NovelToon NovelToon
Buy 1 Get 1

Buy 1 Get 1

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Duda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dikejar tenggat waktu menikah oleh sang nenek, Sari Maheswara CEO kaya raya yang dingin dan perfeksionis. Mobilnya mogok di dekat pasar subuh. Namun, kesialan itu membawanya bertemu dengan Arka, seorang duda tampan penjual kue basah yang karismatik. Hanya dengan sebutir kue klepon buatan Arka, lidah dan hati Sari langsung meleleh.
Terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang, Sari dengan angkuh menyodorkan Black Card-nya untuk membeli seluruh dagangan, gerobak, sekaligus sang penjual! Bukannya tergiur, Arka yang berprinsip justru menolak mentah-mentah keangkuhan sang CEO.
Penolakan itu malah menyulut jiwa kompetitif Sari. Demi menaklukkan hati sang duda, Sari rela menanggalkan gengsinya: bangun jam 4 subuh, menerjang beceknya pasar dengan high heels, hingga berebut kue dengan emak-emak berdaster. Meski Arka berulang kali memintanya mundur karena perbedaan kasta dan status dudanya, Sari justru makin tertantang untuk membuktikan bahwa cinta sejatinya tidak bisa dibeli melainkan diperjuangkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Di dalam kamar yang temaram, Sari menumpahkan seluruh sesak di dadanya.

Ia menangis sesenggukan, membenamkan wajahnya di atas bantal kapuk yang keras.

Bayangan masa kecilnya yang sepi, ruang makan rumah mewah yang selalu terasa sunyi tanpa orang tua, hingga didikan dingin dari sang nenek berputar kembali seperti kaset rusak.

Di luar kamar, Arka berdiri terpaku di depan pintu kayu yang tertutup rapat.

Tangannya sempat terangkat, hendak mengetuk dan meminta maaf.

Demi Tuhan, ia tidak bermaksud sedikit pun untuk membuka luka lama Sari.

Arka hanya mengira Sari adalah tipe wanita kaya manja pada umumnya.

Mendengar tangis lirih yang tertahan dari dalam kamar, hati Arka ikut berdenyut nyeri.

Setelah hampir setengah jam berlalu dan puas menumpahkan air matanya, Sari menghapus pipinya yang basah dengan kasar.

Ego dan harga diri seorang Sari Maheswara kembali bangkit.

Ia tidak mau dianggap lemah, apalagi dicap sebagai pengecut yang menyerah di hari pertama.

Sari membuka pintu kamar dengan perlahan. Mengabaikan Arka yang sedang sibuk mengaduk rebusan gula aren di atas kompor, Sari melangkah tegap menuju dapur.

Di dekat meja, terdapat sebuah termos berisi air yang baru saja mendidih.

Berpikir bahwa memeras kelapa harus menggunakan air yang benar-benar panas agar santannya keluar banyak, Sari langsung menuangkan air mendidih itu ke dalam baskom berisi gunungan kelapa parut tanpa berpikir panjang.

Arka yang sedang fokus menjaga agar gula arennya tidak gosong, sama sekali tidak menyadari tindakan nekat Sari.

Sssrrr... Ah!

Sari menahan pelan pekikan di tenggorokannya. Begitu kedua tangan lentiknya masuk ke dalam baskom dan mulai meremas kelapa, rasa panas yang luar biasa seperti membakar kulitnya seketika menjalar.

Air itu terlalu panas, namun Sari keras kepala. Dengan gigi mengatup rapat dan mata yang kembali berkaca-kaca menahan perih, ia terus memeras kelapa parut itu.

Kulit telapak tangan dan jemarinya yang putih mulus dalam sekejap berubah merah meradang dan mulai melepuh di beberapa bagian.

Arka baru menyadari ada yang tidak beres saat mencium aroma uap kelapa yang terlalu panas.

Ia menoleh dan seketika membelalakkan mata melihat kepulan asap tebal keluar dari baskom Sari.

