NovelToon NovelToon
Cepot Dawala:Memburu Dukun Hitam

Cepot Dawala:Memburu Dukun Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Fantasi
Popularitas:219
Nilai: 5
Nama Author: Nur Hali

Di malam berkabut tebal di lereng Leuweung Larangan, Dawala dan Si Cepot berjalan pulang menuju Kampung Pasir Batang. Suasana terasa mencekam: kampung tampak sunyi gelap tanpa tanda kehidupan. Saat melewati pohon beringin kembar di gerbang, mereka dikejutkan oleh penampakan mengerikan—sesosok kepala wanita tanpa tubuh, penganut ilmu Teluh yang sedang mencari tumbal—disertai tawa melengking dan bau busuk. Ketakutan melanda keduanya, memaksa mereka lari sekuat tenaga dan menggedor pintu bambu rumah terdekat demi keselamatan, sementara makhluk itu terus mendekat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Air Mata Sungai yang Terhenti

Setelah meninggalkan desa di tengah hutan belantara, langkah Cepot dan Dawala terus menuju ke arah timur. Perjalanan kali ini membawa mereka ke daerah yang banyak dilalui aliran air—sungai-sungai kecil yang dulunya jernih, sawah yang luas, dan rawa-rawa yang menjadi tempat hidup berbagai jenis hewan. Namun, semakin dekat mereka ke pemukiman yang lebih besar, suasana mulai terasa aneh.

“Kang, lihatlah! Sungai yang seharusnya mengalir deras ini hanya menyisakan genangan air keruh saja,” kata Dawala sambil menunjuk ke aliran air yang kering di beberapa bagian. “Padahal musim hujan belum lama berakhir. Seharusnya airnya masih melimpah.”

Cepot berhenti dan berjongkok menyentuh dasar sungai yang tertutup lumpur tebal dan berbau tidak sedap. Ia mengerutkan dahi, lalu menatap ke arah hulu sungai yang terhalang oleh perbukitan. “Ini bukan karena kurangnya air dari atas. Rasanya seperti ada sesuatu yang menahan alirannya, bahkan menyedotnya secara paksa. Lihat saja, tumbuhan di pinggir sungai mulai layu dan berubah warna menjadi pucat.”

Mereka melanjutkan perjalanan mengikuti arah aliran sungai, hingga tiba di sebuah desa yang cukup besar bernama Desa Karya. Begitu masuk ke dalamnya, terlihat jelas kesusahan yang sedang dialami warga. Sumur-sumur mulai mengering, tanaman di ladang layu, dan suasana hati penduduk terlihat muram serta cemas.

Mereka mendekati sekelompok orang yang sedang berkumpul di balai desa. Seorang tetua yang tampak sebagai pemimpin sedang berbicara dengan nada berat.

“Sudah hampir sebulan air sungai tidak mengalir lancar. Jika terus begini, panen kita akan gagal dan kita akan kesulitan mendapatkan air bersih,” ujarnya dengan suara sedih.

Cepot mendekat dengan sopan, lalu menyapa. “Mohon maaf mengganggu, Pak. Kami adalah musafir yang kebetulan lewat dan melihat keadaan sungai yang terhenti ini. Bolehkah kami tahu, apakah ada kejadian aneh yang terjadi sebelum airnya berkurang drastis?”

Tetua desa itu menoleh, lalu menghela napas panjang. “Benar juga, Nak. Sekitar sebulan yang lalu, muncul sebuah kolam besar yang tiba-tiba terbentuk di kaki bukit hulu sungai. Airnya sangat jernih dan terlihat sangat banyak, namun sejak saat itu air yang mengalir ke desa justru makin sedikit. Siapa pun yang mencoba mendekati kolam itu merasa pusing, dan ada yang mengatakan melihat cahaya keperakan yang berkilauan di dalamnya.”

“Apakah ada yang mencoba memeriksa apa yang ada di dalam kolam itu?” tanya Dawala dengan rasa ingin tahu.

