Alana, seorang gadis pekerja keras yang tewas karena kelelahan, terbangun di tubuh putri bungsu seorang selir di keluarga mafia Garrick yang kejam. Alih-alih hidup mewah, ia justru akan dijual oleh ibu tiri pertamanya kepada mafia tua bangka demi politik.
Menolak pasrah pada takdir, Alana memutuskan untuk memikat kelima kakak tirinya yang terkenal kejam, dingin, dan saling bermusuhan demi takhta. Dari seorang pion yang terbuang, Alana mengubah dirinya menjadi ratu kecil yang diperebutkan oleh lima penguasa dunia bawah.
"Siapa pun yang berani menyentuh Alana, artinya menantang maut dari seluruh keluarga Garrick!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cosmoursun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Perjamuan Malam dan Jabat Tangan sang Dalang
Keesokan malamnya, aula utama Mansion Utama didekorasi ulang dengan kemegahan yang luar biasa, namun suasananya terasa seperti ruang eksekusi. Sebuah meja makan panjang dari kayu jati hitam diletakkan di tengah ruangan, diterangi oleh pendar lampu gantung kristal raksasa yang memantulkan cahaya dingin.
Victor Garrick duduk di ujung kepala meja sebagai sang Raja yang tak tersentuh. Di sisi kirinya, duduk Dominic dengan setelan tuksedo hitam yang rapi dan memancarkan ketegasan. Di sisi kanan, berturut-turut duduk Julian, Xavier, dan Adrian yang sesekali tampak sibuk menatap ponselnya di bawah meja dengan gerakan samar. Di ujung ruangan, dekat pintu masuk, berdiri Cedric Garrick dengan seragam prajurit biasa tanpa emblem faksi. Pria bertato ular itu bertugas sebagai pengawal dinding bersama belasan pasukan elite lainnya. Wajah Cedric tampak hancur, matanya yang biasa menyala arogan kini menatap lantai dengan kepahitan yang mendalam, menahan malu luar biasa karena statusnya yang diturunkan paksa.
Pintu aula terbuka lebar. Seluruh mata di meja makan seketika tertuju ke arah ambang pintu.
Alana melangkah masuk. Dia mengenakan gaun malam berbahan beludru hitam pekat dengan potongan leher tinggi yang menutup seluruh punggung dan pundaknya dengan sempurna. Rambut hitam panjangnya disanggul rapi, menampilkan leher jenjang dan wajah pucatnya yang terkesan sangat anggun namun misterius. Meskipun setiap langkah kakinya memicu rasa perih yang luar biasa pada luka jahitannya, Alana berjalan dengan tegak, dagunya terangkat, memancarkan aura seorang putri mahkota sejati.
Xavier dan Julian secara serentak berdiri dari kursi mereka sebelum Alana sempat mendekati meja—sebuah gerakan refleks posesif yang tidak bisa mereka tahan lagi di depan publik. Xavier melangkah maju dua langkah, mengulurkan tangannya untuk membantu Alana duduk di kursi kosong di antara dirinya dan Julian. Tindakan protektif kedua kakaknya di hadapan Victor dan Dominic mengirimkan sinyal yang sangat jelas bagi siapa saja: Gadis ini berada di bawah perlindungan kami secara mutlak.
Victor Garrick memperhatikan interaksi tersebut dengan sepasang mata tuanya yang tajam bak elang malam. Sebuah senyuman dingin yang sangat tipis terukir di wajah sang Raja. Dia bisa melihat bagaimana Alana, tanpa perlu mengerahkan sebutir peluru pun, telah berhasil menjinakkan dua putranya yang paling keras kepala dan membuat mereka bertekuk lutut menjadi perisainya.
Perjamuan makan malam dimulai dalam keheningan yang mencekam. Denting pisau dan garpu yang bergesekan dengan piring porselen terdengar seperti ketukan jam kematian bagi Faksi Pertama yang telah tiada. Dominic sesekali melayangkan sindiran taktis mengenai "kebocoran" logistik di pelabuhan utara yang baru saja dia sita dengan mudah pagi ini, mencoba memamerkan kekuasaan barunya di depan Julian dan Xavier.
Namun, Alana tetap tenang. Di tengah perjamuan, dia meletakkan alat makannya perlahan, menyeka bibirnya dengan serbet kain, lalu memalingkan wajahnya menatap langsung ke arah Dominic.
"Keberhasilan Tuan Muda Dominic dalam mengamankan pelabuhan utara dalam waktu singkat benar-benar membuktikan mengapa Ayah begitu mempercayai Anda sebagai penerus," ucap Alana dengan nada suara yang terdengar sangat lembut namun sarat akan madu beracun. "Sebagai bentuk rasa hormat saya atas kepulangan Kakak ke tanah air, saya memiliki sebuah hadiah kecil."
Alana mengeluarkan sebuah flashdisk perak kecil dari dalam saku gaunnya, lalu menggesernya di atas meja marmer hitam menuju ke arah Dominic.
"Di dalam sana terdapat seluruh data akses enkripsi sisa-sisa rekening rahasia Faksi Pertama di Eropa Selatan yang selama ini disembunyikan oleh Nyonya Eleanor dari Ayah. Nilainya berkisar lima puluh juta euro. Saya rasa, Tuan Muda Dominic adalah orang yang paling tepat untuk mengelolanya demi kepentingan Faksi Utama saat ini."
