Setelah menyelesaikan misi terakhirnya, Aurora Veyra, seorang agen pembunuh bayaran, tewas akibat kecelakaan konyol dan terbangun di dalam novel favoritnya. Sialnya, ia bukan menjadi tokoh utama, melainkan Shen Yuxin, istri kejam yang gemar menyiksa suaminya, Lu Zhichen, Raja Mafia paling ditakuti di Beijing.
Mengetahui akhir tragis yang menantinya, Aurora bertekad mengubah jalan cerita. Namun, bisakah ia meluluhkan hati suami yang telah terluka, menghindari takdir kematiannya, dan menulis ulang akhir kisah nya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sang senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidur bersama
Shen Yuxin masih berdiri mematung di depan ranjang dengan wajah penuh ketidakpercayaan.
Sementara itu, Lu Zhichen sudah berbaring santai di atas kasur, bahkan menarik selimut hingga menutupi sebagian tubuhnya. Bantal yang tadi dibawanya kini sudah berada di bawah kepala pria itu.
Yuxin berkedip beberapa kali.
"Lu Zhichen... apa yang kau lakukan di kamarku?" tanya Yuxin dengan raut wajah kesal.
"Tidur, apalagi?" jawab Zhichen santai, seolah tindakannya adalah sesuatu yang sangat wajar.
"Maksudku, kenapa kau tidur di kamarku?"
"Karena kau istriku," jawab Zhichen singkat.
Justru jawaban itulah yang membuat Shen Yuxin semakin kesal.
"Tidak, tidak, tidak. Kita sudah sepakat untuk tidur di kamar terpisah."
Yuxin berusaha menarik tubuh Lu Zhichen agar turun dari kasur empuknya. Namun, tubuh pria itu bagaikan batu yang sangat berat. Padahal Yuxin sudah mengerahkan seluruh tenaganya, tetapi tubuh Lu Zhichen tidak bergeser sedikit pun.
Lu Zhichen tersenyum tipis, menikmati usaha istrinya yang sia-sia itu.
Shen Yuxin akhirnya keluar dari kamar untuk mencari keberadaan Han Mo. Namun, pria itu tidak dapat ia temukan.
Sementara itu, di dalam kamar, senyum Lu Zhichen semakin lebar penuh kemenangan.
Karena dia sudah berhasil menyingkirkan penghalang terbesarnya, yaitu Han Mo. Untung saja dia cukup cerdik sehingga Yuxin tidak bisa lagi mengusirnya kali ini.
Shen Yuxin kembali ke kamar dengan wajah cemberut.
"Ke mana Han Mo?" tanyanya dengan nada kesal.
Lu Zhichen tidak menjawab. Ia seolah tidak mendengar sama sekali apa yang baru saja diucapkan Shen Yuxin. Pria itu tetap anteng berbaring di atas kasur dengan mata terpejam.
Shen Yuxin kembali berusaha menarik tangan Lu Zhichen.
Namun, pria itu tiba-tiba membuka matanya. Dengan gesit, ia berbalik menarik kedua tangan Yuxin dengan cukup kuat.
Yuxin kehilangan keseimbangan.
Tubuhnya langsung jatuh ke depan.
Bruk!
Tanpa sempat menahan diri, tubuh Yuxin ambruk tepat di atas tubuh Lu Zhichen.
Mata Yuxin langsung membelalak lebar.
Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa sentimeter.
Ia bahkan dapat merasakan embusan napas hangat pria itu menyentuh wajahnya.
Belum sempat Yuxin bereaksi...
Kedua lengan Lu Zhichen sudah lebih dulu melingkari pinggangnya.
Memeluknya dengan erat.
Yuxin membeku.
Sedangkan senyum tipis di bibir Zhichen justru semakin jelas.
"Sangat nyaman," gumam Zhichen pelan.
Satu kalimat itu membuat wajah Yuxin langsung memerah.
"Lu Zhichen!" teriak Yuxin sambil meronta. "Lepaskan aku!"
Namun, pelukan pria itu justru semakin erat.
"Dasar tidak tahu malu," gerutu Yuxin sambil terus meronta, berusaha melepaskan diri dari dekapan Lu Zhichen.
Pria itu akhirnya melepaskan tubuh Shen Yuxin, lalu bangkit untuk duduk di ranjangnya. Kepalanya disandarkan pada headboard.
Namun, dengan cepat pria itu kembali menarik pinggang Yuxin, lalu memeluknya erat.
"Sudah malam. Ayo tidur. Musuhku mungkin masih mengintai mu saat ini. Aku hanya ingin melindungi mu," kata Lu Zhichen dengan nada lembut.
Yuxin hendak protes.
Namun, Lu Zhichen sudah lebih dulu menyingkap selimut, bangkit, lalu menggendong Yuxin begitu saja. Ia membaringkan tubuh Shen Yuxin di sisi lain ranjang, kemudian menarik selimut hingga menutupi tubuh wanita itu.
Sedangkan Yuxin masih sedikit linglung sehingga hanya bisa diam.
Jantungnya berdegup kencang.
