Nana bukan siapa-siapa — seorang gadis yatim piatu yang tumbuh besar di jalanan Surabaya, mencuri untuk bertahan hidup. Sampai suatu hari, hidupnya berubah ketika dia masuk ke dunia keluarga Sie, salah satu dinasti konglomerat paling berkuasa di Indonesia.
Di sana, dia bertemu Steven Sie — putra ketiga yang dibuang keluarganya sendiri, dingin dan penuh misteri. Semua orang bilang dia pengkhianat. Semua orang ingin dia hancur.
Tapi Nana tahu yang sebenarnya.
Ketika Steven dikorbankan demi kepentingan yang lebih besar — dihancurkan di mata publik, dinyatakan bersalah atas kejahatan yang tidak pernah dia lakukan — hanya Nana yang berdiri melawannya. Sendirian. Tanpa bukti. Tanpa dukungan. Hanya dengan keyakinan bahwa cinta sejati layak diperjuangkan sampai mati.
Perjalanannya membawanya dari ruang sidang Jakarta hingga ke lorong-lorong gelap Singapura, dari pengkhianatan keluarga hingga pengorbanan yang tak terbayangkan. Di sepanjang jalan, ada Daniel Tjang — pengusaha paling berbahaya dan paling mempesona di Jakarta — yang diam-diam mempertaruhkan segalanya untuknya.
*Satu wanita. Dua pria. Dan satu pertanyaan yang mengubah segalanya:*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 20
"Kau dengar apa?"
Steven mengulangi pertanyaan itu tanpa menaikkan suara.
Nana masih memegang saputangan hitam di depan dada. Porselen di belakangnya sudah berhenti bergoyang, tapi jantungnya belum. Di koridor malam yang dingin, kalimat-kalimat Steven tadi seperti masih menempel di dinding.
Jalur Albert bocor dari dalam.
Pengkhianat.
"Cukup untuk tahu kau tidak hanya bicara soal Hasan," jawab Nana.
Mata Steven menggelap sedikit. "Kalau begitu kau dengar terlalu banyak."
"Atau terlalu sedikit."
Ia mengulurkan saputangan itu, niat awalnya tiba-tiba terasa bodoh. Steven melihat kain itu sebentar sebelum mengambilnya.
"Kenapa masih kau simpan?"
"Karena kau belum pernah memberi kesempatan untuk kukembalikan."
"Kau bisa titip staf."
"Aku tidak suka menitipkan barang orang yang pernah kupakai menahan darahku."
Kalimat itu membuat wajah Steven diam. Bukan melembut, bukan berubah jelas, hanya seperti ada sesuatu yang tertahan di balik rahangnya.
"Lupakan yang kau dengar malam ini."
"Kalau aku bisa melupakan semudah itu, Hasan tidak perlu repot mengirim foto."
"Ini bukan soal berani."
"Aku tahu." Nana menatapnya. "Ini soal semua orang di rumah ini menyimpan rahasia, lalu berharap aku tetap berjalan dengan mata ditutup."
Steven memasukkan saputangan itu ke saku. "Mata terbuka tidak selalu membuatmu selamat."
"Tapi mata tertutup pasti membuatku dipakai orang lain."
Mereka berdiri terlalu dekat untuk dua orang yang saling menyuruh pergi. Di ujung koridor, lampu kecil berkedip sekali. Steven menoleh lebih dulu, seperti tubuhnya selalu siap menghadapi sesuatu dari arah gelap.
"Kembali ke kamar," katanya.
"Kau tidak akan menjawab?"
"Tidak malam ini."
"Besok?"
"Jangan tawar-menawar dengan orang yang sedang mencoba membuatmu tetap hidup."
Nana tertawa pendek, pahit. "Kau selalu membuat hidup terdengar seperti utang."
Steven menatapnya lama. "Karena memang begitu di rumah ini."