Dominic menatap benda perak kecil itu dengan mata menyipit tajam. Dia tidak menyangka Alana akan memberikan umpan informasi sebesar itu secara sukarela di depan ayahnya. Di ujung meja, Victor Garrick menghentikan gerakan makannya. Kilatan kejutan yang bercampur dengan rasa kagum yang pekat terpancar dari mata sang Raja. Alana tidak sedang mengemis ampunan atas kekacauan kemarin; dia sedang menyuap sang putra mahkota pertama dengan uang milik ibunya sendiri, sekaligus menunjukkan kepada Victor bahwa dia memegang kendali atas informasi yang bahkan tidak diketahui oleh intelijen utama.
"Hadiah yang sangat menarik, Alana," ucap Victor, suaranya yang berat membelah keheningan aula. Dia menatap anak haramnya dengan pandangan yang sepenuhnya baru—sebuah pengakuan samar bahwa gadis ini memiliki genetik kekejaman Garrick yang murni. "Kamu tahu cara menyenangkan kakakmu."
"Saya hanya melakukan apa yang terbaik untuk kestabilan keluarga ini, Ayah," jawab Alana, menundukkan kepalanya sedikit dengan penuh hormat yang penuh kepalsuan.
Perjamuan berakhir tepat tengah malam. Saat seluruh anggota keluarga mulai meninggalkan aula dengan pikiran masing-masing, Alana berjalan perlahan di koridor luar yang temaram menuju arah Mansion Ketiga. Xavier dan Julian berjalan beberapa langkah di depannya, sengaja memberi ruang bagi Alana yang tampak mulai kelelahan akibat memaksakan fisiknya.
Saat melewati sebuah pilar beton besar di dekat taman dalam yang gelap, Alana menghentikan langkahnya. Di sana, berdiri Cedric Garrick bersandar pada dinding dingin, memegang senapan serbunya dengan tatapan kosong dan napas yang berbau alkohol samar. Pria itu tampak seperti cangkang kosong yang kehilangan jiwanya setelah harga dirinya dihancurkan berkeping-keping di depan seluruh faksi.
Alana tidak menjauh atau mengabaikannya. Dia justru melangkah memisahkan diri dari Xavier dan Julian, berjalan mendekat hingga berhenti tepat di hadapan kakak ketiganya yang bertubuh kekar tersebut.
Cedric mendongak, matanya yang merah menatap Alana dengan kilatan kebencian yang samar namun rapuh. "Apa yang kamu lihat, Tikus Kecil? Mau menertawakan pangeran yang sudah jatuh menjadi budak penjaga dinding?" desis Cedric dengan suara parau yang menyedihkan.
Alana menatap Cedric lama, namun tidak ada lagi pandangan dingin atau manipulatif di matanya. Untuk pertama kalinya, Alana menatap kakak ketiganya itu dengan tatapan yang dipenuhi oleh rasa empati yang murni—sebuah perasaan kekeluargaan yang perlahan mulai tumbuh di sudut hatinya yang paling dalam setelah melihat bagaimana kejamnya Victor memperlakukan anak-anaknya sendiri jika mereka gagal.
"Saya tidak pernah menertawakan seorang prajurit yang dikhianati oleh komandannya sendiri, Tuan Muda Cedric," ucap Alana, suaranya terdengar sangat lembut, sebuah nada hangat yang belum pernah didengar oleh siapa pun di kompleks ini.
Alana melangkah satu senti lebih dekat, mengulurkan tangan kanannya yang mungil dan meletakkannya perlahan di atas tangan kekar Cedric yang sedang mencengkeram senapan dengan gemetar. Sentuhan hangat tangan Alana seketika membuat seluruh tubuh Cedric menegang kaku.
"Tuan Muda Dominic mengambil pasukanmu karena dia takut pada kekuatan militermu. Dan Ayah membuangmu karena dia tidak tahu seberapa berharganya kesetiaanmu," bisik Alana, sepasang mata jernihnya menatap langsung ke dalam jiwa Cedric yang hancur. "Tetaplah hidup di barak itu untuk sementara waktu. Patuhi perintah Tuan Muda Dominic di permukaan. Dan ketika waktunya tiba... aku sendiri yang akan mengembalikan sepuluh ribu pasukanmu, dan kita akan membuat mereka membayar setiap tetes harga dirimu yang telah mereka injak-injak malam ini."
Cedric tertegun di tempatnya. Napasnya seolah tertahan di tenggorokan saat merasakan ketulusan dan kekuatan yang mengalir dari genggaman tangan adik perempuan yang selama ini dia benci. Paranoia dan kebencian yang membakar dadanya perlahan mencair, digantikan oleh sebuah perasaan asing yang hangat—sebuah rasa ingin melindungi dan tunduk pada sosok rapuh di depannya yang ternyata adalah satu-satunya orang yang membelanya di saat seluruh dunia membuangnya.
Dari kejauhan di ujung koridor, Xavier dan Julian berbalik, menatap interaksi tersebut dengan kilatan posesif yang tajam di mata mereka. Mereka berdua melangkah kembali dengan cepat, berdiri di kiri dan kanan Alana, menatap Cedric dengan pandangan memperingatkan agar tidak macam-macam, namun tangan mereka dengan lembut merangkul pundak Alana untuk membawanya pulang ke tempat yang aman.
Mata rantai baru telah resmi terjalin malam itu. Tiga dari lima kakak laki-lakinya kini telah mulai tersedot ke dalam poros perlindungan Alana, dan sumbu pemberontakan massal di bawah kaki sang Raja kini telah resmi dimulai.