“Beberapa orang pemberani pernah mencoba mendekat, namun mereka merasa seperti ada tarikan yang kuat hendak menarik tubuh mereka masuk ke dalam air. Sejak itu, kami takut mendekatinya dan hanya bisa menunggu dengan harapan keadaan akan membaik dengan sendirinya,” jawab tetua itu.

Malam itu juga, setelah beristirahat sejenak, Cepot dan Dawala memutuskan untuk pergi ke hulu sungai dan melihat langsung kolam aneh itu. Jalan menuju ke sana terjal dan berbatu, namun setelah berjalan selama satu jam, mereka tiba di tempat yang dimaksud.

Di depan mata mereka terbentang sebuah kolam yang airnya terlihat sangat tenang, tidak beriak sedikit pun. Cahaya bulan memantul di permukaannya, menimbulkan kilauan keperakan yang indah namun terasa dingin dan kosong. Di sekeliling kolam tidak ada tumbuhan yang tumbuh subur, semuanya terlihat layu seolah semua zat hidup di tanah itu tersedot habis.

“Ini dia penyebabnya,” gumam Cepot sambil mengamati dengan cermat. “Ada kekuatan yang menahan air agar tidak mengalir ke bawah, bahkan menarik seluruh energi air di sekitarnya untuk berkumpul di sini.”

Tiba-tiba, permukaan air beriak perlahan. Dari dalam kolam muncul sosok makhluk yang berwujud wanita cantik, namun kulitnya pucat dan matanya terlihat penuh kesedihan yang mendalam. Rambutnya panjang terurai mengikuti aliran air, dan tubuhnya bersinar dengan cahaya keperakan yang sama seperti yang terlihat sebelumnya.

“Siapa kalian yang berani mendekat ke tempat ini?” suaranya terdengar lembut namun bergetar, seolah menahan tangis. “Pergilah dari sini, atau kalian akan ikut terperangkap seperti diriku.”

Dawala terkejut melihat sosok itu, namun Cepot tetap tenang dan tidak menunjukkan sikap bermusuhan. Ia melangkah mendekat dengan hati-hati, lalu membungkuk sedikit sebagai tanda hormat.

“Kami datang bukan untuk menyakiti atau mengganggu, melainkan ingin mengerti mengapa air sungai yang menjadi sumber kehidupan bagi banyak orang ini terhenti. Kami melihat kesedihan di matamu, seolah kau juga tidak ingin berada dalam keadaan seperti ini.”

Sosok wanita itu menundukkan kepalanya, lalu air mata menetes dari matanya yang jatuh ke permukaan kolam dan menimbulkan riak kecil. “Namaku Ratu Air, penjaga aliran sungai ini selama ratusan tahun. Dulu, aliranku lancar dan membawa kesuburan ke seluruh tempat yang kulewati. Namun, beberapa waktu lalu, ada seseorang yang datang dengan ilmu hitam dan menanamkan batu pengikat di dasar kolam ini. Ia memaksaku untuk menampung semua air dan energi agar tidak mengalir ke mana pun, dengan tujuan agar ia bisa menguasai seluruh sumber air ini dan meminta bayaran dari warga desa.”

Ia melanjutkan dengan suara yang semakin sedih, “Sejak itu, aku terikat dan tidak bisa bergerak bebas. Semakin banyak air yang kumenampung, semakin kuat ikatannya, dan semakin lelah rasanya. Aku tidak bisa melindungi sungai ini lagi, dan menyaksikan makhluk hidup di bawah sana menderita membuat hatiku terasa perih.”

Mendengar penjelasan itu, Dawala merasa iba. “Jadi kau juga korban dari perbuatan orang yang serakah itu? Siapa yang melakukan hal kejam ini padamu?”

“Ia menyebut dirinya Ki Galih, yang mengaku sebagai penguasa sumber air. Ia datang dan pergi sesuka hati, mengambil air sebanyak yang ia inginkan untuk dijual dengan harga mahal kepada desa-desa di sekitar sini,” jawabnya.