Apalagi saat melihat tatapan lembut Lu Zhichen yang membuatnya seolah kehilangan akal sehat.
Dari jarak yang begitu dekat, Shen Yuxin dapat melihat dengan jelas wajah tampan Lu Zhichen yang begitu menawan.
Melihat Shen Yuxin sedang melamun, Lu Zhichen memanfaatkan kesempatan itu dengan baik.
Dengan gerakan cepat, ia mengecup singkat bibir Yuxin.
Mata Yuxin langsung melotot lebar.
Kesadarannya kembali sepenuhnya.
Sedangkan sang pelaku dengan santai berjalan mengitari ranjang, lalu kembali berbaring di tempat semula.
"Zhichen... kau mau mati, ya?!" teriak Yuxin kesal.
Lu Zhichen tidur menyamping membelakangi Shen Yuxin. Ia cepat-cepat memejamkan mata, takut benar-benar diusir oleh istrinya.
Karena tidak mendapat respons, Yuxin semakin kesal.
Ia menendang keras punggung Zhichen hingga pria itu terjatuh dari ranjang.
Bruk!
"Aduh... lenganku...!" teriak Zhichen dramatis sambil memegangi lengannya yang masih berbalut perban.
Yuxin langsung panik melihat Lu Zhichen tampak kesakitan.
Dengan cepat ia menghampiri dan membantu pria itu.
"Aduh... maafkan aku. Lagian kamu, sih," ucap Yuxin dengan nada bersalah.
Melihat wajah Yuxin yang penuh kekhawatiran, sudut bibir Zhichen berkedut pelan.
Dengan susah payah ia menahan senyumnya.
"Yuxin... sepertinya lukaku kembali robek," kata Zhichen dengan nada berlebihan, membuat Yuxin semakin merasa tidak enak hati.
Akhirnya Yuxin membantu Zhichen kembali duduk di tepi ranjangnya.
"Aku antar ke kamarmu, ya?" tanya Yuxin lembut.
Zhichen menggeleng keras.
"Tidak. Aku khawatir padamu. Aku tidak mau kembali ke kamarku. Mulai sekarang ini adalah kamarku."
"Ayolah, Zhichen... Aku tidak mau tidur satu ranjang denganmu," tolak Yuxin.
"Aduh... aduh... lukaku. Sepertinya benar-benar parah. Bagaimana kalau aku sekarat mendadak?" kata Zhichen mencari alasan.
Akhirnya Shen Yuxin mengalah. Dari pada berdebat tiada ujung nya. Sedangkan hari sudah semakin pagi. Ia membiarkan Lu Zhichen tidur satu ranjang dengannya.
Shen Yuxin meletakkan tiga guling di tengah-tengah mereka.
"Ini batasnya. Kalau kamu sampai melanggarnya, kamu tidak boleh lagi tidur di ranjangku," kata Yuxin memperingatkan.
Zhichen mengangguk seolah mengerti.Padahal dalam hati ia tersenyum girang.
"Cuma guling. Itu bukan hal yang sulit disingkirkan. Kalau penghalangnya tembok saja pasti akan kupanjat, apalagi hanya sebuah guling. Ditendang sedikit juga langsung hilang." pikir Zhichen dalam hati.
Shen Yuxin memandang Zhichen dengan penuh curiga.
Namun, Lu Zhichen terlalu cerdik. Dengan cepat ia menarik selimut hingga menutupi hampir seluruh tubuhnya, lalu segera pura-pura tidur.
Membuat Yuxin hanya mampu menghela napas kesal. Karena hari sudah hampir pagi, Shen Yuxin pun cepat tertidur. Wanita itu tidur dengan sangat pulas, berbanding terbalik dengan Lu Zhichen.
Padahal hari itu seharusnya dialah yang lebih merasa lelah. Namun entah mengapa matanya justru sulit terpejam. Lu Zhichen melirik sekilas ke arah Yuxin yang terlihat begitu damai dalam tidurnya.
Perlahan, ia memindahkan ketiga guling itu. Lalu menggeser pelan tubuh Yuxin ke dalam dekapannya. Gerakannya benar-benar sangat hati-hati. Ia terus memperhatikan agar Yuxin tidak terganggu sedikit pun, karena ia tahu Yuxin sangat peka terhadap suara dan gerakan.
Setelah Yuxin benar-benar berada dalam dekapannya, Zhichen mengangkat salah satu kaki Yuxin dengan sangat pelan di atas kaki nya. Kemudian ia meletakkan tangan Yuxin di atas lengannya, seolah-olah Yuxin yang sedang memeluk dirinya. Setelah itu, ia melingkarkan tangannya di pinggang Yuxin.
Jadi, jika Yuxin bangun nanti, Zhichen akan beralasan bahwa Shen Yuxinlah yang telah menerobos pembatas itu. Memikirkan hal tersebut, Zhichen tersenyum puas. Tak lama kemudian, ia memejamkan mata dan segera menyusul Yuxin mengarungi alam mimpi.
di novel aja ya, kalau di RL hus... hus... jauh" serem
berarti emng dia ga ada perasaan apa" sama zhichen ya...
😁😁😁😁😁