Malam itu Nana kembali ke kamar tanpa jawaban. Namun ia membawa sesuatu yang lebih berat daripada rasa takut: kesadaran bahwa Steven tidak hanya menutup pintu darinya. Ia sedang menahan pintu itu dengan tubuhnya sendiri.
Paginya, Daniel Tjang datang sebelum makan siang.
Ia tidak datang dengan rombongan besar. Hanya Loki yang mengikutinya, membawa map kulit cokelat dan wajah datar seperti biasa. Daniel muncul di aula depan dengan kemeja putih, jam tangan tipis, dan senyum yang terlalu segar untuk rumah yang baru dua malam diteror Hasan.
"Rumah ini makin mirip kantor polisi," katanya saat melihat dua penjaga di dekat tangga. "Bedanya, kopi kantor polisi biasanya lebih jujur."
Lusia yang kebetulan lewat mendengus. "Tuan Daniel selalu punya komentar."
"Kalau tidak, nanti orang salah mengira aku datang untuk bekerja serius, Bu Lusia."
Lusia pergi sambil mengibaskan tangan, tapi sudut bibirnya hampir bergerak. Daniel punya cara membuat orang kesal tanpa memberi alasan cukup untuk marah.
Nana berdiri di dekat ruang makan kecil, membawa daftar obat Stella. Daniel melihatnya dan langsung mengangkat alis.
"Nah, murid neraca."
"Tuan Daniel."
"Aduh, masih Tuan. Aku merasa rambutku memutih."
"Kalau saya panggil Daniel saja, nanti orang rumah ini bilang saya kurang sopan."
"Orang rumah ini punya terlalu banyak waktu untuk menilai sopan santun orang yang sedang dikepung." Daniel melirik penjaga, lalu suara dan senyumnya turun sedikit. "Kau baik-baik saja?"
Pertanyaan itu sederhana. Tidak seperti Stella yang takut, tidak seperti Irwan yang prosedural, tidak seperti Steven yang membuat semua kalimat terdengar seperti perintah.
Nana butuh satu detik sebelum menjawab. "Masih berdiri."
"Jawaban bagus untuk orang yang belum baik-baik saja."
Steven muncul dari arah tangga.
"Kau datang untuk mengantar file atau membuka klinik perasaan?"
Daniel menoleh sambil tersenyum. "Keduanya kalau bayarannya cocok."
Loki menyerahkan map kepada kepala pelayan. Daniel tidak langsung pergi. Ia justru berjalan ke arah Nana dan berdiri cukup dekat sampai Steven berhenti dua langkah dari mereka.
"Aku dengar Hasan mulai bermain kotor."
"Kau dengar dari siapa?" tanya Steven.
"Dari Surabaya. Kota ini kecil kalau uangmu cukup besar."
"Mulut besar juga membantu."
"Benar. Itu kenapa kita berdua masih berguna."
Nana melihat mereka seperti melihat dua pisau diletakkan di meja yang sama. Steven diam, gelap, dan mengarah ke dalam. Daniel terang, ringan, tapi ujungnya tetap tajam.
Daniel kembali menatap Nana. "Aku ada pertemuan sore ini dengan orang bank lama. Bukan bank besar, cuma orang tua yang hafal siapa pernah memalsukan tanda tangan siapa. Kau mau ikut?"
Steven langsung menjawab, "Tidak."
Daniel tidak memandangnya. "Aku bertanya pada Nana."
"Nana sedang dalam pengawasan."
"Pengawasan atau penahanan?"
Udara aula menegang.
Nana merasakan beberapa staf menahan langkah. Stella muncul di ujung lorong, membawa selendang kecil. Matanya langsung berpindah dari Daniel ke Steven, lalu ke Nana.
"Ada apa?"
"Tuan Daniel mengajak aku keluar," kata Nana.
Stella memucat. "Sekarang?"
"Sore. Tempat umum. Dengan Loki." Daniel mengangkat tangan seperti orang tidak bersalah. "Aku bahkan bisa membawa sopir paling membosankan."