Cepot mengangguk paham, lalu mengeluarkan Golek Pancasona dari pinggangnya. “Tenanglah, Ratu Air. Kami datang untuk memutuskan ikatan yang membelenggumu dan mengembalikan aliran sungai ini ke keadaan semula. Batu pengikat itu hanya bertahan selama ada kekuatan jahat yang menopangnya.”

Ia melangkah mendekati tepi kolam, lalu memegang pusakanya dengan kedua tangan. Cahaya putih keemasan perlahan memancar, menyentuh permukaan air dan menyebar ke seluruh bagian kolam. Seketika itu juga, air yang tadinya terasa dingin dan berat mulai bergetar lembut, seolah merasakan kembali energi yang sehat.

“Di dasar kolam itu ada batu berwarna hitam yang menjadi sumber ikatannya,” kata Ratu Air sambil menunjuk ke arah tengah kolam. “Hanya kekuatan yang suci dan tulus yang bisa menghancurkannya tanpa melukai aliran air ini.”

Cepot mengarahkan ujung Golek Pancasona ke arah yang ditunjuk. “Dengan kekuatan keseimbangan dan kebenaran, hancurkanlah segala ikatan yang merusak dan membelenggu! Kembalikanlah air ini untuk memenuhi tugasnya memberi kehidupan!”

Saat ujung pusaka itu menyentuh permukaan air, cahaya menyelam masuk ke dalam kedalaman. Terdengar suara gemeretak halus, lalu muncul gelembung-gelembung air yang membawa serpihan batu hitam yang segera hancur menjadi butiran halus dan larut tanpa meninggalkan jejak.

Begitu ikatan itu terputus, seluruh air di kolam itu bergerak dengan derasnya, mengalir kembali mengikuti alur sungai yang seharusnya. Suara gemericik air yang sempat hilang selama berbulan-bulan kembali terdengar merdu, membawa kesegaran dan kehidupan ke sepanjang jalurnya.

Ratu Air terlihat terbebas dari beban berat yang menindihnya. Cahaya di tubuhnya bersinar lebih terang dan hangat, serta senyumnya kembali terukir indah.

“Terima kasih… terima kasih banyak telah membebaskanku dan mengembalikan tugasku,” ucapnya dengan suara yang gembira. “Sebagai tanda terima kasih, semoga aliran ini selalu jernih dan membawa berkah bagi siapa saja yang hidup di sekitarnya.”

Keesokan harinya, saat warga desa terbangun, mereka mendengar suara gemericik air yang sudah lama tidak terdengar. Mereka berlari ke tepi sungai dan melihat air mengalir deras kembali, jernih dan segar seperti sedia kala. Rasa gembira dan syukur terasa meluap di hati setiap penduduk.

Sementara itu, Ki Galih yang datang untuk mengambil air dan meminta bayaran terkejut melihat kolamnya sudah tidak ada lagi, dan kekuatan gaib yang ia miliki hilang seketika karena ikatannya dengan batu pengikat sudah terputus. Ia sadar bahwa perbuatannya telah diketahui dan tidak berani lagi menampakkan diri di tempat itu.

Saat berpamitan melanjutkan perjalanan, Ratu Air mengucapkan pesan terakhir kepada mereka dari tengah aliran sungai. “Semoga perjalanan kalian selalu diberkati. Ingatlah, air adalah sumber kehidupan, dan siapa pun yang berusaha menahannya demi keuntungan sendiri akan selalu dikalahkan oleh kehendak alam.”

Cepot dan Dawala melangkah pergi dengan hati yang lega, menyadari bahwa setiap sumber kehidupan di dunia ini harus dijaga dengan adil, dan tidak boleh dikuasai hanya untuk kepentingan segelintir orang.

1
Kardi Kardi
BISMILLAHHH. MELU WACA WAAAA
Kardi Kardi: BISMILLAHHHH
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!