Pandangannya turun dan mendapati tangan Sari yang sudah merah padam seperti udang rebus.

Arka meletakkan panci gulanya dengan sentakan kasar, lalu berlari mendekat.

Ia langsung menyambar pergelangan tangan Sari, menariknya paksa keluar dari dalam baskom air panas tersebut.

"Apa kamu sudah gila?!" bentak Arka, suaranya meninggi karena diliputi rasa panik dan ngeri melihat kondisi tangan wanita itu.

"Ini air mendidih, Mbak! Memeras kelapa itu pakai air hangat kuku, bukan air termos!"

Meski pergelangan tangannya dicengkeram, Sari dengan keras kepala menghentakkan tangannya hingga terlepas.

Dengan napas memburu dan tatapan mata yang berkilat tajam, ia kembali memasukkan tangannya yang melepuh ke dalam baskom, melanjutkan remasan kelapanya dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki.

"Jangan hentikan aku!" seru Sari, suaranya bergetar menahan perih yang amat sangat di tangannya.

Ia mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata Arka yang dipenuhi kecemasan.

"Aku bukan anak manja, Arka. Dan aku akan buktikan itu kepadamu!"

"MBAK!!"

Bentakan Arka menggema kuat di dalam rumah kontrakan yang sempit itu.

Mengabaikan penolakan Sari, Arka langsung menyambar kedua pergelangan tangan wanita itu dengan tegas, menariknya paksa menjauh dari baskom kelapa laknat tersebut.

Arka tidak memedulikan tatapan penuh amarah Sari.

Dengan setengah menyeret, ia membawa Sari menuju amben kayu di ruang tamu, memaksanya untuk duduk di sana.

"Tunggu di sini. Jangan bergerak!" perintah Arka dengan nada suara bariton yang berat dan tak terbantahkan.

Arka berbalik cepat, melangkah ke arah lemari kayu usang di sudut ruangan, lalu kembali dengan sebuah kotak P3K plastik putih yang sudah agak berdebu di tangannya.

Ia duduk di lantai tepat di hadapan Sari, membuka kotak itu dengan cekatan, dan mengeluarkan sebotol salep khusus luka bakar serta gulungan kasa steril.

Sari, yang dadanya masih naik turun oleh emosi dan rasa perih yang luar biasa di telapak tangannya, mencoba menarik kembali tangannya yang diletakkan di atas lutut.

"Aku tidak apa-apa," ucap Sari ketus. Ia mencengkeram kain celana training-nya, mencoba bangkit berdiri.

"Lepaskan. Aku mau melanjutkan memeras kelapa itu. Tugas hari pertamaku belum selesai."

Melihat kekerasan kepala wanita di depannya, Arka mengembus napas panjang.

Dengan lembut namun penuh penekanan, tangan kekar Arka menahan bahu Sari agar kembali duduk di atas amben.

Kemudian ia meraih kedua tangan lentik Sari yang kini sudah dipenuhi melintingan air kecil akibat melepuh.

"Jangan keras kepala, Mbak," ujar Arka, suaranya melembut, kehilangan seluruh nada ketajaman yang biasanya ia gunakan.

Arka menunduk, perlahan membuka tutup salep, lalu mengoleskan krim putih itu ke telapak tangan Sari dengan gerakan yang teramat hati-hati—seolah-olah jika ia menekan sedikit saja, wanita di depannya akan hancur.

Rasa dingin dari salep itu seketika menjalar, perlahan meredam rasa panas membakar yang sejak tadi menyiksa kulit mulus sang CEO.

Sari terdiam. Amarahnya yang meluap-luap mendadak surut digantikan oleh rasa canggung yang menjalar saat melihat bagaimana fokusnya Arka mengobati lukanya.

Dari jarak sedekat ini, ia bisa melihat gurat penyesalan yang mendalam di wajah tampan pria itu.