Steven menatap Nana. "Hasan baru saja memakai orang luar untuk menyentuhmu. Kau ingin keluar dengan orang yang menganggap semua pintu bisa dibeli?"
Daniel tersenyum, tapi kali ini tidak lucu. "Lebih baik membeli pintu daripada mengunci orang di kamar sampai lupa cara berjalan."
"Lebih baik terkunci daripada berjalan ke pisau."
"Kalau kau selalu memutuskan pisau mana yang boleh dia lihat, jangan heran kalau suatu hari dia memegang sisi tajamnya."
Stella menarik napas kecil. "Kalian berdua bisa berhenti bicara seolah Nana tidak ada?"
Kalimat itu membuat aula sunyi.
Nana menatap Stella, lalu Steven, lalu Daniel. Tiba-tiba ia paham mengapa Stella cemas. Bukan karena dua pria itu sedang memperebutkannya seperti barang. Bukan itu. Yang lebih berbahaya adalah masing-masing menawarkan cara hidup.
Steven menawarkan keselamatan dengan harga ketaatan.
Daniel menawarkan kebebasan dengan harga risiko.
Nana tidak tahu mana yang benar. Ia hanya tahu ia sudah terlalu lama hidup dengan cara orang lain menentukan tempatnya berdiri.
"Aku mau ikut," katanya.
Stella memejamkan mata. Steven tidak bergerak. Daniel pun tidak langsung tersenyum.
"Aku tidak mau keluar untuk menantang Hasan," lanjut Nana. "Aku mau belajar. Kalau musuh memakai vendor, bank, nomor, orang kecil, aku harus mengerti jalurnya. Kalau aku hanya menunggu di kamar, aku akan selalu jadi orang yang difoto dari belakang."
Steven mendekat satu langkah. "Kau pikir belajar membuatmu kebal?"
"Tidak. Tapi bodoh membuatku lebih mudah dipakai."
Tatapan Steven turun ke pergelangan tangannya, tempat bekas luka Pasar Atom sudah hampir hilang. Lalu ia mengeluarkan ponsel kecil dari saku dan meletakkannya di meja konsol.
"Bawa ini."
Nana menatap benda itu. "Apa itu?"
"Ponsel darurat. Satu tombol terhubung ke Irwan. Satu tombol mengirim lokasi."
Daniel bersiul pelan. "Romantis sekali. Hadiah pertama berupa alat pelacak."
"Lebih berguna daripada bunga dari orang yang suka membuat masalah."
"Aku lebih suka membuat kesempatan."
"Kesempatan mati juga termasuk kesempatan."
"Koko Steven," sela Stella, kali ini suaranya tajam.
Steven berhenti.
Nana mengambil ponsel kecil itu. Beratnya tidak seberapa, tapi di telapak tangannya terasa seperti tanda bahwa ia belum benar-benar bebas. Namun berbeda dari kunci, benda itu tidak mengurung. Ia memberi jalan pulang.
"Aku akan bawa," katanya.
Steven menatapnya. "Dan kau akan mengikuti instruksi Loki jika terjadi sesuatu."
"Aku akan mendengar instruksi Loki."
"Nana."
"Mendengar dulu. Mengikuti kalau masuk akal."
Daniel tertawa, kali ini sungguh. "Aku makin suka murid ini."
Steven meliriknya. "Itu alasan lain aku khawatir."
Untuk pertama kalinya sejak malam sebelumnya, Nana hampir tersenyum. Bukan karena takutnya hilang. Takut itu masih ada, duduk di bawah tulang rusuknya. Namun di antara dua cara bertahan hidup yang saling bertabrakan, ia mulai melihat ruang kecil untuk memilih dengan kakinya sendiri.
Sore itu belum tiba, tapi Nana sudah tahu satu hal.
Jika ia ingin bertahan di dunia Steven dan Daniel, ia tidak bisa hanya menjadi orang yang dilindungi salah satu dari mereka.
Ia harus menjadi orang yang bisa pulang, bahkan setelah memilih keluar.