"Empat puluh orang..." jawab Damang dengan pelan. Ia memejamkan keduanya matanya, mencoba menerawang lebih jauh.
Warga langsung merasa gaduh dan bercampur dengan rasa panik.
Mereka saling pandang satu sama lainnya. Menatap penuh kebingungan dan khawatir yang semakin tinggi.
Membayangkan empat puluh tumbal nyawa, dan bisa saja itu akan menimpa diri mereka sendiri. Entah hari ini, atau esok.
Sedangkan sekarang, sudah dua tumbal yang di dapat di kampung Keramat.
"Kuyang? apakah itu benar, Tok?" Sahlan terlihat pucat.
Damang menganggukkan kepalanya. Matanya lurus ke depan. "Ambilkan daun bajakah, tumbuk, dan tempelkan pada luka robeknya. Untuk menghentikan pendarahan dari luar, rebus akar bajakah, , dan minumkan segera. Agar pendarahannya berhenti," titahnya pada warga.
Dengan cepat salah satu dari mereka langsung mencari ramuan tersebut, dan di berikan kepada Thamrin, agar segera membuat ramuan tersebut.
"Sudah seratus tahun kita terbiasa tanpa Kuyang, dan ini seperti sebua sabotase," ucap Zuhri dengan nada gemetar.
"Lalu ini kenapa terjadi?" warga lainnya menimpali. Wajahnya tampak pucat.
"Terus ini apa?!"
Damang tidak menjawab. Dia menatap ke arah ujung kampung. Yaitu ke arah rumah cucunya.
"Jangan lupa berdoa, agar kita tidak ditimpa masalah," ucap Damang, dan berpamitan untuk pulang.
Sedangkan Arkan yang sedari tadi berada di salam kerumunan, sedang sibuk mencatat hal.penting yang menjadi poinnya.
"Masih misteri, dan aku harus menggali lebih lagi," ucapnya dalam hati. Kemudian ia beranjak mundur dari tempatnya, sebab sudah semakin siang.
Sementara itu, Dayang Sari baru saja membersihkan tubuhnya menggunakan air.
Ia menatap cermin di pintu lemari. Wajahnya semakin cantik dan bersinar.
Dayang menyentuh pipinya, dan senyumnya yang membuat siapapun akan tergoda padanya.
Tok! Tok! Tok!
Pintu rumahnya di ketuk.oleh seseorang. Dayang meraih syal berwarna kuning, kemudian melilitkannya ke leher.
Ia melangkah menuju pintu.
Kreeek!
Suara pintu di buka, dan ia berdiri diambang pintu.
Tanpa sengaja, kedua mata mereka saling beradu, dan Dayang terlihat sangat gugup.
"Selamat pagi, Bu Guru..." sapanya, dan berusaha bersikap tenang. Pagi ini, Dayang Sari terlihat sangat cantik di matanya.
Semoga Dayang Sari dan Arkan menemukan cara agar bisa memutus mata rantai kutukan itu..
Kasihan kan Dayang Sari kalau harus jadi Kuyang terus 😭
Secara ilmu hitam itu katanya turun temurun, dan harus punya pewaris, isshh geri juga ya. 😫
Sumpah deh takut bngt, waktu itu aku lg haid, pas waktu hampir tengah malem diganggu.
Nafas nya berat dan nyaring,😫persis diatas atap dikamarku.
Saking takut nya aku baca ayat kursi, Allhamdulillah dia pergi juga, dan trdengar dia jatuh.
Sya sendiri punya suami orang Banjar, tetapi saya asli suku Dayak, salam persahabatan dan salam sehat thor ku. ☺