"Maaf..." gumam Arka lirih tanpa mengalihkan pandangannya dari tangan Sari.

"Maaf karena ucapan saya di dapur tadi sudah melukai perasaan Mbak Sari."

Mendengar bisikan maaf yang tulus dari bibir Arka, benteng pertahanan Sari benar-benar runtuh.

Air matanya kembali menetes, mengalir lambat melewati pipinya yang sedikit kotor, lalu jatuh tepat di atas punggung tangan Arka yang sedang mengobatinya.

Arka mendongak. Menyaksikan air mata wanita tangguh itu mengalir tanpa suara, hatinya terasa seperti diremas.

Ia meniup perlahan telapak tangan Sari yang baru saja diolesi salep untuk mengurangi rasa perihnya, lalu membalutnya dengan kain kasa steril secara hati-hati agar lukanya tidak terkena infeksi.

Setelah selesai mengikat ujung kasa, Arka menatap lurus ke dalam manik mata Sari yang masih basah.

"Mbak, dengarkan saya," ucap Arka lembut, mencoba menenangkan badai emosi di dalam diri wanita itu.

"Mbak jangan memeras kelapa dulu untuk beberapa hari ke depan. Tangan Mbak harus sembuh dulu."

Sari hendak menyela, namun Arka dengan cepat memotong dengan senyuman tipis yang menenangkan.

"Tantangannya tidak batal. Tapi kita ganti tugasnya. Malam ini, Mbak bantu saya menimbang tepung saja, ya? Pakai sendok pelan-pelan, jadi tangan Mbak tidak perlu menyentuh air atau bahan yang kasar."

Mendengar perhatian kecil yang terselip di balik ketegasan Arka, rasa sesak di dada Sari perlahan menguap, berganti dengan kehangatan asing yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang tidak menuntutnya untuk selalu menjadi sempurna dan kuat.

Sari mengisap ingusnya pelan, lalu menganggukkan kepalanya dengan patuh.

"Iya, Arka."

Arka berdiri, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Sari bangkit dari amben.

Malam itu, di dapur kontrakan yang sempit dan remang-remang, peperangan ego di antara mereka perlahan mulai mencair, digantikan oleh ritme kerja sama yang baru.

Sari duduk di kursi kayu kecil dengan timbangan digital kuno di depannya, menimbang gram demi gram tepung ketan dengan tangan terbalut kasa, sementara Arka melanjutkan tugas berat memeras kelapa di sudut dapur, sesekali melirik ke arah Sari dengan tatapan yang tak lagi sama.

1
nunik rahyuni
lagian klo baru pertama kerja itu jgn lgsung dilepas di beri bimbingan dlu..suruh melihat dlu atau sambil di kasih aba aba apa dlu urutanya dan cara kerjanya..sdh tau orang kota kaya nyata ae g pernah tau bab dapur..melepuh kh tangan org..lgsg terjadi kecelakaan kerja
nunik rahyuni
thor sepanjang cerita aq masih bingung..bagaimana mereka lgsg serumah seatap tanpa ada ikatan pernikahan.....yg satu duda satunya wanita dewasa lho thor..mereka hidup di negara mana..pasti punya norma dan adat istiadat kan✌️✌️
nunik rahyuni
klo di dunia kita g ada ya thor modelan sari kya ini...yg ada sih sarimin🤣🤣🤣
klo mas duda menolak cinta sih 1000 : 1...
di dunia kita laki2 tu ibarat kucing garong...ikan asin bejejer j di cuntan makinya awewe bungas ✌️✌️✌️🤎
nunik rahyuni
mampir ya thor...perdana ni di lapak author..✌️✌️✌️
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
Gege
cepetan kek arka disambar petirnya..🤣 trus diinjek sistem trilyuner gitu...🤭😄🤣
Gege
semua yang namanya sari selalu keras kepala ego tinggi suka bermain perasaan 🤣🤭😄kenyataan...
Rian Moontero
mampiiirr👍😍👍
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!